Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Aku Tidak Mau Melihatnya


__ADS_3

Cristin terlihat tidak bersemangat, kurang tidur membuatnya seperti itu. Dia bahkan hampir melempar ponselnya karena kesal menunggu. Dia benar-benar seperti orang bodoh dan dia tahu ada yang salah pada dirinya. Walau dia menyangkal dan tidak mau mengakui, tapi keadaannya yang seperti itu gara-gara Orland.


Seharusnya dia tidak membiarkan hal itu terjadi pada dirinya lagi. Mana sumpah yang dia ucapkan dulu ketika Johan mengkhianati dirinya? Bukankah dia tidak mau lagi terlibat asmara dengan siapa pun tapi kenapa dia membiarkan Orland masuk ke dalam hatinya dengan mudah? Sepertinya dia benar-benar sudah melupakan sumpahnya sendiri.


Sudah beberapa hari Orland tidak menghubunginya itu karena Orland sedang dalam perjalanan kembali dan karena Orland sengaja tidak ingin menghubungi Cristin. Dia melakukan hal itu karena dia ingin tahu apakah sudah ada sedikit perasaan untuknya di hati Cristin. Apakah yang dia lakukan selama ini membuahkan hasil atau tidak.


Cristin menghela napas sambil melihat ke arah ponselnya, benda itu seperti sebuah benda sakral yang dia tunggu sepanjang hari dan betapa bodoh dirinya mau melakukan hal itu. Apa pengkhianatan yang Johan berikan untuknya tidak cukup untuknya?


Persetan dengan para pria itu, dia memang sudah salah terlibat dengan mereka. Lebih baik dia tidak memikirkan mereka seperti orang bodoh. Lebih baik dia pergi bersenang-senang sebelum menghadapi masa perceraiannya yang sulit.


Ponsel diraih, Cristin ingin menghubungi atasannya karena dia belum mencari tahu mengenai proposal. Jika proposal itu benar-benar sudah selesai berarti dia tidak perlu bertemu dengan Orland lagi.


"Cristin," bosnya sudah mengangkat telepon darinya.


"Mam, aku hanya ingin tahu mengenai proposal," ucap Cristin.


"Oh, aku lupa mengatakan hal ini padamu. Proposalnya sudah selesai, terima kasih atas kerja samamu. Gaji dan bonus untukmu akan segera aku transfer ke rekeningmu."


"Aku senang mendengarnya, itu berarti aku sudah bisa mengundurkan diri, bukan?"


"Tentu saja, jika kau kembali ke Italia dan memerlukan pekerjaan, kantorku terbuka lebar untukmu,"


"Terima kasih banyak, aku rasa tidak akan kembali ke sana lagi."


"Sayang sekali tapi semoga kau berhasil," ucap bosnya dan sekarang sudah mantan.


Cristin tersenyum dan mengucapkan terima kasih, akhirnya pekerjaannya sudah selesai. Dia sangat senang walau pekerjaan itu Orland yang menyelesaikannya. Sepertinya dia harus mengirimkan sesuatu untuk pria itu sebagai ucapan terima kasih.


Setelah berbicara dengan bosnya, Cristin meletakkan ponselnya dan kembali terlihat termenung. Tidak bersemangat, itulah yang terjadi padanya. Tidak ada kegiatan yang dia lakukan, jika dia mau pergi, dia juga tidak tahu mau pergi ke mana.


Cristin beranjak dan mengambil tasnya, dari pada seperti orang bodoh sebaiknya dia pergi menonton saja. Film horor paling cocok untuk suasana hatinya saat ini.


"Mom, aku mau pergi!" teriak Cristin.


"Kau mau pergi ke mana, Cristin?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Aku mau pergi menonton!" terika Cristin lagi.


"Jangan pulang terlalu malam!"


"Aku tahu!" Cristin segera pergi, lebih baik dia melakukan sesuatu untuk mengisi waktunya dan menghilangkan kegelisahan hatinya. Semoga saja pria menyebalkan itu tidak mencarinya lagi, dia benar-benar sudah tidak peduli. Beruntungnya perasaannya yang dia rasakan belum terlalu dalam. Setidaknya dia tidak perlu merasa terlalu sakit hati.


Entah kenapa dia jadi bersyukur, dengan kepergian pria itu, matanya jadi terbuka lebar dan tahu siapa Orland Dmytry. Cristin menghancurkan dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran negatifnya tentang Orland. Dia seperti itu karena rasa ketidakpercayaannya pada laki-laki kembali memenuhi hati dan dikarenakan Orland tidak menghubunginya sehingga dia beranggapan jika Orland melakukan hal itu karena dia sudah puas mempermainkan dirinya tapi sesungguhnya Orland hanya ingin memberikannya kejutan.


.


Pesawat yang ditumpangi Orland baru saja mendarat. Perjalanan dari Australia menuju New York cukup memakan banyak waktu. Sesungguhnya dia sudah sangat ingin menghubungi Cristin dan mendengar suaranya tapi dia benar-benar menahan diri untuk tidak melakukan hal itu.


Malam ini dia akan mencari Cristin dan mengajaknya makan malam romantis. Dia ingin memberikan kalung permata hijau yang dia belikan, dia yakin Cristin pasti akan suka.


Orland keluar dari pesawat, perjalanan jauh sangat membosankan. Jika tidak mendadak dia lebih suka mengajak Cristin. Lain kali dia akan mengajaknya pergi berdua, mungkin setelah proses perceraian Cristin sudah selesai. Dia bisa mengajak Cristin berlibur ke Belanda untuk memperdalam hubungan mereka berdua.


Waktu menunjukkan pukul dua siang saat dia tiba, dia masih punya banyak waktu untuk mengajak Cristin pergi makan malam. Sebaiknya dia pulang terlebih dahulu, dia juga ingin membelikan seikat bunga untuk Cristin agar dia senang.


Orland bergegas pulang, dia sudah tidak sabar sore cepat datang. Dia tidak tahu Cristin sedang marah karena tidak dia hubungi. Dia bahkan bergegas pergi saat waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Seikat bunga mawar merah sudah berada di tangan, sebuah restoran juga sudah dipilih untuk mereka. Orland bahkan menyewa restoran itu secara eksclusive untuk mereka berdua karena dia tidak mau ada yang mengganggu waktu mereka berdua.


"Orland, bukankah kau sedang pergi?" tanya Mariana. Dia tahu hal itu dari Cristin.


"Ya, aku segera kembali setelah pekerjaanku selesai, Apa aku bisa bertemu dengan Cristin?"


"Cristin belum kembali," jawab Mariana.


"Kemana dia pergi, Nyonya?"


"Dia bilang ingin pergi menonton. Tunggulah sebentar lagi, mungkin dia akan segera kembali," ucap ibu Cristin.


"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya," Orland melangkah menjauh sambil mengambil ponsel. Dia sangat berharap Cristin segera kembali. Orland mencoba menghubungi beberapa kali tapi Cristin mengnonaktifkan ponselnya.


Orland jadi khawatir, dia harap Cristin baik-baik saja. Mariana bahkan masuk ke dalam untuk menghubungi putrinya tapi hasilnya juga sama, ponsel Cristin tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Sudah berapa lama dia pergi, Nyonya?" Orland semakin terlihat khawatir. Jujur saja dia khawatir Cristin bertemu dengan Johan dan dipaksa pria itu untuk mengikutinya pergi.

__ADS_1


"Dia pergi saat siang, dia hanya berkata ingin menonton saja dan tidak mengatakan ke mana dia akan pergi."


Orland mengumpat, rasa khawatir semakin memenuhi hati. Sangat berbahaya jika Cristin dibawa paksa oleh Johan. Hal buruk bisa saja terjadi dan yang paling dia khawatirkan adalah, Johan berbuat nekad agar Cristin tidak bisa bercerai darinya. Semoga apa yang dia khawatirkan tidak terjadi, dia sangat berharap Cristin segera kembali.


Ibu Cristin juga tak kalah khawatirnya, seharusnya dia mencari tahu ke mana putri mereka pergi siang ini, seharusnya dia mengikuti putrinya pergi.. Jujur dia juga khawatir Cristin bertemu dengan Johan.


"Aku akan pergi mencarinya," ucap Orland.


"Kau mau mencarinya di mana, Orland?"


"Bioskop, ke mana saja yang mungkin dia datangi!"


"Jika begitu aku akan meminta suamiku untuk mencarinya juga!"


Mariana masuk ke dalam, sedangkan Orland bergegas menuju mobilnya. Dia sangat berharap bisa menemukan Cristin. Mesin mobil sudah menyala, Orland sudah siap menjalankan mobilnya tapi niatnya terhenti karena mobil yang dibawa Cristin sudah kembali.


Orland sangat lega dan senang, mesin mobil pun dimatikan. Orland keluar dari mobilnya saat melihat Cristin keluar. Dia segera menghampiri Cristin dengan terburu-buru karena Cristin sudah melangkah menuju rumahnya.


"Cristin, tunggu!" teriakan Orland membuat langkah Cristin.


"Cristin, dari mana saja? Aku sudah menunggumu sedari tadi," ucap Orland seraya melangkah menghampirinya.


Cristin memutar langkah, matanya menatap pria itu dengan tatapan tajam. Orland tersenyum, dia tidak tahu jika Cristin sedang menembok kembali dinding yang sudah hampir runtuh.


"Aku merindukan dirimu, Cristin," Orland memeluknya, sedangkan Cristin tidak bergeming.


Orland sangat heran, kenapa Cristin diam saja sedari tadi? Orland melepaskan pelukannya dan menatap Cristin dengan tatapan heran. Apa dia telah melakukan kesalahan?


"Cristin?" Orland semakin heran tapi tiba-tiba saja, PLLAAKK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Orland.


Orland terkejut, begitu juga dengan ibu Cristin yang secara kebetulan keluar dari rumah. Orland memegangi pipinya dan tampak tidak mengerti, kenapa Cristin marah dengannya?


"Cristin, kenapa kau memukulnya?" tanya ibunya.


"Aku tidak mau melihatnya lagi!" setelah berkata demikian Cristin berlalu pergi.

__ADS_1


Orland dan ibu Cristin saling pandang dan lagi-lagi Orland bertanya dalam hati, apa dia telah membuat kesalahan?


__ADS_2