Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Kami Sudah Sepakat


__ADS_3

Begitu membuka mata, yang pertama Cristin lihat adalah cincin yang melingkar di jari manisnya. Dia belum mengatakan pada keluarganya jika Orland sudah melamarnya karena dia pulang sedikit larut semalam. Dia tahu keluarganya pasti setuju tapi bagaimanapun mereka harus tahu. Dia sudah merasakan perasaan seperti itu namun kali ini terasa berbeda.


Dia bahkan belum bisa melupakan lamaran yang Orland lakukan semalam. Dia sungguh tidak menyangka Orland akan melamarnya setelah memperkenalkan dirinya pada kedua orangtuanya. Itu kejutan yang tidak terduga, dia juga masih tidak percaya jika orang yang dia beli dengan harga mahal akan menjadi suaminya nanti. Benar-Benar tidak sia-sia dia mengeluarkan uang sebanyak itu.


Cristin masih melihat cincin yang melingkar di jari manis, dia tahu Orland serius apalagi dia sampai memberikan cincin peninggalan ibunya. Itu pasti benda berharga peninggalan ibunya yang harus dia jaga dengan sangat baik.


Cristin tersenyum, pagi ini dia harus mengatakan pada keluarganya jika dia sudah dilamar. Dia juga harus menahan sang kakak agar tidak kembali ke Italia terlebih dahulu. Keadaan keponakannya sudah lebih membaik, sebab itu kakaknya memutuskan akan kembali.


"Aunty!" terdengar suara teriakan kedua keponakannya yang manis di susul teriakan ibu mereka.


"Jangan berlari, nanti kalian terjatuh!"


Cristin tersenyum dan beranjak dari atas ranjang. Suara kedua keponakannya masih terdengar dan tidak lama kemudian pintu terbuka.


"Aunty," mereka berteriak sambil berlari masuk ke dalam.


"Ada apa? Kalian terdengar begitu senang?"


"Aunty, di luar ada hadiah untuk Aunty," ucap kedua keponakannya.


"Hadiah?" Cristin mengernyitkan dahi. Siapa yang mengirimkan hadiah untuknya?


"Benar, ayo cepat keluar!"


Kedua tangannya sudah ditarik oleh kedua keponakannya yang terlihat heboh dan tidak sabar.


"Pelan-Pelan Girl, Aunty mau cuci muka dulu. Kalian keluarlah terlebih dahulu dan jagakan hadiah Aunty agar tidak diambil oleh Daddy kalian," ucap Cristin.


"Baiklah, Aunty," ucap Isabel dan Anatasya.


Cristin tersenyum dan mengusap kepala kedua keponakannya, apakah dia akan memiliki dua anak perempuan yang lucu seperti kakaknya nanti? Tapi dia ingin memiliki anak laki-laki karena dia lebih suka anak laki-laki.


Setelah kedua keponakannya pergi, Cristin beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia jadi ingin tahu, hadiah apa yang dimaksudkan oleh kedua keponakannya? Setelah selesai mencuci wajahnya, Cristin keluar dari kamar. Senyum menghiasi wajah saat Cristin menghampiri keluarganya yang sedang sarapan di meja makan.


"Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa kau terlihat begitu senang?" tanya ibunya ingin tahu.


"Lihat cincin ini, Mom," Cristin memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Apa itu? Apa kau membeli cincin baru? Kenapa begitu kuno?" ibunya masih belum paham.

__ADS_1


"Jangan membeli barang kuno sembarangan, Cristin. Bisa jadi benda itu memiliki kutukan!" ucap sang ayah.


"Sepertinya dia ingin menjadi kolektor barang antik!" timpal sang kakak.


"Ck, kalian semua payah!" ucap Cristin. Wajahnya sudah terlihat cemberut. Dia pikir mereka bisa menebak tapi nyatanya mereka justru mengira dirinya menjadi kolektor tapi memang cincin yang diberikan oleh Orland sedikit kuno dan antik.


"Jadi, kenapa kau memakai cincin kuno itu?" tanya kakaknya.


"Kak Edrick sembarangan! Ini cincin peninggalan ibu Orland yang dia berikan padaku karena dia baru saja melamar aku!"


"Apa?" Keluarganya terkejut mendengarnya. Mata mereka melihat ke arahnya karena mereka belum bisa mempercayainya.


"Jadi dia melamarmu?" tanya ibunya.


"Yes, setelah mengunjungi makam kedua orangtuanya dia langsung melamar aku," Cristin duduk di sisi ayahnya. Senyum menghiasinya wajahnya, keluarganya bisa melihat jika dia sedang bahagia.


"Mommy senang mendengarnya, ternyata dia serius denganmu."


"Yeah, aku juga tidak menyangka," Cristin masih tersenyum.


"Wah, sepertinya aku tidak jadi pulang!" ucap Edrick.


"Lalu bagaimana dengan Orland, Cristin? Ini pernikahan pertamanya, bukan? Dia berhak menentukan pernikahannya," ucap ibunya.


"Kami sudah sepakat, Mom. Olrand juga sudah setuju akan hal ini. Cukup disaksikan kalian saja itu sudah cukup lalu umumkan jika kami sudah menikah agar orang tahu dan tidak salah paham nantinya."


"Baiklah jika itu mau kalian, suruh dia datang nanti malam untuk menemui kami!' ucap ayahnya.


"Baiklah, tapi ngomong-ngomong mana paket yang dimaksud oleh Isabel dan Anatasya?"


"Akan aku ambilkan," ucap kakak iparnya seraya beranjak pergi.


"Sepertinya kali ini kami benar-benar harus melepaskan dirimu, Sayang," ucap ibunya.


"Aku akan sering pulang, Mom. Bukankah kalian ingin keliling dunia setelah aku menikah? Nikmatilah masa tua kalian berdua."


"Baiklah, yang kau ucapkan sangat benar. Lagi pula seharusnya kau sudah meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu setelah menikah dengan Johan," ucap ibunya.


Cristin tersenyum, kali ini dia memang akan meninggalkan rumah dan tinggal dengan Orland setelah menikah dengannya nanti. Sang kakak ipar sudah kembali dengan sebuah kotak panjang dan sedikit besar, Cristin sangat heran karena kotak itu. Siapa yang mengirimkan kotak itu untuknya?

__ADS_1


"Coba buka, Aunty!" pinta keponakannya.


"Baiklah, baik. Kalian semakin tidak sabar," Cristin mengambil kotak yang diberikan oleh kakak iparnya dan setelah itu kotak diletakkan di atas sebuah kursi. Kedua keponakannya menunggu dengan tidak sabar, mereka bahkan membantu menarik pita yang mengikat kotak.


Penutup kotak dibuka, mata Cristin terbelalak sedangkan kedua keponakannya terlihat begitu senang saat melihat isi di dalam kotak yang ternyata adalah sebuah gaun pengantin. Lagi-Lagi senyum menghiasi wajahnya, Cristin tahu siapa yang mengirimkan gaun itu tapi dia tidak menyangka begitu cepat.


"Wah, gaun pengantin dari siapa itu?" tanya ibunya.


"Orland," jawab Cristin seraya mengambil gaun yang ada di dalam kotak dan setelah itu dia berlari menuju kamar, "Aku mau coba gaunnya dulu!" teriaknya.


Keluarganya saling pandang, dan setelah itu mereka menggeleng. Cristin terlihat lebih bahagia bersama dengan Orland dibadingkan dengan bersama dengan Johan dulu.


Cristin sudah sibuk mencoba gaun pengantinnya, gaun itu ternyata pas di tubuhnya. Setelah gaun dikenakan, Cristin mengambil ponsel karena dia ingin menghubungi Orland. Dia sangat yakin jika pria itulah yang mengirimkan gaun itu.


"Ada apa, Sayang? Kau sudah mendapatkan paketnya, bukan?" tanya Orland.


"Sudah aku duga pasti kau yang memberikan tapi kenapa begitu cepat? Kita baru membahasnya semalam," ucap Cristin.


"Aku tidak suka menunda, Sayang. Sekarang katakan padaku, apa gaunnya cocok denganmu?"


"Yeah... ini sangat bagus. Thanks, Orland," ucap Cristin.


"Hei, apa yang kau katakan? Aku senang jika kau suka dengan gaun dadakan yang aku belikan untukmu."


"Tentu saja aku suka, kedua orangtuaku ingin bertemu denganmu nanti malam jadi kau harus datang."


"Wow, kenapa tiba-tiba aku merasa akan menghadapi persidangan?" ucap Orland bercanda.


"Awas jika kau tidak datang!" ancam Cristin.


"Aku pasti datang, Sayang. Tapi hari ini aku tidak bisa mengajakmu ke mana-mana karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan."


"Tidak apa-apa, Orland. Aku juga mau istirahat di rumah hari ini."


"Baiklah, aku akan ke rumahmu nanti malam."


"Aku tunggu," ucap Cristin.


Pembicaraan mereka berakhir, Orland terlihat bersiap-siap pergi karena hari ini Zake berkata jika Zion dan ayahnya akan bertemu dengannya. Dia harap kali ini Zion dan ayahnya masuk ke dalam jebakan yang sudah dia siapkan melalui Zake.

__ADS_1


__ADS_2