Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Apa Kau Tidak Merindukan Aku?


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, para pelayan yang ada di rumah Cristin tampak sibuk menyiapkan makan malam. Itu acara makan malam yang dibuat secara dadakan karena undangan yang ayah Cristin berikan pada Orland secara tiba-tiba.


Mengakrabkan diri pada pemuda itu tidak ada salahnya. Lagi pula hubungan putri mereka dengan pemuda itu semakin dekat setelah mereka melakukan camping berdua. Hubungan asmara bisa saja terjadi di antara mereka berdua. Jika itu terjadi, mereka tidak keberatan tapi sebelum hal itu terjadi, mereka harus tahu lebih banyak mengenai Orland Dmytry. Jangan sampai pria itu seperti Johan, baik di awal tapi nyatanya? Sebagai orangtua mereka tidak mau putri mereka ditipu lagi.


Pengkhianatan yang dilakukan oleh Johan saja sudah membuat putri mereka trauma dan tidak percaya lagi dengan cinta. Bagaimana jika sampai putri mereka mengalami pengkhianatan lagi? Jangan sampai Cristin memutuskan untuk menjadi seorang biarawati walau sesungguhnya menjadi biarawati tidaklah buruk tapi mereka tidak rela.


Beberapa makanan lezat sudah terhidang di atas meja. Mariana melihat semua itu dan terlihat puas. Walau hanya mengundang satu orang tapi mereka akan melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hidangan-Hidangan sudah terhidang tapi di mana putrinya? Sejak mereka pulang mereka tidak melihat Cristin.


Mariana melangkah keluar, sebaiknya dia menghubungi putrinya dan mencari tahu di mana dia berada. Jangan sampai dia belum kembali karena mungkin sebentar lagi Orland akan datang. Ponsel sudah berada di tangan, Mariana menghubungi putrinya. Ponsel Cristin memang bisa dihubungi tapi dia tidak menjawab sama sekali. Hal itu membuat Mariana cemas, dia kembali mencoba tapi lagi-lagi hal sama yang dia dapatkan.


"Grifin!" kini dia mencari suaminya.


"Ada apa?"


"Aku khawatir dengan Cristin, entah kenapa dia tidak menjawab saat aku menghubunginya.


"Mungkin dia sedang di perjalanan kembali. Kita tunggu saja sebentar lagi."


"Baiklah," ucap istrinya. Mungkin yang diucapkan oleh suaminya benar. Cristin memang tidak pernah mau menjawab telepon saat sedang membawa mobil.


Semoga saja dugaan mereka benar tapi sesungguhnya saat itu Cristin sedang menonton di bioskop. Karena bosan, dia lebih memilih menonton sebuah film romance. Mungkin dengan begitu suasana hatinya akan  menjadi lebih baik dan yeah, alhasil dia menangis gara-gara film romance tersebut. Cristin mengumpat, pilihan salah. Seharusnya dia menonton film horor sehingga dia tidak perlu bersedih seperti itu.


Ternyata cinta yang diperlihatkan di dalam film tidak seindah yang dia rasakan. Semua itu hanya palsu, dia tidak mau mempercayainya bahkan Cristin berjalan keluar dari bioskop padahal film yang diputar belum selesai. Dia berjalan melewati para pasangan yang terlihat mesra karena yang menonton film itu semua berpasangan.


Cristin melangkah dengan pikiran melayang entah ke mana. Dia bahkan melihat pasangan yang sedang duduk berdua. Sial, gara-gara film yang dia tonton membuatnya jadi seperti itu. Cristin melangkah tanpa tujuan, dia bahkan tidak mengecek ponselnya. Tentu hal itu semakin membuat kedua orangtuanya khawatir. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Cristin belum juga pulang, sedangkan Orland sudah datang.


Orland baru saja tiba, dia sudah tidak sabar bertemu dengan Cristin tapi sayangnya dia tidak mendapati Cristin bahkan yang menyambut kedatangannya hanya ayah Cristin saja.


"Selamat datang, Orland. Maaf aku menyambutmu seorang diri," ucap ayah Cristin.


"Tidak apa-apa, Tuan Bailey. Di mana Cristin?"


"Hm, inilah yang sedang kami khawatirkan sedari tadi. Dia belum kembali."


"Apa? Ke mana dia pergi?" tanya Orland.


"Entahlah, ibunya sudah menghubungi tapi tidak ada respon."


"Jika begitu aku akan pergi mencarinya!" ucap Orland. Dia khawatir Cristin bertemu dengan suaminya. Semoga saja hal itu tidak terjadi.


"Maaf jadi merepotkan dirimu."


"Tidak apa-apa," Orland melangkah keluar. Semoga saja Cristin baik-baik saja tapi di mana dia harus mencarinya?

__ADS_1


Selagi dia berpikir demikian, mobil Cristin masuk ke dalam. Orland tidak jadi masuk ke dalam mobil. Sepertinya itu Cristin. Matanya tidak lepas dari mobil sampai Cristin turun dari mobil. Orland berlari menghampirinya, dia juga memanggil Cristin.


"Cristin, tunggu."


"Orland?" Cristin melihat ke arahnya. Oh, astaga. Dia lupa jika pria itu akan datang. Da terlalu tenggelam dalam kesedihan sampai lupa dengan apa pun.


"Cristin," ibunya berlari menghampirinya dan memeluknya.


"Ke mana saja kau? Kenapa baru kembali?" tanya ibunya.


"Sorry, Mom. Aku pergi ke tempat spa dan pemandian air panas. Maaf aku tidak mengabari Mommy," ucap Cristin sedikit berbohong.


"Mommy kira terjadi sesuatu padamu, sayang,"


"Maafkan aku," Cristin jadi tidak enak hati.


"Baiklah, ayo masuk. Orland sudah datang, pergilah mandi," ucap ibunya.


Cristin mengangguk dan tersenyum, dia memang pandai menyembunyikan kesedihan hatinya. Dia tidak mau kedua orangtuanya mengkhawatirkan keadaannya. Mariana dan Grifin mengajak Orland masuk ke dalam, mata pria itu tidak berpaling darinya. Walau Cristin bisa menipu kedua orangtuanya tapi dia tidak bisa menipu dirinya. Dia rasa telah terjadi sesuatu dengannya.


Cristin pergi mandi, sedangkan kedua orangtuanya berbincang dengan Orland. Mereka sangat berterima kasih pada pemuda itu karena bersedia mencari Cristin walaupun tidak jadi. Mereka memanfaatkan waktu itu untuk mengenal Orland walau sesungguhnya masih banyak yang ingin mereka tahu tapi kehadiran Cristin menghentikan percakapan mereka.


"Maaf membuat kalian menunggu," Cristin tersenyu, seperti tidak terjadi apa pun pada dirinya.


"Boleh, aku juga sudah lapar," Cristin tersenyum tapi ayah dan ibunya saling pandang. Sepertinya mereka harus meninggalkan muda mudi itu berdua saja.


"Jika begitu pergilah ajak Orland," ucap ibunya.


"Maksud Mommy?"


"Mommy dan Daddy mau pergi karena ada acara. Nikmati waktu kalian berdua," ucap ibunya seraya beranjak.


"What? Hei, apa-apaan?" Cristin ingin protes. Bukankah mereka yang mengundang Orland? Kenapa mereka justru kabur? Pasti kedua orangtuanya sengaja.


"Nikmati waktu kalian berdua, maaf kami tidak menemani." ucap Grifin pada Orland.


"Tidak apa-apa, Tuan Bailey. Nikmati waktu kalian," Orland beranjak dari tempat duduk. Dia tahu mereka sengaja tapi ini bagus, dengan begitu dia bisa tahu apa yang sedang Cristin alami.


Cristin mengejar kedua orangtuanya yang sudah melangkah keluar, dia bahkan menempel pada ibunya dan berbisik.


"Kalian sengaja, bukan?"


"Tidak, kami mau pergi berkencan. Nikmati waktu kalian berdua."

__ADS_1


"Mom, kenapa aku merasa kalian sedang menjebak aku?"


"Sudah, tidak baik meninggalkan tamu seorang diri."


Cristin menghentikan langkah dengan wajah cemberut. Padahal dia kira mereka akan makan malam bersama tapi nyatanya? Sudahlah, lagi pula Orland sudah berada di rumahnya dan dia tidak mungkin mengusir.


Cristin kembali ke dalam dan menghampiri Orland yang sudah menunggu di ruang tamu. Pria itu tersenyum melihat kedatangannya.


"Maaf membuatmu menunggu," ucap Cristin basa basi.


"Tidak apa-apa," Orland melangkah mendekatinya. Dia tidak menyangka kedua orangtua Cristin akan pergi meninggalkan mereka.


"Kau dari mana, Cristin. Kenapa baru kembali?"


"Untuk apa kau tahu?" tanya Cristin dengan ketus.


"Apa tidak boleh?"


"Tidak! Kau sendiri tidak bisa dihubungi hari ini dan pergi entah ke mana jadi kau tidak boleh tahu!" Cristin melangkah pergi, sedangkan Orland mengikuti langkahnya.


"Apa kau mencariku?" tanya Orland.


"Tidak, aku tidak mencari siapa pun. Bahkan aku tidak menghubungi siapa pun!"


Orland tersenyum, dia tahu Cristin mencarinya tapi dia tidak menyangka Cristin akan menyinggung hal ini karena dia tidak ada.


"Apa kau mencari aku karena kau merindukan aku, Cristin?"


"A-Apa? Sembarangan! Siapa yang merindukan dirimu?!"


"Ayolah, tidak perlu malu," Orland menghampiri Cristin dengan terburu-buru dan memeluknya dari belakang sehingga langkah Cristin terhenti.


"Maaf, hari ini aku pergi ke makam kedua orangtuaku. Aku ingin berbicara dengan mereka tanpa ada yang mengganggu," ucap Orland.


"Bu-Bukan urusanku!" ucap Cristin.


Orland tersenyum dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Cristin, "Aku sangat merindukanmu, Cristin. Apa kau tidak merindukan aku?" bisiknya.


Cristin diam, merindukan pria itu? Untuk apa?


"Tidak!" ucapnya seraya melepaskan tangan Orland. Dia tidak mungkin merindukan pria itu, tidak. Bukankah baginya cinta hanya ilusi saja? Dia tahu cinta tidak semanis seperti di film jadi sebaiknya dia tidak terlibat lagi dengan yang namanya cinta. Cristin melangkah menuju meja makan dan berkata, "Ayo segera makan, aku sudah sangat ingin tidur setelah ini!"


Orland semakin heran melihat sikapnya. Dia semakin  yakin terjadi sesuatu pada Cristin. Dia jadi sangat ingin tahu, ke mana Cristin pergi hari ini dan apa saja yang dia lakukan. Malam ini dia harus tahu dan dia tidak akan pergi sekalipun dia diusir.

__ADS_1


__ADS_2