
Orland berangkat pergi ke kantor lebih pagi, itu karena dia sudah sangat ingin tahu apakah Gail mendapatkan sesuatu atau tidak selama dia mengikuti Johan. Dia sangat berharap Gail menemukan sedikit petunjuk sehingga dia memiliki cara untuk membantu Cristin.
Gail bahkan terkejut melihat bosnya sudah berada di dalam ruangan. Dia tidak pernah mendapati bosnya datang sepagi itu sebelumnya. Ternyata cinta dapat mengubah seseorang padahal Cristin Bailey begitu galak.
"Sir?" Gail memanggilnya. Mungkin saja dia sedang bermimpi saat ini.
"Bagaimana, Gail? Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Orland tanpa basa basi.
Gail terkejut, ternyata demi ingin tahu hal itu bosnya sampai datang sepagi itu. Dia jadi curiga, jangan-jangan bosnya datang sebelum security di bawah datang.
"Kenapa kau hanya diam di sana?" tanya Orland karena Gail diam saja di depan pintu.
"Oh, aku terkejut karena kau datang sepagi ini, Sir," ucap Gail. Pria itu menutup pintu dan melangkah masuk ke dalam.
"Jadi bagaimana?" Orland.
"Aku mendapatkan sedikit pembicaraannya yang mencurigakan walau kurang jelas tapi aku rasa masih bisa di dengar," Gail melangkah mendekati Orland sambil mengeluarkan ponselnya.
"Percakapan apa?" Orland semakin ingin tahu.
"Anda bisa mendengarnya sendiri. Sir," rekaman diputar dan ponsel diletakkan dia atas meja. Rekaman itu memang kurang jelas, Orland bahkan mengambil ponsel Gail dan mendekatkannya di telinga. Entah dengan siapa Johan berbicara, pria itu tidak memanggil namanya. Sangat disayangkan memang.
"Aku sangat yakin jadi kau tidak perlu khawatir. Pada saat itu, kita akan mendapatkan apa yang kita mau dan dia akan berkorban untukmu!"
Orland terkejut mendengar perkataan Johan. Dia bahkan mendengar rekaman itu sampai berulang-ulang untuk memahami isi pembicaraan itu tapi dia tidak mengerti sama sekali apalagi tidak ada kelanjutan dari pembicaraan itu. Sepertinya Johan menginginkan sesuatu dari Cristin, dia sangat yakin itu tapi mengenai ucapannya soal berkorban? Dia punya firasat buruk.
"Bagaimana menurutmu, Sir?" tanya Gail.
"Entahlah, aku tidak tahu tapi aku curiga dengan isi percakapan ini," Orland tanpak berpikir. Kenapa Johan berbicara seolah-olah jika Cristin harus berkorban untuk seseorang? Apakah yang sedang berbicara dengan Johan adalah kekasihnya? Dia benar-benar curiga akan hal ini.
Tidak bisa, dia merasa ada yang tidak beres dengan percakapan itu. Sepertinya dia harus meminta Cristin untuk waspada dan sebaiknya dia memerintahkan Gail mencari seseorang yang lebih ahli untuk mencari infromasi.
"Gail," Orland mengembalikan ponselnya.
"Yes, Sir."
"Aku rasa ini bukan percakapan biasa. Aku ingin kau mencari seseorang yang bisa melakukan pekerjaan ini. Aku ingin tahu dengan siapa dia berbicara dan aku juga ingin tahu semua isi percakapan yang dia lakukan selanjutnya. Kau tahu maksudku, bukan?"
"Tentu, Sir. Aku kenal seseorang yang bisa melakukan hal seperti ini."
__ADS_1
"Bagus, aku tidak peduli bayarannya asal aku bisa tahu apa isi dari percakapannya dan apa maksud dari perkataannya jika dia harus berkorban untukmu ?"
"Baik, aku akan segera mencari orang itu!" Gail mengambil ponselnya.
"Kirimkan rekamannya untukku!" pinta Orland sebelum Gail melangkah pergi.
Gail mengangguk, rekaman pun dikirimkan. Orland membutuhkannya untuk dia perdengarkan pada Cristin. Mungkin saja Cistin tahu sesuatu, mungkin juga Johan menginginkan sesuatu dari Cristin sehingga dia bersikeras tidak mau menceraikan Cristin.
Setelah Gail keluar dari ruangan itu, Orland beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju jendela. Dia berdiri di sana dan tampak berpikir. Apakah ada rencana terselubung dari ucapan itu? Jari sudah berada di dagu, dia yakin seratus persen dugaannya tidak salah. Jika begitu, sebelum dia mendapatkan bukti yang cukup maka dia tidak boleh membiarkan Cristin berduaan dengan Johan apalagi sampai mereka menjalani ujian pra nikah dan tinggal bersama.
Orland kembali melangkah menuju mejanya, dia jadi ingin Cristin cepat datang agar mereka bisa membahas hal ini secepatnya tapi ini terlalu pagi. Sepertinya Cristin masih tidur jadi dia tidak mau mengganggunya. Sebaiknya dia bekerja dan memang itulah yang dia lakukan sampai tanpa dia sadari sosok cantik yang dia pikirkan sejak tadi sudah berada di dalam ruangannya sambil tersenyum manis.
"Hai, apa aku mengganggu?" tanya Cristin seraya menghampirinya.
"Tidak, kemarilah," Orland memutar sedikit kursinya dan mengulurkan tangan ke arah Cristin.
Cristin tersenyum, teriakannya terdengar saat Orland menarik tangannya sehingga Cristin jatuh ke atas pangkuannya.
"Orland!" Cristin melihat ke arah pintu, dia takut ada yang masuk secara tiba-tiba.
"Aku rindu denganmu, Cristin," Orland memeluknya erat.
"Kita baru tidak bertemu selama beberapa jam saja," Cristin tersenyum dan membelai rambut tebal pria itu.
"Gombal!" ucap Cristin seraya memukul bahunya.
Orland tersenyum, pelukannya semakin erat. Dia jadi mengantuk karena belaian tangan Cristin. Dia memang kurang tidur dan dia membutuhkannya.
"Orland," Cristin sangat heran karena Orland diam saja.
"Ijinkan aku seperti ini sebentar, Cristin," pinta Orland.
"Sepertinya kau kurang tidur," ucap Cristin.
"Apa kau mau menemani aku?" tanya Orland.
"Tidak, tapi kau boleh berbaring di atas pahaku jika kau mau."
"Dengan senang hati, Nona. Aku tidak mungkin menolak."
__ADS_1
Cristin beranjak, begitu juga dengan Orland. Orland membawanya ke arah sofa, lain kali dia akan membuat sebuah ruangan yang bisa dia gunakan untuk tidur berdua dengan Cristin. Dulu dia tidak membutuhkannya tapi sekarang dia sudah membutuhkannya.
Cristin sudah duduk, kepala Orland berada di atas pahanya. Mata Orland terpejam apalagi tangan Cristin membelai rambutnya dan terkadang bermain di garis wajah tampannya.
"Apa dulu kau selalu melakukan hal seperti ini dengan Johan, Cristin?" tanya Orland. Matanya terbuka dan menatap Cristin dengan tajam.
"Tidak, entahlah. Aku sudah lupa," ucap Cristin sambil menggeleng.
"Kau lupa atau kau tidak ingin mengingatnya?"
"Please, Orland. Apa yang aku lakukan denganmu ini jangan di hubung-hubungkan dengan apa yang pernah aku lakukan dengan Johan dulu. Bagiku dia adalah masa lalu dan sekarang apa yang kita lakukan akan menjadi kenangan kita berdua."
"Baiklah," Orland mengusap wajah Cristin dengan perlahan "Aku tidak akan bertanya seperti ini lagi jadi jangan marah."
"Aku tidak marah, aku hanya tidak ingin mengingat apa yang pernah aku lakukan dengan Johan karena sekarang aku bersama denganmu dan kita akan membuat kenangan kita berdua."
Orland tersenyum, tengkuk Cristin ditekan sehingga dia bisa mencium bibirnya.
"Baiklah, wrong question. Sepertinya aku harus menanyakan ukuran bra yang kau pakai," godanya.
"A-Apa? Sembarangan!" ucap Cristin dengan wajah memerah.
"Ayolah, tidak perlu malu. Aku akan membelikan sebuah bra cantik untukmu," goda Orland.
"Kau!" Cristin menunduk, Orland kira Cristin ingin mencium bibirnya tapi ternyata dia salah. Matanya melotot ketika Cristin menggigit bibir bagian bawahnya. Aduh, dia lupa jika Cristin suka menggigit.
Cristin menggigitnya begitu lama dan melepaskannya setelah puas. Dia bahkan tersenyum dengan lebar.
"Sakit, Cristin!" Orland sudah duduk, tangannya memegangi bibirnya yang di gigit oleh Cristin.
"Itu agar kau tidak bisa mencium aku lagi," ucap Cristin sambil tersenyum lebar.
"Jangan kira kau bisa menghentikan niat aku, Nona!"
Teriakan Cristin terdengar saat Orland menerkam dirinya tapi teriakannya terhenti saat Orland mencium bibirnya dan menghisap bibir bawahnya dengan keras.
"Aw, sakit!" Cristin memukul bahu Orland.
"Masih ingin menggigit bibirku?" Orland mengusap wajahnya. Saat itu dia berada di atas tubuh Cristin.
__ADS_1
"Jika kau masih mau," Cristin tersenyum.
"Aku lebih suka kau menggigit yang lain," Orand kembali mencium bibirnya. Kedua tangan Cristin melingkar di tubuhnya dan setelah itu mereka berbaring berdua. Padahal mereka harus pergi membeli barang-barang untuk barbeque tapi mereka ingin seperti itu sebentar. Orland juga akan mengatakan masalah rekaman itu pada Cristin saat mereka sedang berbeque karena saat ini dia tidak mau kebersamaan mereka jadi terganggu.