Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Sama-Sama Tidak Sabar


__ADS_3

Edrick kembali ke rumah sakit, sedangkan Orland pergi ke kantor sebentar karena ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Setelah selesai dia akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Cristin. Dia sudah meminta Edrick untuk mengatakan pada Cristin jika dia akan datang setelah pekerjaannya setelah tapi sayangnya Edrick lupa karena begitu tiba, dia langsung melihat keadaan putrinya yang ketakutan jika bertemu pria asing.


Satu hal yang mereka syukuri dari kejadian itu adalah, Isabel dan Cristin tidak mengalami pelecehan seksual. Mereka tidak berani membayangkan jika sampai hal itu terjadi, Isabel pasti akan mengalami trauma berat begitu juga Cristin.


Cristin tampak cemberut di dalam ruangannya. Tidak ada yang menemaninya, kedua orangtuanya belum datang. Orland juga tidak terlihat sejak tadi, ponsel juga tidak ada karena benda itu tidak diberikan oleh kedua orangtuanya. Mereka ingin Cristin beristirahat agar keadaannya cepat pulih tapi Cristin merasa sangat jenuh karena tidak ada benda itu.


Dari pada berbaring saja tanpa melakukan apa pun lebih baik dia pergi ke ruangan Isabela, dia belum melihat keadaan keponakannya sampai sekarang. Dia hanya mendengar jika gadis itu mengalami trauma. Dengan susah payah, Cristin turun dari atas ranjang. Dia juga melangkah dengan perlahan sambil memegangi lukanya. Entah dia harus bersyukur atau sedih yang pasti dia sudah terbebas dari Johan.


Edrick terkejut saat Cristin masuk ke dalam ruangan, begitu juga dengan istrinya. Mereka tidak menyangka Cristin akan mendatangi mereka.


"Cristin, kenapa kau datang kemari?" Edrick segera menghampiri adiknya.


"Aku bosan, tidak ada teman. Orland juga belum datang, awas dia nanti!"


"Sekarang yang ada dipikiranmu hanya pria itu saja," goda Edrick. Dia ingin lihat seberapa seriusnya hubungan mereka.


"Dia pacarku, memangnya tidak boleh?"


"Sepertinya seseorang mengatakan padaku waktu itu jika cinta hanya ilusi semata."


"I-Itu sebelum aku bertemu dengannya," jawab Cristin.


"Semudah itukah dia merubah pandanganmu tentang cinta, Cristin?" Edrick menatap adiknya dengan serius, jujur dia ingin tahu bagaimana pertemuan Cristin dan Orland.


Cristin diam, bisa bahaya jika kakaknya terus bertanya. Bisa-Bisa kakaknya tahu jika Orland pria yang dia bayar mahal untuk melewatkan satu malam panas dengannya. Sampai sekarang keluarganya belum tahu, dia tidak tahu bagaimana reaksi mereka saat mereka tahu hal ini jadi sebaiknya mereka tidak tahu.


"Kenapa kau diam, Cristin?" perasaan ingin tahu bergejolak di dada.


"Aku juga tidak tahu, Kak."


"Aku tidak mengharapkan jawaban seperti ini, Cristin!" ucap Edrick.


"Jawaban seperti apa yang kau inginkan, Kak? Aku sungguh tidak tahu, kami bertemu di saat kami sama-sama terpuruk lalu aku bertemu lagi dengannya setelah kembali dari Italia. Karena sebuah pekerjaan membuat aku harus selalu bertemu dengannya dan tanpa aku inginkan cinta itu tumbuh di hati. Apakah salah, Kak?"


"Tentu tidak, aku hanya ingin tahu. Aku senang kau sudah mau membuka hatimu dan merubah cara pandangmu tentang cinta. Lagi pula aku bisa melihat jika dia serius denganmu."


"Baiklah, yang aku tahu aku mencintainya saat ini dan aku percaya dengannya. Sekarang aku mau melihat Isabel, mana dia?" dibantu sang kakak, Cristin melangkah mendekati keponakannya.


"Hai Sayang, apa kabarmu?" tanya Cristin pada keponakannya yang manis.


"Aunty, apa pria itu memotong perutmu? Apa dia memotong perutmu?" tanya Isabela.

__ADS_1


Edrick dan istrinya saling pandang, sepertinya putri mereka harus menyaksikan kejadian yang mengerikan itu.


"Tidak, Sayang. Isabel bisa melihatnya, keadaan Aunty baik-baik saja."


"Aku takut, Aunty," ucap Isabel sambil memeluknya.


"Isabel tidak perlu takut lagi, penjahatnya sudah tertangkap," ucap Cristin menghibur keponakannya. Isabel memang belum kenal dengan Johan karena saat dia menikah, Isabel masih bayi.


"Penjahatnya sudah tidak akan mengganggu Isabel lagi, bukan?"


"Tentu saja, jadi Isabel tidak perlu takut lagi."


Isabel mengangguk, Cristin masih memeluknya. Setelah keadaannya sembuh dia ingin menemui Johan dan memukul wajahnya sampai babak belur. Pukulan itu bukan untuk dirinya tapi untuk Isabel karena pria itu sudah melukai seorang anak yang tidak bersalah.


Cristin masih berada di ruangan Isabel, dia enggan kembali karena bosan. Ayah dan ibunya juga belum datang. Dia juga kesal Orland belum datang padahal pria itu sudah berada di dalam ruangannya. Orland terkejut tidak mendapati keberadaan Cristin, dia bahkan mencari perawat karena dia pikir Cristin dipindahkan oleh keluarganya.


Ruangan Isabel menjadi tujuan setelah tahu Cristin masih berada di sana. Orland segera menuju ruangan Isabel namun tatapan galak dan ekspresi wajah cemberut yang dia dapatkan.


"Untuk apa kau datang?" tanya Cristin sinis.


"Hei, kenapa kau marah?"


"Bukankah kau berkata akan segera kembali bersama kakakku? Aku menunggumu sampai bosan tapi kau tidak juga datang!"


"Kapan kau mengatakannya?"


"Aku mengatakannya pada Edrick."


"Kakak," Cristin berpaling dan menatap kakaknya dengan tatapan galak.


"Ups, sorry guys. Aku lupa," ucap Edrick sambil tersenyum.


"Kakak menyebalkan!"


"Dia sudah datang, bukan? Dia jadi milikmu dan awas, jangan menggigitnya terlalu keras," goda Edrick.


"Apa? Enak saja! Aku tidak suka menggigit!" ucap Cristin dengan wajah memerah. Cristin segera beranjak dan meraih tangan Orland, dia ingin berduaan dengan pria itu tanpa ada yang mengganggu.


"Kenapa kau tidak menunggu di dalam ruanganmu?"


"Aku bosan, sekarang gendong aku kembali!" pinta Cristin setelah mereka berdua berada di luar.

__ADS_1


"Lain kali tunggu aku di ruanganmu, jangan ke mana-mana!"


"Sudah aku katakan aku bosan, ponsel pun tidak ada."


"Jika begitu aku akan memberikan ponselku untukmu nanti," Cristin sudah berada di dalam gendongannya. Orland membawa Cristin kembali ke ruangan inapnya saat itu.


"Serius akan meninggalkan ponselmu untukku?" Cristin memandanginya dengan serius. Biasanya tidak ada pria yang mau memberikan benda itu pada kekasihnya karena rahasia terbesar pria biasanya berada di ponselnya.


"Ya, Nona. Kau bisa memilikinya jika kau mau!"


Cristin tersenyum dan memeluk lehernya dengan erat. Matanya bahkan tidak berpaling dari Orland. Dia jadi ingin bermanja dengannya, sepertinya sudah lama tidak melakukan hal itu.


"Setelah ini temani aku tidur, Orland. Kau mau, bukan?"


"Tentu saja. Selain tidur, apa ada yang lain? Biasanya yang dilakukan tidak tidur saja."


"Hei, mesum. Segera lamar aku maka kau akan mendapatkannya!"


"Jika begitu tunggu saja, aku akan segera melamarmu!"


"Aku sangat menantikannya, Orland."


"Aku juga!" Orland mencium bibirnya dan membaringkannya dengan perlahan karena mereka sudah berada di dalam ruang rawat inap Cristin.


Orland bahkan berbaring di sisinya tanpa melepaskan bibirnya. Ciuman mereka semakin dalam, mereka bahkan merasa gairah mulai bergejolak. Orland menyudahi ciuman mereka, jika diteruskan maka dia akan berakhir di kamar mandi dan bersolo karir di sana.


"Sekarang tidurlah, aku akan menemanimu," ucapnya seraya mencium dahi Cristin.


"Cepat lamar aku, Orland. Aku sudah tidak sabar!" pinta Cristin.


"Tentu, tapi pulihkan keadaanmu terlebih dahulu. Seperti dirimu, aku juga sudah tidak sabar dan aku akan segera melamarmu di saat waktu yang tepat."


Cristin tersenyum dan memeluknya dengan erat. Sepertinya mereka berdua sama-sama tidak sabar.


"Aku menantikannya," Cristin mendongak untuk memberikan ciuman di pipi.


Orland tersenyum, bibirnya sudah berada di wajah Cristin.


"I love you, Cristin," ucapnya tanpa henti mencium wajah Cristin.


"Me too," mata Cristin terpejam, menikmati ciuman yang dia berikan.

__ADS_1


Pernikahannya yang gagal telah mempertemukan dirinya dengan pria yang tepat dan kini dia benar-benar merasa begitu dicintai. Semoga saja Orland segera melamarnya agar mereka bisa memperdalam cinta mereka berdua.


__ADS_2