
Bukti sudah berada di tangan sang pakar pernikahan. Wanita yang sedikit memiliki tubuh gemuk itu melihat ke arah Cristin dan Orland dan setelah itu dia melihat foto-foto Johan bersama dengan Lauren.
Dilihat bagaimanapun foto-foto tersebut tidaklah direkayasa. Foto terlihat begitu natural sehingga sang pakar akhirnya menyimpulkan jika yang diucapkan Cristin mengenai perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya adalah benar walau sesungguhnya dia juga sedang berselingkuh dengan pria yang sedang duduk di sisinya itu.
"Bagaimana, Mam. Wanita itulah yang tidur dengannya di malam pernikahan kami. Aku bahkan tidak menduga jika dia masih menjalin hubungan dengan wanita itu. Semua yang dia katakan di sini adalah tipuan belaka dan aku tidak sudi memperbaiki hubunganku dengannya apalagi dia menikahi aku demi uang!" ucap Cristin.
"Baiklah, bukti ini sudah cukup kuat untuk kita tunjukkan ke pengadilan nanti sehingga kalian bisa bercerai."
"Jadi aku tidak perlu menjalani ujian pra nikah lagi, bukan?" wajah Cristin terlihat berseri.
"Tentu tidak perlu, Nyonya Bailey. Karena sudah ada bukti jika suami anda yang mengkhianati anda terlebih dahulu, maka aku bisa mengajukan permintaan perceraian anda ke pengadilan. Anda tidak perlu khawatir, setelah ini serahkan padaku. Aku akan bekerja sama dengan pengacara anda nanti."
"Aku sangat berterima kasih," Cristin mengulurkan tangannya, akhirnya sebentar lagi dia akan memiliki status yang jelas. Walau dia tidak bisa membuktikan motif Johan menikahinya tapi dengan adanya bukti perselingkuhan itu, proses perceraian bisa segera dilaksanakan.
Setelah memberikan bukti perselingkuhan Johan, Cristin dan Orland pamit pergi. Sang pakar memintanya untuk tetap datang besok karena dia akan mengatakan keputusannya di hadapan Johan dan Cristin. Tentu saja Cristin tidak keberatan, dia justru tidak sabar karena dia akan melemparkan bukti itu di wajah Joohan. Dia ingin lihat, apalagi yang hendak Johan katakan nanti?
Cristin keluar dengan senyum di wajah, kebahagiaan memenuhi hati. Semua berkat Orland, jika tidak ada pria itu maka dia tidak akan mendapatkan bukti kebersamaan Johan dengan wanita itu.
"Terima kasih, Orland. Aku sangat terbantu karena ada dirimu," ucap Cristin saat mereka pergi dari tempat itu.
"Berterima kasihlah dengan benar, Cristin" ucap Orland.
"Caranya? Katakan apa yang kau inginkan, aku akan mengabulkannya."
"Jangan menyesali ucapanmu, Nona," Orland tersenyum nakal.
"Tentu saja, tapi jangan meminta yang aneh-aneh!"
"Tidak aneh sayang," Orland masih tersenyum.
"Jadi?"
"Kau tahu, akhir-akhir ini tulangku terasa nyeri," Orland mengatakan hal itu sambil memutar lengan tangan.
"Lalu?" Cristin tidak mengerti.
"Aku rasa aku perlu?" mata Orland jatuh ke tempat lain. Cristin memandanginya dengan tatapan curiga sampai akhirnya dia mengerti dengan apa yang Orland maksud.
__ADS_1
"Menyebalkan, mesum! Apa kau pikir aku ibu yang sedang menyusui!" Cristin memukuli bahu Orland tanpa henti.
"Cristin kau salah paham!" Orland berusaha menghindar, Cristin bahkan naik ke atas punggungnya dan menggigit telinganya.
"Salah paham macam apa? Mesum menyebalkan!" Cristin kembali menggigit.
Aduh, padahal dia hanya bercanda saja tapi dia memang sengaja menggoda Cristin. Siapa tahu kejadian di kolam renang bisa terulang kembali?
Cristin sudah berhenti menggigit, dia masih berada di atas punggung Orland. Pria itu membawanya menuju parkiran mobil tanpa mau menurunkan Cristin dari gendongannya.
"Malam ini menginap di rumahku, Cristin. Kau mau, bukan?"
"Menginap saja, atau ada hal lain?"
"Aku akan sangat senang jika kau mau melakukan hal lain denganku."
Cristin tersenyum, "Ayo kita ulangi kejadian malam itu," ucapnya.
Orland terkejut, hampir saja dia tersandung dan menjatuhkan Cristin karena dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa Cristin tidak sedang bercanda?
"Kau... tidak sedang menggoda aku, bukan?" tanyanya.
"Sialan, aku mau cepat pulang!" Orland berlari menuju mobil dengan terburu-buru.
"Hei, bukankah kau bilang tulangmu sedang nyeri?"
"Sekarang sudah tidak lagi!" jawab Orland sambi berteriak.
Cristin tertawa, Orland benar-benar bersemangat. Dia juga tidak ingin membuang waktu karena dia khawatir Cristin berubah pikiran. Mobil bahkan dibawa dengan kecepatan tinggi, jika punya sayap dia akan terbang agar cepat sampai.
Setelah tiba, Orland kembali menggendong Cristin dan membawanya menuju kamar. Yang lain tidak penting, dia sudah sangat ingin melakukannya.
Cristin sudah terbaring di atas ranjangnya. Orland bahkan sedang membuka jas yang dia pakai, oh... apakah dia sedang bermimpi?
Orland mencium pipi Cristin dengan lembut, ternyata bukan mimpi karena Cristin begitu nyata berada di bawahnya. Cristin tersenyum dan mengusap wajah Orland dengan perlahan, entah kenapa tiba-tiba dia menawarkan diri seperti itu tapi dia tidak menyesalinya.
Kedua tangan Orland sudah masuk ke dalam baju Cristin, ciuman mereka juga tidak lepas. Mereka berdua tidak mempedulikan apa pun lagi. Baju yang dikenakan oleh Cristin bahkan sudah terlepas.
__ADS_1
Orland benar-benar tidak mau berhenti lagi tapi tiba-tiba saja dia merasa jika yang mereka lakukan saat ini adalah salah. Tidak seharusnya mereka melakukan hal seperti itu. Entah kenapa dia seperti sedang mengambil keuntungan dari Cristin, jangan sampai kedua orangtua Cristin yang begitu mempercayainya menjadi kecewa karena mereka melakukan hal itu sebelum waktunya.
"Sial!" Orland mengumpat dan berbaring di sisi Cristin sambil mengusap rambutnya.
"kenapa?" Cristin menatapnya dengan tatapan heran karena Orland berhenti.
"Aku tidak bisa melakukan hal ini, Sayang," ucap Orland.
"Kenapa, Orland? Apakah tubuhku ini tidak menarik?"
"Bukan seperti itu, Sayang. Jangan salah paham. Aku hanya tidak mau seperti baj*ngan walau sesungguhnya aku sangat ingin tapi aku tidak bisa. Aku juga tidak mau mengambil keuntungan darimu. Aku tahu aku pasti terlihat bodoh tapi percayalah, aku tidak mau mengambil keuntungan darimu!"
"Kau tidak melakukan hal itu, Orland," Cristin naik ke atas tubuhnya dan mencium pipinya.
"Aku yang menawarkan diri padamu jadi kau tidak mengambil keuntungan apa pun dariku."
"Aku tahu," tangan Orland sudah berada di wajah Cristin, mereka berdua pun saling pandang.
"Sebagai lelaki aku tidak akan menolak tapi hati kecilku berkata aku tidak boleh melakukannya. Aku akan sabar menunggu dan aku akan menahan diri. Kita akan melakukannya nanti setelah kita menikah. Untuk saat ini, aku ingin menunjukkan padamu jika aku bukanlah baj*ngan yang ingin mengambil keuntungan darimu."
Cristin tersenyum manis, dia tidak menyangka Orland akan menahan diri padahal dia sudah bersedia. Sepertinya pria itu benar-benar tulus dengannya, dia tidak akan ragu lagi. Lagi pula dia sudah terpesona olehnya, dinding yang dia bangun juga sudah hancur sejak lama.
"Terima kasih, Orland," Cristin kembali mencium wajahnya lalu mencium bibirnya.
Orland memeluknya dengan erat, sungguh dia sangat ingin tapi hati kecilnya berkata jangan.
Cristin berbaring di sisinya, Orland memeluknya dan memainkan rambutnya. Dia rasa seperti itu lebih baik dan dia sangat bersyukur menghentikan kegiatan mereka.
"Bagaimana jika kita berenang saja," ajak Cristin, "Tulangmu sudah tidak nyeri lagi, bukan?" tanyanya lagi.
"Tentu tidak, aku hanya bercanda soal itu," Orland mencium dahinya sejenak.
"Jadi?"
"Ayo kita berenang," ucap Orland.
Mereka berdua beranjak dan pergi ke kolam renang. Padahal saat itu waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Mereka menghabiskan waktu di kolam renang sambil menikmati makan malam karena Orland meminta pelayan membawakan mereka makanan yang bisa mereka nikmati di sana. Ternyata menghabiskan waktu di sana tidaklah buruk walau mereka tidak jadi bercinta.
__ADS_1
Orland juga tidak menyesalinya karena dia khawatir jika mereka sampai melakukanya nanti, kedua orangtua Cristin akan sangat kecewa dengannya. Lebih baik menahan diri dari pada harus kehilangan kepercayaan kedua orangtua Cristin sehingga dia bisa kehilangan Cristin.