
Cristin duduk di tanah sambil menarik rumput sesekali dan melemparkannya. Matanya melirik ke arah Orland yang saat itu sedang memeriksa tenda yang dia dirikan, jangan sampai tumbang sehingga mengacaukan kebersamaannya dengan Cristin.
Dia yakin seratus persen Cristin akan tidur dengannya malam ini, wanita itu tidak mungkin berani tidur di luar sendirian. Senyum Orland tampak mekar saat dia melihat ke arah Cristin yang sedang melotot ke arahnya. Entah kenapa Cristin bisa lupa dengan tendanya tapi itu adalah sebuah keuntungan untuknya.
Cristin menggerutu, obat serangga kembali disemprot sana sini. Kenapa dia bisa melupakan tendanya? Semoga saja mereka benar-benar berada di hutan itu untuk satu malam saja, dia benar-benar tidak mau terlalu lama dengan pria itu.
"Cristin, bagaimana jika kau mencari kayu bakar saja?" ucap Orland.
"Kayu bakar?"
"Ya, kita akan membuat api unggun nanti malam tapi jangan jauh-jauh, aku akan kesulitan mencarimu jika kau tersesat."
"Baiklah," Cristin beranjak dan menepuk bokongnya, "Ini lebih baik dari pada berduaan denganmu!" ucapnya lagi seraya mendengus.
Orland tersenyum, apa Cristin begitu tidak suka berdekatan dengannya? Tidak masalah, dia tahu tidak akan mudah. Sebaiknya dia segera menyelesaikan tenda yang akan mereka gunakan nanti malam berdua.
Cristin mengambil kayu yang dia temukan sambil menggerutu, dia melihat ke belakang sesekali karena dia takut tersesat. Semoga malam ini tidak terjadi apa pun, dia takut terbuai dengan pesona pria itu. Beberapa kayu bakar sudah didapatkan, Cristin kembali sambil mengeluh. Ternyata Camping tidak semudah yang dia bayangkan. Dia benar-benar tidak terbiasa, dia bahkan sudah merasa lelah padahal dia hanya mengambil kayu bakar saja.
"Apa ini sudah cukup?" tanya Cristin seraya meletakkan kayu bakar yang dia ambil.
"Sudah, beristirahatlah. Sisanya serahkan padaku."
Cristin mengangguk, dia duduk diam di sebuah batang pohon yang sudah tumbang sambil melihat apa yang Orland lakukan. Orland sibuk sendiri tapi matanya tidak lepas dari Cristin yang sedang mengusap lengannya karena angin yang mulai dingin.
Orland tersenyum, dia beranjak menuju tenda untuk mengambil sesuatu dan setelah mendapatkannya, Orland memakaikan selimut di bahu Cristin.
"Pakai ini, udara akan semakin dingin tapi tidak perlu khawatir, aku akan membuat api unggun agar hangat," ucapnya.
"Thanks, apa kau sering melakukan hal ini?" Cristin membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut yang diberikan Orland.
__ADS_1
"Yeah, aku pecinta alam jadi aku suka melakukan hal ini."
"Jadi, apa kau punya sesuatu untuk di makan? Aku lapar," ucap Cristin.
"Tentu saja, Nona. Sepertinya yang kau bawa hanya obat serangga saja," goda Orland.
"E-Enak saja!" Cristin membuang wajahnya yang memerah. Pria itu benar-benar menyebalkan.
Api unggun sudah jadi, Orland beranjak untuk mengambil makanan untuk mereka nikmati. Cristin menikmati hangatnya api unggun, walau hutan begitu gelap dan sepi tapi dia tidak begitu takut. Ternyata tidak seburuk yang dia kira, mereka berdua menikmati makan malam mereka di depan api unggun dan saling duduk berhadapan. Mereka juga membakar marshmello dan sebotol whisky menemani malam mereka.
"Boleh aku bertanya sesuatu, Cristin?" tanya Orland, matanya tidak lepas dari Cristin.
"Aku tidak mau menjawab jika pertanyaanmu aneh!"
"Tidak, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padamu malam itu, kenapa kau membayar aku padahal kau punya suami," tanya Orland, jujur dia sangat ingin tahu permasalahan itu dan dia harap malam ini Cristin mau terbuka dengannya.
"Ayolah, aku hanya ingin tahu!"
"Ck, kau sendiri, kenapa kau mau bunuh diri pada malam itu?" Cristin balik bertanya.
"Yeah, itu malam memalukan bagiku," ucap Orland seraya meneguk minumannya.
"Waktu itu aku terlalu naif dan bodoh, Cristin. Ada kalanya kita melakukan hal bodoh tanpa kita sadari dan hari itu, aku menuai hasil dari akibat kebodohan yang aku lakukan," ucap Orland lagi. Minuman di teguk, Cristin terlihat serius.
"A-Apa yang terjadi?" tanya Cristin. Sepertinya mereka tidak jauh berbeda karena dia juga begitu bodoh sehingga dia diperalat oleh Johan begitu mudah.
Orland memandanginya sambil tersenyum, sampai sekarang dia tidak menduga akan bertemu dengan Cristin dan dia tidak menduga jika dia akan bangkit lagi berkat bantuan seorang wanita walaupun pada malam itu mereka saling memanfaatkan tapi dia rasa, yang paling dirugikan adalah Cristin. Tidak hanya harus membayarnya mahal tapi dia juga harus kehilangan keperawanannya. Sebab itu dia sangat ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Cristin pada malam itu. Kenapa dia membayarnya?
"Jika aku mengatakan padamu apa yang terjadi, apa kau juga mau mengatakan padaku apa yang terjadi padamu?"
__ADS_1
"Hng, lupakan!" ucap Cristin sinis.
Orland terkekeh, dia hanya bercanda. Dia pasti mengatakan apa yang telah terjadi dengannya dan kenapa dia sampai berniat bunuh diri. Mungkin saja dengan demikian Cristin mau mengatakan padanya apa yang dia alami pada malam itu.
"Jangan marah, aku hanya bercanda. Aku akan mengatakannya padamu. Malam itu aku hancur, Cristin. Aku kehilangan semua yang aku miliki akibat kebodohanku dan mirisnya, aku begitu naif sehingga aku ditipu oleh orang terdekatku yang begitu aku percaya."
"Kau ditipu?" Cristin kembali terlihat serius dan tentunya dia jadi penasaran.
"Yeah, sudah aku katakan, bukan? Terkadang kita melakukan hal bodoh tanpa kita sadari. Aku mengambil alih perusahaan ayahku setelah dia meninggal. Kurangnya pengetahuan dalam dunia bisnis membuat aku terjebak oleh permainan pamanku dan tentunya berkat campur tangan orang lain sehingga rencananya berjalan dengan mulus. AKu benar-benar tidak curiga apalagi dia adalah paman yang sangat aku hormati tapi siapa yang menduga, pamanku menusuk aku dari belakang."
"Oh, my God!" Cristin menutup mulut, jadi Orland ditipu pada malam itu? Pasti sangat menyakitkan apalagi yang menipu adalah paman sendiri.
"Yeah, malam itu aku ditendang keluar dengan kejamnya. Perusahaan ayahku, rumah dan mobil, semua diambil dariku. Aku hancur, tidak ada yang mau membantu aku bahkan para sahabatku pun tidak. Aku tidak sanggup menahan rasa malu dan rasa bersalahku pada ayahku. Aku juga tidak memiliki tujuan, oleh sebab itu aku memutuskan untuk bunuh diri agar rasa bersalah dan rasa malu yang harus aku rasakan akibat kebodohanku sirna tapi aku tidak menyangka jika aku akan bertemu denganmu," Orland tersenyum dengan lembut, tentunya Cristin membuang wajahnya dengan terburu-buru karena dia takut terbuai dengan senyuman itu.
"Ja-Jadi kau bangkit lagi dengan uang yang aku berikan?" tanya Crisitin. Dia tidak berani memandangi Orland secara langsung.
"Seperti yang kau tahu, aku bertekad bangkit lagi dan semua itu berkat dirimu. Tidak saja uang yang kau berikan, perkataan yang kau ucapkan saat menyelamatkan aku menjadi motivasiku untuk kembali bangkit agar ayahku bangga padaku. Terima kasih, Cristin. Jika aku tidak bertemu denganmu pada malam itu, aku tidak akan seperti ini dan mungkin saja aku masih menjadi bahan cibiran karena tindakan bodohku!"
"Tidak perlu berterima kasih, malam itu aku hanya memanfaatkan dirimu saja!"
"Jika begitu, maukah kau mengatakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Cristin belum menjawab, kini matanya menatap Orland dengan lekat, lagi-lagi mereka kembali ke topik awal. Sepertinya pria itu sangat ingin tahu tapi jujur, dia tidak mau ada yang tahu apa yang terjadi pada malam pernikahannya apalagi orang luar.
"Cristin," Orland semakin penasaran. Apa pun yang terjadi, dia harus tahu apa yang terjadi dengan Cristin pada malam itu.
"Yeah, semua yang terjadi juga akibat kebodohanku," ucap Cristin enggan.
"Wah, jika begitu bersulang untuk kebodohan kita," Orland mengangkat gelas dengan senyum di wajah. Dia tidak akan memaksa walau dia sangat ingin tahu, dia ingin Cristin mengatakan apa yang terjadi tanpa paksaan dan tentunya sambil menikmati malam mereka berdua yang masih panjang.
__ADS_1