Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Johan Tidak Terima


__ADS_3

Orland menunggu di ruang tunggu, sedangkan Cristin sudah berada di dalam ruangan bersama dengan Johan untuk menemui sang akar pernikahan. Mereka akan mendengarkan keputusan sang pakar mengenai pernikahan mereka.


Cristin terlihat cuek karena dia sudah tahu apa yang akan terjadi dengan nasib pernikahan mereka. Dia memang sudah menunggu itu begitu lama. Dia sudah tidak sabar sang pakar mengatakan keputusannya dan dia juga sudah tidak sabar melihat wajah terkejut Johan.


Tidak ada yang bersuara, Cristin malas bicara karena dia juga merasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Johan sudah sangat tidak sabar, dia sangat yakin, seyakin yakinnya jika dia dan Cristin akan diberi peluang untuk memperbaiki hubungan mereka berdua.


"Bagaimana, Mam. Kami akan menjalani ujian pra nikah, bukan?" tanya Johan.


"Untuk itu, Tuan. Aku sudah mengambil keputusan lain."


"Apa maksudmu?" tanya Johan tidak mengerti.


"Aku sudah mempelajari kasus kalian dengan sangat baik dan aku mengambil keputusan jika tidak ada jalan terbaik untuk kalian selain percaraian."


"Apa maksud ucapanmu?" Teriak Johan seraya beranjak.


"Tolong duduk kembali, Tuan," pinta sang pakar pernikahan.


Cristin tersenyum, dia bahkan duduk dengan angkuh. Saatnya menonton kekalahan Johan, dia ingin melihat apa yang hendak pria itu lakukan.


"Katakan padaku, kenapa tiba-tiba kau mengambil keputusan jika kami harus bercerai? Aku sangat mencintai istriku, aku kembali untuk memperbaiki hubunganku dengannya. Aku sudah tunjukkan kesungguhanku, kau juga berkata jika kami akan menjalani ujian pra nikah tapi kenapa sekarang kau mengatakan jika jalan terbaik dari hubungan kami adalah perceraian?" Johan terlihat emosi. Dia seperti dipermainkan. Rasa curiga jika Cristin menyuap pakar pernikahan itu semakin kuat.


"Sebaiknya kau duduk tenang dan dengarkan, Johan. Simpan tenagamu karena apa yang kau katakan akan sia-sia," cibir Cristin.


"Cristin, kenapa kau seperti ini padaku? Bukankah aku sudah minta maaf padamu? Apa kau lupa dengan kenangan yang kita lalui selama kita berpacaran?" Johan mengatakan hal itu dengan wajah memelas. Dia sangat berharap Cristin mengingat masa-masa itu dan memaafkan dirinya.


Cristin hampir muntah mendengar perkataan Johan. Setelah dikhianati, untuk apa dia mengingat kenangan manis yang telah mereka lalui selama mereka berpacaran? Setiap kali dia mengingat momen yang mereka lalui dulu membuatnya merasa mual.


"Aku tahu kau masih mencintai aku, Cristin. Kau selalu seperti itu dari dulu sampai sekarang dan aku tahu kau hanya sedang sakit hati saja padaku karena aku melakukan hal itu. Aku tahu aku salah, sebab itu kembalilah padaku dan setelah ini kita jalani kehidupan rumah tangga seperti yang kau inginkan dulu," pinta Johan memohon.


Cristin sudah tidak bisa menahan diri lagi, tawanya nyaring terdengar. Semua yang dikatakan oleh Johan membuatnya merinding geli. Masih mencintainya? Seberapa tinggi kepercayaan diri yang dimiliki oleh Johan sehingga dia berani mengatakan hal itu?


"Kenapa kau tertawa? Apa kau tidak mempercayai aku?"


"Berhentilah, Johan. Dari mana kau mendapatkan rasa percaya dirimu itu? Aku masih mencintaimu? Sungguh terdengar menjijikkan!" ucap Cristin sinis.

__ADS_1


"Bukankah memang seperti itu? Aku tahu kau masih mencintai aku dari dulu dan sekarang pun masih!"


Cristin kembali tertawa terbahak, jika dia punya balok maka akan dia gunakan untuk memukul kepala Johan agar dia segera sadar.


"Dengarkan aku baik-baik, Johan," ucap Crisin, matanya menatap pria itu dengan tajam.


"Cinta yang kau sebutkan itu sudah tidak ada lagi. Dulu aku memang mencintaimu, sangat mencintai dirimu sampai aku rela melakukan apa pun untukmu tapi cinta itu sudah mati ketika aku melihat kau bercinta dengan wanita itu. Apa kau pikir aku wanita bodoh yang akan tetap mencintai pria yang sudah mengkhianati aku? Asal kau tahu saja dan aku mengatakan hal ini agar kau sadar, cintaku sudah menjadi milik pria yang ada di luar sana!" ucap Cristin tanpa ada keraguan.


"Sebab itu kau menyuapnya agar dia memutuskan jika kita harus bercerai?"


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Cristin tidak mengerti.


"Tidak perlu berpura-pura, Cristin. Aku tahu kau pasti menggunakan kekuasaan yang kau miliki dan menyuapnya dengan uang!"


"Sebaiknya jangan asal bicara, Tuan. Aku bisa menuntut dirimu atas kasus pencemaran nama baik!" sang pakar pernikahan itu tampak tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Johan.


"Jika dia tidak menyuapmu lalu kenapa keputusanmu tiba-tiba berubah?"


"Semua karena bukti yang Nyonya Bailey berikan padaku, bukan karena dia menyuapku!"


"Akan aku ambilkan jika kau tidak percaya!" sang pakar itu hendak beranjak tapi Cristin segera mencegah.


"Tidak perlu, Mam. Aku yang akan memberikannya!" ucap Cristin.


Tas dibuka, sebuah map dikeluarkan. Cristin juga mengeluarkan isinya dan setelah itu dia melemparkan foto perselingkuhan Johan tepat di wajahnya.


"Ini buktinya!!" ucap Cristin saat melemparkan bukti itu.


Johan diam, bukti perselingkuhannya jatuh di bawah kakinya. Dengan perlahan, Johan mengambil foto kebersamaannya dengan Lauren beberapa hari yang lalu. Sial, bagaimana Cristin bisa mendapatkan foto-foto kebersamaan mereka?


"Sekarang apa lagi yang ingin kau katakan, Johan? Dia yang bercinta denganmu pada malam pernikahan kita dan kau masih menjalin hubungan dengannya jadi kau ingin mengatakan apa lagi?"


"Cristin kami hanya?"


"Apa? Jangan katakan kalian berteman karena sudah basi. Jika kalian adalah teman, kalian tidak akan bermesraan seperti itu!"

__ADS_1


"Cristin, dengarkan aku," pinta Johan.


"Cukup, Johan! Tidak ada lagi yang bisa kau katakan. Sekarang terima saja keputusannya. Kau dan aku akan segera berakhir!"


"Cristin, jangan salah paham."


"Apa aku sudah boleh pergi, Mam?" tanya Cristin tanpa mempedulikan Johan.


"Tentu saja, Nyonya Bailey. Aku rasa suami anda juga sudah bisa menerima keputusan ini. Perceraian kalian akan segera diproses secepatnya karena aku akan segera memprosesnya."


"Jika begitu permisi, Mam. Aku tunggu kabar baik darimu," Cristin beranjak, sudah saatnya pergi. Johan mengikutinya, dia ingin membujuk Cristin. Hanya itu saja yang bisa dia lakukan.


"Cristin, tunggu. Aku ingin berbicara denganmu!" Johan berlari mengejarnya.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi!"


"Dengar, dia yang tiba-tiba datang menemui aku. Dia memohon agar aku mau kembali padanya."


"Simpan kebohonganmu, Johan!"


"Aku bersungguh-sungguh, Cristin. Sekarang katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"


Langkah Cristin terhenti, Johan sangat senang karena dia pikir dia memiliki kesempatan.


"Apa kau mau tahu apa yang harus kau lakukan untuk menebus kesalahanmu, Johan?"


"Tentu, katakan. Aku pasti akan melakukannya agar kau mau memaafkan aku," ucap Johan.


"Jika begitu lompatlah dari One World Trade Center, maka aku akan mempercayaimu!"


"Jangan bercanda, Cristin!" teriak Johan marah.


"Jika tidak bisa maka jangan katakan apa pun lagi. Selamat tinggal, kita bertemu di pengadilan nanti!" Cristin kembali melangkah setelah berkata demikian.


Johan benar-benar marah. Apa Cristin sudah gila memintanya melompat dari gedung dengan tinggi ribuan kaki? Dia akan langsung mati jika dia melakukannya. Sial, rencana gagal. Dia sungguh tidak menyangka ada yang mengambil foto kebersamaannya dengan Lauren secara diam-diam. Sebaiknya mulai sekarang dia berhati-hati karena dia curiga yang melakukan hal itu adalah pria yang bersama Cristin saat ini dan tentunya tebakannya sangatlah benar.

__ADS_1


__ADS_2