
Isabel terlihat bersemangat hari ini karena dia akan pergi ke Weyland Corporation untuk meminta pertanggungjawaban dari pemilik perusahaan itu. Beberapa bukti sudah dia ambil sebelum dia ingin meniduri Gail. Walau dia sempat bingung karena terbangun di kamar yang berbeda namun dia tidak curiga apalagi beberapa foto dirinya sedang bercinta dengan pria itu berada di atas ranjang. Walau foto-foto itu tidak memperlihatkan wajah mereka namun dia yakin jika memang yang tidur dengannya adalah Gail.
Tidak mungkin dia tidur dengan pria lain karena malam itu Gail dalam pengaruh obat perangsang yang dia berikan tapi dia tidak tahu jika malam itu dialah yang sedang dalam pengaruh obat perangsang karena Gail membuat Isabel meminum semua anggur yang sudah bercampur obat.
Dia sempat curiga akan keberadaan foto-foto tersebut, entah siapa yang mengambilnya namun dia berpikir jika Zion memang sengaja memerintahkan seseorang untuk melakukan hal demikian. Tidak adanya komunikasi dengan Zion membuat mereka tidak tahu sesungguhnya mereka di jebak.
Isabel sudah siap, dia berpenampilan secantik dan seseksi mungkin agar pria yang akan menjadi suaminya nanti tidak kecewa.
Sebentar lagi dia akan menjadi istri dari pemilik Weyland Corporation, dia bahkan sudah membayangkan bagaimana kehidupannya nanti setelah mendapatkan posisi itu. Para sahabatnya pasti akan iri, dia bahkan sudah tidak sabar karena dia bisa melakukan apa pun yang dia mau nantinya.
Di rumah hanya ada ibunya saja karena Zion berada di perusahaan dengan ayah mereka karena mereka sedang berbangga diri pada rekan bisnis dan mengatakan jika sebentar lagi perusahaan besar yang sedang naik daun itu akan menjadi bagian dalam bisnis mereka. Mereka patut memamerkan hal itu agar banyak pengusaha yang mau menjalin kerja sama dengan mereka di kemudian hari.
Sebelum berangkat Isabel akan sarapan terlebih dahulu, jangan sampai dia tidak semangat karena tidak makan di hadapan sang pujaan hati. Pokoknya dia tidak boleh melakukan hal yang memalukan. Kebetulan saat itu Gail sudah kembali ke kantor setelah melakukan perintah dan membawa Zake.
Bosnya pasti sudah tidak akan kembali ke kantor karena sibuk dan memang, sidang sudah akan digelar. Cristin dan Orland sudah berada di ruang sidang. Beruntungnya kasus itu tidak perlu memakan waktu yang lama dengan drama melelahkan. Semoga saja hasilnya memuaskan.
Suara teriakan Johan terdengar saat dia dibawa ke ruang sidang. Dia menggunakan pakaian khusus di mana kedua tangannya terikat. Itu dilakukan agar dia tidak melukai petugas atau orang-orang yang ada di ruang sidang. Begitu Johan dibawa masuk, mata Cristin tidak berpaling darinya, begitu juga Johan. Kebencian memenuhi hati saat melihat Cristin dan Orland.
"Beraninya kalian ada di sini?" teriaknya penuh emosi.
Cristin diam, begitu juga dengan Orland. Para petugas memarahi Johan untuk tidak berteriak namun pria itu tidak peduli.
"Aku akan membunuh kalian berdua, Cristin. Aku akan melakukannya saat aku sudah bebas nanti! Aku akan mencarimu terlebih dahulu dan mencincang tubuhmu menjadi serpihan dan setelah itu aku akan membunuh kekasihmu juga mencincangnya!" ancaman Johan terdengar mengerikan, semua yang mendengar di ruang sidang tahu itu bukan ancaman itu bukan isapan jempol belaka karena seseorang yang menyimpan dendam memang bisa melakukan hal mengerikan seperti itu.
Cristin juga terlihat takut, bagaimana jika Johan hanya dijatuhi hukuman penjara beberapa puluh tahun saja? Jika sampai hal itu terjadi maka dia akan berada dalam bahaya.
Para polisi kembali memarahi Johan, sedangkan pria itu berteriak mengucapkan ancaman-ancaman mengerikannya. Cristin semakin terlihat takut dan gelisah karena mendengar ancaman seperti itu.
__ADS_1
"Tidak perlu takut, Cristin," Orland memegangi tangannya untuk menghiburnya.
"Aku takut, Orland. Bagaimana jika dia hanya dihukum beberapa tahun penjara saja?"
"Itu tidak mungkin terjadi, Cristin. Dia melakukan banyak kejahatan, dia tidak mungkin bisa bebas dengan mudah!"
"Tapi itu berarti dia masih memiliki peluang untuk bebas, bukan? Bagaimana jika sampai hal itu terjadi? Keselamatan kita berdua akan terancam."
"Stts, tidak perlu takut. Kita dengar keputusan dari hakim terlebih dahulu," Orland mengusap lengannya, dia harap semua sesuai dengan keinginan mereka.
Cristin mengangguk tanpa berani melihat ke arah Johan. Pria itu menatapnya dengan tatapan mengerikan. Sungguh dia sangat ingin membunuh Cristin jika ada kesempatan.
Sidang pun dimulai, suasana sudah sunyi sampai akhirnya sang hakim membacakan keputusannya. Johan dijatuhi hukuman seratus lima puluh tahun penjara, dia didenda ribuan dolar dan dia harus menjalani masa tahanannya di penjara khusus para penjahat yang berbahaya. Penjara itu berada di sebuah pulau yang terisolasi jauh dari masyarakat.
Keputusan itu diambil karena dia dianggap berbahaya apalagi ancaman-ancaman yang dia ucapkan sebelum sidang dimulai. Cristin sangat senang mendengarnya, dia benar-benar lega tapi tidak dengan Johan, dia tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh hakim.
"Itu keputusanku dan kau memang pantas mendapatkannya. Kau harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kau lakukan dan ancaman yang kau ucapkan tadi, itu juga memperberat masa hukumanmu."
"Sial, mereka pasti menyuap kalian, bukan?" tuduh Johan.
"Jangan sembarangan berbicara!" hakim itu tampak tidak terima.
"Tidak perlu menipu, Cristin pasti telah menyuap kalian semua sehingga kau mengambil keputusan seperti itu!"
Cristin dan Orland menggeleng, kenapa Johan menuduhkan hal yang tidak dia lakukan sama sekali?
"Baiklah," sang hakim mengambil palunya lagi, "Dengan ini aku mengubah masa tahanan yang seharusnya kau jalani selama seratus lima puluh tahun menjadi seumur hidup!" ucap hakim itu, palu pun diketuk.
__ADS_1
"Apa?" Johan terkejut tapi apa bedanya? Dia juga tidak mungkin bisa hidup sampai seratus lima puluh tahun kemudian.
Johan semakin menggila, dia sungguh tidak terima dengan keputusan itu. Dia berteriak dan memberontak saat dua petugas hendak membawanya.
"Aku tidak terima, Cristin. Aku tidak terima keputusan ini. Seharusnya aku langsung membunuhmu agar kau menemani Lauren, seharusnya aku membunuhmu!" teriak Johan. Rasa sesal memenuhi hati, seharusnya dia menembak kepala Cristin saat terjadi keributan sehingga Cristin mati tapi kenapa tidak dia lakukan? Kata maaf pun terucap di hati untuk Lauren, bahkan dia tidak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kali.
Johan dibawa pergi untuk menjalani masa hukumannya saat sidang selesai. Cristin dan Orland masih berada di tempat, mereka diam saja melihat Johan yang diseret pergi. Cristin tidak berkata apa-apa, pria gila itukah yang dia cintai dulu? Sungguh dia sudah buta.
"Semua sudah selesai, kau tidak perlu takut lagi," ucap Orland.
Cristin mengangguk dan tersenyum tipis. Dia memang tidak perlu takut lagi karena Johan sudah mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dia lakukan. Kali ini dia benar-benar sudah terbebas dari pria gila itu dan dia tidak akan melihatnya lagi.
"Ayo kita pergi," ajak Orland.
"Kau harus mentraktir aku es cream," ucap Cristin seraya beranjak.
"Apa pun yang kau inginkan akan aku belikan, Sayang."
"Jangan menyesal, Tuan Dmytry."
"Tentu tidak, apa ada yang mau aku gendong?" Orland sudah berjongkok di hadapan Cristin.
"Aku!" jawab Cristin seraya naik ke punggungnya.
Orland menggendong Cristin dan membawa keluar dari tempat itu. Sudah selesai, Cristin bahkan keluar dengan perasaan ringan, dia tidak pernah merasa seperti itu. Yang pasti dia tidak akan bertemu dengan Johan lagi dan setelah ini dia hanya perlu menunggu Orland melamar dirinya saja.
Mereka pergi untuk menikmati es cream sesuai yang Cristin inginkan, sedangkan saat itu Isabel sudah tiba di Weyland Corporation dengan bukti yang dia miliki karena dia akan mengancam pemilik perusahaan itu dengan bukti yang dia bawa agar pria itu bertanggungjawab dan menikahinya.
__ADS_1