
Cristin bergegas masuk ke dalam kamar, perasaannya kacau. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia memukul Orland.
Rasa kecewa dan marah terasa campur aduk di dalam hatinya. Dia tahu tidak seharusnya dia memukul Orland tapi ketika melihat pria itu, entah kenapa dia sangat ingin melakukannya. Mungkin itu seperti ungkapan rasa kecewa karena pria itu tidak menghubunginya sama sekali.
Dia benar-benar benci pada dirinya sendiri, bahkan dia sudah seperti anak kecil. Mungkin karena sikapnya itulah sehingga dia dipermainkan oleh Johan dan tidak pernah dicintai dengan tulus.
Cristin menjatuhkan diri di atas ranjang. Kenapa tiba-tiba dia seperti orang berengsek? Sepertinya watak nona muda dan egois masih melekat pada dirinya.
Di luar sana, ibunya meminta Orland untuk masuk ke dalam. Entah apa yang terjadi mereka berdua belum paham. Ibu Cristin bahkan tidak enak hati, Orland sudah menunggu sedari tadi dan mengkhawatirkan keadaannya tapi justru satu tamparan yang dia dapatkan.
"Tolong tunggu di sini, aku akan berbicara dengannya sebentar dan maafkan perbuatan putriku," ucap Mariana.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Mungkin memang aku yang salah," ucap Orland.
Mariana tersenyum, pemuda yang sabar. Dia sangat berharap Cristin tidak melakukan hal itu lagi padahal Orland benar--benar mengkhawatirkan dirinya.
Mariana melangkah menuju kamar putrinya. Pintu dibuka, Mariana masuk ke dalam dan menghampiri putrinya yang terlihat duduk termenung di sisi ranjang. Mariana menggeleng, entah apa yang terjadi pada putrinya tapi dia harap Cristin mau minta maaf pada Orland.
"Apa yang kau lakukan, Sayang? kenapa kau memukulnya?" tanya Mariana seraya duduk di sisi Cristin.
"Sekarang aku sudah tahu, Mom," ucap Cristin sambil tersenyum pahit.
"Apa yang kau tahu?"
"Sekarang aku tahu kenapa Johan memanfaatkan aku. Ternyata aku hanya wanita bodoh yang egois!" tanpa Cristin inginkan, air matanya mengalir.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Sayang? Kau hanya sial bertemu dengannya!"
"Aku memang seperti itu, Mom. Kau bisa melihatnya sendiri. Tidak perlu membela aku, aku tahu kesalahan yang aku lakukan."
"Tidak perlu berkata seperti itu," Mariana memeluk putrinya dengan erat.
"Kau seperti ini karena rasa sakit hatimu pada Johan dan rasa percayamu pada laki-laki sudah tidak ada lagi. Jangan menyalahkan dirimu, kau hanya kurang beruntung tapi kau harus tahu tidak semua lelaki seperti dirinya. Mommy sudah mengatakan hal itu berkali-kali padamu, tapi kenapa kau tidak mengerti juga?"
"Aku tidak mau sakit hati lagi, Mom. Aku juga tidak mau terluka lagi. Aku takut untuk jatuh cinta, aku berusaha membentengi hatiku tapi tanpa aku sadari, semua itu mulai runtuh dengan perlahan. Aku takut mengalami pengkhianatan untuk kedua kalinya apalagi aku belum bisa lepas dari Johan!"
"Mommy tahu apa yang kau khawatirkan, Cristin. Mommy sangat tahu tapi kau lihat pria yang ada di luar sana, dia sudah menunggumu sedari tadi. Dia mengkhawatirkan dirimu bahkan dia ingin pergi mencarimu walau dia tidak tahu di bioskop mana kau sedang menonton. Dia bahkan tidak menyalahkan dirimu yang sudah memukulnya dan merasa jika kau melakukan hal itu karena dialah yang salah. Apa kau merasa dia seperti Johan? Apa yang dia lakukan selama ini seperti yang Johan lakukan dulu? Johan memanfaatkan dirimu karena uang. Lalu, apa dia juga mendekatimu karena uang? Pikirkan nasehat Mommy, jangan menyesal dikemudian hari. Kau memang ingin hidup sendiri tapi percayalah, sendirian itu tidaklah menyenangkan," Mariana harap dengan nasehatnya kali ini putrinya benar-benar mau berubah.
Chistin diam saja, memikirkan nasehat ibunya. Mariana mengusap bahu putrinya, sepertinya Cristin butuh waktu.
"Pikirkanlah baik-baik," ucap Mariana seraya beranjak.
Mariana keluar dari kamar, meninggalkan Cristin yang masih diam saja sedari tadi. Mariana menghampiri Orland yang masih menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
Orland beranjak melihat kedatangannya, sepertinya Cristin tidak mau keluar dan menemuinya. Mungkin Cristin marah karena dia tidak menghubunginya beberapa hari ini.
"Bagaimana, Nyonya??" tanya Orland.
"Maaf, dia sedikit labil. Datanglah besok, itu jika kau bersedia," ucap Mariana.
"Baiklah, aku akan datang lagi besok. Maaf membuat tidak nyaman," ucap Orland. Mau tidak mau dia harus datang lagi besok.
Mariana mengantar Orland keluar, dia benar-benar tidak enak hati pada pemuda itu tapi dia juga tidak bisa memaksa. Orland melangkah menuju mobil, sepertinya mau tidak mau dia harus pergi makan malam sendiri.
Setelah mengantar Orland, Mariana melangkah menuju dapur karena dia ingin membuatkan minuman hangat untuk putrinya tapi tiba-tiba saja Cristin keluar dari kamarnya dan berlari menuju ruang tamu.
"Cristin," Mariana menghampiri putrinya dengan terburu-buru.
"Mana Orland, Mom?" tanya Cristin karena Orland sudah tidak ada.
"Baru saja pamit pergi," Mariana tampak heran karena putrinya terlihat panik.
"Oh, no!" Cristin segera berlari menuju pintu keluar sambil berteriak, "Terima kasih atas nasehat Mommy!"
Mariana tersenyum, akhirnya sadar juga sedangkan Cristin berlari keluar dengan cepat. Semoga tidak terlambat.
Orland sudah menyalakan mesin mobilnya, dia akan pergi ke restoran untuk menikmati makan malamnya. Mobil sudah di jalankan, tapi teriakan seseorang yang memanggil namanya terdengar samar.
Orland menghentikan mobilnya, kaca mobil di turunkan dan setelah itu dia melihat ke belakang di mana Cristin sedang berlari ke arahnya.
"Tunggu ... oh God, kakiku sakit!" Cristin berteriak sambil mengumpat karena dia lupa memakai alas kaki akibat terburu-buru.
Orland tersenyum dan turun dari mobil. Cristin masih berlari sambil menggerutu.
"Tunggu," pintanya. Lari Cristin terhenti, dia harus mengambil napas terlebih dahulu.
"Oh, Tuhan. Sepertinya aku butuh olahraga!!" ucapnya.
"Mau berolahraga denganku?" tanya Orland seraya mendekatinya.
"Tidak mau!!" teriak Cristin dengan nada galak.
"Jadi?" langkah Orland terhenti. Dia ingin lihat kenapa Cristin mengejarnya dan menghentikan dirinya.
"Sial!" ucap Cristin dan setelah itu dia kembali berlari ke arah Orland dan memeluknya.
Orland terkejut, apa yang sedang terjadi? Tapi yeah, wanita sulit dimengerti.
__ADS_1
"Maaf telah memukulmu," ucap Cristin.
"Jadi kau ingin minta maaf?"
"Aku tahu aku salah, maaf."
"Kenapa, Cristin? Apa aku telah membuat kesalahan?" tanya Orland lagi.
"Ya, kau memang sudah membuat kesalahan besar padaku!"
"Katakan, aku akan menebusnya," ucap Orland. Kedua tangannya sudah melingkar di tubuh Cristin.
"Kau sudah mengacaukan hatiku, apa kau tidak tahu? Aku benci dengan keadaan yang aku alami ini!!"
Orland tersenyum, sepertinya usaha yang dia lakukan sudah membuahkan hasil dan dia sangat senang akan hal itu.
"Sebab itu kau menampar aku?" kini tubuh Cristin sudah berada di gendongannya sehingga kakinya tidak menyentuh aspal lagi.
"Aku minta maaf untuk hal itu."
"Minta maaf dengan benar, Nona."
"Caranya?"
"Ikut aku makan malam, maka akan aku maafkan," jawab Orland.
"Baiklah," Cristin memeluknya dengan erat.
"Satu lagi, Nona."
"Apa lagi??" tanya Cristin.
"Kau harus mencium aku, sekarang!"
"Dasar, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan!!"
"Sepertinya kau sudah begitu mengenal aku!"
"Menyebalkan!!" Cristin memukul bahunya namun dia tetap melakukan apa yang Orland pinta. Cristin mendekatkan bibir mereka berdua. Peduli setan dengan rasa takut yang dia rasakan.
Dari balik jendela, Mariana melihat mereka sedang berciuman sambil tersenyum, "Aduh... Aduh, anak muda," ucapnya. Gorden ditutup dan setelah itu, Mariana melangkah pergi.
Setidaknya putrinya membuat keputusan tepat untuk mengejar Orland karena dia tidak yakin Orland akan kembali lagi besok. Bisa saja pria itu berubah pikiran, jika sampai hal itu terjadi, bisa saja Cristin akan menyesal nantinya.
__ADS_1