Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Tragedi


__ADS_3

Api unggun sudah padam, dua botol minuman yang hampir kosong tergeletak di atas tanah. Cristin dan Orland sudah kembali ke cabin. Udara malam juga sudah semakin dingin, mereka berdua sudah mabuk berat.


Cristin tidak tahu apa yang sedang dia lakukan saat ini. Minuman alkohol membuat pikirannya kosong, dia dan Orland sudah berada di kamar dan sibuk di atas ranjang. Cristin sudah tidak menggunakan bajunya lagi. Dia bahkan tidak melawan saat Orland menciumnya dengan buas dan penuh na*su.


Cristin membiarkan Orland menyentuh tubuhnya, hanya erangan nikmat yang terdengar. Kedua tangan Orland meremas kedua pahanya dengan pelan, bibirnya menyelusuri tubuh Cristin dari atas sampai ke bawah. Mareka berdua tenggelam dalam permainan panas mereka tapi permainan itu baru saja dimulai. (Pip, kentang lewat. Kata SpongeBob, use your imagination)


Minuman alkohol memang berbahaya, minuman itu bisa membuat siapa saja yang mengkonsumsinya melupakan apa pun seperti yang Cristin dan Orland alami saat itu.


Pagi itu, hujan turun dengan deras. Cristin terbangun dengan sakit kepala luar biasa yang dia rasakan. Cristin memegangi kepalanya yang berdenyut, sepertinya dia sudah terlalu banyak minum. Cristin berbalik, matanya melotot ketika melihat Orland tidur di sisinya.


"Kenapa kau tidur denganku?" Cristin berteriak dan duduk di atas ranjang dengan terburu-buru, selimut yang menutupi tubuhnya pun terjatuh. Cristin kembali terkejut melihat keadaannya yang tanpa busana.


"Ti-Tidak mungkin," ucap Cristin dengan nada tidak percaya.


"Apa sudah pagi?" Orland memegangi kepalanya yang sakit dan duduk di atas ranjang.


"A-Apa yang kau lakukan padaku, Orland! Apa yang kau lakukan?" teriak Cristin dengan wajah pucat.


"Hei, tidak perlu berteriak seperti itu!" Orland juga terkejut melihat keadaan mereka. Sambil memegangi kepalanya yang sakit, Orland berusaha mengingat apa yang telah mereka lakukan berdua setelah mereka mengejek Johan.


Yang dia ingat mereka bersenang-senang di sisi danau dan minum sampai mabuk. Lalu setelah itu? Aduh, tiba-tiba dia lupa ingatan.


"Kenapa kita tidur berdua tanpa pakaian, Orland? Apa semalam kita berhubungan intim?"


"Aku tidak tahu, Cristin. Aku tidak ingat apa pun!"


"Kenapa bisa? Oh, tidak!" Cristin menutupi wajahnya dan menangis. Apa yang telah mereka lakukan semalam?

__ADS_1


Cristin memeluk lututnya dan masih menangis, dia benar-benar tidak bisa mengingat apa pun. Orland mengumpat, dia memang sangat ingin melakukan hal seperti ini dengan Cristin tapi dia tidak mau mereka melakukannya dengan cara seperti ini apalagi dalam keadaan mabuk. Dia tidak mau Cristin kecewa dan lihatlah, Cristin pasti kecewa dan benci dengannya.


Mereka berdua diam, dengan pikiran masing-masing. Mereka mencoba mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam tapi lagi-lagi mereka tidak bisa mengingatnya. Mereka berdua juga tidak bisa merasakan apa pun. Apakah mereka melakukannya, atau tidak! Orland mengumpat dalam hati, jika memang mereka melakukannya, dia sangat ingin mengingatnya agar dia tahu bagaimana rasanya bercinta dengan wanita itu lagi.


"Cristin, dengarkan aku," Orland hendak mendekatinya tapi Cristin berteriak mencegah.


"Jangan  mendekat, Orland dan jangan sentuh aku!"


"Tidak, dengarkan aku," Orland memeluknya dari belakang. Dia tidak peduli Cristin mau marah atau tidak karena dia ingin menjelaskan apa yang mereka alami saat ini.


"Lepaskan aku!" teriak Cristin marah.


"Apa kau membawa aku ke sini agar kau bisa melakukan hal seperti ini denganku?" tanya Cristin, seharusnya dia tidak mengikuti pria itu dan percaya dengannya.


"Apa yang kau katakan, apa aku sebaj*ngan itu? Aku membawamu ke sini agar kita semakin dekat, bukan untuk memanfaatkan dirimu. Kejadian ini kecelakaan, Cristin.  Kita berdua terlalu mabuk sehingga tidak menyadari apa yang telah kita lakukan. Aku tidak bisa mengingat apa pun, begitu juga dengan dirimu. Aku tidak mungkin menyentuh dirimu tanpa persetujuan darimu. Aku ingin kau dekat dan menyukai aku, jika aku melakukan hal ini, bukankah kau akan semakin jauh dan membenciku?" ucap Orland panjang lebar.


"Ini sudah salah, tidak seharusnya kita melakukan hal ini. Aku ingin pulang jadi lepaskan aku!" Cristin berusaha melepaskan diri dari pelukan Orland tapi Orland tidak mau melepaskan dirinya bahkan pelukannya semakin erat.


"Tidak, Cristin. Aku tidak mengijinkan kau pulang dalam keadaan seperti ini. Lagi pula di luar sana hujan deras, sangat berbahaya jika pulang dalam cuaca buruk seperti itu."


"Jangan menahan aku, Orland. Aku tidak mau hal ini terjadi, aku sungguh tidak mau," Cristin kembali menutup wajahnya menggunakan telapak tangannya.


"Bagaimana jika aku hamil karena kejadian ini?" ucapnya lirih.


"Jika begitu aku akan bertanggung jawab," ucap Orland tanpa ragu.


"Jangan asal bicara, Orland!" ucap Cristin kesal. Bicara memang mudah tapi apa Orland tahu arti dari apa yang dia ucapkan?

__ADS_1


"Aku tidak asal bicara, Cristin. Sejak awal aku menginginkan dirimu, kau tahu itu. Jika kau hamil karena kejadian ini, aku pasti akan bertanggung jawab dan jika tidak pun, aku juga akan bertanggung jawab. Aku akan membantumu bercerai dari suamimu yang baj*ngan itu, aku akan membantumu terbebas darinya sehingga kau bisa menjadi milikku, aku bersumpah padamu jadi percayalah padaku," pinta Orland.


Dia harap Cristin mempercayainya. Kejadian yang mereka alami benar-benar tidak terduga. Dia sendiri tidak menyangka mereka akan melakukan hal itu karena mabuk tapi sesungguhnya, tidak ada paksaan sama sekali ketika mereka melakukannya. Seharusnya Cristin tidak melempar kesalahan sepenuhnya pada dirinya.


"Trust me, Cristin," Orland mendaratkan bibirnya ke leher Cristin, "Jika kau tidak percaya aku akan melamarmu di hadapan kedua orangtuamu dan kita akan menikah setelah kau bercerai dengan Johan."


"Tinggalkan aku, Orland," pinta Cristin.


"Tidak!" tolak Orland.


"Please, aku butuh waktu sendirian. Aku tidak butuh tanggung jawabmu sekalipun aku hamil. Aku sudah tidak mau terjebak dengan siapa pun lagi jadi simpan niat baikmu. Aku tidak ingat apakah kita melakukannya atau tidak dan kau juga sama jadi anggap saja kita tidak melakukan apa pun!" ucap Cristin. Sudah cukup, dia tidak bisa menyalahkan Orland karena mereka berdua sama-sama mabuk."


"Tapi Cristin?"


"Pergi!" sela Cristin.


"Sejak awal kita tidak punya hubungan apa pun jadi anggap kita mengulang kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku tidak menyalahkan dirimu, aku juga tidak menuduhmu karena kita sama-sama mabuk."


Orland mengumpat, sial. Apa sebegitu kokoh benteng pertahanan yang dibangun oleh Cristin? Sepertinya dia benar-benar sudah begitu kecewa dan tidak mempercayai cinta lagi akibat pengkhianatan yang telah di lakukan oleh Johan tapi dia tidak akan menyerah. Semakin sulit dia mendapatkan Cristin, semakin dia tertantang dan bersemangat.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa tapi kau harus tahu, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu," Orland melepaskan pelukannya. Cristin tidak bergeming saat Orland mencium pipinya. Orland mengambil semua pakaian yang berserakan di atas lantai dan mengenakannya. Sial, dia semakin membuat Cristin menjauh.


Orland memandanginya sejenak setelah menggunakan semua pakaiannya.


"Aku akan membuatkan sarapan," ucapnya dan setelah itu dia keluar dari kamar.


Cristin menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Rasanya ingin berteriak dan menangis tapi dia masih bertanya dalam hati, apa mereka melakukan hal itu tadi malam? Sungguh dia sudah berusaha untuk mengingatnya tapi dia tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2