Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Aku Punya Buktinya


__ADS_3

Gail melakukan pekerjaannya setelah kembali, selain melakukan pekerjaan dia juga mengawasi Zake dari sebuah komputer. Dia sudah menempatkan seseorang yang mengawasi Zake, jika Zake berani berkhianat maka orang yang dia utus untuk mengawasi Zake bisa langsung melubangi kepala pria itu.


Dengan kepercayaan tinggi, Isabel melangkah mendekati resepsionis. Dia juga bertingkah sombong seolah-olah dia sudah menjadi pemilik tempat itu.


"Aku ingin bertemu dengan Tuan Weyland!" ucapnya sinis.


Sang resepsionis mengernyitkan dahi, siapa? Setahunya tidak ada nama seperti itu di kantor walau perusahaan itu menggunakan nama Weyland.


"Kenapa diam saja, cepat!" bentak Isabel.


"Maaf, Nona. Tidak ada yang bernama Weyland di perusahaan ini," ucap sang resepsionis.


"Jangan bercanda denganku, dia adalah pemilik perusahaan ini jadi segera pertemukan aku dengannya!"


"Nama Nona?" tanya sang resepsionis. Gagang telepon sudah berada di tangan, dia akan menghubungi Gail.


"Isabel, katakan padanya Isabel Dmytry datang untuk menemuinya."


Sang resepsionis melihatnya sejenak, apa wanita itu salah satu keluarga bosnya? Tapi dia tidak bertanya karena dia takut membuat kesalahan.  Gail segera mengangkat gagang telepon saat benda itu berbunyi tapi tatapannya masih fokus dengan pekerjaannya.


"Sir, seorang bernama Isabel Dmytry ingin bertemu?"


"Stop!" Gail menyela dengan cepat, bisa bahaya jika sang resepsionis menyebut nama bos mereka.


"Jangan mengatakan apa pun, bawa dia ke ruang tunggu. Aku akan segera menemuinya!"


"Yes, Sir!" gagang telepon diletakkan dan setelah itu Isabel di bawa ke ruang tunggu dan diminta untuk menunggu di sana.


Gail segera turun ke bawah dengan terburu-buru, dia tidak menyangka wanita itu akan datang ke perusahaan untuk menemuinya. Sebelum menemui Isabel, Gail menghampiri sang resepsionis dan berbicara dengannya sebentar. Dia meminta sang resepsionis untuk tidak menyebut nama bos mereka jika ada Isabel, begitu juga dengan karyawan lainnya.


Sang resepsionis mengangguk, hampir saja dia keceplosan dan menyebut nama bos mereka. Beruntungnya dia tidak asal bicara jika tidak mungkin dia akan dipecat. Setelah berbicara dengan sang resepsionis, Gail melangkah pergi menuju ruang tunggu dengan sebuah map di tangan.

__ADS_1


Pintu terbuka, Isabel menoleh untuk melihat ke arah pintu. Senyum menghiasi wajah saat melihat Gail, dia juga beranjak untuk mendekati Gail. Pria tampan itu sebentar lagi akan jadi miliknya, dan juga perusahaannya.


"Untuk apa kau datang kemari, Nona? Apa kau sudah tidak sabar aku menuntutmu atas apa yang telah kau lakukan padamu?" Gail melangkah melewati Isabel begitu saja. Isabel terlihat kesal, apa maksud perkataan pria itu? Tapi dia tidak peduli karena dia yang memegang kendali saat ini.


"Apa maksudmu ingin menuntut? Justru aku yang datang ke sini untuk meminta pertanggungjawaban darimu!" ucap Isabel.


"Pertanggungjawaban untuk apa? Bukankah malam itu kau yang ingin memperkosa aku?"


"Jangan salah paham, Tuan Weyland. Anda yang masuk ke dalam kamarku secara tiba-tiba. Saat itu anda langsung menyerangku dan melakukan hal itu denganku!"


Gail tersenyum sinis, sungguh sandiwara yang mengesankan. Beruntungnya dia tidak terjebak oleh permainan wanita itu.


"Apa kau punya bukti, Nona Isabel? Aku bukan orang yang akan melakukan perbuatan ceroboh seperti itu!"


"Tidak perlu mengelak, Tuan Weyland. Kau yang telah mengambil kesucianku dan sekarang kau tidak mau bertanggung jawab? Pria seperti apa dirimu?" teriak Isabel. Dia bahkan menangis agar akting yang dia mainkan semakin tampak nyata.


"Ck... Ck... Ck! Aktingmu sungguh hebat, Nona Isabel. Sepertinya kau pantas mendapatkan piala Oscar yang sudah berkarat!" cibir Gail.


"Apa maksudmu? Aku sedang serius!" ucap Isabel.


"Te-Tentu saja, malam itu adalah yang pertama kalinya untukku!"


"Sungguh luar biasa, apa kau yakin jika yang tidur denganmu adalah aku?"


"Tentu saja, apa kau pikir ada yang lainnya? Kau yang menerobos masuk ke dalam kamarku secara tiba-tiba dan memperkosa aku jadi jangan berbicara seolah-olah ada pria lain di kamar itu!"


"Jika begitu tunjukkan buktinya padaku!" pinta Gail.


Isabel mengambil tasnya dan mengambil foto-foto yang sudah dia siapkan. Dia melangkah menghampiri Gail dengan penuh percaya diri, dia juga meletakkan foto-foto itu ke atas meja.


"Ini buktinya, kau yang telah tidur denganku malam itu. Kedatanganku ke mari untuk meminta pertanggung jawaban darimu!" ucap Isabel.

__ADS_1


Gail mengambil foto-foto itu dan melihatnya, seringai menghiasi wajah. Sudah dia duga jika Isabel akan menggunakan foto yang dia tinggalkan. Isabel bahkan menggunakan foto yang dia ambil saat dia sedang pura-pura pingsan.


"Apa ini, foto-foto seperti ini tidaklah bisa membuktikan apa pun!" ucap Gail seraya melemparkan foto-foto itu di bawah kaki Isabel.


"Apa maksudmu tidak bisa membuktikan apa pun? Kau pemilik perusahaan besar, bagaimana mungkin kau bisa tidak bertanggung jawab seperti ini setelah meniduri seorang wanita?"


"Kau terlalu yakin jika aku yang sudah tidur denganmu, Nona."


"Sudah aku katakan jika tidak ada pria lain selain dirimu!" teriak Isabel. Dia sudah terlihat kesal karena Gail sulit dia takhlukkan.


"Aku tidak yakin!" Gail mengambil map yang dia letakkan sedari tadi dan mengambil isinya, "Lihatlah baik-baik, siapa yang sudah tidur denganmu!" Gail meletakkan foto-foto itu ke atas meja.


Isabel meraih foto-foto itu dan melihatnya satu persatu, matanya melotot karena dia terlihat tidak percaya. Foto itu menunjukkan ketika dia sudah sadar dalam pengaruh obat perangsang, dia keluar dari kamar untuk mencari pelampiasan. Karena hampir semua orang sibuk di ruang pesat, yang dia temui hanya seorang cleaning service yang sedang membersihkan kamar yang baru saja ditinggalkan oleh tamu hotel.


Mata Isabel semakin melotot lebar melihat perbuatannya dengan si cleaning service, foto-foto itu bahkan jatuh dari tangannya. Wajahnya pucat, dia tidak berani membayangkannya.


"Ti-Tidak mungkin!" ucapnya dengan ekspresi tidak percaya dan juga rasa malu luar biasa.


"Bagaimana, apa itu aku? Kau tidak buta, bukan? Kau datang untuk meminta pertanggungjawaban dariku? Aku justru ingin menuntutmu karena kau sudah berani memberikan aku obat untuk menjebakku!" ucap Gail.


"Tidak, aku tidak menjebakmu!" ucap Isabel cepat. Sial, seharusnya dia curiga kenapa dia terbangun di kamar yang berbeda. Dia sungguh tidak ingat apa pun dan sekarang terjawab sudah kenapa dia bisa berada di kamar itu.


"Aku punya buktinya dan kau tidak bisa mengelak!" Gail beranjak, Isabel sibuk memungut foto-foto memalukannya yang berhamburan di atas lantai.


"Tuan Weyland, ini hanya salah paham saja!" teriaknya. Celaka, jika sampai pria itu menuntut maka habislah dia. Gail tidak peduli, dia sudah melangkah keluar. Isabel terus berteriak meyakinkan Gail jika dia hanya salah paham saja tapi karena teriakannya itu, dia ditarik paksa oleh dua security.


Isabel meronta dan memaki, semua gara-gara Zion. Seharusnya dia menanyakan hal itu pada Zion sebelum datang, sekarang tidak saja malu tapi dia sedang dalam masalah. Impiannya kandas, dia kira dia akan mendapatkan keuntungan besar dari jebakan itu tapi nyatanya?


Dia bahkan di lempar keluar dengan kasar, Isabel kembali memaki tapi dia harus segera pergi menemui Zion. Sial, reputasinya jadi hancur karena dia harus tidur dengan seorang cleaning service. Sepertinya rencana mereka gagal total, sepertinya justru mereka yang masuk ke dalam jebakan yang mereka buat sendiri.


Gail keluar setelah Isabel pergi, dia akan menyebar video tidak senonoh Isabel jika diperlukan. Dia akan melakukan hal itu tanpa bosnya tahu tapi dia akan melihat situasi. Gail memilih pulang karena pekerjaannya sudah selesai. Mobil di bawa ke daerah perumahan. Dia sering lewat di sana beberapa kali saat pagi dan mau pulang.

__ADS_1


Mobil yang dia bawa berjalan pelan saat melewati rumah-rumah penduduk, matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Apa dia suka melewati jalan itu demi melihat wanita itu? Pandangannya bahkan tidak berpaling dari wanita itu. Tanpa Gail duga, wanita yang jadi pusat perhatiannya sedari tadi melihat kearahnya dengan tatapan curiga.


Gail segera berpaling, dia jadi tidak enak hati apalagi wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah dan tampak waspada. Mobil pun dibawa pergi dengan kecepatan tinggi, sialan, apa yang sedang dia lakukan? Semua gara-gara hari itu sehingga membuatnya jadi seperti itu. Tidak benar, mulai besok dia tidak boleh lewat di jalan itu lagi.


__ADS_2