
Johan terlihat suntuk karena tidak ada yang dia lakukan. Lauren juga belum datang untuk menemanimya sehingga membuatnya semakin merasa bosan.
Entah kenapa tiba-tiba dia teringat dengan Cristin. Johan menghela napas, banyak yang dia lalui bersama dengan Cristin karena waktu yang mereka habiskan berdua tidaklah sedikit.
Selama bertahun-tahun Cristin menganggap cinta yang dia berikan adalah cinta tulus. Dia tidak curiga sama sekali jika sesungguhnya dia hanya sedang dipermainkan saja.
Johan tahu dia tidak boleh melakukan hal itu tapi sumpah setia dan perasaan yang selalu dia jaga dengan Lauren tidak bisa dia khianati begitu saja. Pasti semua ingin tahu, kenapa dia lebih memilih bersama dengan Lauren dibandingkan Cristin yang memiliki segalanya.
Ya, Cristin memang jauh lebih baik dari Lauren dia akui itu. Tidak saja kaya dan memiliki segalanya tapi Cristin juga sosok yang menyenangkan.
Cristin tidak mempermasalahkan keadaannya yang tidak memilliki apa pun, dia bahkan mencintainya dengan begitu tulus tapi hutang budi dan juga sumpahnya pada seseorang yang memiliki hubungan dengan Lauren membuatnya harus menyingkirkan kekagumannya pada Cristin Bailey.
Johan menghisap rokoknya, asap di hembuskan dari mulutnya. Kenangan itu kembali teringat di mana dia bersumpah akan selalu mencintai Lauren dan akan menyelamatkan hidupnya apa pun yang terjadi.
Pada saat itu, ketika dia masih muda. Johan bertemu dengan seorag pria dan dia adalah ayah Lauren. Sesungguhnya Johan adalah pemuda tuna netra, dia dilahirkan tanpa bisa melihat. Dia membutuhkan seorang pendonor mata jika dia ingin melihat.
Johan duduk di taman seperti biasa, ayah Lauren selalu berbincang dengannya di sana. Dia bahkan banyak mendengar tentang Lauren dari ayah Lauren sampai keinginannya untuk melihat pun dia ucapkan.
Tentu ayah Lauren sangat iba dengan Johan tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Mereka berdua sudah seperti sahabat baik yang selalu menghabiskan waktu bersama sampai suatu hari, ayah Lauren tidak datang. Tentu itu membuat Johan sangat heran, dia berusaha mencari informasi sampai akhirnya beberapa orang datang dan mengatakan jika seseorang bersedia mendonorkan matanya untuk Johan.
Itu adalah angin segar untuk Johan, dia tidak menolak sama sekali. Operasi pun dilakukan sampai akhirnya dia dapat melihat. Dia sangat ingin bertemu dengan si pendonor tapi ketika tahu jika mata yang dia gunakan saat ini dia dapatkan dari seorang pria yang selalu menghabiskan waktu dengannya di taman, Johan sangat terpukul.
Keadaan ayah Lauren kritis, bukan dia yang mendonorkan matanya pada Johan melainkan putranya yang sudah pergi terlebih dahulu yaitu kakak Lauren. Mereka mengalami kecelakaan hebat, ibu dan kakak Lauren meninggal terlebih dahulu tapi ayahnya masih kritis.
Saat kejadian itu terjadi, Lauren bersama dengan sang nenek. Dari sana sumpah terjadi, Johan bersumpah pada ayah Lauren sebelum pria itu meninggal jika dia akan menjaga Lauren dengan baik dan tidak akan meninggalkannya. Dia juga berjanji akan selalu bersama dengan Lauren apa pun yang terjadi apalagi dia tahu penyakit Lauren.
Rasa hutang budi yang sangat besar kepada ayah Lauren membuatnya melakukan segala cara. Cristin bukan wanita kaya pertama yang dia dekati karena uang, Cristin hanya sebagian wanita yang dia manfaatkan dan karena secara kebetulan ginjal Cristin bisa digunakan oleh Lauren, Johan memanfaatkan wanita itu lebih jauh tidak seperti yang sudah-sudah.
Cinta tulus yang Cristin miliki benar-benar dia manfaatkan. Luaren harus tetap hidup apa pun caranya dan sekarang, dia harap rencananya berhasil. Walau Cristin saratus kali lipat lebih baik dibandingkan dengan Lauren, tapi dia sudah bersumpah akan mencintai Lauren sampai mati. Dia tidak ingin mengecewakan orang yang sudah banyak membantunya. Terus terang, berhutang budi tidaklah nyaman jadi dia akan memenuhi sumpahnya.
__ADS_1
Asap rokok kembali dihembuskan, lebih baik dia pergi menemui Cristin. Dia harus menjadi suami yang pura-pura menyesal agar Cristin percaya jika dia sangat ingin memperbaiki hubungan mereka.
Johan segera pergi, dia akan ke rumah Cristin. Walau dia tahu ada kedua orangtua Cristin tapi dia tidak akan takut, mereka juga harus melihat kesungguhannya bahwa dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Cristin.
Seikat bunga kesukaan Cristin sudah dia beli. Saat Cristin sudah berkorban untuk Lauren, saat itu juga dia akan mengirimkan karangan bunga super besar untuknya. Cristin mau hidup atau mati saat hari itu tiba, dia tidak peduli.
Seorang penjaga rumah mencegahnya untuk masuk saat dia tiba, tapi Johan meyakinkan jika dia hanya sebentar saja jadi dia diperbolehkan untuk masuk.
Mariana dan suaminya sedang menikmati teh sore hari sambil menikmati indahnya bunga-bunga yang terawat dengan baik di halaman belakang rumah mereka.
"Tuan, seseorang bernama Johan ingin bertemu dengan Nona muda," seorang pelayan menghampirinya dan berkata demikian.
Grifin sangat marah saat mendengar nama menantunnya, begitu juga dengan Mariana. Beraninya baji*ngan itu datang untuk menemui Cristin?
"Di mana dia?" Teriakan Grifin terdengar.
"Ada di luar," jawab sang pelayan.
"Selamat sore Mom, Dad," ucap Johan basa basi.
"Siapa kau? Siapa yang mengijinkan kau memanggil kami seperti itu?" tanya Grifin dengan sinis.
"Tolong maafkan aku, kau tahu aku salah jadi beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," pinta Johan.
"Tidak ada kesempatan untukmu, Johan!" teriak Mariana.
"Aku benar-benar menyadari kesalahanku dan ingin memperbaiki hubunganku dengan Cristin, Mom. Ijinkan aku bertemu dengannya agar kami bisa membicarakan hal ini baik-baik."
"Cristin tidak ada di rumah, jadi pergilah!" usir Grifin.
__ADS_1
"Ke mana dia pergi?"
"Dengan calon suaminya, kau puas?!" ucap Mariana.
Johan terkejut, apa mereka hanya asal bicara untuk menggertak dirinya saja? Tapi jika mengingat pria yang bersama dengan Cristin waktu itu rasanya tidak mungkin. Sepertinya dia harus mencari tahu siapa pria itu.
"Jangan menipu aku, aku tahu Cristin tidak memiliki kekasih saat ini."
"Jangan kau kira kau saja yang memiliki kekasih. Setidaknya dia tidak seperti dirimu yang mengkhianatinya. Apa kau belum puas menyakiti perasaannya? Apa kau pikir Cristin mau memperbaiki hubungan kalian? Apa kau pikir kau satu-satunya pria yang bisa mengambil hati Cristin?" Mariana melontarkan banyak pertanyaan karena dia benci dengan menantunya itu.
"Sudah aku katakan aku menyesal, aku bahkan membelikan bunga yang dia sukai," Johan memperlihatkan bunga yang dia beli.
"Cih, hanya bunga saja," Mariana meraih bunga yang ada di tangan Johan dan melemparkannya ke wajah pria itu.
"Jangan kau kira putriku bisa kau bujuk dengan seikat bunga! Seperti kelopak bunga itu yang telah gugur, begitu juga perasaan Cristin. Apa kau bisa mengembalikan kelopak bunga itu ke tangkainnya dan menjaganya agar tetap segar? Seperti kelopak bunga itu, begitu juga dengan perasaan Cristin. Sudah kau hancurkan lalu mau kau perbaiki lagi, apa kau kira kau bisa?" ucap Mariana. Dia benar-benar muak dengan menantunya.
Johan diam, tidak ada yang bisa dia ucapkan. Bunga yang dia bawa sudah berada di bawah kakinya, kedua orangtua Cristin masih menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Sekarang pergi, putriku bukan mainan yang bisa kau mainkan dengan mudah!" usir Grifin.
"Aku benar-benar menyesal!" ucap Johan. Hanya itu saja yang bisa dia ucapkan.
"Simpan rasa penyesalan itu dan pergi!" bentak Cristin.
Sambil memendam kemaran di hati, Johan pergi. Dua orangtua menyebalkan, dia kira Cristin ada di rumah sebab itu dia datang tapi hanya dua orangtua menyebalkan itu saja.
Mariana mengambil bunga yang ada di lantai dan melemparkannya ke arah Johan sambil berteriak, "Jangan pernah datang kesini lagi!"
Bunga itu mengenai kepala Johan, dia benar-benar kesal. Akan dia ingat penghinaan itu. Sepertinya setelah melenyapkan Cristin, dia harus melenyapkan kedua orangtuanya juga. Sambil menahan kemarahan di hati, Johan pergi. Niatnya ingin menunjukkan jika dia serius justru membuatnya mendapat penghinaan seperti itu.
__ADS_1
Akan dia ingat, mereka semua yang menghinanya. Saat ginjal Cristin sudah dia ambil maka dia yang akan menertawakan mereka. Tunggu saat itu tiba dan rasanya sudah tidak sabar.