
Ponsel Orland berbunyi ketika dia sedang menyiapkan beberapa berkas pekerjaan. Dia berangkat ke Australia secara mendadak untuk menjalin kerja sama dengan seorang pengusaha di tempat itu. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk melebarkan sayapnya untuk mencapai tangga kesuksesan.
Walau saat ini dia sudah cukup sukses tapi itu belum cukup, dia ingin membuat ayahnya bangga, dia juga ingin menjadi pria yang berkuasa agar dia pantas bersanding dengan Cristin Bailey. Tidak hanya itu saja, dia juga ingin menunjukkan pada pamannya dan keluarganya, jika dia sudah jauh lebih sukses sebelum dia mengambil perusahaan ayahnya bahkan dia ingin mereka melihat, tanpa perusahaan yang sudah mereka rebut pun, dia masih bisa bangkit kembali walau tanpa dipungkiri semua itu berkat Cristin.
Orland mengambil ponselnya, senyum menghiasi wajah ketika melihat nama Cristin. Dia sangat senang, dia sengaja tidak menghubungi Cristin karena dia ingin Cristin yang menghubungi duluan dan lihatlah, sepertinya wanita itu sudah sangat merindukan dirinya. Yeah dia harap demikian.
"Cristin, aku sangat senang kau menghubungi aku," ucap Orland.
"Hei, kenapa jadi dirimu?" Cristin seperti salah menghubungi orang padahal dia hanya pura-pura.
Orland terkekeh, apa Cristin sedang pura-pura? Entah kenapa dia jadi gemas.
"Aku salah menghubungi orang, bye," ucap Cristin.
"Hei, tunggu!" cegah Orland.
"Ada apa? Kau tidak rindu denganku, bukan?" tanya Cristin tapi sesungguhnya dia sangat senang mendengar suara Orland.
Orland kembali terkekeh, jika dia sedang bersama dengan Cristin saat ini sudah dia cium bibirnya sampai habis.
"Yeah, aku memang merindukan dirimu. Apa kau juga merindukan aku?"
"Tidak!" jawab Cristin dengan senyum mengembang di wajah. Dia tidak menyadari, seorang pria yang tadinya ingin menghampirinya sudah menghentikan langkahnya dan terlihat tidak senang setelah melihat ekspresinya yang seperti itu. Dia sangat ingin tahu, dengan siapa Cristin berbicara saat ini? Langkahnya mendekat dengan perlahan, dia benar-benar ingin mendengar percakapan Cristin.
"Aku tahu kau merindukan aku, Cristin. Tidak perlu berbohong," ucap Orland.
"Jangan terlalu percaya diri, aku tidak merindukanmu!" Sontak ucapan Cristin membuat pria yang berdiri tidak jauh darinya itu mengepalkan kedua tangannya dan tentunya pria itu tak lain dan tak bukan adalah Johan. Padahal dia sudah sangat senang bertemu dengan Cristin di sana tapi apa maksud dari perkataannya? Apa Cristin menjalin hubungan dengan pria lain selama mereka berpisah?
Entah kenapa dia jadi teringat dengan pria yang telah menghabiskan malam panas dengan istrinya dan dia curiga, jika saat ini Cristin sedang berbicara dengan pria itu.
"Baiklah, Nona. Aku akan menganggap jika kau sedang merindukan aku saat ini."
"Ya sudah jika begitu," ucap Cristin dan tentunya Orland kembali terkekeh karena dia tahu Cristin sedang menyangkal apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?"
"Shoping dengan ibuku," Cristin melihat ke arah toko pakaian, jangan sampai ibunya memergoki dirinya.
"Hati-Hati Cristin, jangan sampai bertemu dengan suamimu," ucap Orland tapi sayangnya, Johan sudah berada di sana.
"Aku tahu, aku bisa jaga diri."
"Baiklah, apa ada yang kau inginkan? Aku akan membelikan apa pun yang kau inginkan," ucap Orland.
"Aku tidak butuh apa pun."
"Baiklah, aku tahu kau hanya butuh aku saja!" goda Orland.
"Sembarangan, dasar menyebalkan!"
Kemarahan Johan sudah mencapai puncaknya, sudah cukup dia mendengar istrinya berbicara dengan pria lain dengan begitu akrab. Walau tidak ada perasaan untuk Cristin tapi dia tidak suka melihat Cristin dengan pria lain apalagi Cristin masih berstatus istrinya.
"Baiklah, aku sudah harus pergi. Aku akan segera kembali dan menemuimu," ucap Orland.
"Hei, siapa kau?!" teriak Cristin marah bahkan Orland dapat mendengar teriakannya karena pembicaraan mereka belum berakhir.
"Cristin, ada apa?" tanya Orland, dia bahkan merasa khawatir.
"Lepaskan aku, jangan memeluk aku sembarangan!" teriak Cristin lagi. Dia belum sadar jika yang memeluknya ada Johan karena pria itu sok dramatis.
"Ini aku Cristin, aku Johan. Apa kau tidak mengenali suamimu sendiri?"
Cristin terkejut, begitu juga dengan Orland karena dia mendengar ucapan pria itu dengan jelas. Tubuh Cristin membeku, sedangkan Johan memeluknya erat. Dia bagaikan menahan rindu yang sudah dia pendam begitu lama. Tubuhnya bahkan gemetar seperti seseorang yang sedang menumpahkan kerinduannya pada sang kekasih yang sudah begitu lama tidak dia jumpai. Piala Oscar untuknya sebagai pemeran pria antagonis paling baj*ngan. (Di cerita ini ya, cerita lain autor gak tau 😆)
"Lepaskan aku, Johan! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" Cristin kembali berteriak marah. Dia berusaha memberontak tapi sia-sia karena kalah tenaga.
"Tidak Cristin, aku benar-benar sangat merindukanmu dan aku tidak akan melepaskan dirimu!" Johan tidak juga melepaskannya bahkan pelukannya semakin erat.
__ADS_1
Cristin kesal setengah mati, dia benar-benar jijik di sentuh oleh pria itu. Dia berharap ibunya datang dan membantunya memukul baj*ngan itu.
"Lepaskan aku, Johan!" pinta Cristin dengan kemarahan di hati.
"Tidak, aku sudah mencarimu begitu lama, bagaimana mungkin aku melepaskan dirimu? Aku sangat ingin memperbaiki hubungan kita, Cristin."
"Kau benar-benar menguji kesabaranku!" teriak Cristin seraya mengangkat kakinya untuk menginjak kaki Johan.
Teriakan Johan terdengar, pelukannya terlepas. Johan menahan rasa sakit di kaki karena Cristin menginjak kakinya menggunakan tumit sendal hak tinggi yang dia pakai. Tidak sampai di sana saja, Cristin mengangkat tas mahalnya dan memukulkannya ke wajah Johan.
"Mati kau, baj*ngan!" teriak Cristin kesal dan dia kembali memukulkan tasnya ke tubuh Johan.
"Cristin, apa yang kau lakukan?" teriak Johan tapi Cristin tidak juga berhenti.
Mariana sangat heran melihat putrinya seperti sedang mengamuk, dia segera bergegas mendekati putrinya dan ketika melihat siapa yang sedang di pukul oleh putrinya, Mariana begitu marah.
Cristin terengah, dia tidak peduli dengan beberapa mata yang melihat ke arah mereka. Jika saat itu mereka bukan berada di pusat perbelanjaan, sudah dia pukul lebih dari pada itu.
"Kau, beraninya aku menunjukkan wajahmu?" Mariana menarik putrinya dan berdiri di hadapannya.
"Mom,aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Cristin," ucap Johan.
"Jangan memanggil aku seperti itu, aku tidak sudi kau memanggil aku seperti itu!" ucap Mariana. Rasanya ingin memukul menantunya yang baj*ngan.
"Aku benar-benar menyesal telah mengkhianati Cristin dan aku ingin memperbaiki hubungan kami."
"Simpan rasa penyesalanmu itu baik-baik, Cristin tidak memerlukannya!" ucap Mariana dengan emosi tinggi.
Johan mengumpat, padahal dia kira Cristin hanya seorang diri tapi ternyata dia bersama dengan ibunya.
"Cristin, beri aku kesempatan," pinta Johan dengan ekspresi memohon. Dia yakin bisa membujuk Cristin jika hanya mereka berdua saja.
"Jangan harap!" Mariana mengambil kartu nama dari dalam tas dan melemparkannya tepat di wajah Johan.
__ADS_1
"Minggu depan datang ke sana, aku ingin kau dan Cristin segera bercerai dan jangan mempersulit proses perceraian kalian!" setelah berkata demikian, Mariana menarik putrinya pergi. Cristin tidak menoleh sedikitpun, dia benar-benar tidak mau melihat wajah Johan.
"Cristin, aku tidak akan pernah menceraikan dirimu!" teriak Johan. Kartu nama yang jatuh ke atas lantai di ambil, dia melihat kartu nama itu sejenak. Jadi Cristin sedang berkonsultasi agar mereka segera bercerai? Jangan harap, sampai kapan pun dia tidak akan menceraikan Cristin apalagi tujuannya belum tercapai.