
Cristin terus ditarik menuju ruangan, teriakan yang dia lakukan tidak di pedulikan sama sekali oleh Johan dan anak buah yang menariknya. Cristin terus memohon dan berkata akan membantu Johan menemukan ginjal untuk kekasihnya asalkan Johan melepaskan dirinya dan keponakannya namun teriakannya sia-sia.
Pintu ruangan terbuka, Cristin terkejut melihat putri kakaknya berada di dalam sana dengan keadaan terikat di kursi dan dalam keadaan tidak berdaya. Gadis itu menangis, dia terlihat senang melihat Cristin. Cristin juga sangat senang dan hendak berlari menghampiri putri kakaknya tapi kedua orang yang memeganginya tidak melepaskan dirinya.
"Lepaskan putri kakakku, Johan!" teriak Cristin marah.
"Sudah aku katakan padamu, Cristin. Dia akan menemani dirimu di rumah pelacuran nanti!"
"Kenapa kau melakukan hal ini, Johan? Kau ingin ginjalku, bukan? Akan aku berikan asal kau melepaskan putri kakakku."
"Tidak ada negosiasi, Cristin. Terima saja nasib dan lihatlah," Johan mendekati Lauren yang sudah dibaringkan di sebuah tempat tidur. Cristin terkejut melihat keadaan Lauren. Apa wanita itu sudah mati, atau dia sedang sekarat saja?
"Sayang, coba lihat siapa yang sudah aku dapatkan," Johan mengusap wajah Lauren yang pucat dan dingin, dia juga mencium dahi Lauren.
"Aku sudah membawanya sesuai dengan janjiku. Malam ini kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Aku akan memenuhi sumpahku padamu malam ini," ucap Johan lagi. Yeah... akhirnya dia bisa memenuhi sumpahnya pada Lauren. Malam ini tidak akan ada yang bisa menghentikan dirinya untuk mengambil ginjal Cristin.
Mata Cristin melihat sosok wanita bergaun pengantin itu dengan teliti dan terkejut saat melihat wajah Lauren yang sudah pucat dan tidak bergerak.
"Kau gila, Johan. Kau benar-benar gila!" teriak Cristin ketakutan. Apa Johan sedang mengalami gangguan mental? Kenapa kekasihnya yang sudah tidak bernyawa ada di sana? Lalu apa maksud Johan dengan semua itu?
"Stts, jangan berteriak. Lauren sedang tidur!" ucap Johan.
"Kau sakit jiwa, Johan. Kau butuh dokter!" teriak Cristin.
"Diam kau, Cristin!" Johan melangkah mendekati Cristin dan menamparnya dengan keras.
"Yang butuh dokter adalah dirimu, bukan aku!" teriaknya keras.
"Ada apa denganmu, Johan? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Cristin sambil menatapnya dengan air mata berderai. Dia tidak menyangka Johan jadi segila itu.
__ADS_1
"Aku seperti ini karena kau, Cristin!"
"Apa maksudmu? Kesalahan apa yang aku lakukan sehingga kau menyalahkan aku?" tanya Cristin tidak mengerti.
"Kesalahan apa?" Johan menjambak rambut Cristin dan menariknya hingga wajah Cristin menghadap ke arah Lauren.
"Lihat dia baik-baik, Cristin. Tidak seharusnya Lauren terbaring seperti itu. Yang harus mengalami hal itu adalah dirimu, yang seharusnya menggantikan Lauren adalah kau! Seharusnya kau yang berkorban dan memberikan ginjalmu untuknya!"
"Kau benar-benar sakit jiwa, Johan! Penyakit yang dialami oleh kekasihmu apa hubungannya denganku? Kenapa kau jadi melemparkan kesalahan padaku?" air mata Cristin semakin mengalir dengan deras. Sekarang dia jadi tahu maksud kata pengorbanan yang dibicarakan oleh Johan melalui telepon.
"Terserah kau mau berkata apa yang pasti malam ini ginjalmu akan menjadi ginjal Lauren!" ucap Johan seraya mendorong tubuh Cristin.
"Dia sudah mati, Johan. Untuk apa lagi kau mengambil ginjalku untuknya? Apa kau pikir dia akan hidup kembali? Sebaiknya kau sadar dari kegilaanmu. Apa pun yang kau lakukan tidak bisa menghidupkan dirinya lagi! Bukankah apa yang kau lakukan sudah tidak berguna lagi?" teriak Cristin penuh emosi.
"Diam kau! Walau aku tahu dia sudah mati dan tidak bisa hidup lagi, walau aku tahu apa yang aku lakukan sia-sia tapi aku melakukan hal ini karena aku sudah bersumpah akan memberikan ginjalmu padanya jadi malam ini aku akan menepati sumpahku padanya. Aku akan memberikan ginjal yang sudah lama aku janjikan padanya!" ucap Johan sambil berteriak.
Cristin kehabisan kata-kata, Johan benar-benar sudah di luar batas. Sekarang apa yang harus dia lakukan? Dia tahu dia tidak bisa diam menunggu, mungkin keluarganya sudah mengirim orang untuk mencari keberadaan mereka tapi dia harus mencari cara agar dia bisa pergi dari sana dan menyelamatkan keponakannya. Sebisa mungkin dia harus mengulur waktu sampai ada yang datang tapi bagaimana caranya?
"Hei, Sobat. Kenapa belum memulai? Segera lakukan sebelum ada yang datang dan mengetahui apa yang kau lakukan. Jangan sampai gagal karena kesempatan tidak akan terulang dua kali lagi!" ucap Dean.
"Baiklah, kau benar. Aku terlalu banyak berbasa basi dengannya! Mana dokter itu, segera bawa masuk dan lakukan operasi secepat mungkin," ucap Johan.
"Segera!" ucap Dean. Dia segera keluar untuk memanggil dokter bedah yang sudah menunggu sedari tadi.
"Baringkan dia dan ikat!" perintah Johan pada dua anak buah yang memegangi Cristin sedari tadi.
"Jangan Johan, jangan lakukan hal ini. Aku akan memberikan kau uang yang banyak dan menganggap hal ini tidak pernah terjadi asal kau melepaskan aku dan keponakanku!" Cristin berusaha bernegosiasi untuk mengulur waktu. Dia tahu Johan tidak tertarik tapi dia harus berusaha membujuk pria itu.
"Uangmu sudah tidak berguna Cristin, karena uangmu tidak bisa menghidupkan Lauren lagi. Segera lakukan!" jawab Johan sambil memberi perintah pada anak buahnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, lepaskan!" Cristin terus memberontak. Kakinya bahkan tidak tinggal diam. Dia terus berusaha menendang saat hendak dinaikkan ke atas ranjang. Rasa takut menyelimuti hati saat dokter bedah masuk ke dalam dengan alat-alat yang diperlukan untuk operasi namun alat yang dimiliki tidaklah memadai.
"Lepaskan aku, Johan. Jangan lakukan hal ini, please!" pinta Cristin memohon. Dia sangat menyesal bisa bertemu dengan Johan dan menjalin asmara dengannya. Tidak saja tertipu dengan cinta palsu yang Johan berikan tapi dia juga tidak menduga jika Johan hanya psikopat yang sakit jiwa.
"Segera lakukan, tanpa obat bius!" perintah Johan.
Sang dokter terkejut, apa tidak salah? Peralatan yang dimiliki saja sudah sangat tidak memungkinkan sekarang harus tidak menggunakan obat bius?
"Tapi, Tuan?"
"Kau aku bayar mahal, jadi lakukan!" bentak Johan.
Sang dokter hanya mengangguk, lagi pula dia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. Hanya tidak menggunakan obat bius saja, Itu bukanlah perkara sulit.
Johan mendekati Cristin, seringai licik menghiasi wajah. Dia sangat puas melihat ekspresi ketakukan Cristin., Rasa puasnya akan semakin terpenuhi saat melihat Cristin kesakitan akibat operasi. Cristin masih melontarkan permohonannya, tidak jauh darinya putri kakaknya ketakutan dan hanya bisa menangis. Dia sengaja dibiarkan di sana untuk menyaksikan apa yang akan dialami oleh Cristin.
"Apa ada kata-kata terakhir, Cristin?' tanya Johan dengan seringai lebar.
"Sialan kau, Johan! Aku benci denganmu, aku sungguh menyesal bertemu denganmu! Aku sungguh buta sehingga aku bisa jatuh cinta dengan pria gila seperti dirimu!" teriak Cristin penuh emosi.
"Menyesallah, Cristin. Aku suka melihat penyesalanmu. Kau memang hanya wanita kaya yang bodoh dan sekarang?" Johan meninggalkan dirinya dan menghampiri Lauren.
"Kekasih hatiku akan mendapatkan ginjal yang dia idaman begitu lama!" Johan mencium dahi Lauren. Dia memperlakukan Lauren seolah-olah wanita itu masih hidup, "Bersabarlah, Sayang. Sebentar lagi kau akan mendapatkan ginjalnya," ucapnya lagi.
Cristin memaki melihat kelakuan Johan, pria itu sudah gila. Johan kembali mendekatinya, seringai juga menghiasi wajahnya. Tempat itu benar-benar tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin diketahui oleh siapa pun.
"Lakukan!" perintahnya.
Segala sesuatunya sudah siap, Cristin diikat dengan kuat agar tidak bisa memberontak. Gaun yang dia gunakan bahkan sudah dirobek dibagian perutnya. Pisau operasi yang tajam sudah di dekatkan di area perutnya. Teriakan Cristin semakin menjadi, air mata juga mengalir tiada henti.
__ADS_1
Pisau sudah berada di atas kulitnya, membuat sebuah goresan di sana. Pisau sudah siap merobek perutnya untuk mengambil ginjalnya dan pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat di luar sana dan teriakan Dean terdengar diiringi suara tembakan. Johan mengumpat, siapa yang berani mengganggunya mendapatkan ginjal Cristin?