Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Bukankah Kita Sudah Impas?


__ADS_3

Pagi itu Lauren terlihat tidak senang, itu karena sebentar lagi Johan akan pergi untuk bertemu dengan Cristin. Sesuai jadwal, hari ini mereka harus menemui sang pakar untuk mendengarkan keputusan apakah mereka akan melakukan ujian pra nikah atau tidak.


Johan sangat yakin jika mereka akan melakukannya. Dia sudah berakting dengan sangat baik waktu itu, jadi dia yakin dia akan menjalani ujian pra nikah dengan Cristin.


Wajah Lauren sudah cemberut begitu bangun tidur. Sungguh dia tidak senang. Membayangkan Johan akan bertemu dengan Cristin saja sudah membuat hatinya panas apalagi ketika membayangkan Johan harus merayu Cristin.


Dia benar-benar ingin menjambak rambut Cristin jika bertemu dengannya. Tapi dia akan menahan diri, saat dia sudah mendapatkan ginjal Cristin maka dia akan menonton wanita itu mati. Seandainya mereka punya banyak uang?


Pertanyaan itu selalu muncul dibenak. Jika mereka punya banyak uang maka dia bisa membeli ginjal seseorang tapi mencari ginjal yang cocok juga tidak mudah. Mereka sudah pernah mencarinya di rumah sakit sebelum Johan menikah dengan Cristin, jika menemukan ginjal yang bisa dia gunakan maka Johan akan membujuk Cristin mengeluarkan uang untuk membayarnya tentu dengan kebohongan. Waktu itu Cristin akan memberikan apa pun yang Johan mau tapi sekarang?


"Kenapa wajahmu seperti itu, Lauren?" tanya Johan.


"Aku benci membayangkan kau harus bertemu dengannya!" ucap Lauren kesal.


"Hei, aku melakukan hal ini juga untuk kebaikan dirimu," ucap Johan.


"Tapi aku benar-benar tidak suka, Johan."


"Bertahanlah, hanya untuk sebentar saja. Setelah hari ini aku sangat yakin kami akan melakukan ujian pra nikah," ucap Johan dengan penuh percaya diri.


"Apa kau yakin" Lauren menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Percayalah, Sayang. Hari ini sang pakar pernikahan itu akan memutuskan apa yang harus kami lakukan dan aku yakin kami akan tinggal bersama selama tiga bulan."


"Itu yang tidak aku sukai" Lauren kembali terlihat cemberut.


"Kami tidak akan tinggal bersama begitu lama, Lauren. Saat waktunya sudah tiba, aku pasti mengambil ginjalnya untukmu tapi aku tidak boleh gegabah agar aku tidak dicurigai."


"Baiklah, aku menginginkan bagian pentingnya!"


"Jika begitu bertahanlah, sedikit bersabar maka kita akan mendapatkan kemenangan."

__ADS_1


Lauren mengangguk, jadi ini adalah hari penentuan antara hubungan Johan dan Cristin? Semoga saja mereka bisa tinggal bersama karena dia ingin semua itu cepat selesai.


Johan berusaha menenangkan Lauren, sedangkan saat itu Cristin baru terbangun di dalam pelukan Orland yang hangat. Cristin tersenyum, matanya menatap Orland begitu lama. Padahal dia tidak mau jatuh cinta lagi, dia juga sudah tidak mempercayai cinta lagi.


Baginya cinta hanya ilusi tapi entah kenapa dia justru membiarkan pria itu masuk ke dalam hatinya dan membiarkan pria itu kembali membuatnya merasakan manisnya jatuh cinta.


Padahal dia sudah tidak mau terperangkan ke dalam permainan yang namanya cinta tapi semua pertahannya runtuh begitu saja. Anehnya dia tidak keberatan dan anehnya dia bersedia menyerahkan dirinya. Apakah dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Orland?


Wajah Cristin memerah, apa benar? Karena tidak mau memikirkannya lagi, Cristin memeluk Orland dengan erat dan menyembunyikan wajahnya ke dada pria itu.


Orland terbangun karena pelukannya. Senyum terukir di bibir, dia sangat senang mendapatii Cristin di dalam pelukannya. Orland mengusap punggung Cristin, sebuah ciuman juga mendarat di dahi Cristin.


"Good morning," sebuah ciuman kembali diia berikan. Semoga saja setiap dia bangun tidur dia selalu mendapati Cristin berada di sisinya.


"Apa kau sudah siap menjalani harimu, Sayang?" Tanya Orland sambil berbisik.


"Tentu saja, aku bahkan tidak sabar," jawab Cristin penuh semangat.


"Tentu saja, Orland. Kau sudah menyiapkan apa yang aku inginkan, bukan?"


"Tentu saja, aku bahkan sudah menyiapkan sebongkah batu."


"Hei, aku minta balok!"


Orland terkekeh, dia sudah tidak sabar melihat Cristin melempar suaminya. Dia akan membantu jika pria itu berani macam-macam pada Cristin. Mereka seperti itu untuk sesaat, Cristin menerima usapan lembut dan ciuman yang Orland berikan.


Pria itu membuatnya merasa berbeda, dia merasa begitu dicintai. Dia bahkan merasa enggan beranjak tapi ini adalah hari yang dia nantikan tapi sesungguhnya hari di mana dia bercerai dengan Johan adalah hari yang paling dia tunggu karena di hari itu, dia terbebas dari Johan.


Mereka segera bersiap-siap karena mereka harus tiba pukul sembilan untuk mendengarkan keputusan sang pakar pernikahan. Walau dia sudah tahu hasilnya tapi dia akan tetap hadir untuk menonton ekspresi yang akan ditunjukkan oleh Johan. Dia juga ingin lihat drama apa lagi yang hendak pria itu mainkan sebelum dia melempar wajah pria itu menggunakan bukti perselingkuhannya.


Bukti sudah berada di dalam tas, Orland mengajak Cristin untuk sarapan terlebih dahulu. Segelas susu dan sepotong roti sudah cukup karena dia rasa dia tidak perlu menggunakan banyak energi lagi seperti waktu itu. Tapi untuk jaga-jaga, sebuah penyumbat telinga sudah dia bawa.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan saat mereka pergi, tidak saja mereka yang pergi, Johan juga bersiap-siap pergi. Lauren seperti enggan melepas kepergian Johan. Rasanya ingin ikut tapi Johan melarangnya keluar karena sangat berbahaya jika mereka bertemu dengan Cristin saat berduaan. Jika sampai hal itu terjadi maka Cristin akan meemiliki bukti sehingga kebohongannya terbongkar.


Dengan berat hati, Lauren melepas kepergian Johan. Pria itu bergegas tanpa membuang waktu, dia tiba terlebih dahulu sebelum Cristin dan Orland tiba. Mereka berdua membeli sesuatu sebab itu mereka sedikit terlambat.


Johan menunggu di ruang tunggu, dia tampak bosan tapi rasa itu hilang seketika saat Cristin dan Orland masuk ke dalam ruang tunggu. Mereka berdua terlihat mesra, mereka bahkan mengabaikan Johan dan duduk agak jauh dari pria itu.


Hati Johan jadi panas, dia tidak senang melihat kemesraan mereka seperti itu. Apa mereka berdua tidak menganggapnya ada?


Sambil memendam kemarahan di hati, Johan menghampiri Cristin dan berdiri di hadapan mereka berdua. Matanya menatap Orland dengan tatapan tidak senang, ingin rasanya memukul pria itu sampai mati.


"Siapa dia, Cristin? Kenapa kau begitu dekat dengannya?" tanya Johan dengan nada tidak sedang.


"Apa urusannya denganmu?" tanya Cristin cuek.


"Tentu saja ada, aku ini suamimu!" teriak Johan lantang.


"Stop berteriak, Johan. Kau hanya suami di atas kertas. Untuk apa kau membanggakan statusmu itu sedangkan kau tidur dengan wanita lain. Sebaiknya jangan membanggakan status tidak bergunamu itu sedangkan kau tidak pernah berperan sebagai suamiku!"


"Sebab itu aku ada di sini untuk memperbaiki hubungan kita," Johan berusaha bersikap lembut.


"Aku tahu aku salah, Cristin. Bukankah kita sudah impas? Kau tidur dengannya untuk membalas perbuatanku. Seharusnya sudah cukup, bukan?"


"Tapi aku tidak sudi bekas orang lain!" cibir Cristin.


"Apa kau pikir dia suci? Aku yakin dia juga sudah tidur dengan Orang lain!" Johan kembali kesal.


"Ya, tapi aku tidak melihat!" Cristin menarik tangan Orland agar menjauh.


"Cristin, aku mencintaimu dan aku tidak akan menceraikan dirimu!" teriak Johan.


"Kita lihat saja nanti, Johan," ucap Cristin sambil tersenyum sinis. Johan jadi curiga, kenapa Cristin tersenyum seperti itu? Apa dia sudah tahu hasilnya? Entah kenapa dia jadi curiga. Jangan-Jangan Cristin menyuap sang pakar pernikahan agar mereka bisa bercerai. Hal ini tidak mustahil mengingat Cristin banyak uang. Dia tidak akan tinggal diam jika Cristin menggunakan kekuasaannya.

__ADS_1


__ADS_2