Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Dia Sudah Tidak Berarti


__ADS_3

Cristin mulai melangkah menjauh, tidak seharusnya dia mendengar pembicaraan itu tapi siapa Caitlyn? Apakah dia adalah kekasih Orland yang meninggalkannya dulu? Sepertinya demikian. Dia sangat yakin itu tapi kenapa dia melangkah pergi? Bukankah dia ingin tahu semua tentang Orland dan mengenalnya lebih jauh? Entah kenapa dia merasa apa yang dia lakukan saat ini tidaklah benar.


Dia tahu mengambil kesimpulan sendiri bukanlah tindakan benar apalagi hanya sedikit percakapan yang dia dengar. Apa dia akan terpengaruh oleh ucapan tidak berdasar yang baru saja dia dengar itu? Langkah Cristin terhenti, persetan. Sebaiknya dia kembali.


Di dalam sana, Orland masih tidak tahu kedatangan Cristin. Orland memikirkan perkataan yang baru saja Gail ucapkan. Jadi Caitlyn bertemu dengan Zion? Jika begitu dia harus semakin waspada terhadap Caitlyn yang menurutnya sudah mantan karena bisa saja Caitlyn bekerja sama dengan Zion. Dia tidak boleh meremehkan Zion karena sepupunya itu terkenal licik. Jangan sampai dia terperosok ke dalam lubang yang sama lalu hancur kembali. Jika sampai hal itu terjadi lagi, siapa yang bisa menyelamatkannya kali ini?


Orlanda dan Gail membahas pekerjaan, mereka terkejut saat pintu ruangan dibuka dengan kasar. Mereka juga saling pandang saat melihat Cristin melangkah masuk dengan tatapan tajamnya.. Dia masuk ke dalam ruangan itu karena dia tidak mau sembarangan menebak. Dia tidak suka mengambil kesimpulan yang membuat salah paham. Dia tidak suka berspekulasi sendiri yang bisa mengacaukan perasaannya apalagi dia belum tahu siapa sebenarnya Caitlyn.


BRRAAAKKK!!! Orland dan Gail terkejut saat Cristin meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja dengan kasar. Wajah mereka berdua jadi menegang, sedangkan Cristin melangkah menghampiri Orland dan menarik dasinya.


"Kau, aku ingin berbicara denganmu!" ucap Cristin sinis dan matanya menatap Orland dengan tajam.


"Sir," Gail memanggil tapi Cristin berpaling ke arahnya dan menatapnya tajam.


"Tidak apa-apa, nanti kita bicara lagi," Orland meminta Gail keluar dengan isyarat tangan.


Gail mengangguk, dia pun melangkah pergi sambil mengusap tengkuk. Kenapa bosnya bisa menyukai wanita galak seperti itu?


Setelah Gail keluar, mata Cristin menatap ke arah Orland dengan tajam. Pria itu hanya tersenyum saja, Cristin masih menarik dasinya dan tidak juga melepaskan dasinya.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kau marah?" Orland meraih tangan Cristin dan menarik tangannya.


"Hei, jangan tarik!" teriak Cristin tapi sayangnya dia sudah jatuh ke atas pangkuan Orland.


"Lepas, aku sedang marah denganmu!" Cristin berusaha memukul bahu Orland tapi pria itu memegangi kedua tangannya.


"Marah kenapa? Apa aku sudah membuat kesalahan?" Orland memandanginya dengan tatapan ingin tahu.


"Jangan pura-pura tidak tahu!" ucap Cristin sambil membuang wajah.


"Ayolah, aku bukan paranormal. Aku mana tahu jika kau tidak mengatakannya padaku?"


"Hm!" Cristin membuang wajahnya sambil bersedekap dada.

__ADS_1


Orland tersenyum, Cristin terlihat menggemaskan. Entah kesalahan apa yang telah dia lakukan, yang pasti dia harus menjelaskan apa pun yang telah membuat Cristin seperti itu. Semoga saja dia marah bukan karena kalung yang dia beli karena bisa saja benda itu palsu.


"Katakan padaku, Cristin. Kesalahan apa yang telah aku lakukan?" tanyanya.


"Katakan padaku, siapa Caitlyn?!" tanya Cristin tanpa ragu.


"Caitlyn? Kau tahu dari mana?" tanya Orland.


"Aku baru saja mendengarnya jika Caitlyn mencarimu. Sekarang katakan padaku dengan jujur, siapa wanita itu? Jika kau berani menipu dan tidak berkata jujur padaku maka lupakan! Aku akan pergi dan jangan harap aku mau bertemu denganmu lagi!" ucap Cristin.


"Baiklah, aku senang kau tidak pergi begitu saja sehingga kau mengambil kesimpulan sendiri dan jadi salah paham. Aku memang berniat mengatakan hal ini padamu, Cristin. Aku tidak berniat menyembunyikan apa pun darimu karena aku tahu kau pasti akan membenci aku dan mengira aku mengkhianati dirimu."


"Jadi?" Cristin memandangi Orland dengan serius.


"Dengar, Caitlyn adalah pacarku dulu sewaktu aku belum jatuh. Bukankah sudah aku katakan tidak ada satu orang pun yang peduli padaku saat aku terpuruk. Tidak saja para sahabat, Caitlyn juga hilang begitu saja. Kami bahkan belum memutuskan tali kasih di antara kami tapi bagiku, dia sudah bukan siapa-siapa lagi saat dia pergi meninggalkan aku. Dia hanya masa laluku, aku tidak tahu kenapa dia datang dan kembali mencari aku jadi kau jangan salah paham pada Caitlyn. Bagiku dia hanya masa lalu yang sama sekali tidak penting."


Cristin tersenyum setelah mendengar apa yang Orland katakan. Dia sangat bersyukur dia tidak pergi tanpa mendengar penjelasan dari pria itu. Setidaknya dia tidak mengambil kesimpulan sendiri sehingga dia salah paham.


"Aku berniat menghubungimu setelah aku sudah selesai berbicara dengan Gail tapi aku tidak menyangka kau sudah datang tanpa sepengetahuanku jadi percayalah padaku, Aku dan Caitlyn tidak memiliki hubungan apa pun lagi dan aku tidak akan pernah mau menerima orang yang sudah meninggalkan aku di saat aku sedang dalam keadaan terpuruk! Lagi pula aku sedang mencurigainya. Seperti dirimu yang tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama, begitu juga aku. Hanya orang bodoh saja yang mau terperosok ke dalam sumur yang sama untuk kedua kalinya."


"Ma-Maaf aku bersikap kasar padamu," Cristin jadi tidak enak hati dan merapikan dasi Orland. Dia juga tidak berani memandangi pria itu.


"Jadi kau marah karena hal itu?"


"Aku hanya tidak mau kau mempermainkan aku!"


"Katakan padaku, Cristin? Apa kau cemburu? Apa kau takut aku kembali dengan Caitlyn?" Tangan Orland sudah berada di wajahnya dan mengusapnya kembali, "Apa kau cemburu, Cristin?" tanyanya lagi.


"Ti-Tidak, untuk apa aku cemburu?" Cristin hendak beranjak karena dia tidak mau terlalu lama duduk di atas pangkuan Orland.  Lagi pula dia tidak cemburu, tidak.


"Jangan pergi, Cristin!" Orland menahannya dan memeluknya erat. Dia tidak akan membiarkan Cristin pergi karena dia ingin tahu apakah saat ini Cristin sedang cemburu atau tidak?


"A-Aku membuatkan makanan untukmu, Orland. Makan selagi hangat," Cristin mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku. Apa kau sedang cemburu saat ini?" Orland kembali mengulangi pertanyaan yang sama.


"A-Aku?" Cristin jadi gugup. Apa dia benar-benar sedang cemburu?


"Jika tidak menjawab maka aku akan mencium bibirmu sampai habis!"


"Apa? Enak saja!" protes Cristin.


"Jadi?"


"A-Aku hanya takut kau akan mengkhianati aku, Orland. Kau tahu aku tidak suka hal itu, bukan? Aku tidak mau sakit hati untuk kedua kalinya lagi jadi aku harap kau tidak mengkhianati aku. Jika kau ingin kembali dengan kekasihmu maka jangan mencari aku lagi dan lupakan aku. Kita akhiri saja kebersamaan kita sampai di sini dari pada aku harus merasakan sakit hati untuk kedua kalinya!" ucap Cristin.


"Bodoh! Apa kau kira aku orang gampangan? Apa kau pikir aku akan kembali pada orang yang sudah pernah meninggalkan aku? Dari pada kembali pada orang yang sudah pernah meninggalkan aku, lebih baik aku bersama denganmu! Sudah aku katakan dia sudah tidak berarti bagiku jadi kau tidak perlu khawatir," Orland menarik Cristin mendekat hingga wanita itu bersandar di dadanya, "Aku tidak akan mengkhianati dirimu karena sejak awal aku yang menginginkan dirimu!" ucapnya lagi.


"Kau berjanji?" tanya Cristin sambil tersenyum.


"Tentu saja, kau bisa memukulnya jika dia mendekati aku!"


Senyum Cristin semakin mekar, kedua tangannya sudah melingkar di tubuh Orland, "Aku juga akan memukulmu jika begitu," ucapnya.


"Ketahuilah, Cristin. Aku lebih suka dicium olehmu!" Orland mengangkat dagunya dan mencium bibirnya dengan lembut.


"Sudah tidak marah lagi, bukan?"


"Tidak," jawab Cristin sambil menggeleng.


"Bagus, aku suka kau mau mencari tahu akan hal ini dan tidak mengambil kesimpulan sendiri!" Orland mengusap wajahnya perlahan.


"Aku lebih suka mencari tahu secara langsung dari pada asal menebak!" ucap Cristin.


"Aku senang mendengarnya, lain kali kau harus langsung bertanya padaku agar aku bisa menjelaskannya padamu."


"Pasti!" ucap Cristin, dia kembali memeluk pria itu dan bersandar di dadanya. Orland membelai rambutnya dan mengecup dahinya sesekali. Sekarang Cristin sudah tahu jadi dia tidak perlu khawatir jika dia dan Caitlyn tiba-tiba bertemu suatu hari nanti dan memang, mereka pasti akan bertemu cepat atau lambat.

__ADS_1


__ADS_2