Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Malam Yang Mengesankan


__ADS_3

Pesta dansa telah usai, Cristin segera melarikan diri dari Orland karena dia tidak tahan terlalu lama bersama dengan pria menyebalkan itu. Untungnya Orland tidak membahas malam panas yang pernah mereka lewati berdua, jika sampai hal itu terjadi, dia rasa jantungnya tidak akan kuat. Sudah cukup kedekatan mereka berdua, pria itu bahkan mengambil kesempatan dengan mencium wajahnya beberapa kali dan sialnya dia terbuai dengan sentuhan yang Orland berikan.


Sudah dia duga pria itu berbahaya baginya, dia benar-benar tidak bisa menolak dan jangan sampai pria itu meruntuhkan pertahan yang dia bangun selama ini. Selain Johan, tidak boleh ada pria lain di hatinya dan dia akan mengubur baj*ngan itu bersama cintanya yang sudah mati.


Tidak ada yang boleh menyalakan api cinta di hatinya lagi, tidak ada yang boleh karena baginya cinta itu hanya ilusi semata.


Orland tidak mengejarnya, dia hanya melihat Cristin melarikan diri sambil tersenyum. Entah kenapa Cristin begitu berhati-hati dan seperti sedang menutup diri tapi dia tidak akan menyerah. Dia mempunyai banyak kesempatan, saat mereka pergi camping nanti dia akan memanfaatkan situasi dengan baik.


Cristin bersembunyi di kamar mandi untuk menenangkan diri. Sungguh dia sangat takut dia akan terbuai oleh pesona pria itu. Sebaiknya dia tidak terlibat lebih jauh dan sebaiknya dia menolak ajakan camping dari pria itu. Dia bahkan sudah takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat mereka hanya berdua saja.


Setelah merasa tenang, Cristin keluar dari kamar mandi. Jika dia tahu 0rland dan ayahnya sudah saling mengenal maka dia tidak akan memberikan persyaratan seperti itu. Cristin melangkah keluar tapi dia terkejut melihat Orland sedang bersandar di dinding seperti menunggunya. Orland tersenyum, dia senang melihat Cristin baik-baik saja.


"Kenapa begitu lama?" tanya Orland seraya menghampirinya.


"Kenapa kau ada di sini?" Cristin tampak tidak senang.


"Aku mengkhawatirkanmu, tidak baik berada di kamar mandi seorang diri karena kejahatan seksual biasanya terjadi di kamar mandi."


"kau mengkhawatirkan aku?" Cristin memandanginya dengan tatapan tidak percaya.


"Tentu saja, Cristin. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu jadi jangan ke kamar mandi seorang diri, ajak aku lain kali."


"Sepertinya yang paling harus aku waspadai adalah dirimu," ucap Cristin dan memang itulah kenyataannya.


Orland terkekeh dan meraih tangannya, "Ayo kembali, kedua orangtuamu sedang mencarimu," ucapnya.


"Hm, terima kasih, Orland."


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan."


"Me-Mengenai Camping," ucap Cristin ragu.


"Kenapa? Apa kau ingin membatalkannya?" tanya Orland seraya menghentikan langkahnya.


"Ya, bisakah kita tidak melakukannya? Aku tidak terbiasa pergi berdua dengan laki-laki," ucap Cristin beralasan.


"Tidak bisa, Cristin. Aku sudah mendapatkan restu ayahmu sesuai dengan syarat yang kau berikan jadi kau tidak bisa membatalkannya!" tolak Orland.


"Aku hanya asal bicara saja, Orland. Tolong jangan dianggap serius," pinta Cristin.

__ADS_1


"Oh, Cristin Bailey yang terkenal tidak suka menarik ucapannya sekarang bermaksud mengikari ucapannya sendiri? Aku sungguh tidak menyangka!" sindir Orland sengaja.


"Bukan begitu!" ucap Cristin dengan cepat.


"Lalu?" Orland memandanginya sambil tersenyum.


Cristin mengumpat, sial! Sepertinya dia tidak bisa lari dan harus menepati apa yang dia ucapkan.


"Baiklah, hanya camping saja. Aku tidak takut!" ucap Cristin seraya mengangkat dagunya.


"Bagus!" ucap Orland sambil tersenyum.


Cristin benar-benar kesal, dia tidak bisa lari lagi apalagi kedua orangtuanya tidak keberatan dia dekat dengan Orland bahkan ayahnya meminta dia belajar dari pria menyebalkan itu.


Mereka kembali ke ruang pesta di mana para tamu sudah mulai membubarkan diri. Mereka menghampiri kedua orangtua Cristin yang sudah menunggu putri mereka karena mereka hendak mengajak putri mereka pulang.


"Dari mana saja kalian berdua?" tanya ibu Cristin.


"A-Aku dari kamar mandi," jawab Cristin seraya menarik tangannya dari genggaman tangan Orland.


"Berdua?" tanya ibunya lagi.


"Tidak!" Cristin hampir menjawab sambil berteriak. Kedua orangtuanya tidak boleh salah paham dan mengira mereka melakukan sesuatu di kamar mandi.


"Bagus jika begitu, ayo kita pulang," Cristin menghampiri ibunya dengan terburu-buru.


Orland tersenyum, sepertinya yang dia duga, Cristin memang menghindarinya.


"Baiklah, kami memang ingin mengajakmu pulang," ucap ibunya.


"Terima kasih untuk perjamuannya, Tuan dan Nyonya Bailey," ucap Orland basa basi.


"Tidak, kami yang berterima kasih kau mau datang. Untuk selanjutnya semoga kau bisa mengajari putri kami dalam berbisnis," ucap Grifin.


"Tentu saja, aku tidak akan mengecewakan anda dan menyia-nyiakan kepercayaan yang anda berikan."


"Kau harus belajar dengan benar, Cristin. Aku sengaja mengundangnya tidak hanya untuk menjalin bisnis dengannya tapi agar kau semakin baik dalam berbisnis apalagi kau yang akan mewarisi semua yang aku miliki," ucap ayahnya.


"Aku tahu, Dad. Aku tidak akan mengecewakan dirimu," jawab Cristin.

__ADS_1


"Bagus, jika begitu ayo kita pulang."


Cristin mengangguk, akhirnya dia bisa berjauhan dari pria itu walau sebentar karena besok mereka akan bertemu lagi dan menghabiskan waktu bersama yang begitu lama dan tentunya menyiksa dirinya.


"Cristin, aku akan menjemputmu besok setelah makan siang," ucap Orland.


"Hm," jawab Cristin singkat.


"Boleh aku menghubungimu?" tanya Orland.


"No! Kau tidak boleh menghubungi aku sampai besok!" ucap Crisitin.


Orland hanya tersenyum, sedangkan Cristin melambaikan tangan tanpa mau melihatnya. Untuk sejenak dia tidak mau melihat wajahnya dan mendengar suaranya sampai besok mereka pergi camping yang akan menguras tenaganya.


"Kau seperti sangat mengenalnya, Sayang," ucap ibunya saat mereka melangkah pergi.


"Mom, jangan membicarakan dirinya karena aku malas mendengarnya!"


"Wah, jangan-jangan dia adalah pria menyebalkan yang kau katakan pada Mommy," tebak ibunya.


"Bu-Bukan," sangkal Cristin dengan wajah memerah.


"Tidak perlu menyangkal, Honey. Mommy bisa melihat dari ekspresi wajahmmu jika pria itulah yang mau maksud," ibunya semakin yakin.


"Apa yang kalian bahas, kenapa aku tidak tahu?" tanya ayahnya.


"Dad, sebenarnya putrimu?"


"Mom!" Cristin sudah membungkam mulut ibunya agar tidak membicarakan hal itu pada ayahnya.


"Hei, apa yang kalian rahasiakan?"ayahnya jadi penasaran.


"Tidak ada!" jawab Cristin seraya menoleh ke belakang dan melihat Orland yang saat itu sedang berbicara dengan asisten pribadinya.


Orland terlihat serius tapi tanpa sengaja dia melihat Cristin yang sedang melihat ke arahnya. Orland tersenyum dan melambaikan tangan, sedangkan Cristin memalingkan wajahnya dengan terburu-buru dan mempercepat langkahnya.


Orland masih melihatnya sambil tersenyum dan setelah itu dia mengajak asisten pribadinya untuk pergi.


"Kosongkan jadwalku untuk beberapa hari ke depan," perintah Orland. Tidak saja mengajak Cristin pergi camping untuk menikmati alam, dia juga akan mengajak Cristin pergi ke suatu tempat dan tentunya Cristin tidak boleh tahu karena dia yakin, wanita itu pasti akan menolak.

__ADS_1


"Yes, Sir!!" jawab sang asisten pribadi.


Mereka pergi dari tempat pesta yang sudah sepi, walau singkat tapi itu malam yang mengesankan bersama dewi fortunanya. Dia bahkan pergi sambil bersiul. Rasanya sudah tidak sabar hari esok cepat datang karena dia sudah tidak sabar menghabiskan waktu bersama sang dewi fortuna.


__ADS_2