
Orland masih berada di rumah mewahnya saat itu karena dia sedang membahas pekerjaan dengan sang asisten. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting sebelum dia pergi menikmati alam selama beberapa hari bersama dengan Cristin.
Beberapa dokumen sudah dia tandatangani tapi masih ada beberapa dokumen lainnya. Orland teihat serius memeriksa dokumen itu karena dia tidak boleh melakukan kesalahan seperti yang dia lakukan dulu.
"Bagaimana, Gail. Apa kau sudah menjalankan perintahku?" Orland bertanya pada sang asisten.
"Tentu saja, Sir. Aku sudah mengutus seseorang untuk menyusup ke dalam perusahaan Louis Dmytry untuk memantau gerak geriknya dan tentunya melakukan apa yang kau perintahkan," jawab sang asisten.
"Bagus! Jangan sampai pamanku tahu akan hal ini!" ucap Orland.
"Tentu, Sir. Anda tidak perlu khawatir, semua akan berjalan sesuai dengan rencana anda."
Orland tersenyum, yeah, semua memang harus sesuai dengan rencana yang sudah dia siapkan. Pamannya tidak boleh tahu apa yang sedang dia lakukan untuk mengambil perusahaan ayahnya kembali.
Perlahan tapi pasti, semua miliknya yang sudah diambil oleh sang paman akan kembali lagi tapi dia harus bersabar. Saat waktunya sudah tiba nanti, dia akan memberikan pukulan keras untuk pamannya bahkan dia akan membuat pamannya kehilangan semua yang dia miliki seperti yang dia alami dulu bahkan putra pamannya tidak akan luput karena dia juga terlibat waktu itu. Keluarga pamannya juga menertawakan dirinya yang sedang hancur, jadi mereka semua harus menerima balasan darinya.
"Jika begitu, terus pantau mereka dan setelah itu, buat mereka melambung tinggi sebelum kita menghempaskan mereka ke dalam jurang yang dalam!" ucap Orland.
"Serahkan padaku, aku tidak akan mengecewakan dirimu," ucap Gail.
Orland tersenyum, Gail lebih setia dibandingkan dengan asisten ayahnya dulu. Dia sangat mempercayai asisten pribadi ayahnya tapi sayang, dia terlena dengan uang yang ditawarkan oleh pamannya sehingga sang asisten berkhianat.
Semua yang membantu pamannya tidak akan dia lepaskan, semua yang terlibat pasti akan hancur. Tunggu saja tanggal mainnya, ketika hari itu tiba, dia ingin lihat siapa saja yang akan berlutut di bawah kakinya dan meminta pengampunan darinya.
"Aku serahkan perusahaan padamu selama aku pergi," ucap Orland seraya meletakkan dokumen terakhir yang sudah dia periksa dan tandatangani.
"Aku tidak akan mengecewakanmu, Sir. Nikmati waktu anda dengan Nona Bailey," Gail mengambil dokumen-dokumen itu, sudah saatnya dia kembali ke kantor.
Gail pamit pergi, Orland bahkan mengantarnya sampai depan pintu karena ada beberapa hal yang hendak dia bahas. Setelah Gail pergi, Orland masuk ke dalam dan mengambil ransel di mana perlengkapan campingnya berada.
Sekarang saatnya pergi menikmati alam bersama Cristin, dia akan pergi menjemput Cristin terlebih dahulu dan dia harap wanita itu sudah siap tapi sayangnya belum karena Cristin masih merapikan barang-barangnya.
__ADS_1
Ranselnya hampir dipenuhi dengan obat semprot. Obat semprot serangga, obat semprot semut bahkan obat semprot untuk ular pun ada. Karena ini camping pertamanya jadi dia merasa was-was. Jujur saja dia takut dengan serangga dan ular apalagi mereka akan tidur di alam liar.
"Orland sialan, bukannya mengajak aku liburan ke Hawaii tapi malah mengajak aku tidur di alam liar!" ucap Cristin seraya memasukkan cream anti nyamuk.
Rasanya sudah cukup, sepertinya semua obat yang dia butuhkan sudah masuk semua. Jika ada obat semprot anti harimau maka akan dia bawa, jujur dia takut ada binatang buas itu. Tidak lucu bukan jika mereka menjadi mangsa binatang itu? Semoga saja tempat camping yang akan mereka datangi tidak begitu menakutkan.
Tas Ransel ditutup, Cristin berusaha mengangkat tasnya tapi ternyata berat. Sial, sepertinyaa terlalu banyak obat. Mau tidak mau dia kembali membongkar isi ranselnya dan mengeluarkan beberapa obat semprot agar dia bisa membawanya nanti.
Di luar sana, Orland sudah tiba. Dia benar-benar sudah tidak sabar. Orland di sambut dengan baik oleh ayah Cristin, dia sengaja tidak pergi ke mana-mana karena dia ingin mengantar putrinya.
"Selamat siang, Tuan Bailey. Maaf jika aku mengganggu," ucap Orland basa basi.
"Tidak perlu sungkan, masuklah. Crisitin belum selesai," ucap Grifin sambil tersenyum.
Dia sangat senang dengan sikap sopan pemuda itu. Entah bagaimana caranya Cristin bertemu dengan Orland, tapi dia benar-benar senang ternyata mereka sudah dekat. Seandainya putrinya bertemu dengan Orland terlebih dahulu sebelum dia menikah dengan Johan, putrinya pasti tidak akan tertipu dengan baj*ngan itu dan merasakan sakit hati.
Dia juga tidak akan menutup diri seperti saat ini bahkan dia belum bisa menemukan keberadaan Johan yang hilang entah ke mana padahal dia sudah sangat ingin Cristin berpisah dengannya dan memulai kehidupan barunya. Bagaimanapun dia ingin Cristin membuka hatinya dan menikah tapi akibat trauma yang dia alami, putrinya harus menutup diri seperti itu.
"Cristin belum pernah camping jadi maklumkan jika dia lama. Lagi pula kau tahu bagaimana bawaan seorang wanita," ucap Grifin.
"Tidak apa-apa, santai saja, Tuan Bailey," jawab Orland sambil tersenyum.
Dia tidak keberatan menunggu Cristin walaupun dia sudah tidak sabar untuk pergi dan menikmati waktu berdua dengannya.
Cristin sudah hampir selesai di dalam kamar, beberapa obat semprot sudah dia keluarkan. Sepertinya tidak perlu banyak-banyak karena mereka hanya beberapa hari saja.
Setelah merasa cukup, Cristin membawa ranselnya keluar sambil mengeluh karena berat. Sial, apa lagi yang belum dia keluarkan?
"Oh God, kenapa begitu berat?" gumamnya sambil membawa tasnya.
"Apa yang kau bawa, Sayang?" tanya ibunya heran.
__ADS_1
"Obat semprot serangga, semut dan juga obat pengusir ular!" jawab Cristin dan dia kembali mengangkat ranselnya dengan susah payah.
"See, sudah aku katakan. Bawaannya banyak," ucap ayah Cristin setelah mendengar apa saja yang putrinya bawa.
Orland terkekeh, sepertinya Cristin benar-benar takut serangga. Dia jadi penasaran, selain tiga macam obat yang disebutkan Cristin, apalagi yang ada di dalam ransel itu?
"Apa kau kuat membawanya?" tanya ibunya yang terlihat khawatir.
"Sepertinya," jawab Cristin sambil membawa ranselnya keluar.
"Aku yang akan membawanya," Orland menghampiri mereka bersama dengan ayah Cristn.
"Kau sudah datang rupanya," Cristin meliriknya dengan tatapan malas.
"Siap berangkat?" tanya Orland sambil tersenyum.
"Tidak!" jawab Cristin karena sejujurnya dia enggan.
Orland hanya tersenyum dan mengambil ransel Cristin yang, yeah ... berat.
"Hati-Hati, Sayang. Jangan masuk ke dalam hutan terlalu dalam," ucap ibunya seraya memeluknya.
"Aku lebih takut dengannya!" ucap Cristin seraya melotot ke arah Orland. Jujur saja dia memang lebih takut dengan Orland karena dia harus dekat dengan pria itu.
Pria itu hanya tersenyum saja, yeah, yang harus Cristin khawatirkan bukan serangga atau ular tapi dirinya.
"Tolong jaga putriku baik-baik, Orland," pinta ayah Cristin.
"Tentu saja. Anda tida perlu khawatir, Tuan Bailey. Aku akan menjaganya dengan baik."
Grifin mengangguk, dia percaya dengan pria itu. Mereka melepaskan putri mereka pergi camping dan berharap Cristin menikmati apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Cristin melambai ke arah ayahnya sambil tersenyum dan setelah itu dia kembali memasang wajah juteknya. Orland tersenyum dan terlihat senang karena waktu berdua dengan Cristin akan segera dimulai.