Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Aku Tidak Mau Mati


__ADS_3

Hari untuk berkonsultasi sudah tiba, Johan melihat kartu nama yang waktu itu ibu mertuanya berikan. Dia tidak akan lupa dengan hari ini, dia justru sudah sangat menantikannya. Tidak saja akan bertemu dengan Cristin tapi dia juga akan membuat drama sehingga perceraiannya dengan Cristin tidak pernah terjadi.


Tidak peduli dengan cara apa pun, dia tidak akan melepaskan Cristin begitu saja. Cristin tidak akan lepas darinya apalagi Cristin tidak memiliki bukti perselingkuhan yang dia lakukan dengan Lauren waktu itu. Siapa pun pakar pernikahan yang akan mereka hadapi nanti, pakar itu tidak akan bisa memisahkannya dengan Cristin.


Dia rasa Lauren harus tahu akan hal ini, dia tidak mau menyembunyikannya agar Lauren tidak marah dan salah paham. Bagaimanapun Cristin hanya pion yang mereka manfaatkan saja sejak awal. Ponsel sudah berada di tangan, dia juga sangat merindukan Lauren.


"Johan," terdengar suara kekasihnya yang manja.


Johan tersenyum, jika saja Lauren tidak sakit mungkin dia tidak perlu membuang waktu untuk mendekati Crisitn. Bretahun-tahun waktu yang dia buang untuk mendapatkan wanita itu tapi usahanya jadi sia-sia karena kesalahan yang dia lakukan. Seharusnya malam itu dia mengunci pintu. Sial, dia jadi menyesalinya.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang. Kau baik-baik saja, bukan?"


"Untuk saat ini baik-baik saja tapi tidak untuk nanti jika kau belum juga mendapatkan ginjal yang aku butuhkan. Uang yang kita miliki juga semakin menipis, aku takut aku tidak bisa bertahan sampai dua bulan ke depan," ucap Lauren. Harapan satu-satunya yang dia miliki hanya transplantasi ginjal tapi ginjal yang selama ini dia butuhkan begitu sulit dia dapatkan bahkan satu-satunya ginjal yang bisa dia gunakan hanya ginjal milik Cristin dan itu pun, sulit mereka dapatkan.


"Tidak perlu khawatir, Lauren. Aku pasti akan segera mendapatkan ginjalnya untukmu."


"Aku tidak mau mati, Johan," terdengar suara Lauren yang berat seperti sedang menangis dan tentunya hal itu membuat Johan tidak suka mendengarnya.


"Kau tidak akan mati, Lauren. Aku bersumpah akan melakukan cara apa pun agar kau bisa transplantasi ginjal secepatnya!"


"Seharusnya aku tidak datang saat malam pernikahan kalian tapi ketika aku membayangkan kau harus tidur dengannya, aku benar-benar tidak rela. Aku tidak suka berbagi tapi aku justru mengacaukan semuanya," ucap Lauren dengan nada penyesalan. Ya, seandainya dia tidak mencari Johan di malam pernikahan kekasihnya itu, mungkin saat ini dia sudah mendapatkan ginjal yang dia inginkan.

__ADS_1


"Tidak perlu menyalahkan diri, sudah aku katakan kau tidak perlu khawatir. Hari ini aku akan pergi menemuinya karena dia meminta aku datang untuk berkonsultasi agar kami berpisah tapi sumpah demi apa pun, aku tidak akan menceraikannya. Hanya kematiannya saja yang bisa membuat kami bercerai dan kita, pasti mendapatkan ginjalnya!" ucap Johan tanpa ragu karena dia yakin dia bisa mendapatkan ginjal Cristin. Saat mereka harus menjalani ujian pra nikah, saat itu pula dia akan melancarkan aksinya. Mengurung Cristin dan mengambil ginjalnya tanpa ada yang tahu dan setelah itu, dia akan membuang tubuh Cristin ke dasar tebing sehingga wanita itu mati di makan binatang liar.


"Setelah itu apa yang akan kau lakukan?" tanya Lauren.


"Tenang saja, sebaiknya kau segera datang karena sebentar lagi aku akan mendapatkan ginjalnya jadi percayalah padaku!"


"Baiklah," ucap Lauren. Dia memang harus mempercayai Johan.


"Jika begitu aku pergi dulu, Sayang. Aku harus datang lebih cepat sebelum Cristin.


"Baiklah, aku tunggu kabar baik darimu, Johan."


"Setelah selesai aku akan menghubungimu lagi!"


Johan segera pergi setelah berbicara dengan Lauren. Dia harus tiba di tempat itu terlebih dahulu, dia benar-benar sudah tidak sabar bertemu dengan Cristin. Dia harap Cristin datang sendiri tidak bersama dengan nenek tua itu. Lebih mudah berbicara empat mata bersama Cristin karena dia yakin Cristin akan mudah dia hasut tapi sayangnya Cristin tidak datang seorang diri karena seorang pemuda sudah datang ke rumahnya saat itu.


Orland juga tidak mau terlambat dan membuat Cristin menunggu. Kali ini dia datang bersama dengan Gail karena Gail akan mengikuti Johan setelah mereka selesai untuk mencari bukti perselingkuhan yang mereka lakukan. Orland disambut dengan ramah oleh kedua orangtua Cristin tapi dia harus menunggu karena Cristin sedang mandi.


Mariana masuk ke dalam kamar putrinya untuk mengatakan jika Orland sudah datang. Cristin masih berendam saat itu, dia masih punya banyak waktu sebelum dia pergi. Lagi pula dia tidak mau cepat-cepat agar dia tidak melihat wajah Johan begitu lama. Jujur saja dia muak dengan pria itu.


"Cristin, Orland sudah datang," ucap ibunya sambil mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Orland?" Cristin membuka matanya, hampir saja dia tertidur.


"Ya, segeralah bergegas. Jangan membuatnya menunggu lama!" Mariana keluar dari kamar putrinya setelah berkata demikian, sedangkan Cristin membersihkan busa sabun yang ada di tubuhnya sambil menggerutu. Padahal dia ingin berendam lebih lama tapi dia jadi harus bergegas.


Cristin memakai bajunya dengan terburu-buru dan setelah itu dia segera keluar. Orland tersenyum melihatnya, dia juga beranjak dari tempat duduknya.


"Kenapa begitu cepat datang?" tanya Cristin, matanya menatap pria itu dengan tatapan galak seperti yang biasa dia lakukan.


"Apa aku mengganggu?"


"Tentu saja, kau mengganggu waktu berendamku!" jawab Cristin seraya menjatuhkan diri di sisi Orland.


"Maafkan aku, aku hanya ingin mengajakmu pergi makan sebelum kau pergi berkonsultasi. Setidaknya kau harus mengisi energi sebelum kau berdebat dengannya, bukan?"


Cristin tersenyum, memang benar. Dia rasa dia membutuhkan banyak energi hari ini untuk berdebat dengan Johan. Sepertinya dia memang harus pergi makan terlebih dahulu. Jika dia punya bakiak, maka akan dia gunakan supaya dia bisa memukul wajah Johan dengan benda itu.


"Baiklah, tunggu sebentar," Cristin mencium pipi Orland dan setelah itu dia melarikan diri dengan wajah tersipu.


Orland memegangi wajahnya, wow, itu seperti kejutan. Senyum terukir di bibir, tidak sia-sia dia datang lebih cepat. Setidaknya satu ciuman pipi dia dapatkan.


Setelah Cristin selesai, mereka berpamitan pergi. Mereka pergi makan siang terlebih dahulu dan setelah itu mereka bergegas menuju tempat konsultasi. Johan sudah menunggu dengan tidak sabar, senyum menghiasi wajah saat melihat Cristin  tapi senyum itu sirna ketika melihat pria yang menghampiri Cristin dan berjalan di sisinya. Sial, kenapa pria itu bisa bersama dengan Cristin dan kenapa Cristin mengajaknya padahal pria itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan perceraian mereka. Entah kenapa dia jadi punya firasat buruk, jangan-jangan pria itu akan mengacaukan rencananya.

__ADS_1


Tidak bisa, semoga saja tebakannya salah karena jika sampai hal itu terjadi, semua yang sudah dia rencanakan dengan matang akan hancur berantakan. Jangan sampai dia gagal mendapatkan ginjal Cristin karena Lauren tidak memiliki banyak waktu lagi. Semus di luar dugaan, jika pria itu berani mengacau maka mau tidak mau, dia harus menyingkirkan pria itu terlebih dahulu.


__ADS_2