
Mereka sudah tiba di mobil, Orland menaikkan ransel mereka terlebih dahulu sedangkan Cristin masih berdiri di sisi mobil sambil mengibaskan tangannya karena serangga yang terbang di dekatnya.
Entah ke mana Orland akan membawanya kali ini, dia harap tempat kali ini bagus dan bukan hutan sesuai dengan ucapannya.
"Siap berangkat?" Orland menghampirinya dan membukakan pintu.
"Jika hutan lagi maka aku akan pulang!" ancam Cristin.
"Tidak, tenang saja. Kita hanya akan berkendara memutari hutan ini sebentar, ayo naik."
Cristin mengangguk, badannya sudah terasa lengket. Dia sudah sangat ingin mandi dan tentunya dia butuh kamar mandi.
Orland membawa mobilnya pergi sambil memandanginya, dia bahkan bersiul dan menggoda Cristin. Cristin menahan kedongkolan di hati, sungguh pria itu sangat menyebalkan. Rasanya ingin menyemprot Orland dengan obat serangga tapi obat itu ada di dalam ransel.
"Apa yang kau lakukan di Italia, Cristin?" tanya Orland.
"Bekerja," jawab Cristin ketus.
"Kenapa kau bekerja di sana?"
"Terserah aku, lagi pula aku sudah bangkrut karena uangku sudah habis untuk membayarmu!!"
"Mau aku kembalikan uang itu?" Orland memandanginya sejenak dan setelah itu dia memandangi jalan.
"Tidak perlu, kau tidak perlu mengembalikannya!! Aku tidak akan menerimanya!' tolak Cristin.
"Baiklah, aku hanya bercanda. Tapi jika kau mau aku akan mengembalikannya dengan sebuah syarat."
"Syarat, Syarat apa?" Cristin memandanginya dengan tatapan ingin tahu.
"Kau harus jadi pacarku!" jawab Orland sambil tersenyum.
"Tidak sudi, lagi pula aku belum bercerai!" dengus Cristin kesal.
"Wow, jika begitu aku tunggu jandamu, Cristin."
"Wh-What?" Cristin melotot, kesal. Orland tersenyum, dia merasa ucapannya tidak salah karena dia menginginkan dewi fortunanya.
"Jangan asal bicara! Setelah aku bercerai aku juga tidak mau denganmu!"
"Kenapa? Apa aku jelek? Apa aku kurang memuaskan?" tanya Orland.
"Tidak, aku hanya tidak mau menjalin hubungan dengan siapa pun lagi jadi jangan mendekati aku karena kau hanya akan membuang waktumu saja!"
Orland tersenyum, walau Cristin berkata demikian tapi dia tidak akan menyerah. Pelan tapi pasti, Cristin pasti menjadi miliknya.
"Baiklah, Nona. Apa pun yang kau katakan, kau tidak bisa membuat aku mundur dan aku tidak akan menyerah!"
__ADS_1
"Terserah kau saja!" ucap Cristin kesal.
"Wah, ini seperti undangan terbuka untukku."
"Enak saja, jangan salah mengartikan! Sebaiknya bawa mobil yang benar!" Cristin bersedekap dada dan terlihat cemberut.
Orland hanya tersenyum, Cristin benar-benar bisa merubah suasana hatinya dengan mudah. Dia harap setelah kebersamaan mereka ini, dia dan Cristin akan sering bertemu agar kebersamaan mereka semakin dekat.
Mereka sudah hampir tiba, sebuah cabin sudah terlihat di mana di depan cabin tersebut terdapat sebuah danau yang indah.
Mata Cristin tidak berpaling, ekspresi wajahnya juga terlihat senang. Matanya tidak lepas dari danau yang indah, dia tidak menyangka ada tempat seperti itu di sekitar hutan.
Orland menghentikan mobilnya di depan cabin, Cristin keluar dengan terburu-buru dan melangkah menuju sisi danau.
Matanya berbinar melihat hamparan danau yang indah dengan pemandangan pepohonan hijau.
"Apa kau senang, Cristin?" tanya Orland yang sudah berdiri di sisinya.
"Yes, kenapa kita tidak di sini saja sejak awal?"
"Aku sengaja agar kau merasakan tidur di hutan."
"Sialan, kau mengerjai aku!" Cristin melepaskan sepatu yang dia kenakan.
"Hei, mau apa?" Orland melangkah mundur, sedangkan Cristin sudah siap melemparnya.
"Aku hanya ingin menggodamu saja, Cristin. Jangan marah!" ucap Orland seraya menghindari sepatu yang Cristin lemparkan.
"Kemari kau, aku akan melempar pria menyebalkan seperti dirimu!" Cristin kembali membuka sepatunya yang tersisa, dia akan melempar pria itu lagi. Orland tertawa, dia bahkan bisa menghindari sepatu Cristin dengan mudah. Cristin benar-benar kesal, awas saja pria itu nanti. Pasti akan dia balas.
Orland mengeluarkan barang-barang mereka dan membawanya ke cabin, sedangkan Cristin menghampiri danau dan berdiri di sisinya. Danau itu terlihat bersih dan sejuk, entah kenapa dia jadi ingin berenang di sana dan dia rasa itu tidak akan menjadi masalah.
Cristin melihat sana sini, tidak ada orang. Dia juga melihat ke arah cabin, Orland tidak terlihat jadi itu adalah kesempatan untuknya membuka baju. Setelah semua pakaiannya terlepas dan menyisakan pakaian dalam saja, Cristin melompat ke dalam danau tanpa ragu.
Tentu hal itu membuat Orland terkejut, dia melihat keluar dan tersenyum saat melihat Cristin sedang berenang di danau. Sepertinya wanita itu benar-benar sudah tidak sabar.
Sejuknya air danau membuat Cristin sangat menikmati danau itu apalagi pemandangannya yang indah. Akhirnya keinginannya untuk mandi dapat terwujud.
"Hei, Nona. Berani sekali kau berenang di danau ini?" teriak Orland dari sisi danau.
"Hm!" Cristin membuang wajah dan semakin berenang menjauh.
Orland tersenyum, dia jadi ingin menggoda Cristin.
"Hati-hati, Cristin. Di danau ini ada buaya!" teriak Orland.
"Tidak perlu menipu!" Teriak Cristin pula.
__ADS_1
"Aku serius, sebaiknya kau berhati-hati!"
Cristin tidak peduli, jari tengah pun ditunjukkan. Orland terkekeh tapi dia akan tetap menggoda Cristin.
"Awas Cristin, seekor buaya mendekat ke arahmu!"
"Sudah aku katakan, tidak perlu menipu!" Cristin terlihat kesal tapi matanya melihat sana sini.
"Aku tidak menipu, kau lihat ke sebelah sana?" Orland menunjuk sebuah objek.
Cristin melihat ke arah jari Orland dan menelan ludah, sebuah objek hitam berada di atas air. Cristin kembali menelan ludah, sial. Ternyata benar-benar ada buaya.
"Cepat, Cristin!" Orland masih berteriak.
"Sialan!" Cristin mulai panik, dia segera berenang ke tepian dengan cepat. Cristin berenang seperti orang gila karena dia pikir benar-benar ada buaya yang mengejar.
Orland tampak terkekeh, tunggu dulu. Apa Cristin tidak akan marah saat dia tahu jika dia hanya bercanda saja? Sial, dia menggali lubang kubur sendiri.
Cristin tiba di sisi danau dan tampak terengah. Tenaganya sudah habis, kedua kakinya bahkan gemetar.
"Ce-Cepat tarik aku keluar, Orland!" pinta Cristin seraya mengulurkan tangan.
"Tunggu sebentar."
"Cepat!" teriak Cristin sambil melihat ke belakang karena dia takut buaya itu sudah berada di belakangnya.
"Aku salah lihat, itu hanya batang kayu saja," ucap Orland pura-pura. Bisa celaka jika Cristin tahu dia mengerjainya.
"Apa?" Cristin tampak tidak percaya dan merasa bodoh.
"Kemarikan tanganmu," Orland mengulurkan kedua tangannya.
Cristin menggigit bibir, kesal. Pasti pria menyebalkan itu mengerjainya saja. Awas saja, dia sudah takut setengah mati tapi ternyata hanya kayu. Orland bahkan terlihat bersungguh-sungguh tadi.
Cristin menyambut uluran tangan Orland sambil tersenyum dengan manis.
"Sorry, aku kira itu buaya," ucap Orland.
"Tidak apa-apa," Cristin masih tersenyum manis, "Sekarang aku sudah tahu jika kaulah buayanya!" teriak Cristin seraya menarik tangan Orland.
Orland terkejut, dia kehilangan keseimbangan dan tidak lama kemudian, suara air terdengar karena tubuh Orland tercebur ke dalam danau.
Tidak sampai di sana karena Cristin belum puas, Cristin naik ke punggung Orland saat pria itu muncul ke permukaan.
"Rasakan gigitan buaya betina ini!" teriak Cristin seraya menggigit bahu Orland.
"Cristin, aku hanya menggodamu saja!" teriak Orland.
__ADS_1
"Menggoda? Aku sudah takut setengah mati!" Cristin kembali mengigit, teriakan Orland terdengar. Cristin benar-benar bagaikan buaya, dia menggigit sana sini untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Orland hanya bisa pasrah, rasakan. Jadi, sebenarnya siapa yang buayanya di antara mereka berdua?