Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Taruhan


__ADS_3

Malam semakin larut, Orland dan Cristin sudah keluar dari restoran. Mereka berdua duduk di sisi pantai untuk menikmati hembusan angin laut dan juga laut malam. Mereka belum mau kembali, mereka ingin menikmati malam indah mereka lebih lama. Beberapa hari saja tidak bertemu bagaikan beberapa bulan dan tentunya banyak yang ingin mereka bicarakan.


Jas Orland sudah berada di bahu Cristin, mereka berdua duduk di atas hamparan pasir pantai sambil bergandengan tangan. Tidak ada yang memulai berbicara di antara mereka, mata mereka melihat ke arah laut di mana ombak terus menggulung dan menerjang sisi pantai.


Orland berpaling, memandangi wajah cantik Cristin. Dia melakukan hal itu cukup lama sampai akhirnya Cristn menyadari dan menatapnya dengan tatapan galak.


"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Cristin.


"Aku tidak bisa memalingkan pandanganku dari wajah cantikmu, Sayang," Orland mengangkat tangan Cristin dan mengecup punggung tangannya.


"Jangan berlebihan!" Cristin membuang wajahnya ke samping.


"Aku serius," Orland menggeser duduknya dan memeluk pinggangnya.


"Kau bilang akan berada di Australia selama satu minggu Orland, tapi kenapa kau sudah kembali?"


"Aku rindu denganmu, Cristin. Aku menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat karena aku sudah sangat ingin kembali apalagi ketika aku mendengar pembicaraanmu dengan suamimu waktu itu. Aku sangat ingin berada di sisimu tapi sayangnya aku tidak bisa. Katakan padaku, apa yang terjadi waktu itu?" Orland kembali mengangkat tangan Cristin dan mencium punggungnya.


"Seperti yang kau tahu, Orland," Cristin menghela napas sejenak dan kembali berkata, "Dia tiba-tiba datang menarik aku dan memelukku!"


"Apa yang dia katakan?" tanya Orland karena saat itu tanpa sengaja Cristin mengakhiri pembicaraan mereka saat dia sedang memberontak di dalam pelukan Johan.


"Menurutmu apa, Orland? Dia meminta maaf padaku dan ingin memperbaiki hubungan kami berdua. Dia benar-benar ingin membuat aku tertawa, setelah menyakiti perasaanku lalu dia datang untuk minta maaf dan ingin memperbaiki hubungan kami. Apa dia kira aku sudi bersama dengannya lagi?" Cristin tersenyum miris, apa Johan mengira dia bisa mempermainkan dirinya sesuka hati?


"Aku benar-benar muak dengannya, rasanya sudah tidak sabar berpisah dengannya tapi aku tahu tidak akan mudah karena dia berkata tidak mau menceraikan aku."


"Tidak perlu khawatir akan hal itu," Orland menariknya mendekat hingga Cristin bersandar di bahunya.


"Kau pasti bisa bercerai dan terbebas darinya. Aku pasti akan membantumu sesuai dengan janjiku. Kita hadapi pria itu secara bersama-sama jadi tidak perlu khawatir."


"Baiklah, aku mengandalkan dirimu!" Cristin semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Orland.


"Cristin," Orland memanggilnya, tangannya sudah berada di wajah Cristin dan memberikan usapan lembut.


"Hm?" Cristin mengangkat wajah dan memandangi Orland. Orland juga memandanginya sehingga tatapan mata mereka saling beradu.


Orland tersenyum lembut, hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan wanita secantik Cristin. Setelah Cristin bercerai dari suaminya nanti, dia akan mengucapkan terima kasih pada pria itu karena telah memberikan kesempatan padanya untuk mengenal Cristin dan menjadikan wanita itu sebagai miliknya.


"Bagaimana jika malam ini kau menginap di rumahku, Cristin?" Orland mendekatkan bibir mereka dan memberikan kecupan lembut di bibir Cristin.


"A-Apa?" Cristin tampak gugup.


"Menginap, kau mau bukan? Aku tidak akan melakukan apa pun, aku berjanji."


"Tapi, ayah dan ibuku pasti melarang!" ucap Cristin.


"Jika mereka tidak melarang, kau mau menginap, bukan?"


"Tapi aku tidak bawa baju, Orland," Cristin masih berusaha menolak. Dia rasa tidak baik menginap di rumah pria itu.


"Untuk sementara pakai bajuku, aku tidak keberatan!"


"Tapi?"

__ADS_1


"Stts!" Orland meletakkan jarinya di bibir Cristin.


"Yes or no, hanya itu yang perlu kau katakan!" ucapnya.


Cristin menghela napas, apakah dia bisa menolak?


"Aku ingin berjalan di sepanjang pantai untuk memikirkannya," ucapnya.


"Jika begitu tunggu apa lagi," Orland beranjak dan mengulurkan tangannya ke arah Cristin.


Cristin tersenyum dan meletakkan telapak tangannya ke atas tangan Orland. Mereka berdua melangkah menyelusuri sisi pantai. Walau gelap dan angin malam yang dingin tapi tidak membuat mereka terganggu.


Ini kedua kalinya Cristin melakukan hal itu, tentunya dengan pria yang sama.


"Bagaimana, yes or no?" tanya Orland.


"Hei, kita baru melangkah beberapa langkah!" protes Cristin.


"Baiklah, aku tahu wanita memang sulit di mengerti."


"Apa kau keberatan?" Cristin menatapnya dengan tatapan galak.


"Tentu tidak, Nona. Aku sudah terbiasa denganmu yang lain di mulut lain di hati," godanya.


"Apa? Enak saja!" protes Cristin.


"Berani bertaruh denganku? Jika ucapanku benar maka kau harus menginap di rumahku selama satu minggu," tantang Orland.


"Ck, siapa yang mau bertaruh denganmu!" tolak Cristin.


"Hei, jangan asal bicara!" ucap Cristin dengan nada tidak senang.


"Jika kau tidak mau aku asal bicara maka buktikan jika ucapanku salah," Orland tersenyum lebar.


"Oke, fine! Bagaimana cara membuktikannya?" tanya Cristin sambil membuang wajah.


"Hubungi ibumu, Sayang. Dia paling mengenal dirimu."


"Baiklah," Cristin menghentikan langkah dan segera mengambil ponsel untuk menghubungi ibunya.


Orland menunggu, dia sudah yakin jika dia akan menang dan tentunya, Cristin tidak belajar dari taruhan yang telah mereka buat waktu itu.


"Ada apa, Sayang?" terdengar suara ibunya.


"Mom, aku ingin menannyakan sesuatu padamu," Cristin bertanya pada ibunya sambil menatap galak ke arah Orland.


"Ada apa? Katakan pada Mommy."


"Se-Seseorang berkata jika aku lain di mulut lain di hati, apa benar, Mom?" tanya Cristin. Dia sangat berharap ibnya berkata jika ucapannya tidaklah benar.


"Wah, kenapa kau bertanya demikian? Apa Orland yang mengatakan hal itu padamu?" tanya ibunya.


"Ja-Jawab saja, Mom," pinta Cristin.

__ADS_1


"Kau tahu, Sayang? Yang dia katakan sangat benar. Kau memang lain di mulut lain di hati," ucap ibunya tanpa ragu.


"What?" Cristin hampir memekik. Ibunya tidak sedang bekerja sama dengan pria menyebalkan itu, bukan?


"Apa ucapan Mommy salah? Kau bisa mencari tahu sendiri karena terkadang kau memang berkata seperti itu. Di mulutmu berkata tidak tapi di hatimu berkata iya, seharusnya kau sadar."


Cristin menunduk, lagi-lagi dia harus kalah taruhan.


"Kenapa kau bertanya demikian?" tanya ibunya ingin tahu.


"Ti-Tidak ada apa-apa, maaf aku mengganggu Mommy," ucap Cristin seraya mengakhiri percakapan mereka.


"Bagaimana, Cristin? Aku tidak bohong, bukan?"


"Menyebalkan!" Cristin menyimpan ponselnya dan menatap Orland dengan tatapan tajam.


"Aku menang lagi, Nona," Orland tersenyum lebar.


"Kau pasti sengaja, bukan? Kau sengaja agar kau menang?"


"Tidak, bukankah kau bilang jika kau tdak seperti itu? Lagi pula aku asal menebaknya saja!" senyum Orland semakin lebar, sedangkan Cristin menahan kedongkolan di hati.


"Ingat Cristin, kau harus menginap di rumahku satu minggu," ucapnya.


"Dalam mimpimu, menyebalkan!" Cristin berlari ke arahnya dan melompat naik ke atas punggungnya. Tanpa basa basi Cristin menggigit leher Orland karena dia sudah sangat ingin melakukannya.


Orland berteriak, lagi-lagi dia harus menerima gigitan dari Cristin. Tidak saja lehernya, daun telinganya juga jadi sasaran empuk namun walau begitu, dia senang-senang saja dan kembali melangkah menyelusuri pantai.


"Apa sudah mau kembali?" tanya Orland saat Cristin sudah tidak menggigitnya lagi.


Cristin hanya mengangguk dan memeluknya erat, dia masih tetap berada di gendongan Orland sampai pria itu membawanya menuju mobil.


"Aku tidak memaksamu untuk menginap, aku hanya bercanda untuk itu," ucap Orland.


"Lupakan saja. Hanya menginap saja, bukan?"


"Jadi kau bersedia?" tanya Orland.


''Ya, tapi tidak malam ini."


''Yes," teriak Orland. Dia hampir melompat karena dia begitu senang.


"Aku sangat senang, Sayang. Aku sudah tidak sabar," ucapnya.


Cristin tersenyum, hanya menginap saja kenapa Orland begitu senang?


"Sekarang antar aku pulang dulu," pintanya seraya mencium pipi Orland.


"Cium bibirku, Cristin," pinta Orland.


"Lain kali," Cristin tersipu.


"Ingat, kau hutang satu ciuman."

__ADS_1


Cristin meengangguk dan semakin mempererat pelukannya. Orland masih menggendongnya di punggung dan membawanya menuju mobil. Walau malam indah mereka sudah berakhir tapi mereka tidak akan melupakan kebersamaan mereka malam ini.


__ADS_2