Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Sepertinya Kau Hamil


__ADS_3

Mereka berdua sudah berada di meja makan, Cristin masih bersikap sopan. Seharusnya ayah dan ibunya tidak pergi meninggalkan mereka berdua saja. Sekarang suasana menjadi canggung di antara mereka berdua. Hanya terdengar suara dentingan sendok di atas piring. Cristin menikmati makanannya sambil menunduk, sedangkan Orland menatapnya dengan tatapan tajam.


Dia tidak suka dengan keadaan mereka yang seperti itu, dia lebih suka dengan Cristin yang jutek dan menatapnya dengan galak. Dia bahkan merasa mereka jadi asing. Mereka benar-benar sudah seperti rekan bisnis.


Mereka bahkan tidak banyak bicara, Cristin diam menikmati makananya tapi tiba-tiba dia merasa aneh. Cristin meletakkan sendoknya, entah kenapa dia merasa mual.


"Ada apa?" Orland melihatnya dengan tatapan heran.


Cristin tidak menjawab, dia seperti sedang menahan sesuatu. Orland beranjak dan menghampiri Cristin karena dia sangat mengkhawatirkan Cristin.


"Apa kau baik-baik saja, Cristin?" Orland sudah berdiri di belakang Cristin dan mengusap punggungnya karena dia kira Cristin tersedak makanan.


Cristin meraih gelas dan meneguk isinya tapi sayangnya, dia justru semakin mual. Tidak bisa ditahan lagi, Cristin berlari menuju kamar mandi. Orland melangkah cepat , mengikuti Cristin. Apa yang terjadi, apa Cristin sedang sakit?


"Cristin, apa kau baik-baik saja?"


"Hm, ya!" Cristin mencuci mulut dan kembali mual. Itu pasti gara-gara makanan yang dia makan sebelum ini.


"Boleh aku masuk?" tanya Orland karena saat itu dia berdiri di depan kamar mandi.


"Tidak perlu, aku sudah baik-baik saja!" Cristin keluar dari kamar mandi sambil mengelap mulutnya.


"Ada apa? Apa makanan itu tidak enak?"


"Tidak, tiba-tiba saja aku merasa mual."


"Wah, kau merasa seperti itu?"


"Kenapa kau terlihat senang seperti itu?" Cristin  menatapnya sinis dan setelah itu Cristin melangkah pergi.


"Kau tahu, Cristin?" Orland tersenyum, ini kesempatan untuk mengubah suasana.


"Apa?" Cristin cuek saja.


"Sepertinya kau sedang hamil bayiku," ucap Orland lagi.


"What?" Cristin berbalik dan menatap Orland dengan tatapan tidak percaya.


Orland mendekatinya dengan senyum di wajah, dia suka mereka seperti ini dari pada seperti orang sakit gigi sejak tadi.


"Kita sudah melakukannya, Cristin. Tidak menutup kemungkinan kau akan hamil karena hal itu."


"Tapi tidak mungkin secepat itu."


"Tidak mungkin bagaimana," Orland memeluknya, kedua tangannya sudah berada di perutnya dan memberikan usapan lembut.

__ADS_1


"Tanganmu!" Cristin memukul tangan Orland dan kembali berkata, "Jangan  mencari kesempatan dalam kesempitan!"


Orland terkekeh, dia semakin ingin menggoda Cristin dan semakin memeluknya dengan erat.


"Aku hanya ingin mengusap bayiku saja, apa tidak boleh?"


"Sembarangan, aku tidak hamil!"


"Oh, ya? Bagaimana jika kita tanyakan pada ibumu akan hal ini? Dia pasti tahu karena dia lebih berpengalaman."


"Oh, tidak! Jangan sampai kedua orangtuaku tahu!"


"Kenapa? Mereka pasti senang karena mereka akan punya cucu."


Cristin memejamkan mata, tidak mungkin dia hamil begitu cepat apalagi dia tidak percaya jika dia dan Orland melakukan hal itu. Pria itu pasti hanya bercanda, lagi pula mereka baru kembali dari camping.


"Lepaskan tanganmu, aku mau makan!"


"Apa kau sudah tidak apa-apa?"


"Yeah, aku hanya merasa kurang sehat saja."


"Jika begitu beristirahatlah, aku temani!"


"Hm, kau ingin menemaniku atau ada maksud lainnya?" Cristin mendengus dan berjalan menuju meja makan.


"Jangan dekat-dekat, minggir sana!" usir Cristin.


"Tidak, aku ingin dekat-dekat dengan ibu dari bayiku."


"Sembarangan, aku tidak hamil!" ucap Cristin kesal.


"Kita tidak tahu, bukan? Tunggu beberapa bulan lagi, perutmu pasti akan membesar," Orland memeluknya dari sambil dan mengelus perutnya.


Cristin semakin kesal, bagaimana jika tiba-tiba kedua orangtuanya pulang dan melihat juga mendengar apa yang mereka bicarakan? Jangan sampai mereka salah paham karena mengira apa yang diucapkan oleh Orland adalah perkataan serius.


Sendok dan pisau yang tadinya ingin dia gunakan untuk memotong daging diletakkan, sekarang dia tahu kenapa makanan yang ada di atas meja kurang menggugah selera. Seperti daging yang ada di sampingnya lebih menggiurkan.


"Orland," Cristin memanggil sambil tersenyum manis.


"Ya, Sayang. Apa yang kau inginkan? Katakan padaku, apa pun akan aku lakukan!"


"Aku ingin memakanmu!" teriak Cristin seraya menggigit telinganya.


"Cristin, jangan di telinga!" teriak Orland.

__ADS_1


Cristin tidak peduli, kini giginya sudah berada di bagian bahu. Makan malam mereka jadi kacau, itu karena Cristin melampiaskan kekesalan hatinya dengan cara menggigit Orland tanpa henti. Teriakan Orland masih juga terdengar, ah, sudah dia duga akan berakhir seperti ini. Dia kira Cristin tidak akan berhenti tapi tiba-tiba saja wanita itu berhenti menggigitnya.


"Cristin?" Orland sangat heran melihat sikapnya apalagi tiba-tiba dia merasa bajunya basah. Itu bukan air liur Cristin yang menetes, bukan?


Cristin membenamkan wajahnya di bahu Orland, padahal dia tidak mau pria itu melihat keadaannya yang seperti itu tapi tiba-tiba saja dia membutuhkannya. Kedua tangannya mencengkeram baju Orland dengan erat, tubuhnya bahkan sedikit bergetar dan Orland dapat merasakannya.


"Hei, ada apa? Apa bahuku begitu keras sampai membuat gigimu sakit?" tanya Orland ingin tahu.


"Please, jangan banyak bertanya. Aku ingin seperti ini sebentar!"


"Baiklah," Orland mendekap Cristin dan memberikan usapan lembut di punggung.


Mereka berdua diam saja, tidak ada yang membuka suara untuk mengucapkan sepatah kata pun. Cristin menangis cukup lama di bahunya dan setelah keadaanya lebih membaik, Cristin melepaskan dirinya dan mengusap air matanya yang tersisa.


"Apa kau baik- baik saja?" Orland memandangi wajahnya dan mengusap air mata Cristin yang masih berada di pelupuk matanya.


"Maaf," Cristin berusaha tersenyum. Tidak seharusnya dia menangis di pelukan pria itu. Tapi dia sangat membutuhkannya untuk menenangkan perasaannya yang kacau.


"Tidak apa-apa, menangis tidaklah buruk."


"Oh, yeah?"


"Hm, aku pernah menangis dan aku tidak malu. Menangis dibutuhkan agar perasaan lebih baik."


"Pasti kau menangis ketika kita bertemu, bukan?"


"Yes," Orland meraih tangan Cristin dan mengecup punggung tangannya.


"Aku menangisi kebodohanku saat itu tapi aku sangat beruntung bertemu denganmu."


"Apa kau mendekati aku karena aku telah menolongmu, Orland?" Cristin memandanginya dengan tatapan tajam.


"Yes," jawab Orland sambil tersenyum lembut.


"Jika begitu bukankah kau tidak perlu sampai sejauh ini?"


"Kemarilah dan dengarkan aku," Orland menarik tangan Cristin dan memeluknya.


"Aku memang mencarimu karena kau adalah penolongku, hal itu tidak aku pungkiri. Sudah aku katakan kau adalah dewi Fortunaku. Bagiku kau adalah penyelamat tapi aku mendekatimu tidak hanya untuk balas budi. Walau singkat, aku tidak bisa melupakan kebersamaan kita malam itu."


"Bukankah kita hanya melakukan s**x saja pada malam itu? Kau bisa melupakannya tanpa perlu bersusah payah mencariku."


"Ya, memang. Aku pikir aku ingin berterima kasih padamu lalu menggodamu tapi semakin aku mengenalmu, aku jadi ingin memiliki dirimu. Aku juga tidak tahu tapi bagiku kau menyenangkan dan kau juga semakin membuat aku penasaran!"


Cristin tersenyum tipis, matanya terpejam, menikmati belaian tangan Orland. Dia ingin mereka seperti itu untuk sebentar saja, semoga saja kedua orangtuanya tidak melihat apa yang sedang mereka lakukan tapi dia tidak tahu jika seorang pelayan yang diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi mereka berdua mengambil foto mereka dan mengirimkan foto mereka pada ibunya.

__ADS_1


Grifin dan istrinya tersenyum, sebaiknya mereka tidak cepat kembali dan memberikan waktu lebih banyak untuk mereka berdua.


__ADS_2