
Sup yang dibuat oleh Cristin sudah jadi dan berada di atas meja. Selain sup, Cristin juga membuat beberapa jenis makanan lainnya karena dia memutuskan untuk makan siang bersama dengan Orland.
Mereka sudah duduk di meja makan bersama, Cristin menikmati tumis sayuran yang dia buat karena dia lebih suka makan sayur dari pada daging.
"Rumah sebesar ini, apa kau tidak kesepian tinggal sendiri?" tanya Cristin basa basi.
"Kenapa? Apa kau mau menemani aku?"
"Ck, aku hanya ingin tahu saja!!"
"Aku tidak keberatan jika kau mau tinggal di sini dan menenami aku, Cristin," goda Orland.
"Kenapa kau tidak bisa diajak bicara serius?" Cristin menatapnya dengan tatapan galak.
"Aku akan serius di waktu tertentu," ucap Orland sambil tersenyum.
"Hm!" Cristin memalingkan wajahnya. Orland meraih tangannnya tapi Cristin cuek saja dan menikmati makanannya.
"Untuk saat ini aku memang tinggal sendirian, Cristin. Aku tidak merasa kesepian karena aku sibuk dengan pekerjaanku tapi nanti, rumah ini akan menjadi ramai dengan anak-anak kita."
Cristin terkejut, makanan yang dia makan pun hampir tersembur keluar. Gelas diraih dan isinya diteguk dengan cepat.
"Apa maksudmu anak-anak kita?" matanya kembali menatap Orland dengan tatapan galak.
"Tentu saja kita akan memiliki anak setelah kita menikah. Apa kau tidak mau memiliki anak nantinya?"
Cristin menarik tangannya dari genggaman tangan Orland, dia juga menunduk. Dulu itulah yang dia impikan. Setelah menikah dia ingin memiliki satu atau dua orang anak tapi entah kenapa setelah mendengar perkataan Orland, semua itu jadi terdengar seperti lelucon.
"Cristin?" Orland sangat heran melihat keadaannya yang tiba-tiba berubah.
"Aku mau pulang," ucap Cristin seraya beranjak.
"Hei, apa aku sudah salah bicara?" Orland juga beranjak dan mengikuti langkah Cristin.
"Tidak!" Cristin melangkah menuju tas dan kunci mobilnya berada.
"Cristin, tunggu!" Orland meraih tangannya sehingga langkah Cristin terhenti.
"Aku minta maaf, Cristin," Orland memeluknya dari belakang, dia tidak tahu kenapa Cristin tiba-tiba jadi seperti itu.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud menyinggungmu, aku hanya mengutarakan keinginanku tentang anak-anak. Maaf jika ucapan itu menyinggung perasaanmu," ucapnya lagi.
"Aku tidak marah, Orland. Aku hanya ingin pulang."
"Jika begitu aku akan mengantarmu."
"Tidak, keadaanmu masih kurang sehat."
"Jika begitu bolehkah besok?"
"Orland!" Cristin menyela ucapannya, "Aku mau pulang!"
"Baiklah," Orland memutar tubuh Cristin tapi entah kenapa Cristin tidak mau melihatnya.
"Berhati-hatilah," Orland ingin mencium pipinya tapi sayangnya Cristin menghindar. Dia masih tidak mau memandangi Orland dan melangkah mundur, tanpa berkata apa-apa Cristin kembali melangkah menuju tasnya.
Orland diam saja, dia terlihat tidak percaya karena baru saja Cristin menolaknya. Dia bahkan tidak mengejar Cristin dan membiarkan wanita itu keluar dari rumahnya. Dia masih berpikir, apa yang telah terjadi?
Cristin pergi dengan perasaan kacau, dia duduk diam di mobil sambil mengusap wajahnya. Kenapa perasaannya jadi hancur saat mendengar kata anak-anak? Apa ini perasaan kecewa karena keinginnya tidak terwujud atau karena hal yang lainnya?
Orland berdiri di depan jendela, melihat kepergian Cristin. Sesungguhnya dia ingin menahan Cristin agar tidak pergi tapi dia tahu Cristin akan marah. Untuk saat ini biarkan Cristin pergi tapi besok dia akan pergi mencarinya.
Di perjalanan, Cristin tidak bisa membendung air matanya lagi. Setiap kenangan yang dia lewati bersama dengan Johan menghantui dirinya. Janji-Janji mereka, setiap keinginan yang terucap sewatu mereka bersama teringat kembali.
Banyak keinginan yang mereka ucapkan setelah mereka menikah tapi nyatanya? Semua keinginan itu hanya keinginan palsu yang diucapkan oleh Johan dan ketika Orland berbicara tentang anak-anak, dia merasa sedang mendengar ucapan palsu semata dan hal itu, menghancurkan dirinya yang sudah ditipu oleh Johan dengan ucapan-ucapan palsunya.
Tidak seharusnya dia dekat dengan Orland, tidak seharusnya dia membiarkan pria itu masuk ke dalam kehidupannya. Bukankah dengan begitu dia akan mengulangi apa yang terjadi?
Tidak, semua belum terlambat. Pertahanan yang dia bangun belum sepenuhnya runtuh. Sebaiknya dia kembali mengokohkan diri dan tidak membiarkan Orland semakin meruntuhkan apa yang sudah dia bangun.
Cristin mengusap air matanya sambil memaki, gara-gara pengkhianatan yang dilakukan oleh Johan membuatnya tidak percaya dengan perkataan manis lagi. Baj*ngan itu mungkin hidup nyaman dengan selingkuhannya, sedangkan dirinya harus hancur.
Cristin menghentikan mobilnya di sisi jalan, dia berteriak untuk menumpahkan rasa amarah, kesedihan dan kekecewaan yang dia rasakan selama ini. Rasanya semua itu tidaklah cukup. Dia kembali berteriak dan menangis meraung di dalam mobil, dia ingin seperti itu untuk sesaat agar keadaannya membaik.
Dia tidak mau kembali dalam keadaan kacau. Dia juga tidak mau membuat kedua orangtuanya khawatir. Dia membutuhkan waktu seperti itu, jika ada laut, dia akan lebih suka menenggelamkan dirinya di dalam sana agar rasa sedih dan kecewa yang dia rasakan terkikis oleh ombak laut.
Cristin tidak juga menjalankan mobilnya, dia berada di sisi jalan begitu lama. Dia bersandar di kursi mobil, matanya menerawang jauh. Pikirannya berkelana, dia juga tidak mempedulikan ponselnya yang terus berdering. Seharusnya dia tidak kembali. Seharusnya dia tidak bertemu lagi dengan Orland.
Entah kenapa perkataan Orland kembali teringat. Anak-Anak? Cristin tersenyum pahit, tidak akan pernah ada anak-anak di dalam hidupnya karena dia tidak akan pernah menikah lagi.
__ADS_1
Setelah perasaannya lebih baik, dia menyalakan mobil karena dia mau pulang. Sudah cukup menangisi hidupnya yang menyedihkan dan supaya tidak lebih menyedihkan lagi, sebaiknya dia tidak mengijinkan siapa pun masuk ke dalam hatinya sekalipun itu Orland.
Cristin disambut oleh ibunya yang terlihat cemas setelah dia tiba, mereka khawatir karena Orland menghubungi mereka dan bertanya apakah Cristin sudah kembali atau tidak. Mereka sudah berusaha menghubungi putrinya itu tapi Cristin mengabaikan ponselnya sedari tadi.
"Cristin, apa kau baik-baik saja?" tanya ibunya sambil melihat putrinya dengan teliti.
"Aku baik-baik saja, Mom," Cristin terlihat tidak bersemangat sama sekali.
"Apa yang terjadi denganmu? Orland berkata kau pergi dalam keadaan marah dan dia sangat mengkhawatirkan keadaanmu saat ini," ucap ibunya.
"Aku tidak ingin membahasnya, Mom," Cristin melangkah melewati ibunya. Dia harap Orland tidak mencarinya lagi.
"Cristin, hubungilah Orland terlebih dahulu. Dia sangat mengkhawatirkan dirimu."
"Tolong Mommy yang hubungi. Aku merasa tidak enak badan dan ingin tidur."
Ibunya tampak heran, apa mereka berdua sedang bertengkar? Cristin sudah masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Orland mengkhawatirkan dirinya?? Apa itu perhatian palsu yang dia berikan untuk manarik simpatinya saja?
Di luar sana, Mariana meminta suaminya untuk menghubungi Orland. Setidaknya mereka harus memberi kabar pada pemuda itu dan mengatakan Cristin sudah kembali agar dia tidak khawatir.
"Bagaimana Tuan Bailey, apa Cristin sudah kembali?" tanya Orland. Dia bahkan terdengar tidak sabar.
"Ya, dia baru saja kembali."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Orland lagi.
"Dia bilang tidak enak badan dan ingin tidur. Apa kalian bertengkar, Orland?" tanya ayah Cristin karena dia ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua.
"Tidak, sepertinya aku telah salah bicara dan menyinggung perasaannnya. Aku minta maaf padanya untuk hal ini."
"Baiklah, datanglah besok. Dia tidak akan menerima dirimu jika kau datang hari ini."
"Terima kasih,Tuan Bailey. Aku benar-benar tidak bermaksud membuatnya marah."
"Tidak perlu dipikirkan, mungkin keadaannya memang sedang tidak sehat saja. Datanglah besok setelah keadaannya membaik."
"Terimakasih," ucap Orland. Mungkin yang dikatakan oleh ayah Cristin benar. Mungkin Cristin sedang PMS sehingga membuatnya sedikit sensitif.
Jika begitu dia harus mengingat jadwal masa PMS Cristin agar dia tidak salah bicara dan menyinggungnya di kemudian hari. Ck, ternyata wanita memang sulit dimengerti.
__ADS_1