
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Zion pergi dari pesta itu tanpa pamit pada siapa pun. Lagi pula yang mengundangnya adalah Weyland Corporation. Sebab itu dia merasa tidak perlu berpamitan pada yang lain. Tentu kepergiannya menjadi kesempatan untuk Orland sehingga dia bisa leluasa bersama dengan Cristin karena yang mengira dia adalah supir Cristin hanya Zion saja.
Cristin dan Orland sedang bersama dengan keluarga Cristin saat itu, Edrick masih menunjukkan rasa tidak sukanya pada Orland. Dia masih belum bisa menerima pria itu karena dia masih curiga jika Orland hanya ingin menipu Cristin saja.
"Maafkan aku karena aku tidak menyapa, Tuan Bailey. Selamat ulang tahun," ucap Orland seraya memberikan kotak kecil berisi sebuah hadiah untuk ayah Cristin.
"Tidak perlu repot, Orland. Kedatanganmu sudah membuat kami senang," ucap ayah Cristin.
"Ini hanya hadiah kecil yang Cristin pilihkan, terimalah," ucap Orland. Hadiah itu memang Cristin yang memilihkannya, dia mana paham dengan hal seperti itu.
"Wah, terima kasih. Aku tidak menyangka kau bahkan memikirkan hal ini."
"Nikmatilah pesta ini, Orland. Temani Cristin yang sedari tadi sudah terlihat tidak betah!" ucap ibu Cristin.
"Aku rasa mereka tidak boleh dekat-dekat!" ucap Edrick.
"Eh, ada apa ini? Sepertinya ada yang cemburu?" ucap ibunya.
"Bukan begitu!" mata Edrick tidak lepas dari Orland.
"Sudah, kakak nikmati saja pestanya bersama dengan istri kakak," ucap Cristin. Setelah berkata demikian, Cristin menarik Orland pergi.
Mata Edrick masih tidak lepas dari Cristin dan Orland, hal itu membuat kedua orangtuanya heran. Mereka bisa melihat sepertinya Edrick tidak suka dengan Orland.
"Kenapa kau terlihat tidak menyukai Orland, Edrick?" tanya ibunya.
"Aku bukannya tidak suka, Mom. Aku hanya khawatir dia tidak beda jauh dengan bajingan yang sudah menipu Cristin!"
"Tidak perlu khawatir, dia pemuda yang baik. Dia juga berbeda dengan Johan. Kami tidak akan mengijinkannya mendekati Cristin jika dia bukan pemuda yang baik. Cristin juga tidak mungkin mau dekat dengannya apalagi setelah dia mengalami kejadian buruk yang telah membuatnya menutup diri," ucap ibunya.
"Baiklah, aku harap dia benar-benar tulus dengan Crisitin," ucap Edrick. Dia kembali melihat ke arah Cristin yang sedang menghampiri Orland dengan makanan yang dia ambil di tangan.
Orland sedang mencari keberadaan Gail, ini sudah begitu lama. Apa Gail belum selesai? Matanya melihat sana sini, kenapa tiba-tiba dia merasa sedang diawasi? Tidak, bukan dia yang sedang diawasi tapi Cristin yang sedang diawasi karena dia sedang menghampiri Orland.
Orland melihat ke kanan dan ke kiri, di antara para tamu seperti ada yang melihat ke arahnya. Jangan katakan jika para pembunuh yang hendak membunuhnya berada di pesta itu.
__ADS_1
"Orland, ada apa?" tanya Cristin heran karena Orland seperti sedang mewaspadai sesuatu.
"Tidak apa-apa, Sayang," Orland tersenyum. Sebaiknya dia tidak mengatakan apa pun yang bisa membuat Cristin takut.
"Baiklah, ini untukmu," Cristin memberikan makanan yang dia ambil pada Orland.
"Aku tidak suka makanan manis," ucap Orland.
"Ayolah, sedikit saja. Kau tidak boleh menolak apa yang sudah aku ambilkan!" Cristin terlihat seperti sedang merajuk.
"Baiklah, aku tidak boleh menolak pemberian pacarku yang manis."
Cristin tersenyum, Orland tidak menolak saat Cristin menyuapinya kue. Walau dia tidak suka tapi dia menghabiskan semuanya demi Cristin.
"Ck, kepalaku jadi pusing!'' ucap Orland setelah selesai menghabiskan kuenya.
"Aku akan memberikan obatnya," Cristin berjinjit dan memberikan kecupan di bibir Orland.
Orland meraih pinggangnya dan merapatkan tubuh mereka berdua. Mereka berciuman dengan mesra dan tentunya lagi-lagi Johan harus menahan amarah karena hal itu. Sudah berapa kali dia harus melihat mereka melakukan hal demikian? Sial, dia jadi merindukan Lauren.
"Hei... kau tidak sedang cemburu, bukan?" tanya Dean.
"Tentu saja tidak! Untuk apa aku cemburu? Aku hanya tidak suka mereka bersenang-senang di atas kepergian Lauren!"
"Baiklah, kau tidak cemburu. Sebaiknya kita bersiap-siap. Sebentar lagi rencana akan dijalankan," ucap Dean seraya menepuk bahu.
"Ingat, Dean. Kali ini tidak boleh gagal," ucap Johan.
"Tidak perlu khawatir, target sudah terkunci!" ucap Dean.
Johan tersenyum, dia segera beranjak dan mengikuti langkah Dean pergi. Cristin pasti mereka dapatkan, dia yakin Dean bisa melakukannya.
Pesta sudah hampir mencapai puncak, setelah menikmati hidangan yang ada para tamu mulai berdansa. Cristin dan Orland juga melakukannya, mereka berbaur dengan para tamu untuk menikmati musik yang melantun merdu.
Gail baru selesai menyelesaikan tugasnya, apa dia pingsan saat Zion memukulnya? Jelas saja tidak. Zion hanya asal pukul saja tanpa tahu titik vital lawan. Dia hanya mengikuti permainan Zion dan berpura-pura pingsan namun dia tidak menduga dia dibawa ke kamar dan hendak diberi obat perangsang dan di perkosa. Dunia memang sudah terbalik, dia hampir mencekik Isabel sampai mati tapi dia menahan diri demi rencana bosnya.
__ADS_1
Ketika Isabel hendak memberikan anggur yang ada di dalam mulutnya, Gail memukul bagian vital wanita itu sehingga Isabel pingsan.
Setelah memberikan tanda tangan palsu pada proposal yang diberikan oleh Zion, Gail membawa Isabel keluar. Dia memang sengaja menandatangani proposal itu sesuai dengan rencana Orland yang ingin mengangkat Zion setinggi mungkin lalu menghempaskannya jatuh.
Berkat tandatangan itu Zion memang melambung tinggi bahkan dia berencana menyombongkan diri pada Orland nanti dan memperlihatkan bahwa perusahaan itu semakin maju karena berada di tangannya.
Gail membawa Isabel ke ruangan lain karena dia sudah berani hendak memperkosanya. Itu juga sesuai dengan rencana bosnya karena mereka memiliki rencana lain. Sekarang saatnya kembali ke ruang pesta lalu mengatakan pada bosnya jika ada yang mencurikan dari para pelayan yang ada di ruang pesta.
Gail melangkah cepat menuju ruang pesta, matanya mencari sana sini. Orland dan Cristin tidak berdansa lagi, Orland sedang berbincang dengan ayah Cristin saat itu. Gail segera menghampirinya, matanya masih fokus pada para pelayan yang semakin terlihat mencurigakan.
"Bagaimana, Gail?" tanya Orland saat ayah Cristin sedang berbincang dengan seorang rekan bisnisnya.
"Semua berjalan dengan sesuai rencanamu, Sir," ucap Gail.
"Bagus, di mana dia sekarang?" tanya Orland ingin tahu.
"Wanita itu masih belum sadarkan diri, kemungkinan besok dia baru sadar."
"Bagus, tinggalkan saja dia."
"Ada yang ingin aku bahas, Sir," Gail kembali melihat sana sini.
"Ada apa?" Orland melihatnya dengan tatapan curiga.
"Para pelayan itu mencurigakan Sir, dan aku punya firasat buruk!" ucap Gail.
"Aku juga merasa demikian, Gail. Aku merasa ada yang memperhatikan sedari tadi. Apa orang-orang yang ingin membunuhku berada di antara para tamu undangan?" tanya Orland curiga.
"Aku juga merasa demikian tapi kita sudah menghabisi orang-orang itu. Tidak mungkin orang yang ingin membunuhmu tahu begitu cepat jika kau berada di sini."
"Lalu?" Orland dan Gail saling pandang. Tiba-Tiba firasat Orland jadi buruk. Gail juga menebak hal yang sama, sepertinya bukan bosnya target orang-orang itu.
"Sial, jangan-jangan?" ucap mereka berdua.
Orland segera berlari begitu juga dengan Gail setelah mendapatkan perintah. Mereka berlari melewati para tamu undangan yang sedang ramai. Orland harap dugaannya salah dan dia harap dia tidak terlambat. Orland terus berlari dan tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari arah belakang.
__ADS_1
Para tamu mulai penasaran untuk melihat apa yang terjadi namun dalam sekejap mata saja, para tamu terlihat panik dan mereka mulai berlari ketakutan karena apa yang mereka lihat.