
Malam semakin larut, tapi mereka berdua masih berada di sisi kolam renang untuk menikmati waktu mereka berdua di sana. Mereka duduk di gajebo sambil menikmati indahnya langit malam di mana bintang bertabur dengan indahnya menghiasi langit dan juga bulan yang bersinar terang.
Mereka enggan beranjak, bahkan rasanya malam itu tidak ingin cepat berlalu tapi ada hal penting yang hendak dibahas oleh Orland walau sesungguhnya dia tidak mau membahas hal itu karena hanya akan merusak suasana tapi dia harus membahasnya.
"Sebenarnya ada yang hendak aku bahas denganmu, Cristin," ucap Orland seraya mengangkat telapak tangan Cristin dan menciumnya.
"Apakah penting?" Cristin melihatnya sejenak.
"Yeah, sesungguhnya aku tidak mau merusak suasana di antara kita tapi aku harus mengatakan hal ini padamu."
"Kenapa terdengar begitu serius?" Cristin menatapnya dengan lekat, firasatnya mengatakan jika apa yang hendak dibahas oleh Orland memang serius.
"Ini mengenai suamimu," Orland mencium dahinya dan setelah itu ponsel diambil.
"Apa kau sudah menemukan sesuatu, Orland?" Cristin tampak tidak sabar.
"Percayalah, aku rasa kau tidak akan mengerti dengan perkataan yang dia ucapkan!"
"Perdengarkan padaku, mungkin aku bisa membawa rekaman itu ke pakar pernikahan sebagai bukti agar dia bisa membatalkan niatnya untuk memberikan ujian pra nikah kepada kami!"
"Sabar, Sayang. Aku rasa rekaman ini tidak bisa digunakan!"
Cristin menunduk dan terlihat kecewa, tentunya Orland tidak suka melihatnya. Beberapa bantal di susun dengan rapi dan setelah itu Olrand berbaring di sana.
"Kemarilah, berbaring denganku!" ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Cristin tersenyum, dia segera berbaring di sisi Orland dan memeluk pria itu tanpa ragu. Lagi pula udara malam begitu dingin jadi dia membutuhkan yang hangat-hangat.
"Apa kita akan tidur di sini?" tanya Cristin.
"Boleh saja jika kau tidak keberatan."
"Tidak mau, banyak nyamuk!"
Orland terkekeh dan mencium dahinya, dia tidak keberatan jika Cristin mau tidur dengannya di sana. Itu lebih baik dari pada mereka tidur di kamar terpisah.
"Baiklah, sekarang perdengarkan rekaman apa yang kau dapatkan dan apa yang dia bicarakan?"
"Aku hampir melupakan hal ini, Sayang," Orland mengambil ponsel yang dia letakkan di sisinya tadi dan segera memutar rekaman pembicaraan Johan. Cristin mengernyitkan dahi karena kurang jelas, ponsel Orland bahkan sudah berpindah tangan.
__ADS_1
Cristin mendengarnya dengan serius sampai akhirnya percakapan Johan dapat dia dengar semuanya. Cristin mengernyitkan dahi saat mendengar perkataan Johan tentang pengorbanan. Dengan siapa Johan berbicara dan apa maksud perkataan pria itu jika dia akan berkorban untukmu?
"Apa maksud perkataannya ini, Orland?"
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Aku justru ingin tahu apakah ada yang dia inginkan darimu sebelumnya?"
"Tentu saja, dia menginginkan uangku. Sebab itu dia tidak mau bercerai denganku!" ucap Cristin.
"Kau yakin dia menginginkan uangmu saja?" Orland mencium dahinya dan memainkan rambut Cristin sesekali.
"Yang dia ucapkan malam itu hanya tentang uang saja, Orland. Memang hanya itu saja tujuannya menikahi aku dan aku," Cristin menatap langit malam, senyum pahit terukir di bibir.
"Aku adalah wanita kaya bodoh yang ditipu olehnya!" ucap Critin lagi.
"Hei, jangan berkata seperti itu," Orland berbalik dan memeluk Cristin dari samping.
"Kau tidak bodoh, kau hanya tidak beruntung saja. Sesungguhnya yang paling bodoh adalah aku. Aku begitu mudah percaya dengan pamanku dan keluarganya sehingga aku masuk ke dalam perangkap mereka jadi kau tidak bodoh. Jika kau bodoh berarti pria ini lebih bodoh darimu!"
Cristin tersenyum dan menyembunyikan wajahnya di dada Orland," Kita adalah pasangan bodoh, bukan?" tanyanya.
"Yeah, kita pasangan bodoh karena kita berbaring di sini dan menjadi umpan nyamuk!"
Cristin terkekeh, dia tidak peduli dengan nyamuk karena dia ingin mereka seperti itu.
"Apa masih ada yang lain?" Cristin mengangkat wajah dan menatap Orland.
"Tentu saja masih ada, Sayang," Orland kembali mencium dahinya. Beruntungnya suasana di antara mereka tidak hancur gara-gara membicarakan pria itu.
"Apa kau tidak curiga dengan perkataan yang dia ucapkan saat akhir?"
"Tentang pengorbanan?"
"Yes, Cristin. Aku benar-benar curiga dengan ucapan terakhirnya ini. Aku sangat yakin dia tidak mengincar uangmu saja. Aku rasa ada yang dia inginkan darimu. Jika mendengar perkataannya, aku khawatir dia menginginkan sesuatu yang bisa membahayakan nyawamu."
"Untuk apa, Orland? Apa dia menginginkan salah satu anggota tubuhku?"
"Itu bisa saja terjadi, Crisrin. Kita tidak tahu dengan siapa dia berbicara, perkataan yang dia ucapkan juga mengandung banyak arti. Entah apa maksudnya dengan pengorbanan itu tapi aku rasa dia ingin kau berkorban untuk seseorang. Bisa saja untuk kekasihnya atau bisa saja untuk adiknya."
"Aku tidak sudi," ucap Cristin, "Aku tidak sudi berkorban untuk siapa pun apalagi untuk baj*ngan itu. Jangan harap aku mau, aku benar-benar tidak mau melakukannya."
__ADS_1
"Aku juga tidak mau hal itu terjadi denganmu, Cristin. Untuk hal ini aku sudah memerintahkan Gail untuk mencari seseorang ahli agar kita tahu apa maksud dari perkataan yang dia ucapkan. Aku harap kita menemukan bukti sebelum kalian melakukan ujian pra nikah karena aku takut saat kalian berdua saja dan harus tinggal satu atap tanpa adanya aku, di saat itu pula dia melakukan sesuatu padamu. Jangan sampai hal itu terjadi karena aku tidak mau kehilangan dirimu!"
Senyuman kembali menghiasi wajah Cristin, pria itu benar-benar bisa dia andalkan. Dia juga merasa aman dengannya, tidak sia-sia dia membayar pria itu dengan mahal dan dia sangat mensyukuri pertemuan mereka malam itu.
"Terima kasih, Orland. Aku benar-benar mengandalkan dirimu. Aku harap kita tetap seperti ini dan bisa menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti!"
"Tentu saja, Cristin," Orland berbalik hingga posisi mereka berubah. Orland sudah berada di atas tubuh Cristin saat itu, matanya tidak lepas dari sosok cantik yang ada di bawahnya. Tangan Orland sudah berada di wajah Cristin, usapan lembut dia berikan di sana.
Mereka berdua juga saling pandang, senyuman menghiasi wajah. Mereka terlihat bahagia, bagi mereka itu adalah malam yang sangat mengesankan bagi mereka.
"Kita berdua akan menghadapi orang-orang yang memiliki niat jahat pada kita. Aku tidak akan meninggalkanmu dan akan membantumu sampai akhir tapi aku harap kau tidak meninggalkan aku seperti yang lainnya."
"Tentu saja, Orland," Cristin mengusap wajah pria itu dengan lembut dan mencium bibirnya.
Orland tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ciumannya bahkan semakin dalam, lidah mereka juga saling membelai. Tangan Orland sudah gatal tapi dia berusaha menahan, jangan sampai Cristin marah padanya hanya karena hal itu.
"Sudah malam, bagaimana jika kita masuk ke dalam?" tanya Orland, bibirnya tidak henti mencium wajah Cristin.
"Boleh, udaranya juga sudah dingin."
"Baiklah," Orland beranjak begitu juga dengan Cristin.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah saling berpegangan tangan. Cristin tersenyum saat mereka sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Good night, Cristin," Orland mendaratkan ciuman di dahinya.
"Good night," Cristin juga menciumnya.
Mereka seperti enggan berpisah, Cristin tidak juga masuk ke dalam kamar. Orland juga terlihat enggan pergi, mereka berdua tampak canggung. Cristin melambaikan tangan saat Orland mulai melangkah pergi, ucapan selamat malam kembali dia ucapkan.
Orland mengusap tengkuk, sial, bolehkan dia menculik Cristin dan membawanya masuk ke dalam kamarnya?
Cristin juga terlihat gundah. Sungguh dia masih ingin bersama dengan pria itu.
"Orland."
"Ya?" Orland memutar langkah, dia terkejut saat Cristin melompat ke dalam gendongannya dan memeluknya erat.
"Aku mengantuk," ucap Cristin sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah di leher Orland.
__ADS_1
Orland tersenyum, dia kembali melangkah menuju kamarnya sambil menggendong Cristin karena dia tahu maksud Cristin.
Tidak ada yang berbicara di antara mereka, senyum terukir di bibir sampai mereka berdua masuk ke dalam kamar. Tentunya Orland sangat senang, dia tidak menduga Crisin mau tidur dengannya. Walau hanya tidur saja, tapi itu sudah membuatnya bahagia.