Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Aku Tidak Takut Denganmu


__ADS_3

Cristin menuju ruang tunggu dengan perasaan gembira karena keputusan akan pernikahannya dengan Johan sudah ditetapkan. Orland beranjak saat melihat kedatangannya, Cristin segera berlari ke arahnya dan melompat ke dalam pelukannya.


Johan melihat mereka dengan tatapan tidak senang. Kedua tangan sudah mengepal erat, dia semakin yakin jika pria itulah yang membantu Cristin sehingga Cristin bisa mendapatkan bukti perselingkuhannya dengan Lauren.


Pria itu pasti ingin mereka segera berpisah agar dia bisa mendapatkan Cristin. Dia sungguh tidak terima ada yang mengganggu rencanannya padahal dia sudah hampir berhasil.


Cristin memeluk Orland dengan erat, Orland bisa melihatnya jika Cristin sangan senang tapi dia ingin tahu apa yang telah terjadi di dalam sana.


"Bagaimana dengan hasilnya?"


"Seharusnya kau sudah tahu, Orland."


"Jika begitu aku akan menyiapkan seorang pengacara untukmu."


"Terima kasih, Orland. Tapi aku bisa menggunakan pengacara priibadiku," Cristin menolak karena dia tidak mau merepotkan Orland lebih dari pada itu.


"Baiklah," Orland mengusap punggungnya tapi matanya tertuju pada pria yang sedang menuju ke arah mereka dengan kemarahan di hati.


Johan tidak terima, benar-benar tidak terima apalagi hatinya sangat panas melihat kemesraan mereka berdua. Dia tidak akan membiarkan mereka berdua bersenang-senang di atas kesulitannya.


"Kita belum bercerai tapi kau sudah begitu tidak tahan untuk bersama dengannya, Cristin!"


Cristin melepaskan pelukannya, kenapa pria itu tidak juga pergi? Rasanya kesal, entah drama apa lagi yang akan dimainkan oleh pria itu.


"Memangnya kenapa?" jawab Cristin cuek.


"Kau masih istriku, Cristin. Bukankah tidak pantas memeluk pria lain di depan umum?"


"Wah, kenapa tiba-tiba jadi bijak. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama?"


"Tapi aku tidak melakukannya di depan umum!"


"Mau depan umum atau tidak, yang pasti aku tidak memintamu untuk melihatnya. Lagi pula lebih baik terang-terangan dari pada bersembunyi di dalam kamar!" cibir Cristin.

__ADS_1


"Cukup, Cristin! Jangan keterlaluan. Aku diam bukan berati kau bisa seenaknya!"


"Kau mau diam atu tidak, aku tidak peduli, Johan! Sebaiknya kau pergi saja karena kau mengganggu pemandangan kami!"


"Kau?!" Johan benar-benar kesal, "Aku akan membuat perhitungan denganmu, Cristin!" ucapnya lagi dengan kemarahan di hati.


"Jangan coba-coba berani menyentuhnya jika tidak aku tidak akan membiarkanmu!" ucap Orland.


"Semua ini tidak ada hubungannya denganmu!" Johan menatap Orland dengan tajam. Dia benar-benar benci dengan pria itu. Pasti dia yang membantu Cristin, dia yakin seratus persen.


"Semua yang berhubungan dengan Cristin akan menjadi urusanku semenjak dia jadi kekasihku jadi jangan coba-coba menyentuhnya. Jika kau berani dan melukai walau seujung kukunya saja, aku tidak akan tinggal diam. Jika sampai hal itu terjadi, kau akan berhadapan langsung denganku!" ancam Orland.


"Beraninya kau mengancam aku? Bagaimanapun aku masih suaminya karena kami belum bercerai jadi aku masih berhak atas dirinya!"


"Jangan membual, Johan. Kau sudah kehilangan semuanya sejak malam itu jadi jangan banyak membual!"


"Kenapa, Cristin? Kita sudah bersama selama bertahun-tahun tapi kenapa kau lebih mempercayai dirinya yang baru kau kenal?" Sungguh dia tidak terima Cristin memperlakukannya seperti itu. Dia tidak percaya Cristin melupakan semua kenangan yang mereka lalui selama ini. Entah kenapa dia tidak senang Cristin bersama dengan pria itu.


"Kau tahu, Johan? Walau kami baru mengenal tapi dia sangat tulus melebihi dirimu yang sudah lama aku kenal. Kau dan dia sangat jauh berbeda jadi jangan tanya kenapa apalagi kau yang telah menghancurkan semuanya. Kau yang mengkhianati aku terlebih dahulu dan seharusnya kau sadar, semua yang terjadi dengan kita berdua adalah ulahmu sendiri!!"


"Tidak pelrlu diulang, Johan. Bukti kau masih berselingkuh sudah ada jadi tidak perlu mengulang perkataanmu karena aku bosan!"'


"Sialan, semua gara-gara kau!" teriak Johan sambil menunjuk ke arah Orland. Jika tidak ada pria itu, dia dan Cristin pasti akan menjalankan ujian pra nikah tapi karena bukti itu, rencananya jadi gagal total.


"Kenapa kau menuduh aku? Memangnya apa yang telah aku lakukan?" tanya Orland.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Semua bukti itu kau yang mendapatkannya, bukan?"


"Oh," Orland pura-pura mengingatnya, "Ternyata itu, yeah... bukti itu memang aku yang mendapatkannya untuk Cristin agar dia bisa segera berpisah denganmu!"


"Kau?!" Johan semakin kesal dan marah.


"Bagaimana? Aku bisa mendapatkan bukti lain selain itu jika kau mau," ucap Orland.

__ADS_1


"Jangan coba-coba, baj*ngan!" Johan menghampiri Orland dengan tangan mengepal.


Orland menarik Cristin agar menjauh karena dia bisa melihat jika Johan tidak sedang bermain-main. Johan melayangkan kepalan tinjunya ke arah Orland, dia akan memukul wajah pria itu sampai babak belur.


"Orland!" Cristin berteriak saat melihat Johan hendak memukul Orland.


Orland menahan kepalan tangan Johan dengan telapak tangannya tapi pria itu kembali memukul. Jika tidak kena maka dia tidak akan berhenti.


"Orland, awas!" teriak Cristin lagi.


Orland kembali menghindarinya, Johan semakin kesal. Kini dia memakai kaki sehingga satu tendangan mengenai perut Orland. Cristin berteriak, sedangkan Johan tampak puas. Orland mulai kesal, dia sungguh tidak mau membuat keributan tapi pria itu tidak juga berghenti.


Karena merasa lebih hebat dari pada Orland, Johan tidak juga berhenti. Dia kembali memukul, dia yakin bisa mengenai wajah pria itu. Orland menahan kepalan tinju Johan, dia juga menangkap lengannya. Johan terkejut saat tangannya ditarik oleh Orland dan setelah itu, terikan Johan terdengar saat kepalan tinju Orland menghantam wajahnya.


Johan terhuyung ke belakang tapi lagi-lagi dia ditarik oleh Orland karena lengan Johan masih dia pegang. Tubuh Johan kembali maju ke depan, Orland kembali memukul wajahnya berkali-kali.


"Ingin memukulku, jangan harap bisa untuk kedua kalinya!" teriak Orland seraya memukul wajah Johan tanpa henti.


Johan berteriak, dia tidak bisa menghindar karena Orland menahan tangannya. Orland masih terus memukul dan berteriak, "Semua pukulan ini untuk Cristin!"


"Orland, stop!" teriak Cristin. Wajah Johan sudah babak belur, jika dilanjutkan lagi bisa jadi masalah. Dia juga takut karena darah sudah mengalir dari wajah Johan.


Orland berhenti memukul tapi untuk yang terakhir kali, satu tendangan dia berikan ke bagian perut Johan. Pria itu terpental ke belakang, Cristin segera berlari menghampiri Orland.


"Apa kau tidak apa-apa?" Cristin mengambil sapu tangan yang ada di dalam tas dengan terburu-buru dan terlihat khawatir.


"Tidak!" jawab Orland sambil mengatur napasnya. Buku-Buku tangannya sedikit lecet, ternyata wajah pria itu cukup keras. Tapi dia puas melakukannya, anggap itu untuk Cristin karena baji*ngan itu sudah menyakiti perasaannnya.


"Beraninya kau memukulku?" Johan menahan rasa sakit di wajah, sepertinya bibirnya robek akibat pukulan yang diberikan oleh Orland.


"Kenapa? Kau yang mulai terlebih dahulu. Jika kau tidak terima, datang dan cari aku. Aku tidak takut denganmu!" tantang Orland.


"Sial, kalian berdua akan aku balas suatu saat nanti!" Johan melangkah dengan sempoyongan sambil menahan rasa sakit di wajahnya. Dia tidak menduga pria itu bisa berkelahi.

__ADS_1


Sebaiknya dia pergi terlebih dahulu, pada saat waktunya tiba nanti dia akan membuat perhitungan dengan mereka berdua. Johan mengusap darah yang terdapat di bibir, sial... pukulan yang dia dapat akan dia balas dua kali lipat nanti.


__ADS_2