Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Penggoda Istri orang


__ADS_3

Cristin merasa semakin aneh, dia sudah berbaring begitu lama bersama dengan Orland. Dia tahu semua ini tidak benar, alarm yang ada di otaknya sudah berbunyi sejak tadi. Dia harus segera pergi dan tidak boleh terus berbaring di sana tapi kenapa dia tidak bisa?


Dia bahkan membiarkan Orland memeluknya. Tidak seharusnya mereka seperti ini apalagi mereka tidak memiliki hubungan apa pun.


Cristin memutar tubuhnya dengan perlahan, matanya tidak lepas dari wajah tampan Orland. Pria itu sudah tertidur dengan pulas. Senyum tipis menghiasi wajah Cristin, dia bahkan memberanikan diri untuk memainkan jarinya di wajah tampan pria itu.


Sial, dia merasa apa yang dia lakukan saat ini sudah salah. Cristin menyingkirkan tangan Orland yang melingkar di tubuhnya. Sebaiknya dia pulang saja, jangan sampai ada yang melihat mereka lalu salah paham.


Cristin merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dia kembali melihat ke arah Orland. Entah kenapa dia jadi tidak tega meninggalkan Orland seperti itu. Mungkin membuat sup untuknya sebelum pergi tidaklah salah.


Agar tidak membangunkan Orland, Cristin turun dari atas ranjang dengan perlahan. Dia bahkan melangkah dengan perlahan dan menutup pintu dengan sepelan mungkin. Sepertinya dia berbakat menjadi seorang pencuri.


Cristin melihat-lihat kastil itu dengan seksama, entah kenapa tiba-tiba dia merasa berada di jaman kerajaan.


"Pria menyebalkan dengan selera aneh! Apa dia mau jadi pangeran Vampire?" gerutu Cristin.


"Anda mau ke mana, Nona?" tiba-tiba saja si pelayan tua mucul. Cristin berteriak karena terkejut. Tangannya bahkan berada di dada, jangan-jangan pelayan itu adalah Vampire?


"Nona?" pelayan itu sangat heran.


"Oh, hm. Bolehkah aku meminjam dapur sebentar? Aku ingin membuatkan sup untuk Orland sebelun aku pergi," ucap Cristin.


"Tentu saja, ikut denganku."


Cristin melangkah mengikuti palayan tua itu menuju dapur. Setelah pelayan itu mengatakan di mana saja barang-barang yang bisa dia gunakan, pelayan itu pun pergi.


Cristin mulai membuat sup, dia akan pulang setelah selesai. Semoga saja Orland suka dengan sup yang dia buat. Selagi dia sibuk, si pelayan tua masuk ke dalam kamar Orland. Dia bahkan membangunkan majikannya tanpa ragu.


"Tuan Muda, Noan Bailey hendak pulang."


Orland membuka matanya, dia terkejut tidak mendapati Cristin bersama dengannya.


"Kau bilang apa?"


"Nona Bailey berkata dia akan pulang setelah membuat sup untukmu," jawab si pelayan.


"Oh, sial. Dia berniat meninggalkan aku secara diam-diam."


"Apa aku harus mengunci semua pintu dan membuang kuncinya ke kolam renang?" tanya si pelayan.


Orland terkekeh dan duduk di sisi ranjang, dia merasa keadaannya sudah juah lebih baik.


"Berpura-puralah kau lupa menyimpan kuncinya," ucapnya seraya beranjak.


"Akan segera aku lakukan!" pelayan tua itu keluar dari kamarnya.


Orland tersenyum, dia juga melangkah keluar sambil melonggarkan otot lehernya. Beruntungnya dia sudah berpesan pada pelayan pribadinya untuk tidak membiarkan Cristin pergi.


Dapur adalah tujuannya, Orland tersenyum ketika melihat Cristin sedang sibuk membuat sup. Cristin tidak menyadari kehadirannya, dia terkejut ketika Orland memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Oh my God, Vampire!" teriak Cristin karena dia benar-benar terkejut.


"Siapa yang vampire, eh?"


"Ma-Maaf, karena kau tinggal di kastil jadi aku pikir kau lebih cocok jadi vampire," ucap Cristin asal.


"Jadi kau ingin jadi istri vampire?"


"Sembarangan, tidak sudi!"


"Jadi, apa yang kau lakukan?" tanya Orland seraya mencium pipinya.


"Membuat sup untukmu, dan setelah ini aku mau pulang."


"Pulang?" Orland memutar tubuh Cristin hingga mereka saling berhadapan.


"Kenapa begitu cepat, Cristin?"


"Aku tidak ingin ada yang salah paham, Orland. Aku tidak boleh berlama-lama di sini dan harus pulang."


"Siapa yang akan salah paham, Cristin? Apa kau takut Johan melihat kita dan tidak ingin membuatnya salah paham?"


Cristin menatap Orland dengan lekat, kenapa jadi Johan? Dia tidak takut Johan melihatnya, dia bahkan tidak peduli dengan pria itu lagi.


"Cristin," Orland menggendongnya dan mendudukkannya ke atas meja.


"Apa yang kau katakan, aku tidak peduli dengannya!"


"Jika begitu tidak akan ada yang salah paham saat melihat kita jadi kau tidak perlu khawatir."


"Ba-Baiklah, tapi turunkan aku," Cristin jadi gugup.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Orland menarik kedua kaki Cristin hingga mereka berdua begitu dekat.


"Or-Orland, jangan!" Cristin memalingkan wajahnya.


"Lihat aku, Cristin," Orland memegangi dagunya, mereka berdua saling pandang.


"Bolehkah aku menciummu lagi?"


"Tidak, kau masih sakit. Bagaimana jika aku tertular?"


"Jika kau tertular maka giliran aku yang merawatmu!"


"Apa? Enak saja!"


"Jadi?"


Cristin mengigit bibir, menyebalkan. Dia tahu dia sudah terjerat oleh pesona pra itu, dia tahu dia sudah tidak bisa menghindar lagi. Dinding yang dia bangun sudah mulai runtuh dengan perlahan. Dia berusaha untuk menolak tapi setiap kali dia dekat dengan pria itu, dia tidak bisa menolak sama sekali.

__ADS_1


"Cristin," Orland mengusap wajahnya. Entah kenapa dia jadi tergila-gila dengan wanita yang sudah membayarnya mahal dan melewatkan satu malam penuh gairah dengannya.


Cristin tidak berkata apa-apa, kedua tangannya sudah melingkar di lehar Orland karena Orland sudah mencium bibirnya. Dia tidak mau berpikir apa pun, nikmati saja kebersamaan mereka saat itu. Lagi pula selama tidak melibatkan perasaan tidak akan jadi soal, mereka sudah pernah melakukan lebih dari pada ciuman tanpa perasaan jadi anggap saja mereka seperti itu lagi.


Orland semakin memperdalam ciumannya, tangannya juga tidak diam. Rasanya ingin mengajak Cristin melakukan hal menyenangkan lain yang lebih dari pada ciuman.


Cristin memejamkan matanya, saat Orland mencium lehernya. Kedua kakinya sudah menjepit pinggang Orland dengan erat, dia seperti mendambakan sesuatu.


"Apa mau lanjut di tempat lain, Cristin?"


"Ti-Tidak," jawab Cristin dengan wajah memerah.


"Apa kau tidak mau mengulang malam panas yang pernah kita lalui berdua?"


"Tidak walau sesungguhnya aku sangat ingin!" ucap Cristin tanpa ragu.


"Jadi kau menginginkannya?"


"Orland, kau tahu hubungan ini tidak benar. Kau juga tahu aku belum bercerai, aku tidak ingin di cap sebagai jal*ng karena statusku masih sebagai istri Johan tapi aku sudah menjalin hubungan dengan pria lain dan tidur dengannya. Kau tahu bukan jika ada yang tahu?"


"Yeah, aku tahu," Orland sedikit kecewa.


"Sebab itu dengarkan aku," Cristin memegangi wajah Orland dan tersenyum lembut.


"Sebelum aku bercerai dengan Johan, aku tidak bisa menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku tidak ingin ada yang berpandangan buruk tentangku dan aku tidak mau mempermalukan kedua orangtuaku jadi aku rasa?"


"Apa itu berarti aku punya kesempatan, Cristin?" sela Orland.


"I-I don't know," ucap Cristin sambil menunduk.


"Hei, jika kau sudah berpisah dengan Johan berarti aku bisa menggantikan posisinya, bukan?"


"Entahlah," jawab Cristin.


"Apa maksudmu entahlah?"


"Aku tidak tahu jawabannya!"


"Jika begitu aku akan mencari tahu!" Orland kembali mencium bibirnya.


Cristin diam saja, tapi kemudian matanya terpejam dan kedua tangannya sudah memeluk leher orland dengan erat.


Mereka berciuman cukup lama dan setelah melepaskan bibir Cristin, Orland mengusap wajah Cristin sambil tersenyum.


"Aku sudah mendapatkan jawabannya."


"Kau, penggoda istri orang!" Cristin memukul bahu Orland dan setelah itu, Cristin memeluk Orland dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Orland terkekeh, penggoda istri orang? Yeah, gelar itu memang pantas dia sandang tapi yang dia goda adalah wanita yang sangat istimewa. Walau Cristin berstatus istri Johan tapi dialah yang mengambil keperawanannya malam itu dan sampai sekarang, hanya dia yang menyentuh tubuhnya jadi dia tidak keberatan menyandang gelar itu karena dia benar-benar menginginkan Cristin.

__ADS_1


__ADS_2