Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Tunggu Aku Kembali


__ADS_3

Hari sudah berganti, Cristin terbangun dengan keadaan yang jauh lebih baik. Tidak saja kesehatannya yang sudah membaik, tapi perasaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia bahkan sangat bersemangat untuk menjalankan harinya dan melakukan kegiatannya.


Cristin beranjak, melangkah menuju jendela. Gorden dibuka begitu juga dengan jendela. Cristin menghirup udara pagi yang menyegarkan dan setelah itu dia tampak berpikir apa yang harus dia lakukan hari ini.


Dia sudah memutuskan untuk mengajukan surat perceraian tapi dia harus berkonsultasi terlebih dahulu. Sepertinya dia harus menyelesaikan proposal terlebih dahulu dan setelah itu dia ingin fokus mengurus perceraiannya dengan Johan.


Baiklah, dia sudah mengambil keputusan. Dia akan menghubungi Orland nanti dan mengajaknya menyelesaikan proposal itu. Semoga saja dalam dua hari selesai dan setelah itu dia akan fokus pada perceraiannya. Dia juga harus mencari seorang pakar pernikahan tepercaya yang akan membantu proses perceraiannya dengan Johan.


Cristin keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur, ibunya sedang sibuk membuat sarapan sedangkan ayahnya berada di meja makan dan terlihat sedang membaca berita.


"Morning, Dad," Cristin menghampiri ayahnya dan mendaratkan ciuman di pipi dan setelah itu dia melakukan hal yang sama pada ibunya.


"Kau terlihat bersemangat, Sayang," ucap ibunya.


"Yeah, aku memang sangat bersemangat," Jawab Cristin seraya mengambil sepotong roti bakar yang baru saja di bakar oleh ibunya.


"Bagus, ternyata obat yang datang sangat manjur," goda ibunya.


"Apa? Enak saja!"


Ibunya tersenyum, walau Cristin tidak mengakui tapi dia bisa menebak kenapa putrinya bisa bersemangat seperti itu.


"Cristin, kemarilah. Ada yang ingin Daddy bicarakan," ucap ayahnya.


"Ada apa Dad?" Cristin menghampiri ayahnya dan duduk bersama dengannya.


"Daddy pikir sudah saatnya kau mengajukan surat perceraian pada Johan. Jangan menunda terlalu lama, semakin cepat kau berpisah dengannya, semakin baik."


"Aku tahu, Dad. Aku sudah memikirkan hal ini."


"Bagus, jika begitu. Daddy akan mencari seorang ahli yang bisa membantumu."


"Terima kasih atas bantuan Daddy tapi aku rasa sudah saatnya aku menyelesaikan permasalahanku seorang diri."


"Kau yakin?" tanya ayahnya memastikan.


"Tentu, tapi sebelum itu ada yang harus aku selesaikan. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku terlebih dahulu dan setelah itu aku akan fokus pada perceraianku."


"Daddy senang mendengarnya, tapi jika kau membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk mengatakannya pada Daddy," ucap ayahnya.


"Sepertinya kita sudah tidak perlu turun tangan lagi, Dad," Mariana menghampiri suami dan putrinya sambil membawa roti bakar yang baru saja dia bakar.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Cristin dan ayahnya secara bersama-sama.


"Bukankah kau sudah punya bodyguard yang bersedia melakukan apa saja untukmu? Mommy rasa kau lebih baik bergantung dengannya," goda ibunya.


"Mo-Mommy jangan asal bicara!" Cristin membuang wajahnya yang memerah.


Ayah dan ibunya tersenyum, walau Cristin menyangkal tapi mereka benar-benar bisa melihat jika Cristin nyaman dengan pria yang mereka maksud.


"Cristin, apa kau tidak memiliki perasaan pada Orland?" pertanyaan yang dilontarkan oleh ibunya hampir membuat Cristin tersedak roti bakar yang sedang dia makan.


"Ke-Kenapa Mommy bertanya seperti itu?" tanya Cristin gugup.


"Mommy hanya ingin tahu, Sayang. Dia begitu tulus padamu, kami bisa melihat itu. Entah bagaimana kalian bisa bertemu dan entah apa yang terjadi antara kau, Orland dan Johan tapi Mommy rasa pertemuan kalian bukan pertemuan yang disengaja."


"Jadi maksud Mommy?" Cristin menunduk, apa benar pertemuan mereka malam itu bukan pertemuan yang di sengaja? Dia ingat malam itu dia begitu hancur dan melangkah tanpa tujuan sampai akhirnya membawa dirinya ke stasiun. Dia juga tidak tahu kenapa dia pergi ke tempat itu padahal dia jarang menginjakkan kakinya ke tempat seperti itu. Apa dia juga memiliki pikiran untuk bunuh diri seperti yang Orland lakukan?


"Mommy sudah katakan padamu, bukan? Terkadang kita harus bertemu dengan orang yang salah sebelum kita bertemu dengan orang yang tepat dan kau, telah salah mencintai Johan tapi tanpa kau inginkan, kau bertemu dengan Orland. Percayalah, hal seperti itu jarang terjadi dan Mommy percaya, pertemuan kalian bukanlah pertemuan tanpa disengaja."


Cristin tidak menjawab, dia masih diam sambil menikmati roti bakarnya. Dia tahu ibunya ingin dia membuka hati dan melupakan Johan tapi Jujur dia masih takut untuk mencintai seseorang lagi karena dia tidak mau kecewa untuk kedua kalinya.


"Cristin," ibunya memanggil sambil menatapnya dengan ekspresi heran.


"Entahlah, Mom. Aku tidak tahu, aku tidak mau memikirkannya. Aku sudah memutuskan akan menjalani hariku seperti biasanya. Aku tidak bisa percaya begitu saja pada Orland, jujur aku masih ragu Orland benar-benar serius atau tidak tapi aku tidak membencinya. Aku akan menjalani hariku dengannya seperti biasa tapi jika ternyata dia tidak jauh berbeda dengan Johan berarti itu adalah teguran untukku dan kesialan bagiku. Sekarang aku tidak ingin memikirkan hal seperti itu karena aku ingin fokus pada perceraianku."


"Kenapa kalian begitu ingin aku bersama dengannya?" tanya Cristin curiga.


"Entahlah, tanyakan pada ayahmu," ucap ibunya.


"Hei, kenapa jadi aku?" protes ayahnya.


"Ck, tidak perlu saling menyalahkan!" Cristin meneguk susunya sampai habis.


"Aku mau mandi dan bersiap-siap pergi," ucapnya seraya beranjak.


"Kau mau ke mana?" tanya ibunya.


"Kantor Orland," jawab Cristin seraya melangkah pergi.


Ayah dan ibunya saling pandang, dan tidak lama kemudian mereka berdua tersenyum. Walau putri mereka masih ragu dengan pria itu tapi sepertinya hubungan mereka akan semakin dekat.


Cristin masuk ke dalam kamar, ponsel sudah berada di tangan. Dia ingin menghubungi Orland sebelum dia mendatangi pria itu. Cristin menghubungi Orland tanpa membuang waktu dan tidak lama kemudian sudah terdengar suara Orland.

__ADS_1


"Ada apa, Nona? Apa kau merindukan aku?" goda Orland.


"Sembarangan, siapa yang rindu denganmu!" jawab Cristin sinis.


Orland terkekeh, padahal dia sangat ingin  Cristin menjawab 'Ya' tapi sepertinya itu mustahil.


"Bagaimana keadaanmu, Cristin? Apa kau sudah baik-baik saja?"


"Tentu, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Cristin.


"Jadi, ada apa kau menghubungi aku?"


"Aku ingin ke kantormu, Orland. Aku ingin menyelesaikan proposal itu agar pekerjaanku cepat selesai."


"Kau tidak perlu khawatir, Cristin. Aku sudah menyelesaikan proposal itu untukmu," ucap Orland.


"Benarkah?" Cristin terdengar senang.


"Yeah, aku sudah meminta Gail untuk menghubungi bosmu nanti."


"Baiklah, tapi apa kita bisa bertemu hari ini?" tanya Cristin. Entah kenapa dia ingin bertemu dengan Orland hari ini.


"Sorry, Sayang. Sekarang aku berada di bandara karena aku harus pergi ke Australia."


"Apa?" Cristin terkejut. Kenapa Orland tidak mengatakan hal itu semalam?


"Jangan marah, Cristin. Ini mendadak, aku berniat menghubungimu setelah aku berada di pesawat. Aku tidak akan lama berada di sana, aku akan kembali satu minggu lagi dan akan segera mencarimu," ucap Orland.


"Aku tidak marah, lebih baik kau tidak kembali!" ucap Cristin sinis.


"Benarkah? Apa kau tidak akan merindukan aku?"


"Tidak, aku tidak akan merindukanmu dan jangan kembali!" Cristin mematikan ponselnya setelah berkata demikian dan setelah itu dia menyesali ucapannya.


"Oh, sial! Apa yang telah aku katakan?" Cristin menjatuhkan diri di atas ranjang. Jadi Orland akan pergi ke  Australia selama satu minggu? Ck, entah kenapa mendadak dia merasa harinya akan menjadi sepi.


Orland mengirimkannya sebuah pesan setelah dia berada di pesawat. Sesungguhnya dia sangat ingin bertemu dengan Cristin tapi dia harus pergi ke Australia secara mendadak.


Cristin meraih ponselnya dan melihat pesan yang dikirimkan oleh Orland.


"Aku sangat ingin bertemu denganmu, Cristin. Aku pasti akan sangat merindukan dirimu. Tunggu aku kembali, setelah itu kita akan menendang suamimu bersama-sama."

__ADS_1


Senyum menghiasi wajah, ponsel di simpan dan setelah itu Cristin beranjak dari atas ranjang. Karena proposal sudah selesai maka sekarang waktunya fokus untuk mengurus perceraiannya. Dia harap dia bisa bercerai tanpa perlu bertemu dengan Johan tapi sayangnya, pria itu sedang berusaha mencari cara untuk bertemu dengannya.


__ADS_2