Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Dia Hanya Gelandangan


__ADS_3

Hari itu, Orland pergi ke rumah lamanya yang sudah dikuasai oleh keluarga pamannya. Dia harus mengunjungi sang paman sesekali untuk memberikan sedikit teror. Dia tahu pamannya pasti akan semakin takut perusahaan yang sudah dia rebut dari tangannya dapat dia ambil lagi dan memang, dia pasti bisa mendapatkannya. Tinggal menunggu waktu saja, perusahaan ayahnya pasti akan kembali ke tangannya lagi.


Orland masih berada di dalam mobilnya, matanya tidak lepas dari rumah mewah berlantai tiga itu. Di sanalah semua kenangannya bersama dengan kedua orangtuanya berada. Dia pasti bisa mendapatkan rumah itu kembali. Dia harap semua kenangan milik ibunya masih ada, dia datang tidak saja untuk berkunjung tapi dia juga ingin mengambil barang-barang yang ditinggalkan oleh ibunya.


Setelah cukup melihat, Orland turun dari mobil. Dia datang ke sana menggunakan pakaian biasa, dia juga meminta supirnya untuk pergi. Walau dia sudah bertemu dengan sang paman waktu itu, tapi dia belum menyapa keluarga pamannya yang juga bersekongkol untuk menipunya saat itu.


Orland melangkah dengan santai menuju rumah yang sudah dikuasai oleh keluarga pamannya. Dia harap sang paman dan semua anggota keluarganya ada di rumah dan memang hari itu mereka semua berada di rumah. Sang paman memiliki seorang putra dan juga seorang putri. Kedua anaknya tidak jauh berbeda, mereka sama-sama licik seperti ayahnya bahkan istri pamannya tidak kalah liciknya.


Bel ditekan, Orland menunggu dengan santai. Pintu dibuka, putri pamannya yang bernama Isabel terkejut melihat dirinya berada di depan pintu.


"Orland," Isabel memanggilnya dengan ekspresi wajah terkejut.


"Kenapa? Apa kau sedang melihat hantu?" tanya Orland sinis.


"Ka-Kau, bagaimana kau bisa kembali ke sini?"


"Ini rumahku, apa aku tidak boleh kembali ke sini?"


"Jangan asal bicara, rumah ini sudah jadi milik kami sekarang!" teriak Isabel.


"Isabel, kenapa kau berteriak?" tanya ibunya.


"Mom! Ada tamu tidak diundang!"


"Siapa?" begitu melihatnya, istri pamannya juga terkejut seperti putrinya. Orland tersenyum mengejek, sepertinya mereka mengira dia sudah mati dan beruntungnya malam itu dia tidak jadi mati. Melihat reaksi mereka, sepertinya mereka akan bersorak senang karena kematiannya.


"Untuk apa kau datang? Ini bukan rumahmu lagi!" teriak istri sang paman.


"Tidak perlu berteriak, Aunty. Aku datang untuk mengambil barang-barang milik ibuku!"


"Untuk apa kau barang-barang itu, heh?" tanya Isabel sambil bersedekap dada. Matanya bahkan menatap Orland dengan angkuh dan sombong.


"Aku rasa itu bukan urusanmu, Isabel!"


"Memang tidak tapi aku hanya ingin tahu saja, mau ditaruh di mana barang-barang itu. Apa kau sudah punya rumah?" cibir Isabel.


"Aku memang tidak punya rumah," ucap Orland. Yang dia tinggali saat ini memang bukan rumah tapi sebuah kastil yang dia beli dari seorang pengusaha tua yang dia kenal setelah dia sukses dan tentunya kastil itu lebih mewah dan besar dari pada rumah yang sedang dia injak saat ini.

__ADS_1


"Ha ... Ha ... Ha!" Isabel dan ibunya tertawa terbahak. Sudah mereka duga jika Orland tidak lebih dari seorang gelandangan saat ini. Apa dia datang ke sana untuk meminta uang dan tumpangan? Jangan-Jangan seperti itu, tebakan mereka tidak mungkin salah setelah melihat penampilan lusuh Orland.


"Lihatlah, ternyata kau tidak lebih dari pada seorang gelandangan. Untuk apa kau datang? Apa kau mau uang?" Isabel merogoh kantong bajunya dan melemparkan uang satu dolar di bawah kaki Orland.


Orland tidak bergeming, biarkan saja mereka menghina. Semakin mereka mengira dia miskin, semakin bagus. Louis Dmytry sangat heran saat mendengar gelak tawa istri dan putrinya. Pria itu melangkah keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa? Kenapa kalian tertawa?" tanyanya tapi ketika melihat Orland, Louis tampak terkejut.


"Orland?"


"Dad, lihatlah sampah ini. Dia datang ke sini untuk meminta belas kasihan dari kita," ucap Isabel.


"Apa maksudmu?" Louis bertanya pada putrinya karena dia tidak mengerti.


"Dia berkata ingin mengambil barang-barang milik ibunya tapi dia tidak punya rumah untuk menyimpannya. Dia benar-benar pandai melempar lelucon!" ucap Isabel lagi. Matanya tidak henti memandangi Orland dengan penuh penghinaan.


"Kalian keluarga yang luar biasa, sungguh," ucap Orland.


"Apa maumu, Orland?" tanya sang paman.


"Setelah mengambilnya, apa kau akan pergi?" tanya sang paman.


"Tentu saja, untuk apa aku berada di antara kalian? Aku bahkan tidak tahan berada di antara kalian untuk sedetik lebih lama!" cibir Orland.


"Jaga ucapanmu, Orland!" teriak putra pamannya. Pria itu keluar dari dalam sambil menatap Orland dengan tajam.


Orland tersenyum mengejek, sudah lengkap keluarga penipu itu. Sepertinya mereka bisa mendapatkan medali untuk kelicikan mereka.


"Berhenti manatapku dengan tatapan mengejekmu!" teriak Zion lantang.


"Apa masalahnya, Zion? Apa kau merasa aku sedang mengejekmu? Atau kau memang pantas diejek?"


"Kau?!" Zion hendak melangkah maju untuk memukul Orland tapi ayahnya menahan.


"Tidak perlu buat keributan, Zion. Dia hanya gelandangan yang tidak berguna saja!" Cibir Isabel.


"Ha.. Ha.. Ha..Ha!" Zion tertawa terbahak lalu dia meludah di bawah kaki Orland sebagai tanda penghinaan yang dia berikan pada Orland.

__ADS_1


"Ternyata hanya gelandangan saja, aku kira sudah hebat!" cibirnya.


"Ya, aku memang gelandangan. Untuk saat ini aku akan membiarkan kalian tinggal di rumah ini tapi pada saatnya sudah tiba, aku akan menendang kalian semua dari sini!"


Tawa keluarga pamannya terdengar, mereka menertawakan ucapan Orland. Ingin menendang mereka keluar? Memangnya kekuatan apa yang Orland miliki? Tawa mereka tidak juga berhenti, mereka benar-benar mengejek Orland.


"Jangan terlalu percaya diri, bagaimana jika ada yang mendengar ucapanmu selain kami? Jangan sampai kau semakin mempermalukan dirimu yang sudah menjadi gelandangan saat ini!" ucap Zion.


Orland tersenyum, bagus. Dia senang mereka menganggapnya sebagai gelandangan. Pamannya bahkan menganggapnya demikian padahal mereka sudah bertemu waktu itu. Mungkin saja pamannya tidak mendapatkan apa pun saat menyelidikinya dirinya, sebab itu sang paman juga mengira dia gelandangan. Ini bagus, dengan begini rencana yang dia jalankan berjalan dengan lancar.


"Aku memang gelandangan, aku tidak memungkiri hal itu. Jadi kalian tidak keberatan gelandangan ini mengambil barang yang aku inginkan, bukan? Seperti yang aku katakan, aku tidak akan mengambil rumah ini dari kalian!" ucap Orland sambil tersenyum. Dia sudah banyak belajar dari apa yang telah terjadi, dulu dia sangat emosional tapi sekarang dia harus menghadapi mereka dengan santai dan kepala dingin.


"Pergi ambilkan apa yang dia inginkan!" perintah sang paman pada istrinya.


"Cepat, Mom. Jangan sampai rumah kita kotor dimasuki oleh gelanangan ini!" hina Zion pula.


"Baiklah, aku sudah tidak ingin dia terlalu lama berada di sini. Jangan sampai ada tetangga yang melihat dirinya sehingga mempermalukan kita!"


Orland menggeleng, itulah keluarga pamannya. Dulu mereka sangat baik, bermulut manis dan bodohnya dia tertipu oleh perkataan manis mereka bahkan dia sudah menganggap Zion seperti saudaranya sendiri tapi lihatlah, Zion menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.


Istri pamannya sudah kembali, sebuah kotak dilemparkan di bawah kaki Orland.


"Itu barang-barang milik ibu dan ayahmu!" ucap istri pamannya sinis.


"kau sudah mendapatkannya jadi pergi!" usir Zion.


Orland berjongkok untuk mengambil barang-barang milik kedua orangtuanya, Setidaknya mereka tidak membuang barang-barang milik kedua orangtuanya. Padahal dia hanya ingin mengambil barang milik ibunya saja, ternyata barang-barang milik ayahnya juga ada.


Saat Orland hendak mengangkat kotak itu, beberapa uang dolar yang sudah lusuh dilemparkan oleh Zion ke arahnya.


"Ambil itu dan pergi! Gunakan uang itu untuk membeli makanan!" ucapnya mengejek.


Orland berusaha tersenyum dan mengambil uang yang dilemparkan oleh Zion. Hari ini dia bisa melempar uang itu tapi nanti? Jangan sampai dia kesulitan untuk mendapatkan uang walau satu dolar saja.


"Terima kasih, ini cukup untuk membeli burger beberapa porsi," ucap Orland dan setelah itu dia melangkah pergi karena dia sudah mendapatkan apa yang dia mau.


Tawa keluarga pamannya terdengar, Orland melangkah pergi dari sana. Biarkan saja mereka tertawa sesuka hati mereka untuk saat ini tapi nanti? Tawa mereka tidak akan ada lagi.

__ADS_1


__ADS_2