Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Aku Serius Dengannya


__ADS_3

Cristin sudah tertidur akibat obat yang diberikan oleh ibunya. Setelah berbicara dengan Orland, dia membiarkan pria itu berada di sana. Semua itu terjadi karena Orland tidak mau pergi sekalipun dia sudah mengusirnya pergi. Dengan keadaannya yang sedang tidak sehat membuat Cristin tidak bertenaga untuk berdebat dengannya.


Orland beranjak dari atas ranjang dengan pelan, dia tidak ingin Cristin terbangun. Hari ini selain melihat keadaan Cristin, ada hal penting yang ingin dia bicarakan pada ayah Cristin. Tentunya yang hendak dia bahas mengenai Johan.


Penjaga kastilnya berkata jika ada seorang pria yang hendak berbicara dengan Cristin ketika wanita itu datang tapi pria itu tiba-tiba pergi begitu saja saat Cristin masuk ke dalam. Karena penasaran, Orland mengecek semua cctv yang ada di rumahnya. Semula dia curiga jika yang dimaksud oleh penjaganya adalah Zion.


Dia tahu sepupu dan pamannya sedang mencari informasi tentang dirinya tapi setelah melihat cctv ternyata bukan Zion.


Dia ingat betul dengan wajah pria itu, dia tidak akan melupakannya karena pria itulah yang telah mengkhianati Cristin, pria itulah yang telah membuat Cristin tidak percaya dengan siapa pun lagi. Dia juga tidak bisa melupakannya wajahnya karena pria itulah yang memergoki dirinya sedang meniduri istrinya.


Jika malam itu dia tahu apa yang terjadi, dia pasti akan tertawa dengan keras untuk mengejek Johan karena dialah yang menjadi pria pertama yang menikmati tubuh Cristin dan dia akan membuat pria itu kesal karena telah menyia-nyiakan Cristin.


Sekarang belum terlambat, dia akan membuat Johan menyesal karena sudah mengkhianati wanita yang begitu mencintainya dengan tulus dan akan dia buktikan, jika dia jauh lebih baik dari pada pria itu.


Dia benar-benar tidak menduga Johan akan mengikuti Cristin sampai ke rumahnya. Hal itu membuatnya curiga, sepertinya Johan mengikuti Cristin saat Cristin keluar dari rumahnya. Sebab itu dia ingin membicarakan hal ini pada ayah Cristin.


Sebelum keluar dari kamar, Orland meninggalkan ciumannya di dahi Cristin. Dia sangat berterima kasih pada kedua orangtua Cristin yang memberikan kesempatan padanya untuk berbicara dengan Cristin.


Ketika dia keluar dari kamar, dia disambut oleh ibu Cristin yang terlihat khawatir. Dia harap hubungan mereka kembali membaik mengingat sifat putrinya yang sedikit keras kepala.


"Bagaimana dengan keadaannya?" tanya Mariana.


"Cristin sudah tidur, Nyonya tidak perlu khawatir," ucap Orland.


"Apa kau bisa membujuknya?"


"Tentu saja, dia marah karena ucapanku tentang anak-anak."


"Tolong maafkan, sepertinya dia sudah trauma mendengar ucapan akan masa depan."


"Aku tahu, Nyonya. Aku bisa mengerti tapi ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua. Apa kalian punya waktu?"


Mariana mengernyitkan dahi, hal penting? Orland terlihat serius, Mariana mengajaknya ke ruang tamu dan memanggil suaminya. Segelas teh hangat sudah terhidang di atas meja, Mariana dan Grifin terlihat begitu serius dan sudah sangat ingin tahu apa yang hendak Orland sampaikan.


"Aku minta maaf jika kalian akan menganggap aku lancang tapi karena aku serius dengan Cristin, jadi aku rasa aku tidak bisa diam saja," ucap Orland.


"Jadi kau serius dengan putriku?" tanya Grifin memastikan.


"Tentu saja, Tuan Bailey. Setelah semua yang aku lewati aku sudah tidak mau bermain-main lagi agar kesalahan yang aku lakukan tidak terulang kembali. Aku tidak bermain-main dengan Cristin dan aku serius dengannya."


"Baiklah, sekarang lanjutkan apa yang ingin kau katakan," Ucap Grifin.


"Sesungguhnya ini perihal suami Cristin."

__ADS_1


Mariana dan suaminya saling pandang, Johan? Kenapa Orland ingin membahas pria itu?


"Kau mengenal Johan?" tanya Grifin.


"Tidak, tapi aku pernah bertemu dengannya."


Mariana dan suaminya kembali saling pandang, sungguh mereka sangat penasaran, kenapa Orland bisa tahu suami Cristin? Entah kenapa mereka jadi curiga, jangan-jangan telah terjadi sesuatu di antara mereka bertiga tanpa sepengetahuan mereka berdua.


"Lalu ada apa dengannya?"


"Penjaga rumahku mengatakan jika Johan ingin berbicara dengan Cristin saat dia berada di rumahku."


"Bagaimana bisa!" Grifin bangkit berdiri\, kenapa baj*ngan itu bisa tahu Cristin berada di rumah Orland? Mariana meminta suaminya untuk duduk\, dia tahu suaminya sangat membenci menantu mereka yang baj*ngan itu.


"Aku curiga dia mengikuti Cristin saat Cristin keluar dari rumah," ucap Orland.


"Jadi menurutmu Johan sudah mengintai Cristin begitu dia keluar dari rumah?" tanya Mariana.


"Ya, Nyonya."


"Johan sialan, tidak hanya mengkhianati putriku, untuk apalagi dia mengikuti Cristin?!" ucap Grifin.


"Dad, bukankah sudah saatnya Cristin mengirimkan surat cerai padanya?" tanya istrinya.


"Jika kalian mempercayai aku, bolehkah aku melibatkan diri?" tanya Orland.


"Kami tidak bisa merepotkan dirimu, Orland," ucap Mariana.


"Tidak masalah, Nyonya. Karena aku serius dengan Cristin maka aku akan melakukan apa pun untuknya."


Untuk kesekian kali Mariana dan Grifin kembali saling pandang, apa mereka harus menolak? Sepertinya tidak karena sekarang ada yang ingin membantu putri mereka. Pria itu begitu serius dan tulus pada putri mereka, mana mungkin mereka menolak?


Cristin berdiri di balik dinding mendengar pembicaraan mereka. Dia terbangun karena haus dan ketika dia hendak mengambil air minum, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Orland dan kedua orangtuanya. Apa Orland Dmytry benar-benar serius?


Cristin mengusap dahinya, dia tidak menyangka Johan sudah mulai mengikutinya. Sepertinya dia sudah harus pergi berkonsultasi sebelum mengajukan surat perceraian. Dia sudah sangat ingin terbebas dari pria itu, jika keadaannya sudah sehat maka dia akan segera pergi berkonsultasi.


Cristin melangkah menuju dapur untuk mengambil air hangat, dia tidak mau mendengar percakapan Orland dan kedua orangtuanya lagi. Cristin termenung dengan segelas air di tangan, kepalanya sakit, dia malas berpikir dengan benar.


"Nona, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya pelayan yang melihatnya duduk termenung di meja makan.


"Tolong buatkan aku semangkuk sup," pinta Cristin karena dia memang lapar.


"Tunggu sebentar, Nona," sang pelayan berlalu pergi untuk membuatkan apa yang dia mau.

__ADS_1


"Cristin, apa yang kau lakukan di dapur?" tanya ibunya. Begitu mendengar suara putrinya, Mariana segera bergegas ke dapur.


"Aku lapar, Mom."


"Baiklah, kembalilah ke kamar. Mommy yang akan membuatkan makanan untukmu."


Cristin mengangguk, dia memang ingin berbaring karena rasa sakit di kepalanya. Cristin melangkah menuju kamar, suara Orland masih terdengar karena dia masih berbincang dengan ayahnya. Cristin segera masuk ke dalam kamar, dia tidak mau mempedulikannya.


Cristin tidak bisa tidur lagi, matanya menerawang jauh. Pikirannya berkelana, apa dia harus senang saat tahu jika Orland serius dengannya? Atau dia harus waspada karena bisa saja pria itu berkata demikian hanya untuk menipunya seperti yang Johan lakukan dulu?


Dia seperti itu cukup lama, dia bahkan tidak melihat ke arah pintu saat seseorang membukanya dan masuk ke dalam. Orland menghampirinya dan duduk di sisinya, Cristin terkejut dan menatapnya tajam tapi setelah itu, Cristin memalingkan pandangannya kembali.


"Kenapa belum pergi?" tanya Cristin.


"Aku ingin bersama denganmu lebih lama, Cristin. Bukankah sudah aku katakan, aku akan merawatmu."


"Jangan melakukan hal yang sia-sia untuk menarik simpatiku!"


"Apa maksud perkataanmu?" Orland meraih kedua tangannya dan mengecupnya lembut.


"Pergilah, Orland. Jangan sia-siakan waktumu denganku. Sebaiknya kau fokus untuk membalas perbuatan pamanmu!"


"Tidak akan, Cristin. Aku tidak menyia-nyiakan waktuku di sini karena aku mengkhawatirkan dirimu dan aku ingin bersama denganmu."


Cristin diam tapi tidak lama kemudian, air matanya mengalir. Orland terkejut melihatnya, dia segera mendekati Cristin dan memeluknya.


"Kenapa kau menangis? Apa aku salah bicara lagi?"


Cristin hanya menggeleng, entah kenapa dia jadi cengeng. Dia tidak mau pria itu melihat keadaannya yang seperti itu tapi dia benar-benar tidak bisa membendung air matanya.


"Maafkan jika aku sudah salah bicara, Cristin. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih."


"Tidak, bukan salahmu."


"Jadi?"


"Aku lapar," Cristin mengalihkan percakapan.


"Ibumu sedang membuatkan makanan untukmu."


"Jika begitu temani aku berbaring."


Orland terkejut, apa dia tidak salah dengar? Cristin sudah berbaring, Orland menemaninya sesuai dengan permintaan Cristin. Cristin bahkan memeluknya dengan erat, wow, ada apa ini?

__ADS_1


Walau dia tidak mengerti apa yang telah terjadi tapi dia senang-senang saja apalagi sikap Cristin tiba-tiba berubah. Ini benar-benar bagus dan dia harap Cristin akan selalu seperti itu.


__ADS_2