
Semua sudah siap, foto-foto pernikahan juga sudah mereka dapatkan. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk bersatu oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menikah hari ini juga. Mereka akan menikah di sebuah gereja, keluarga Cristin menjadi saksi dan setelah itu mereka akan langsung berangkat pergi berbulan madu.
Orland sudah terlihat gagah dengan tuxedo berwarna putih yang dia kenakan, sedangkan Cristin terlihat cantik menggunakan gaun pengantin yang Orland berikan. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan, mereka semua sudah berada di gereja karena Cristin dan Orland akan mengucapkan sumpah setia.
Seorang pendeta sudah bersama dengan mereka, Cristin tersenyum begitu juga dengan Orland. Walau tidak ada siapa pun yang hadir untuk menyaksikan pernikahannya dengan Cristin selain Gail tapi dia yakin ayah dan ibunya menyaksikan pernikahan mereka dari surga.
"Orland Dmytry, apa kau bersedia menerima Cristin Bailey menjadi istrimu dan mencintainya dalam suka mau pun duka??" tanya sang pendeta sambil menatap ke arah Orland.
"Aku bersedia," jawab Orland tanpa ragu.
Setelah bertanya pada Orland, kini sang pendeta bertanya pada Cristin. Cristin juga menjawab tanpa keraguan karena dia sangat yakin pilihannya untuk menjadi istri Orland tidaklah salah.
Mereka berdua saling betukar cincin dan setelah itu, mereka berciuman dan dinyatakan sebagai suami istri.
Tepuk tangan keluarga Cristin terdengar, Orland dan Cristin tersenyum bahagia. Mereka mengambil beberapa foto sebelum mereka turun dari altar. Penikahan yang sangat jauh berbeda di bandingkan dengan pernikahan pertamanya tapi pernikahan sederhana yang dia jalani, terasa lebih berkesan.
Kesan yang ditinggalkan berbeda, perasaan yang dia rasakan juga berbeda apalagi mereka akan langsung berangkat pergi berbulan madu.
"Selamat untukmu, Sayang," ucap ibu Cristin sambil memeluk putrinya. Dia harap Cristin bahagia dengan pernikahannya kali ini.
"Terim kasih, Mom," Cristin juga memeluk ibunya. Tidak saja ibunya, ayah dan kakaknya juga memeluk dirinya. Harapan mereka tetap sama, mereka harap Cristin bahagia.
"Kau sudah menjadi suami putriku jadi kau harus menjaganya dengan baik!" ucap Grifin pada Orland.
"Tentu saja, ayah mertua. Aku sudah bersumpah maka aku tidak akan melanggar sumpahku. Aku pasti akan menjaga Cristin dan selalu mencintainya dengan segenap jiwa dan ragaku!"
"Baiklah, aku tidak khawatir melepaskan dirinya lagi karena kau jauh lebih baik dari pada Johan!"
Orland tersenyum, sepertinya dia harus mengunjungi penjara untuk berterima kasih pada pria itu karena berkat pengkhianatan yang dia lakukan, dia bisa bertemu dengan Cristin dan memiliki dirinya.
"Jika begitu kami harus pergi, Mom," ucap Cristin. Mereka akan berbulan madu ke Hawaii. Mereka sengaja pergi ke tempat itu karena indah dan juga dekat.
__ADS_1
"Besok aku sudah harus kembali ke Italia, Cristin," ucap sang kakak.
"Baiklah, jaga diri kalian baik-baik," Cristin memeluk kakaknya dan juga dua keponakannya yang manis.
Mereka kembali berpelukan dan setelah itu mereka berpamitan. Cristin dan Orland berangkat ke bandara di antar oleh Gail tentunya setelah mereka bertukar pakaian. Ini kesempatan karena Orland ingin tahu bagaimana dengan keadaan Zion dan ayahnya.
"Bagaimana dengan mereka, Gail?" tanya Orland.
"Semua berjalan sesuai dengan rencana, Sir. Saat kau kembali dari berbulan madu, aku pastikan mereka sudah kehilangan semuanya," jawab Gail.
"Bagus, aku rasa sudah saatnya kau sebarkan Video itu dan sudah saatnya pula aku membuka identitasku. Sebarkan berita tentang pernikahanku dengan Cristin hari ini!" perintahnya.
"Hei, untuk apa kau menyebarkan kabar pernikahan kita?" tanya Cristin.
"Tentu saja hal itu harus dilakukan, Sayang. Orang-Orang harus tahu jika kita sudah menjadi suami istri dan kau sudah menjadi milikku agar tidak ada yang mengganggu dirimu. Tidak saja supaya orang-orang tahu tapi ini akan menjadi shock terapi untuk keluarga pamanku yang sedang menghadapi kehancuran dan juga untuk Caitlyn. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya," ucap Orland.
"Mantan pacarmu?" tanya Cristin.
"Aku tebak dia akan kejang-kejang karena menyesal!"
Orland terkekeh dan menarik Cristin mendekat. Sekarang mereka sudah menjadi suami istri, rasanya sudah tidak sabar untuk tiba di Hawaii karena dia sudah tidak sabar melewati malam pernikahan mereka di sana. Perjalanan yang mereka tempuh bahkan tidak terasa apalagi Orland dan Cristin berangkat menggunakan pesawat pribadi miliknya.
Pulau Hawaii yang indah, hamparan laut biru yang terbentang indah sudah tampak di depan mata tapi bukan itu yang membuatnya ingin cepat tiba.
Sebuah hotel mewah akan mereka tempati selama mereka berbulan madu dua minggu di pulau indah itu. Kamar yang menghadap ke laut menjadi pilihan, mereka akan menikmati indahnya pemandangan laut tanpa perlu pergi jauh-jauh bahkan mereka bisa menyaksikan matahari terbenam di balkon kamar.
Cristin tampak senang begitu mereka sudah berada di dalam kamar. Tas yang dia bawa diletakkan dan setelah itu dia melangkah menuju balkon untuk melihat indahnya laut biru yang terbentang indah.
Orland sedang mengurus barang-barang bawaan mereka yang diantarkan oleh pegawai hotel dan setelah selesai, Orland menghampiri Cristin yang sedang menghirup udara sejuk yang berhembus.
"Bagaimana, Sayang?" Orland memeluknya dari belakang, "Apakah kau senang tempat ini?" bisiknya.
__ADS_1
"Tentu saja, Orland. Tempat ini benar-benar indah," Cristin bersandar di bahunya sambil tersenyum.
"Aku senang jika kau senang, apa kau mau makan sesuatu atau kau mandi terlebih dahulu," Orland bertanya sambil memainkan bibirnya di leher Cristin.
"Aku tidak lapar, kita sudah makan dan tidur di pesawat," jawab Cristin.
"Lalu? Apa kau ingin jalan-jalan?"
Cristin memutar tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan, "Apa kita datang ke sini untuk jalan-jalan, Orland?" tanyanya seraya memainkan jari di dada Orland.
"Tidak, ini hanya basa basi saja!" Orland meraih tangannya, matanya menatap Cristin dengan tajam saat Orland mencium punggung tangan istrinya.
"Seharusnya kau tahu apa yang sangat aku inginkan, Cristin," ucapnya.
"Jika begitu, untuk apa menunda. Aku sudah jadi istrimu jadi kita tidak perlu manahan diri untuk memiliki satu sama lain!"
"Kau benar," Orland menarik Cristin mendekat dan mengangkat dagunya, "Aku tidak akan ragu lagi!" bibir Cristin di kecup dengan lembut dan setelah itu Cristin sudah berada di dalam gendongannya.
Orland membawa Cristin masuk ke dalam sambil mencium bibirnya. Cristin dibaringkan di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga mawar berwarna merah.
Orland memandanginya sambil tersenyum, usapan lembut Cristin dapatkan di pipinya.
"I Love you, Cristin," wanita itu benar-benar sudah membelinya untuk seumur hidup.
"Me too," jawab Cristin sambil tersenyum.
Orland menunduk dan mencium bibirnya dengan mesra, dalam sekejap mata saja, mereka tenggelam dalam ciuman panas mereka. Tangan Orland sibuk membuka baju Cristin, Cristin juga melakukan hal yang sama. Mereka berdua terlihat tidak sabar karena mereka berdua sudah sangat ingin merasakan bagaimana rasa yang pernah mereka rasakan berdua dulu.
Mereka berdua sudah tanpa sehelai benang pun, Orland menyentuh tubuh Cristin tanpa melewatkannya. Dulu dia ragu tapi kini tidak, dia melakukan apa yang dia mau sampai membuat Cristin melayang karena permainannya. Dia akan memanfaatkan waktu selama mereka berada di sana untuk menanam bibit unggulnya di rahim istrinya karena dia juga sudah sangat ingin memiliki anak bersama dengan Cristin.
#Karena terbatas jadi seadanya dan disingkat, sisanya use your imagination 🤣#
__ADS_1