
Seorang wanita cantik melangkah keluar dari bandara saat itu. Sebuah koper berwarna hitam berada di tangan. Kaca mata yang dia gunakan di lepas, wanita itu adalah Lauren.
Dia kembali tanpa sepengetahuan Johan, dia kembali lebih cepat dan tidak mengatakannya karena dia ingin memberikan kejutan untuk Johan.
Sesungguhnya dia kembali lebih cepat bukan tanpa alasan, dia takut jika dia menunda lebih lama Johan akan memiliki hati pada Cristin. Jika sampai hal itu terjadi maka dia hanya akan menjadi wanita yang menyedihkan.
Sambil menarik kopernya, Lauren melangkah menuju taksi. Dia tahu harus mencari Johan di mana. Kekasihnya pasti akan terkejut mendapati dirinya sudah kembali. Rasanya sudah tidak sabar melihat wajah terkejut Johan.
Taksi yang dia tumpangi sudah membawanya pergi menuju ke tempat Johan. Dia terlihat sudah tidak sabar dan begitu dia tiba, Lauren bergegas turun dan melangkah menuju sebuah rumah yang dulunya dia tinggali bersama dengan Johan.
Tentu kemunculan Lauren langsung di sadari oleh orang yang mengikuti Johan selama beberapa hari belakangan. Foto Lauren pun diambil, wanita itu tidak sadar sama sekali.
Pintu diketuk dengan perlahan, Lauren menunggu dengan tidak sabar. Johan sangat heran, setelah dia kembali tidak ada yang datang ke rumahnya. Pria itu melangkah mengendap menuju jendela, dia ingin melihat siapa yang datang tapi ketika melihat Laure, Johan begitu terkejut.
Dengan cepat Johan melangkah menuju pintu dan membukanya. Lauren tersenyum dan segera masuk ke dalam pelukannya.
"Johan, ternyata kau ada di rumah!!"
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau akan kembali, Lauren?" Johan benar-benar terkejut karena dia kira Lauren akan kembali dua minggu lagi.
"Aku sudah tidak tahan. Aku begitu merindukan dirimu, Johan. Aku juga takut kau terjerat oleh wanita kaya itu!"
"Bodoh! Aku tidak mungkin terjerat olehnya karena yang aku cintai hanya dirimu saja!" Johan mencium bibir Lauren. Mereka melepas kerinduan mereka di sana tanpa sadar jika foto-foto mereka sudah diambil. Akhirnya pengintaian itu membuahkan hasil, bukti perselingkuhan yang dibutuhkan sudah didapatkan.
Johan mengajak Lauren masuk ke dalam, dia tidak mau kekasihnya kepanasan. Sang informan mendekati rumah itu untuk mencuri dengar percakapan mereka berdua.
"Kenapa kau tidak meminta aku menjemputmu, Lauren?" tanya Johan seraya menyimpan koper milik kekasihnya.
"Jika aku katakan maka ini tidak akan menjadi kejutan, Johan."
__ADS_1
"Baiklah, bagaimana dengan keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja. Kau sendiri, bagaimana dengan proses perceraian kalian?" tanya Lauren. Sungguh dia sangat ingin tahu akan hal ini. Dia harap ujian pra nikah bisa segera dijalankan sehingga apa yang mereka inginkan bisa segera mereka dapatkan.
"Tidak perlu khawatir, dua hari lagi kami akan bertemu dengan pakar pernikahan itu. Aku yakin Cristin tidak akan bisa menghindar lagi," ucap Johan.
"Bagus, semakin cepat semakin baik! Aku benar-benar sudah tidak sabar!"
"Kau tidak perlu memikirkan hal ini, sebaiknya kau beristirahat terlebih dahulu. Aku tidak mau keadaanmu semakin memburuk karena kurang istirahat," Johan menghampiri Lauren dan menggendongnya menuju kamar.
Lauren tersenyum, dia terlihat bahagia. Untungnya Johan tidak tertarik dengan Cristin Bailey dan begitu setia padanya. Setidaknya dia masih memiliki seseorang yang mencintainya setelah keluarganya tiada.
Foto kebersamaan mereka sudah diambil sebelum mereka masuk ke dalam kamar. Sang informan bahkan melangkah mendekati jendela kamar untuk mencari tahu apa yang mereka lakukan. Kamera diletakkan di kaca jendela dan setelah itu foto diambil secara diam-diam.
Sang infroman itu tidak mendapatkan percakapan yang mencurigakan dari mereka berdua. Sepertinya memang sudah cukup, sebaiknya dia pergi dan melihat foto-foto yang dia dapatkan dan setelah itu dia akan menghubungi Gail dan mengajaknya bertemu untuk memberikan apa yang dia dapatkan.
Johan dan Lauren berciuman di atas ranjang ketika foto mereka diambil secara diam-diam, sepertinya kali ini Johan tidak bisa mengelak lagi saat foto kebersamaan mereka itu sudah berada di tangan Cristin. Mereka bahkan memadu kasih untuk melepaskan kerinduan di antara mereka. Lagi pula mereka sudah sering melakukannya tapi sampai sekarang Lauren menjaga diri agar tidak hamil.
Sementara itu, sang informan sedang menghubungi Gail. Dia harus memberi laporan akan pekerjaannya. Gail sedang menyiapkan sebuah berkas yang hendak dia berikan pada bosnya. Ketika melihat ternyata yang menghubungi adalah sahabatnya, Gail menjawabnya tanpa ragu.
"Ada apa? Apa kau mendapatkan petunjuk?" tanya Gail tanpa basa basi.
"Tentu saja, bukan petunjuk tapi aku sudah mendapatkan bukti yang kau inginkan."
"Apa kau serius?" tanya Gail.
"Untuk apa aku menipumu, Gail. Tapi aku tidak mendapatkan percakapan aneh dari mereka berdua. Aku rasa ucapan mencurigakan yang kau katakan waktu itu tidak memiliki arti apalagi kita tidak tahu dengan siapa dia berbicara waktu itu."
"Baiklah, kapan aku bisa menemuimu untuk mendapatkan bukti tersebut?" tanya Gail lagi. Sudah dia duga, sahabatnya tidak akan mengecewakan. Bosnya pasti akan senang karena dia sudah sangat ingin mendapatkan bukti itu.
__ADS_1
"Aku harus menyiapkannya dulu, Sobat. Tidak mungkin bukan aku menunjukkannya padamu langsung dari kameraku ini? Beri aku waktu, aku akan menyiapkannya dan memberikan semua bukti yang aku dapatkan padamu."
"Baiklah, bagaimana jika besok? Kau tahu bukti itu sudah sangat diperlukan!"
"Jam 2 siang di Hard Rock Cafe," ucap sahabatnya.
"Oke, kau juga akan mendapatkan bayaran atas pekerjaanmu!"
Setelah membuat janji, pembicaraan mereka berakhir. Gail beranjak, meninggalkan pekerjaannya. Dia harus mengatakan hal ini pada bosnya. Dia yakin bosnya pasti akan sangat senang.
Gail melangkah menuju ruangan Orland. Beberapa hari tidak datang ke kantor membuat pekerjaan yang harus dia kerjakan jadi menumpuk. Orland sedang sibuk saat Gail mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Dia hanya melihat sekilas sang asisten dan setelah itu dia kembali melihat pekerjaannya.
"Ada apa?"
"Sir, rekanku sudah mendapatkan apa yang kau inginkan," ucap Gail.
"Bicara yang jelas, Gail!"
"Dia sudah mendapatkan bukti perselingkuhan Johan," ucap Gail.
Orland terkejut, matanya kembali menatap sang asisten. Pekerjaannya bahkan diletakkan di atas meja.
"Apa kau serius, Gail?"
"Tentu saja, Sir. Besok siang jam dua, dia akan menemui anda di Hard Rock Cafe dan sekalian meminta bayaran yang harus dia dapatkan."
"Jika begitu besok kosongkan jadwalku dan kau ikut aku pergi menemuinya!" perinta Orland.
"Yes, Sir!" sudah dia duga, bosnya pasti akan sangat senang. Itu terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Gail pamit pergi karena pekerjaan menunggunya, sedangkan Orland terlihat senang.
__ADS_1
Dengan bukti itu maka Cristin bisa bercerai dengan Johan dan pria itu tidak akan bisa mengelak lagi. Rasanya ingin menghubungi Cristin untuk mengatakan hal ini tapi sebaiknya dia menahan diri sampai dia mendapatkan bukti itu.
Dia akan memberikan kejutan untuk Cristin. Dia juga ingin tahu, apakah Cristin serius dengan ucapannya waktu itu yang mengatakan jika mereka akan menikah setelah dia bercerai? Dia sangat berharap Cristin serius dengan ucapannya.