
Orland menunggu dengan perasaan cemas, sungguh dia sangat ingin tahu apa yang terjadi di dalam sana. Seandainya dia bisa masuk ke dalam? Rasanya ingin menerobos tapi dia tahu itu melanggar aturan. Dia merasa perceraian Cristin tidak akan mudah, semua itu bisa dilihat dari sikap Johan. Sepertinya pria itu benar-benar ingin memanfaatkan Cristin dan memang itulah yang terjadi.
Setelah melakukan perdebatan yang panjang, Cristin diam dengan perasaan kesal. Semakin dia mengungkap kebusukan yang dilakukan oleh Johan, pria itu semakin menunjukkan rasa bersalah dan permohonan ingin rujuknya sehingga hal itu memojokkan Cristin.
Cristin sudah tidak mau berkata apa-apa lagi, energinya habis. Dia tidak menyangka Johan begitu gigih tidak menginginkan perceraian mereka. padahal pria itu yang telah mengkhianatinya terlebih dahulu tapi ucapan yang selalu Johan lontarkan memojokkan dirinya seolah-olah dia yang paling bersalah pada malam itu. Dia juga terus memohon seolah-olah dia yang paling terluka, hal itu membuat Cristin benar-benar terpojok bahkan sikap yang ditunjukkan oleh Johan membuatnya muak. Jika saja tidak ada sang pakar pernikahan bersama dengan mereka, sudah dia lemparkan sepatu yang dia gunakan ke wajah Johan.
Suasana hening, Johan sudah tidak mengeluarkan jurus pemungkasnya lagi. Cristin juga sudah diam sedari tadi, dia tidak mau mengatakan apa pun karena Johan lebih dramatis dari pada dirinya. Sekarang dia jadi ingin tahu, kenapa dia bisa jatuh cinta pada Johan dulu?
Sepertinya dia benar-benar sudah buta dan tertipu dengan kata-kata manis yang Johan berikan. Sekarang dia jijik dengan pria itu, dia bahkan mual setelah mendengar drama yang Johan ucapkan.
Sang pakar tersenyum, dia bisa melihat jika Cristin sudah enggan berdebat dan terlihat pasrah. Memang dilihat bagaimanapun Johan yang paling bersikukuh tidak ingin berpisah dengannya.
"Bagaimana, Mam. Aku bisa bercerai dengannya atau tidak?" tanya Cristin dengan nada lesu.
"Suamimu tidak mau berpisah denganmu, Nyonya."
Johan tersenyum lebar, mereka pasti akan menjalankan masa pra nikah dan Cristin tidak akan bisa menghindarinya. Aktingnya hari ini pasti bisa mendapatkan piala Oscar tapi dia tidak peduli yang penting tujuannya dapat tercapai.
"Apa artinya aku tidak bisa bercerai dengannya?"
"Cristin, aku tidak mau berpisah denganmu! Sudah aku katakan, aku ingin memperbaiki hubungan kita!"
"Diam kau, Johan! Aku sudah muak dengan semua ucapanmu jadi sebaiknya kau diam!" ucap Cristin sinis.
"Aku tidak akan diam sampai kau percaya jika aku benar-benar ingin memperbaiki hubungan kita!"
"Cih, aku benar-benar lelah berbicara denganmu. Aku sungguh bodoh bisa jatuh cinta padamu dan aku menyesal telah mengenal dirimu!"
"Jangan berbicara seperti itu, Cristin. Apa kau tidak mau memberikan aku kesempatan kedua? Semua orang pasti berhak mendapatkan kesempatan kedua, bukan?"
__ADS_1
"Hanya orang tertentu yang berhak mendapatkan kesempatan kedua dan kau? Kau pengecualian karena orang seperti dirimu tidak pantas!" ucap Cristin seraya beranjak. Sebaiknya lain kali dia datang lagi karena dia ingin berbicara secara pribadi dengan pakar pernikahan itu. Mau bagaimanapun tidak ada yang bisa memaksa dirinya melakukan ujian pra nikah dengan Johan apalagi ujian pra nikah biasanya dilakukan selama tiga bulan. Sumpah demi apa pun, dia tidak sudi tinggal satu atap dengan pria itu selama tiga bulan.
"Mam, lain kali aku akan datang lagi untuk berbicara denganmu. Untuk hari ini aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat keributan tapi sampai mati pun aku tidak mau melakukan ujian pra nikah dan tinggal satu atap bersama dengannya!" ucap Cristin.
"Baiklah Nyonya, mungkin saat ini anda memang butuh waktu. Datanglah lain kali, jika bisa kalian datang bersama untuk melanjutkan konsultasi ini dan untuk mengetahui tindakan apa yang harus kalian lakukan tapi jujur saja Nyonya Bailey, karena suamimu tidak mau berpisah maka hanya ada satu jalan yaitu ujian pra nikah karena dengan begitu kalian bisa menumbuhkan rasa yang pernah kalian rasakan dulu. Percayalah, sudah banyak yang berhasil memperbaiki hubungan mereka dengan cara seperti ini."
"Terima kasih tapi aku datang bukan untuk memperbaiki tapi untuk mengakhirinya dan aku menyesal telah mencintainya. Permisi, Mam," ucap Cristin seraya melangkah keluar.
"Cristin, tunggu aku!" teriak Johan. Dia juga keluar dari ruangan dan mengikuti langkah Cristin.
Cristin sangat kesal, dia sudah menahan kekesalan hatinya sedari tadi tapi kini sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Cristin, tunggu. Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu!" Johan masih mengikutinya.
Cristin menghentikan langkah dan melepaskan sepatu yang dia pakai, seharusnya dia membawa batu tadi. Johan sudah mendekat saat Cristin memutar langkah dan tanpa banyak bicara, Crisntin melemparkan sepatunya ke wajah Johan.
"Jangan mengikuti aku, ba*ingan!" Cristin berteriak demikian sambil melemparkan sepatunya.
"Cristin!" Johan berteriak marah tapi Cristin sudah berlari pergi dengan satu sepatu yang terpasang di kaki.
"Sial!"Johan mengusap dahinya di mana sepatu Cristin mendarat tadi. Beraninya wanita itu melemparnya? Tapi dia tidak bisa marah agar aktingnya tidak ketahuan.
Cristin berlari ke arah ruang tunggu dengan perasaan puas. Akhirnya dia bisa melempar wajah pria itu. Dia benar-benar sudah sangat ingin melakukannya ketika Johan menunjukkan drama menjijikkannya. Walau kehilangan satu sepatu mahalnya tapi tidak jadi soal, yang penting keinginannya terwujud.
Orland beranjak melihat kedatangannya, dia sangat heran melihat Cristin berlari menghampirinya dengan satu sepatu yang hilang. Tunggu, sepertinya dia tahu apa yang telah terjadi.
"Mana satu sepatumu, Nona?"
"Aku gunakan untuk melempar baj*ngan!" ucap Cristin.
__ADS_1
"Sepertinya peran sepatu mulai berubah."
"Aku tidak peduli karena aku memang sudah sangat ingin melempar wajahnya!"
"Apa yang terjadi, Cristin?" tanya Orland karena dia memang sudah sangat ingin tahu akan hal ini.
"Kita bicarakan nanti, Orland. Aku butuh es cream untuk mendinginkan kepalaku!" ucap Cristin kesal.
"Baiklah," Orland berjongkok di hadapannya, "Aku gendong," ucapnya lagi.
Cristin tersenyum dan naik ke atas punggungnya. Orland membawanya pergi dari sana. Mereka tidak menyadari jika Johan melihat mereka sambil menggenggam sepatu Cristin yang hendak dia kembalikan. Hatinya tiba-tiba panas, sungguh dia tidak suka melihat kedekatan mereka berdua.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Cristin!" ucapnya dengan kemarahan di hati.
Sambil membawa sepatu Cristin, Johan pergi dari tempat itu. Cristin tidak akan bisa lepas darinya walau dia bersama dengan pria itu. Johan melangkah menuju mobil, matanya melihat sana sini untuk mencari sosok Cristin tapi saat itu Cristin sudah berada di mobil bersama dengan Olrand.
Matanya melihat ke arah sepatu Cristin yang baru saja menghantam wajahnya. Sial, lebih baik dia pergi dari tempat itu. Mesin mobil dinyalakan, Johan segera pergi tapi dia tidak tahu jika mobil lain yang sudah mengintainya sejak tadi mulai mengikuti dan tentunya itu Gail.
Orland dan Cristin bahkan melihat dari mobil mereka yang berada tidak jauh dari mobil Johan. Agar tidak ketahuan mereka bersembunyi sebentar.
"Kau yakin cara ini akan berhasil?" tanya Cristin.
"Tentu saja, Gail pasti akan menemukan bukti."
"Baiklah, antar aku makan es cream," pinta Cristin.
"Kita beli sepatu dulu untukmu, kau tidak mungkin berjalan dalam keadaan seperti itu, bukan?"
"Kau benar!" ucap Crisrtin.
__ADS_1
Orland menyalakan mesin mobil dan pergi. Dia harap Gail menemukan sesuatu. Walau dia tahu mereka tidak akan langsung mendapatkan bukti tapi semoga saja Gail mendapatkan sedikit petunjuk untuk mereka.