Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Alasan Lain Cristin


__ADS_3

Orland sedang membujuk Cristin yang saat itu sedang marah. Apa yang mereka lakukan di kolam renang tadi siang telah membuat Cristin seperti itu. Tidak saja terdapat beberapa tanda di tubuh bagian atasnya tapi bagian dadanya sakit akibat perbuatan Orland.


Orland benar-benar bersemangat karena Cristin memperbolehkan dirinya menyentuh tubuhnya. Walau hanya bagian atas saja tapi dia tidak menyia-nyiakan kesempatan tapi karena dia kelewatan Cristin jadi marah.


Mereka berdua sedang berada di meja makan saat itu, mereka duduk saling berhadapan. Cristin tidak mau Orland mendekatinya, matanya melihat pria itu dengan tatapan galak.


"Cristin," Orland memanggilnya.


"Hm!" Cristin mendengus dan membuang wajah.


"Ayolah, aku minta maaf," ucap Orland.


"Lain kali kau tidak boleh menyentuh aku lagi!" ucap Cristin, tatapan galaknya kembali melihat ke arah Orland.


"Aku terlalu bersemangat, Sayang. Aku benar-benar minta maaf."


"Ck, aku mau pergi!" Cristin meneguk air putihnya.


"Hei, kau tidak pergi karena marah, bukan?" Orland beranjak dan melangkah mendekati dirinya.


"Tidak, aku mau pergi ke pakar pernikahan untuk berbicara dengannya."


"Kenapa tidak bilang padaku, aku akan mengantarmu dan setelah itu aku akan mengajakmu pergi makan."


"Aku pikir sebaiknya kau tidak ikut saja," ucap Cristin.


"Kenapa, Cristin?" Orland sangat heran.


"Aku tidak mau pakar itu salah paham padaku sehingga mengira aku yang berselingkuh terlebih dahulu."


"Setelah aku pikir, Cristin. Bukankah lebih baik jika sampai pakar itu tahu jika kita sedang menjalin hubungan?"


"Kenapa kau berkata demikian?"


"Biarkan saja dia tahu, dengan begitu dia bisa menilai jika kau benar-benar sudah tidak mau mempertahankan pernikahanmu dengan Johan sehingga rencana ujian pra nikah itu batal."

__ADS_1


"Bagaimana jika dia menganggap bahwa aku yang berselingkuh terlebih dahulu," ucap Cristin.


"Untuk apa kau mempedulikan hal seperti itu? Mau kau yang berselingkuh terlebih dahulu atau suamimu tidaklah penting. Yang paling penting adalah hasil akhir dari negosiasi yang kalian lakukan nanti. Jika kita pergi bersama dan memperlihatkan kemesraan kita, itu akan semakin memperkeruh hubunganmu dengan Johan. Sang pakar itu bisa melihat jika hubungan kalian sudah tidak mungkin diperbaiki kembali."


Cristin terlihat berpikir, sepertinya apa yang dikatakan oleh Orland sangat benar. Hari ini dia memang berniat menemui sang pakar untuk memintanya mengulur waktu sampai dia menemukan bukti perselingkuhan Johan tapi saran Orland tidaklah buruk.


"Baiklah," Cristin beranjak, tapi sebelum dia melangkah pergi Orland telah meraih pinggangnya.


"Masih marah, tidak?" tanyanya seraya mengusap wajah Cristin.


"Sudahlah, tapi awas jika kau ulangi!" ancam Cristin.


"Baiklah, aku minta maaf," ciuman Orland mendarat di pipi Cristin.


Cristin tersenyum, entah kenapa dia tidak bisa marah terlalu lama pada pria itu. Mungkin karena sikapnya atau jangan-jangan dia memang sudah mencintai Orland.


"Ayo kita pergi, aku membuat janji bertemu dengannya jam empat sore," ajak Cristin.


"Oke!"


Tidak membuang waktu, mereka pergi menemui sang pakar pernikahan. Sang pakar sudah menunggu, wanita itu hanya tersenyum saat melihat Cristin datang bersama dengan Orland. Dia pikir pria itu adalah teman atau saudara Cristin.


"Aku hanya ingin meminta waktu padamu, Mam. Aku sedang mencari bukti perselingkuhan Johan sebab itu beri aku waktu agar kami tidak melakukan ujian pra nikah sampai aku menemukan bukti perselingkuhannya," pinta Cristin.


"Kenapa, Nyonya? Suami anda terlihat begitu mencintai anda," ucap pakar itu.


"Jangan tertipu dengan perkataan manisnya, Mam. Dia berkata demikian karena dia memiliki tujuan sehingga dia tidak mau menceraikan aku!"


"Oh, ya? Apa tujuannya, Nyonya?"


"Dia menginginkan uangku saja dan aku curiga ada hal lain yang dia inginkan selain uangku. Sebab itu berikan waktu untukku sampai aku menemukan bukti-buktinya."


"Baiklah, aku bisa memberikan kau waktu tapi tidak bisa lama. Aku harap kau bisa mendapatkan bukti secepatnya agar ujian pra nikah tidak dijalankan," ucap pakar itu.


"Be-Berapa lama?" tanya Cristin.

__ADS_1


"Paling lama satu minggu, Nyonya. Aku harap kau sudah menemukan buktinya."


Cristin menggigit bibir, satu minggu? Dia tidak yakin bisa menemukan bukti hanya dalam waktu satu minggu saja. Bagaimana jika mereka gagal?


"Aku benar-benar tidak ingin kembali dengannya, Mam. Aku ingin bercerai dengannya karena aku?" Cristin menggigit bibir, seperti enggan melanjutkan ucapannya.


"Karena apa, Nyonya?" sang pakar sangat heran.


"Sudah aku katakan jika dia yang berselingkuh terlebih dahulu jadi kami berpisah begitu menikah tapi sekarang aku sudah punya pacar," Cristin memeluk lengan Orland.


Orland tersenyum dan memandangi Cristin, sedangkan sang pakar melihat ke arahnya. Apa itu alasan Cristin sehigga dia sangat bersikukuh ingin berpisah dengan suaminya?


"Nyonya, seharusnya kau tidak melakukan hal ini padahal kau masih berstatus sebagai istri orang lain."


"Aku tahu, tapi aku tidak peduli. Dia yang menyakiti aku terlebih dahulu. Untuk apa aku menunggunya? Aku menemukan seseorang yang peduli denganku dan menyayangi aku, lalu apa aku tidak boleh membuka hati dan memulai sebuah hubungan baru? Aku harap anda mengerti, Mam. Aku ingin bercerai dengannya karena kami ingin segera menikah," ucap Cristin seraya meraba perut Orland secara diam-diam untuk mencari tempat yang bisa dia cubit.


Orland terkejut, matanya menatap Cristin dengan tatapan tidak percaya. Dia sih senang saja tapi cubitan yang diberikan oleh Cristin membuatnya tidak tahan belum lagi lirikan mautnya. Cristin melakukan itu karena dia harap Orland bisa membantunya meyakinkan sang pakar itu.


"Apakah benar, Tuan?" pakar itu bertanya seraya memandangi mereka berdua dengan tatapan heran.


"Hm, tentu saja benar! Kami memang akan segera menikah sebab itu aku ingin Cristin segera bercerai agar pernikahan kami bisa segera dilaksanakan," Orland memeluk pinggang Cristin.


Cristin tersenyum seraya melepaskan pinggang Orland. Sang pakar melihat mereka dengan teliti karena dia ingin tahu apakah pria itu adalah pria bayaran Cristin atau mereka benar-benar pasangan kekasih. Tidak ada kebohongan yang mereka perlihatkan. Cristin bahkan diam saja saat Orland mencium pipinya.


"Jika begitu kenapa sejak awal anda tidak mengatakan hal ini padaku, Nyonya Bailey?" tanya pakar itu.


"Maaf, aku kira tidak akan rumit. Aku terpaksa membawa kekasihku menemui anda karena aku benar-benar tidak mau menjalankan ujian pra nikah denga baj*ngan itu!"


"Baiklah jika begitu, seharusnya anda menjelaskan hal ini sejak awal. Sekarang aku harus meninjau ulang kasus kalian berdua."


"Jadi kami tidak perlu menjalankan ujian pra nikah itu, bukan?" Cristin sangat senang.


"Tentu tidak, tapi aku tetap membutuhkan bukti perselingkuhannya!"


"Terima kasih, Mam," Cristin beranjak dan mendakti sang pakar. Dia bahkan memeluk pakar itu karena dia benar-benar senang.

__ADS_1


"Jangan senang dulu, Nyonya. Kita belum tahu apa yang akan dilakukan oleh suami anda."


"Aku tahu, tapi ini sudah cukup bagiku karena aku benar-benar tidak mau melakukan ujian pra nikah!" Cristin tersenyum manis, dia benar-benar lega. Setidaknya ide Orland tidak buruk walau soal pernikahan itu dia hanya asal bicara tapi bagi Orland, dia menganggap ucapannya serius dan dia harap setelah Cristin berpisah dengan Johan, mereka bisa segera menikah.


__ADS_2