
Beberapa saat yang lalu sebelum Cristin tiba di tempat Johan berada.
Di pimpin oleh seorang agen yang handal, misi pencarian Cristin pun berhasil menemukan titik terang. Pelaku pun sudah ditemukan. kecurigaan sang agen ternyata benar jika yang melakukannya adalah buronan yang sudah lama dicari.
Dean adalah buronan yang sudah lama mereka cari. pria itu pemasok obat-obatan dan juga senjata ilegal. beberapa kasus prostitusi juga melibatkan dirinya. Sepak terjangnya di dunia hitam memang sudah tidak diragukan lagi.
Lokasi keberadaan Cristin pun sudah ditemukan, walau para petugas kesulitan karena lokasi yang berada di tengah hutan namun mereka yakin jika Cristin dan putri Fedrick di sekap di tempat itu. Tidak membuang waktu, mereka segera menyusun strategi.
Keluarga Cristin yang cemas luar biasa diminta untuk pulang dan menunggu kabar di rumah, Orland dan Gail pun diminta untuk kembali. Mereka tidak diijinkan untuk terlibat dalam misi yang sedang ditangani oleh petugas apalagi agen wanita itu tidak mengijinkan orang awam ikut terlibat.
Mereka berdua terpaksa kembali, mengikuti peraturan yang ada. Orland terlihat tidak tenang, dia sangat ingin pergi ke lokasi untuk menolong Cristin. Jujur saja dia sangat mengkhawatirkan keadaan Cristin yang mungkin saja saat ini sedang mendapatkan perlakukan tidak menyenangkan dari Johan. Orland terlihat kesal, tidak adakah yang bisa dia lakukan?
Sebagai seorang pria, dia merasa tidak berguna karena dia hanya duduk diam menunggu. Walau dia tidak memiliki kemampuan seperti yang Gail miliki tapi dia tidak bisa duduk diam seperti itu.
"Sial!" Orland hanya bisa mengumpat, dia benar-benar tidak suka menunggu hasil seperti itu.
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan, Gail? Aku sungguh tidak suka duduk diam seperti ini!" Orland terlihat frustasi, dia harap Gail mempunyai sebuah ide.
"Apa kau ingin pergi ke sana, Sir?" tanya Gail. Matanya melirik ke arah spion mobil untuk melihat bosnya yang duduk di belakang.
"Apa kau memiliki cara, Gail?" tanya Orland.
"Tentu saja, tapi ini berisiko," jawab Gail.
"Aku tidak peduli dengan risikonya, yang aku inginkan aku bisa pergi ke sana untuk menyelamatkan Cristin!"
__ADS_1
"Baiklah!" Gail membanting setir mobil untuk berputar arah. Dia juga tidak suka diam saja, dia akan membawa bosnya menuju lokasi yang dikatakan oleh para petugas itu. Kebetulan senjata api ada di mobil, jadi usahanya membawa benda-benda itu tidaklah sia-sia.
Tanpa sepengetahuan para petugas, mereka juga menuju lokasi melalui jalan yang berlawan dari jalan yang para polisi itu ambil. Agar misi itu berjalan dengan lancar, sang agen memerintahkan pasukan yang dia pimpin mengepung tempat itu secara diam-diam.
Pepohonan yang tumbuh di sekitar lokasi memberi keuntungan untuk mereka. Mereka melakukan pengintaian dari balik pepohonan yang menjulang tinggi, semak-semak yang tumbuh di dekat pohon juga mereka manfaatkan untuk mengintai lokasi.
Sang agen sedang tiarap di atas tanah dengan beberapa personilnya dan beberapa personil lain berada di balik pohon. Sebuah teropong berada di tangan, sang agen sedang melihat bangunan yang cukup besar dengan dua lantai yang berada tidak jauh dari mereka.
Kecurigaan mereka semakin besar saat melihat orang-orang yang berjaga di tempat itu. Mereka terus mengawasi sampai akhirnya mereka melihat Dean keluar sebentar dari bangunan dan berbicara dengan beberapa anak buahnya yang menjaga tempat itu dengan ketat. Suara teriakan Cristin juga samar mereka dengar. Saat mereka sedang mengintai, Dean baru saja berbicara dengan Johan dan Cristin sedang dipaksa dinaikkan ke atas ranjang untuk melakukan operasi.
Mata Dean melihat sana sini, dia cemas. Dia harap Johan segera bergegas. Matanya bahkan melihat semak-semak dan pepohonan. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang mengintai dari balik semak-semak itu. Tidak ingin berpikiran buruk, Dean melangkah masuk, teriakan permohonan Cristin dapat dia dengar dengan jelas. Sepertinya operasi akan segera di mulai, itu bagus.
Sang agen segera memerintahkan pasukannya untuk berpencar, satu kelompok di sisi kiri, satu lagi menyergap dari arah kanan sedangkan dirinya akan memimpin pasukannya dari arah depan. Rencana sudah dibuat, mereka mulai berpencar.
"Apa yang terjadi?" Dean mengambil pistolnya dan berlari keluar.
"Kita diserang!" teriak salah satu anak buahnya dan pada saat itu, sebuah granat dilemparkan dari arah samping sehingga ledakan terjadi.
Pada saat itu perut Cristin sudah akan di operasi, sang dokter tampak ragu untuk menjalankan operasi sedangkan Johan berlari ke arah pintu untuk melihat apa yang terjadi. Pintu sedikit dibuka, Johan mengintip keluar dan melihat jika para petugas mulai menyergap masuk.
Dean mulai terpojok, semua di luar perkiraan. Anak buah yang dia miliki juga tidak cukup banyak sehingga mereka kalah jumlah.
"Habisi semua dan tangkap Dean hidup-hidup!" teriak sang agen dari tempat persembunyiannya.
Pasukan kembali maju setelah mendapat perintah, umpatan Dean terdengar. Sepertinya para petugas itu menginginkan dirinya tapi kesempatan itu memang digunakan oleh para petugas untuk mendapatkan dirinya. Suara tembakan tidak berhenti mendengar, Johan kembali masuk ke dalam ruangan sambil mengambil pistol yang diberikan oleh Dean.
__ADS_1
Apa pun yang terjadi ginjal Cristin harus tetap dia dapatkan, jika memang dia harus mati maka Cristin juga harus mati menemani kematiannya dan Lauren. Pintu ditutup rapat dan dikunci, Johan yakin Dean bisa mengatasi masalah di luar. Selama para petugas dan Dean adu tembak, dia harus memanfaatkan situasi dengan baik.
Putri Edrick sudah pingsan, gadis itu mengalami shock luar biasa. Mulut Cristin sudah ditutup lakban oleh dua anak buah Dean yang ada di dalam ruangan itu, mereka melakukan hal itu agar keberadaan mereka tidak diketahui dengan mudah. Mereka akan pergi setelah mereka mengambil ginjal Crisitn.
"Bagaimana ini, Tuan?" tanya sang dokter.
"Cepat lakukan, ambil ginjalnya dan setelah itu pergi!" ucap Johan. Rencana berubah, dia yang akan memindahkan ginjal Cristin ke tubuh Lauren nanti.
"Hmmm!" Cristin menggeleng sambil berderai air mata.
"Tapi situasi sedang gawat!" ucap sang dokter.
"Lakukan jika tidak aku akan menembakmu!" Johan menempelkan pistolnya di pelipis sang dokter. Sebuah kotak juga dia letakkan dekat tubuh Cristin, "Ambil ginjalnya dan masukkan ke dalam sini. Aku yang akan mengoperasinya sendiri nanti!" ucapnya.
Cristin semakin ketakutan mendengarnya, gila. Pria itu benar-benar sudah gila. Apa kematian kekasihnya yang telah membuat pria itu jadi gila seperti itu?
Sang dokter itu tidak punya pilihan. Pisau kembali dimainkan. Cristin berteriak tertahan saat pisau masuk menusuk dagingnya. Darah mengalir dari luka akibat pisau, air matanya mengalir dengan deras akibat rasa sakit yang dia rasakan.
Johan melihatnya dengan tatapan puas, keributan di luar tidak menyurutkan niatnya untuk mendapatkan ginjal Crisitn. Sang dokter masih dengan keraguannya, dia tampak ragu hendak merobek perut Cristin dengan pisau yang sudah menancap masuk ke dalam perut Cristin.
"Do it, now!" ucap Johan seraya mengancam sang dokter. Senjata api masih di pelipis dokter itu, Dia sudah tidak punya waktu untuk menunggu.
Sang dokter mengangguk dan ketakutan, pisau nhendak digerakkan untuk merobek perut Cristin tapi tiba-tiba saja sebuah peluru yang di tembakan entah dari mana melesat dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Peluru mengenai tepat di telapak tangan Johan, pria itu berteriak. Senjata api sudah jatuh di tangan. Dua anak buah yang berada di sana bersiaga tapi tanpa mereka duga, dua peluru lain melesat ke arah mereka dan melubangi kepala mereka.
Johan mengumpat marah saat melihat dua anak buahnya ambruk bersimbah darah. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang melakukan hal itu?
__ADS_1