
Cristin sudah kembali, dia tampak tidak bersemangat sama sekali. Orland mengantarnya pulang, walau pun pria itu sudah mengatakan untuk tidak khawatir tapi dia tetap memikirkan apa yang akan terjadi dengannya nanti dengan Johan.
Padahal dia tidak mau mengingat drama yang dimainkan oleh pria itu tapi tetap saja, sulit dia lupakan. Perasaan jijik dan marah kembali memenuhi hati. Lain kali dia akan membawa batu atau kotoran burung yang sudah dia keringkan. Sungguh dia sangat ingin melemparnya.
"Cristin," Orland memegangi tangannya, dia tidak suka melihat ekspresi Cristin yang murung.
"Ada apa?" Cristin berusaha tersenyum.
"Sudah aku katakan tidak perlu khawatir," ucap Orland
"Aku tahu, Orland. Aku juga tidak mau memikirkannya tapi aku?"
"Baiklah," Orland menyela ucapannya dan mengusap lengannya.
"Aku memang tidak merasakan apa yang kau rasakan saat ini tapi aku tidak suka kau seperti ini. Percayalah padaku walau untuk sesaat, kau mau bukan?"
"Aku?"
"Hei," Orland kembali menyela karena dia tahu apa yang hendak Cristin katakan.
"Bagaimana jika besok menginap di rumahku? Aku akan mengajakmu berbeque di sisi kolam renang. Kau mau, bukan?"
"Aku bukan tidak percaya padamu, Orland. Perasaanku sedang kacau saat ini, aku tidak bisa melupakannya masalah yang sedang terjadi walaupun aku ingin. Jadi jangan salah paham. Aku percaya padamu, aku percaya kau pasti bisa membantu."
"Jadi?"
"Baiklah, besok aku menginap tapi ingat, tidak ada acara memancing!" ancam Cristin karena dia sudah trauma gara-gara memancing di sisi danau waktu itu.
Orland terkekeh dan mengecup punggung tangannya, "Tenang saja, di kolam renangku tidak ada ikan," ucapnya.
"Jika begitu besok aku akan membeli bahannya sebelum ke rumahmu."
"Bagaimana jika kau datang ke kantor, kita akan pergi membeli bahannya bersama."
Cristin mengangguk tanda setuju, dari pada pusing memikirkan perceraiannya dengan Johan yang sudah bisa ditebak akan ke mana arahnya lebih baik dia menghabiskan waktu lebih banyak dengan Orland agar dia bisa mengenal pria itu lebih jauh. Bagaimanapun rasa takut masih ada, jangan sampai Orland tidak jauh berbeda dengan Johan dan dia tidak mau tertipu untuk kedua kalinya lagi.
Orland juga sudah berjanji akan membantunya jadi dia harus mempercayai pria itu. Semoga kali ini dia tidak salah memilih, semoga saja pria itu benar-benar tulus.
"Jika begitu masuklah ke dalam. Besok jangan lupa datang ke kantor, mungkin besok kita mendapatkan sesuatu dari Gail."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih telah menemani aku hari ini," Cristin mendekatinya dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Orland, "I-itu sebagai ucapan terima kasihku," ucapnya sambil tersipu.
"Sudah aku katakan, aku lebih suka kau mencium bibirku!" Orland memegangi dagu Cristin dan mencium bibirnya.
Cristin tidak menolak, matanya sudah terpejam dan kedua tangannya sudah melingkar di leher Orland. Mereka berada di mobil saat itu jadi kedua orang tua Cristin tidak akan melihat.
Ciuman mereka semakin dalam, sesuatu yang sudah sangat mereka inginkan tiba-tiba bergejolak di dalam hati. Tangan Orland berada di paha Cristin dan mengusapnya perlahan. Sial, rasanya tidak mau berhenti.
Jantung Cristin berdegup, napasnya pun jadi berat. Dia rasa mereka harus menghentikan hal itu jika tidak, dia merasa mereka akan lepas kendali nantinya.
Orland masih mencium bibirnya, menghisap bibir bagian bawahnya lalu memasukkan lidahnya ke dalam dan menjelajahi setiap rongga mulut Cristin. Tangannya semakin bergerak bebas, tentu hal itu membuat Cristin segera menahan tangannya. Jika dia membiarkannya dia merasa tangan Orland akan masuk ke dalam roknya dan melakukan hal yang lebih jauh lagi.
"Kenapa kau menahan tanganku, Cristin?" tanya Orland seraya mencium wajahnya.
"Aku tidak mau kita melakukan hal yang melewati batas, Orland. Cukup berciuman saja, tidak boleh lebih dari itu! Jika kita memang berjodoh, maka kita pasti akan melakukannya suatu saat nanti." jawab Cristin. Walau sesungguhnya dia sangat menginginkannya, tidak dia pungkiri tapi dia harus menjaga dirinya. Memang s**x bebas bukan hal tabu tapi dia tidak mau melakukannya.
Orland tersenyum dan mengusap wajah Cristin perlahan, dia bisa mengerti kenapa Cristin menolak tapi dia tidak merasa kecewa sama sekali.
"Baiklah, maafkan aku. Aku akan berusaha menahan diri dan tanganku," ucap Orland.
"Maaf," Cristin tampak menunduk.
"Kenapa kau minta maaf, Sayang? Itu keinginanmu dan aku sangat menghargainya. Tidak perlu minta maaf untuk hal ini, karena aku mencintaimu dengan tulus jadi aku tidak keberatan. Lagi pula itu hanya tentang s**x saja jadi tidak perlu meminta maaf karena yang terpenting adalah hubungan kita. Dari pada dibenci olehmu lebih baik aku menahan diri untuk hal itu tapi ketika waktunya sudah tiba, aku tidak akan menahan diriku sama sekali!" ucap Orland.
Cristin tersenyum, dia senang Orland mau mengerti walau dulu dia juga tidak melakukannya dengan Johan tapi sekarang dia tahu kenapa Johan tidak menolak permintaannya. Ternyata dia sudah memiliki kekasih. Sepertinya dia harus bersyukur akan hal ini.
"Baiklah, aku mau masuk ke dalam," Cristin mengambil tasnya.
"Besok jangan lupa datang ke kantor, oke? Kita akan melewatkan malam menyenangkan berdua," ucap Orland.
"Tentu, sekali lagi terima kasih," Cristin membuka pintu mobilnya dan segera keluar.
Mata Orland tidak lepas darinya, matanya terus mengekori Cristin sampai Cristin masuk ke dalam rumah.
Orland melihat jam di tangan, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sebaiknya dia mencari tahu apa yang ditemukan oleh Gail besok di kantor, semoga Gail mendapatkan sedikit petunjuk agar mereka tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Orland membawa mobilnya pergi, sedangkan Cristin sudah ditunggu oleh kedua orangtuanya yang sudah sangat ingin tahu bagaimana konsultasi yang dijalani oleh putri mereka hari ini.
"Bagaimana, Cristin?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Seharusnya kalian bisa menebaknya, Mom," Cristin menghampiri ayah dan ibunya.
"Apakah dia tetap tidak ingin menceraikan dirimu?" tanya ibunya.
"Ya, begitulah," jawab Cristin seraya menghela napas.
"Jika dia memang bersikeras tidak mau menceriakan dirimu maka tanyakan padanya, apa yang sebenarnya dia inginkan?!" ucap ayahnya.
"Seharusnya Daddy sudah tahu apa yang dia inginkan," jawab Cristin.
"Tanyakan berapa yang dia mau, akan aku berikan!" ucap ayahnya lagi. Dia sudah bersabar untuk hal ini begitu lama dan jika Johan memang menginginkan uang sesuai yang dia inginkan maka akan dia berikan asal dia mau melepaskan putrinya.
"Tidak, Dad!" tolak Cristin.
"Kenapa, Cristin? Jika memang uang yang dia inginkan maka berikan. Dengan begitu kau bisa terbebas darinya dan tidak perlu repot seperti ini."
"Sampai kapan pun aku tidak akan memberikannya uang walau hanya satu dolar. Aku sudah banyak menghabiskan uang untuknya dan aku tidak mau memberikan dia uang lagi!" tolak Cristin.
"Apa uang satu juta dolarmu kau berikan padanya, Cristin?" tanya ibunya. Jujur saja sampai sekarang mereka sangat ingin tahu kenapa putrinya mengambil uang satu juta dolar dan ini adalah kesempatan bagus untuk menanyakan hal itu.
"Apa yang Mommy-mu katakan benar, Cristin? Apa benar uang itu kau berikan pada Johan?" tanya ayahnya karena Cristin diam saja tidak menjawab.
Cristin memang tidak bisa menjawab karena uang itu dia gunakan untuk membayar Orland. Bagaimana jika sampai kedua orangtuanya tahu akan hal ini? Jika sampai mereka tahu jika Orland adalah pria yang pernah dia bayar, apakah mereka akan tetap menyetujui hubungan mereka berdua?
"Cristin, kenapa kau diam saja? Apakah yang kami katakan adalah benar?" tanya ibunya.
"Ti-Tidak, Mom," Cristin jadi gugup.
"Jika begitu di mana uang itu?" kedua orangtuanya jadi penasaran.
"Te-Teman lamaku meminjamnya," dusta Cristin. Dia harap kedua orangtuanya percaya dengan kebohongan yang dia ucapkan.
"Teman lama, kenapa belum diganti? Apa dia kabur?"
"Aku sedang mencarinya, Mom. Aku lelah, aku mau mandi," Cristin beranjak dan melangkah pergi dengan terburu-buru, "Good night Mom, Dad," ucapnya dan setelah itu Cristin berlari menuju kamarnya.
Kedua orangtuanya saling pandang. Kenapa Cristin seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mereka? Sepertinya mereka harus mencari tahu akan hal itu karena mereka takut putri mereka ditipu.
Di dalam kamar, Cristin memegangi dadanya. Sudah sekian lama kenapa kedua orangtuanya baru menanyakan uang tersebut? Celaka, sebaiknya dia kembali bekerja untuk mengumpulkan uang itu agar kedua orangtuanya tidak tahu jika uang itu sudah dia gunakan untuk membayar Orland agar pria itu mau tidur dengannya. Jika kedua orangtuanya tahu bahwa dia membayar seorang pria agar tidur dengannya untuk membalas perbuatan Johan, apakah yang akan mereka lakukan? Entah kenapa dia jadi memiliki firasat buruk.
__ADS_1