Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Kau Sudah Berubah


__ADS_3

Persidangan sudah selesai, dia dan Johan benar-benar tidak memiliki hubungan lagi. Cristin sudah tidak sabar untuk kembali dan merayakannya dengan Orland. Kedua orangtuanya pasti akan sangat senang mendengar kabar ini, dia juga sudah tidak sabar melihat ekspresi senang ayah dan ibunya. Senyum manis terus terukir di bibir, sepertinya hanya dia wanita yang paling bahagia di hari perceraian.


Perasaannya bahkan terasa ringan, tidak ada lagi beban. Walau dia tidak peduli tapi tidak akan ada yang akan membicarakan dirinya dan Orland. Mereka sudah bebas menjalin hubungan karena dia tidak terikat dengan siapa pun lagi.


"Terima kasih, Mam," Cristin memeluk sang pakar pernikahan. Dia sangat terbantu oleh wanita itu walau hampir saja dia harus menjalani ujian pra nikah dengan Johan.


"Aku sangat senang membantu, Nona Bailey. Semoga kali ini kau berhasil dan tidak gagal."


"Terima kasih, aku juga berharap demikian dan aku sudah belajar dari pengalaman. Lagi pula pria yang aku pilih kali ini berbeda."


"Kau benar, aku bisa melihatnya."


Cristin tersenyum, dia tidak menyangka proses perceraianya akan berjalan selancar ini dan tentunya semua berkat bantuan Orland. Setelah mengucapkan terima kasih pada sang pakar, Cristin juga berterima kasih pada pengacaranya.


Orland menunggunya dengan sabar, sedangkan Johan sudah tidak terlihat lagi. Cristin tersenyum saat menghampiri Orland, pria itu beranjak dan segera menghampirinya.


"Sudah selesai?" tanya Olrand.


"Yes, maaf membuatmu menunggu lama."


"Tidak apa-apa, ayo kita kembali. Aku rasa kita harus merayakan status barumu dengan meriah."


"Apa tidak ada hadiah untukku?" tanya Cristin bercanda.


"Tentu saja, Nona. Aku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu."


"Apa itu, Orland?" tanya Cristin tidak sabar.


"Menginap di rumahku, maka kau akan tahu."


"Hei, jangan buat aku pensaran!" ucap Cristin

__ADS_1


"Kau akan tahu jika aku menginap, Sayang."


"Tidak mau, aku curiga dengan hadiahnya!" tolak Cristin.


"Tidak aneh, Cristin. Kau pasti tidak akan menolak karena aku menghadiahkan diriku untukmu."


"Apa?" Cristin menghentikan langkahnya.


"Bagaimana, kau tidak menolak, bukan?" Orland berpaling, dia akan memberikan dirinya pada Cristin jika wanita itu mau.


"Tentu tidak, ini hadiah yang sulit didapatkan dan aku akan menggigitmu sampai pagi!!" Cristin berlari ke arah Orland dan melompat naik ke atas punggungnya.


"Hei, di larang menggigit!" ucap Orland tapi sayang, Cristin sedang mengigit telinganya saat itu.


Orland hanya bisa pasrah seperti biasa, dia membawa Cristin pergi sambil menggendongnya namun kesenangan mereka terhenti karena Johan berdiri di hadapan mereka dan mencegat langkah mereka.


Orland menghentikan langkahnya, sedangkan Cristin memutar bola matanya dan terlihat kesal.


"Sungguh luar biasa, kita baru saja bercerai tapi kau sudah mengumbar kemesraanmu dengannya di depan umum! Kau tampak sudah tidak sabar, Cristin!" cibir Johan.


"Aku mau mengumbar kemesraanku dengannya atau tidak, apa hubungannya denganmu?" ucap Cristin sinis.


"Kau sudah berubah, Cristin. Kau tidak seperti Cristin yang aku kenal dulu," ucap Johan.


"Apa pedulimu, Johan? Apa kau pikir aku akan tetap seperti dulu sehingga mudah kau tipu? Asal kau tahu saja, pengkhianatan yang kau lakukan telah membuka mataku dengan lebar sehingga aku tahu jika dulu aku terlalu polos dan bodoh. Aku benar-benar tidak menyangka betapa bodohnya aku dulu sehingga bisa kau tipu dengan mudahnya!"


"Kau salah paham akan hal itu, Cristin."


"Aku tidak peduli, tidak perlu dijelaskan karena hubungan kita sudah berakhir. Yang aku tahu aku memang bodoh sehingga aku bisa kau tipu dengan mudah."


"Tapi kau juga tidur dengannya, Cristin! Seharusnya kita sudah impas!" ucap Johan.

__ADS_1


"Stop, Johan! Tidak perlu mengulangi ucapan itu! Aku melakukannya untuk membalas perbuatanmu dan betapa bodohnya aku malam itu? Aku sungguh mencintai dirimu, aku bahkan rela melakukan apa pun untukmu. Seandainya kau meminta nyawaku, aku bahkan bersedia memberikannya untukmu karena besarnya rasa cintaku padamu bahkan aku sudah menyiapkan hadiah mobill yang sangat kau inginkan di malam pernikahan kita tapi lihatlah apa yang telah kau lakukan? Aku benar-benar bersyukur tidak duduk diam menunggumu di dalam kamar di saat kau sedang bercinta dengan wanita itu!!"


Johan terkejut mendengar ucapan Cristin, apa Cristin serius dengan ucapannya?


"Itu adalah kebodohanku dulu tapi sekarang tidak lagi. Terima kasih kau sudah membuka mataku sehingga aku tahu betapa bodohnya aku selama ini." ucap Cristin lagi.


Orland menatap Cristin dengan lekat, dia tidak percaya Cristin begitu mencintai pria itu sampai bersedia melakukan apa saja. Benar yang orang katakan, cinta itu buta dan Cristin sudah dibutakan oleh cintanya pada pria sampah itu.


"Jangan bertanya, Orland. Sudah aku katakan jika aku bodoh sebab itu aku ditipu olehnya," ucap Cristin. Dia tahu Orland pasti menganggapnya wanita paling bodoh yang diibutakan oleh cinta.


"Tentu tidak, Sayang. Ayo kita pergi. Tidak perlu berlama-lama di sini karena tidak penting," Orland meraih pinggang Cristin, mereka sudah tidak perlu berlama-lama di tempat itu lagi.


"Kau benar," Cristin berusaha menahan emosi di hati.


"Ayo, aku sudah tidak sabar merayakan status janda yang baru aku sandang," ucapnya lagi.


"Kau benar, kita akan menghabiskan malam kita dengan penuh gairah untuk merayakannya," ucap Orland sengaja.


Johan sangat kesal mendengarnya, selama ini dia sangat menahan diri untuk tidak menyentuh Cristin tapi justru pria lain yang menuai hasilnya.


"Kalian berdua, aku tidak akan tinggal diam! Aku akan membalas kalian berdua nanti!" ucap Johan dengan kemarahan di hati.


"Jangan coba-coba jika tidak aku akan membuatmu mendekam di penjara dan membusuk di sana!" ucap Orland kesal.


Johan tidak bersuara, sebaiknya dia tidak banyak bicara jika tidak rencananya bisa ketahuan.


"Ayo kita pergi, Orland. Mommy dan Daddy sudah menunggu," ajak Cristin.


"Kau benar," Orland dan Cristin melangkah pergi meninggalkan Johan yang sedang menahan amarah. Dia sungguh tidak menyangka jika hari di mana dia merasa seperti seorang pecundang akhirnya datang.


Tiba-Tiba ucapan Cristin yang tadi dia ucapkan tadi teringat. Rasanya jadi menyesal. Jika malam itu Lauren tidak datang mungkin semua akan berbeda. Cristin berkata jika dia bersedia memberikan hidupnya dan jika hubungan mereka baik-baik saja, bukankah itu kesempatan yang sangat bagus untuk meminta ginjal Cristin?

__ADS_1


Dia yakin Cristin akan memberikannya apalagi dia bersedia mengorbankan hidupnya. Sial, padahal kesempatan emas ada di depan mata tapi semua jadi rumit gara-gara perbuatan mereka. Dia juga harus kehilangan mobil yang sangat dia impikan sejak lama. Ternyata itu hadiah yang disiapkan oleh Cristin untuknya. Dia benar-benar menyesalinya apalagi dia tidak mendapatkan apa-apa saat ini.


Johan melangkah pergi, sial... dia benar-benar bagaikan pecundang. Sebaiknya dia pergi mencari sahabatnya. Biarkan saja mereka tertawa karena nanti, tawa itu sudah tidak ada lagi.'


__ADS_2