Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Kekasih Lama


__ADS_3

Orland sedang mencari sesuatu yang ingin dia berikan pada Cristin. Walau Cristin tidak mengatakan apa yang dia inginkan tapi dia tetap akan memberikan sesuatu untuknya. Sebuah toko perhiasan menjadi pilihan karena dia ingin mencari sebuah kalung untuk Cristin.


Pekerjaannya sudah selesai, tidak butuh waktu satu minggu karena dia sudah sangat ingin kembali, Orland menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu lima hari saja dan besok pagi dia akan terbang ke New York.


Beberapa kalung berlian dikeluarkan oleh pegawai toko, Orland melihatnya dan tampak tidak tertarik. Dia tahu Cristin akan cocok memakai apa saja dan lebih cocok lagi tanpa memakai apa pun, Sial, dia kembali teringat bagaimana bentuk tubuh Cristin pada malam itu dan dia adalah pria yang benar-benar beruntung.


Orland melangkah keluar dari ruangan khusus yang tersedia untuk tamu khusus, dia ingin mencari sendiri hadiah apa yang pantas untuk Cristin. Matanya melihat sana sini dan dia tertarik dengan sebuah kalung yang dihiasi dengan batu permata berwarna hijau. Dia rasa kalung itu lebih cocok dengan Cristin. Warna kalung itu seperti warna mata Cristin. Dia jadi tidak sabar untuk segera kembali, dia akan menghubungi Cristin setelah ini.


"Tolong berikan kalung itu untukku," pinta Orland pada pegawai toko yang mengikutinya sedari tadi.


Dia kembali masuk ke dalam ruangan untuk melihat kalung itu lebih rinci. Orland melangkah pergi, sedangkan dua orang wanita masuk ke dalam toko itu. Mereka ingin melihat barang yang mereka lihat beberapa hari yang lalu. Mereka melihat deretan kalung mahal yang sesungguhnya mustahil mereka dapatkan.


"Oh, kapan aku bisa memiliki satu aja kalung yang ada di sini," ucap seorang wanita yang bernama Caitlyn.


"Kau akan mendapatkannya jika kau memacari seorang pria kaya, Caitlyn," ucap sahabatnya.


"Ck, pria kaya mana? Kekasihku bahkan bangkrut sehingga aku lari meninggalkannya!" ucap Caitlyn.


"Oh, aku ingat dengan ceritamu ini. Kekasihmu bernama Orland Dmytrty, bukan?"


"Please, jangan sebut namanya!" ucap Caitlyn seraya memutar bola matanya. Ya, Caitlyn adalah kekasih Orland ketika dia belum hancur. Hubungan mereka baik-baik saja, Orland begitu mencintainya tapi siapa yang menduga? Saat Orland jatuh ke titik yang paling bawah, Caitlyn lebih memilih melarikan diri ke Australia karena dia tidak mau Orland mencarinya lagi.


"Kenapa? Kalian tidak mungkin bertemu lagi, bukan? Bukankah kau bilang dia sudah bangkrut? Dia tidak mungkin berada di kota ini jadi kau tidak perlu takut membicarakan dirinya."


"Memang, tapi aku malas membicarakan sampah itu!" ucap Caitlyn. Dia yakin Orland sudah jadi gelandangan saat ini karena semua yang dia miliki sudah tidak ada lagi. Dulu dia menyukai Orland tidak hanya karena wajah tampannya saja tapi karena uang yang dia miliki. Setelah Orland kehilangan semua yang dia miliki, untuk apa dia tetap bersama dengan pria itu? Wajah tampan saja tidak bisa membuatnya mendapatkan tas Hermes.


"Dasar kau tega!" ucap sahabatnya.

__ADS_1


Caitlyn tertawa, dari pada mengingat sampah itu lebih baik dia mencari pria kaya lainnya yang bisa membelikan sebuah kalung mahal yang ada di toko perhiasan itu.


"Oh my God, ke mana kalung incaranku?" ucap sahabatnya seraya mencari kalung yang sudah dia sukai sejak lama.


"Kalung yang mana?" tanya Caitlyn.


"Kalung permata hijau yang sangat aku inginkan itu sepertinya sudah dibeli orang."


"Tidak mungkin!" Caitlyn menghampiri penjaga toko perhiasan yang sedang memperhatikan mereka. Karena mereka sudah sering datang hanya untuk melihat saja, jadi penjaga toko perhiasan sudah tidak asing lagi dengan mereka berdua.


"Maaf, apa kalung permata hijau yang ada di sana sudah dibeli orang?" tanya Caitlyn.


"Benar, Nona. Pembelinya sedang melihat kalung itu."


"Oh ya? Di mana?" Caitlyn sangat ingin tahu dan si penjaga toko menunjuk ke arah ruangan khusus yang tersedia untuk tamu kehormatan.


"Bagaimana?" tanya sahabat baiknya.


"Ada yang membeli kalung itu, ayo kita lihat. Mungkin saja pria tampan kaya raya yang bisa kita dekati," ucap Caitlyn.


Mereka segera menuju ruangan dan berdiri di depan dinding kaca di mana mereka bisa melihat siapa yang ada di dalam sana. Tanpa tahu jika kekasihnya ada di sana, yeah, mereka belum putus karena Caitlyn langsung menghilang begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Orland memberikan kartu kepada pegawai toko karena dia membelikan kalung itu untuk Cristin.


Di luar sana, Caitlyn terkejut melihat pria yang ada di dalam, matanya bahkan melotot dan satu nama terucap dari bibirnya, 'Orland!"


"Hei, apa maksudmu?"  tanya sahabatnya tidak mengeri.


"Oh my God, Orland!" Caitlyn melangkah mundur. Apa dia tidak salah lihat? Kenapa kekasih yang dia tinggalkan bisa ada di sana dan apa maksudnya pria itu yang membeli kalung seharga ratusan ribu dolar itu?

__ADS_1


"Hei, jangan bercanda! Bukankah kau berkata jika dia sudah bangkrut dan hanya sampah?"


"Ya, yang aku tahu memang seperti itu," ucap Caitlyn. Dia sungguh tidak menyangka akan melihat kekasih lamanya berada di sana. Apakah ini semacam jodoh?


Mereka segera bersembunyi saat Orland keluar dari ruangan itu. Mereka bahkan mengintip untuk melihat pria itu. Caitlyn menggigit bibir. Sial. Sepertinya Orland sudah kembali sukses tapi bagaimana mungkin?  Dia tidak ingin mempercayainya tapi yang baru saja dia lihat sulit untuk dipercaya.


"Bagaimana, Caitlyn? Sepertinya dia bukan sampah lagi," ucap sahabatnya.


"Sial, aku tidak tahu ternyata dia sudah bangkit kembali," umpat Caitlyn.


"Jadi?"


"Tentu saja mencarinya, sesungguhnya aku belum putus dengannya!" ucap Caitlyn dengan penuh percaya diri.


"Apa? Jangan katakan kau ingin mencarinya untuk memperbaiki hubungan kalian!"


Caitlyn tersenyum, tentu saja. Dia akan berpura-pura nanti dan dia yakin Orland pasti masih mencintainya dan dia juga yakin mereka bisa bersama kembali.


Orland pergi dari tempat itu dengan perasaan senang tanpa tahu kekasih lamanya melihat dirinya. Niatnya untuk menghubungi Cristin tidak jadi, dia berniat untuk memberikan kejutan untuk Cristin setelah dia kembali jadi hari ini dia akan menahan diri untuk tidak menghubungi Cristin. Mungkin dengan begitu Cristin akan merindukan dirinya.


Dia sangat berharap dan memang, Cristin terlihat gelisah sepanjang hari. Dia seperti menunggu sesuatu, ponsel adalah benda yang dia pantau sejak pagi. Benda itu ada di atas ranjang, Cristin berjalan mondar mandir dan terlihat gelisah. Matanya melihat ke arah ponsel sesekali dan setelah itu dia kembali melangkah pergi.


Cristin sudah sangat kesal, ponsel pun diraih dan setelah itu dia kembali berkata, "Pria menyebalkan, awas kau saat kembali! Aku akan menendangmu!" ucapnya seraya menggenggam ponselnya dengan erat.


Cristin mendengus, dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Apa yang sebenarnya dia lakukan? Aneh, semua itu pasti gara-gara Orland. Dia diam saja sambil menatap ponsel, sepertinya dia sudah gila. Cristin beranjak dari atas ranjang, dari pada memikirkan pria menyebalkan itu sebaiknya dia berenang saja.


"Awas kau!" ucap Cristin seraya menunjuk ke arah ponselnya dan setelah itu dia berlalu pergi.

__ADS_1


Jika Orland tidak menghubunginya maka akan dia gigit pria itu sampai puas tapi dia tidak tahu, Orland memang sengaja tidak menghubunginya agar Cristin merindukan dirinya.


__ADS_2