
Tanpa tahu jika Johan sedang menyusun rencana jahat untuk mengincar mereka berdua, Cristin dan Orland kembali setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan.
Cristin sangat senang, dia sudah tidak sabar mengabari kedua orangtuanya, dia juga ingin menghubungi kakaknya dan mengatakan status barunya. Setelah kembali dari Italia, dia belum menghubungi sang kakak sama sekali. Dia juga ingin mengenalkan kakaknya pada Orland.
Dia rasa Orland akan cocok dengan kakaknya, karakter mereka juga tidak jauh berbeda.
Mereka sudah tiba, ayah dan ibu Cristin sudah menunggu begitu lama. Mereka sangat senang saat melihat putri mereka sudah kembali, mereka benar-benar sudah tidak sabar dengan hasilnya.
"Mom, Dad!" Cristin berlari ke arah mereka dan memeluk ibunya.
"Bagaimana, Cristin?" tanya ibunya.
"Aku sudah janda, Mom," ucap Cristin. Dia benar-benar bahagia.
"Selamat untukmu, Sayang. Akhirnya kau terbebas dari pria itu dan memiliki status yang jelas," ucap ibunya.
"Mommy benar, bertahun-tahun statusku tidak jelas dan sekarang aku sudah menjadi janda. Aku sangat bahagia jadi kita harus merayakannya," ucap Cristin lagi. Jangan-Jangan dia satu-satunya wanita yang senang karena sudah menjadi janda.
"Kita memang harus merayakannya," ucap sang ibu.
Kedua orangtuanya juga terlihat senang, mereka senang karena putri mereka sudah terbebas dari baj*ngan seperti Johan.
Orland menghampiri mereka dengan senyum di wajah, melihat hubungan Cristin dengan ayah dan ibunya membuat Orland rindu dengan kedua orangtuanya. Setelah mendapatkan perusahaan ayahnya nanti, dia akan membawa Cristin ke makam kedua orangtuanya dan mengenalkan Cristin pada mereka. Dia pasti akan melakukan hal itu.
Cristin menghampiri Orland dan meraih tangannya, entah kenapa tiba-tiba dia ingin Orland menginap.
"Bagaimana jika malam ini kau menginap?" tanya Cristin.
"Apakah boleh?" Orland balik bertanya.
"Tentu saja, ayah dan ibuku pasti tidak akan keberatan."
"Jika begitu aku tidak akan menolak!" ucap Orland.
"Mom, Dad, apakah Orland boleh menginap?" tanya Cristin sambil sedikit berteriak.
"Tentu saja boleh, dia bisa tidur di kamar kakakmu," jawab ibunya.
__ADS_1
"See, mereka tidak keberatan."
"Baiklah jika begitu, pemuda ini tidak akan menolak."
Cristin tersenyum, sesungguhnya dia ingin melewatkan malam ini berdua dengan Orland. Dia akan menyelinap ke kamar kakaknya nanti malam.
Mereka segera masuk ke dalam rumah, barang-barang yang mereka beli di bawa masuk oleh pelayan dan dibawa ke kolam renang. Semua yang mereka butuhkan sudah tersedia di sana.
Tidak membuang waktu, mereka sudah berada di sisi kolam renang untuk bersenang-senang. Ini hal baru bagi mereka, Grifin dan Mariana tidak pernah merasa sesenang ini bersama dengan kekasih putri mereka karena mereka memang tidak pernah sedekat itu sebelumnya dengan Johan. Mereka berdua benar-benar pria yang berbeda, mungkin dulu Cristin juga jarang mengajak Johan kembali ke rumah.
Cristin benar-benar menikmati waktunya dengan kedua orangtuanya dan tentunya dengan Orland. Tawa mereka terdengar, mereka menikmati makanan sambil bercanda dan ketika malam sudah tiba, Cristin mengantar Orland ke kamar kakaknya dan memberikan sebuah handuk juga pakaian bersih milik ayahnya yang belum pernah dipakai sebelumnya.
"Hanya ini saja yang ada, kau tidak keberatan, bukan?" tanya Cristin.
"Tentu tidak, ini sudah lebih dari cukup. Apa kau tidak mau menemani aku malam ini?" Orland meraih pinggang Cristin, dia harap mereka bisa tidur berdua malam ini.
"Tunggulah nanti, Orland. Aku akan jadi gadis nakal dan menyelinap masuk ke dalam kamar tapi untuk saat ini, ayah dan ibuku sedang menungguku di luar."
"Baiklah, Nona," Orland mencium bibirnya dengan lembut, "Aku tunggu," ucapnya.
Foto kebersamaan Cristin dan kakaknya tersusun rapi di sebuah lemari. Dia bisa menebak jika hubungan mereka dekat. Orland masih melihat-lihat sampai akhirnya Cristin menyelinap masuk ke dalam.
"Apa sudah lama menunggu?" tanya Cristin basa basi.
"Tentu saja!!" Orland menghampirinya dan memeluk pinggangnya. Cristin sudah berada digendongannya saat Orland mencium bibirnya. Kedua kaki Cristin bahkan melingkar di tubuh Orland.
Ciuman yang mereka lakukan semakin dalam, Orland membawa Cristin ke sisi ranjang dan duduk di sana. Tangannya sudah berada di dalam baju Cristin dan mengusap punggungnya.
Bibir mereka terlepas, Cristin tampak terengah. Orland mengusap wajah Cristin dengan perlahan, rasanya ingin membaringkan Cristin dan melanjutkannya namun dia tahu dia tidak boleh melakukan hal itu apalagi dia sedang berada di rumah Cristin.
"Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk melamarmu, Cristin," Orland mengusap wajahnya dan kembali mendaratkan ciuman di wajah Cristin.
"Kau sudah bisa melakukannya, bukan? Aku sudah tidak terikat dengan siapa pun jadi kau sudah bisa melamar aku di hari ulang tahun ayahku."
"Maaf jika aku tidak bisa, Sayang. Aku sangat ingin tapi di hari itu aku meminta bantuan ayahmu untuk mengundang keluarga pamanku."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Yeah, aku ingin menjebak mereka di sana jadi maafkan aku jika aku belum bisa melakukannya."
"Tidak apa-apa, Orland," Cristin mencium dahinya, "Tidak perlu buru-buru, aku juga tidak akan pergi ke mana pun!"
"Kau benar tapi aku berjanji padamu aku pasti akan segera melamarmu saat perusahaan ayahku sudah kembali ke tanganku."
"Aku tunggu!" ucap Cristin.
Mereka saling pandang, senyum menghiasi wajah mereka. Mata Cristin terpejam saat Orland mendekatkan bibir mereka berdua. Ciuman yang mereka lakukan hanya sesaat karena mereka tahu jika mereka melakukannnya lebih jauh maka mereka tidak akan bisa menahan diri karena sesuatu yang bergejolak di dalam diri mereka sudah hampir tidak bisa mereka tahan lagi.
"Bagaimana jika kau menceritakan tentang kakakmu padaku," ucap Orland.
"Boleh juga, aku baru saja menghubunginya tadi."
"Aku lihat hubungan kalian sangat dekat," ucap Orland. Cristin sudah turun dari atas pangkuannya, mereka bahkan sudah berbaring bersama.
"Tentu saja, dia kakakku dan bagiku dia adalah pahlawan kedua setelah ayahku."
"Lalu bagaimana dengan aku, Nona?" Orland memainkan tangannnya di pipi Cristin, usapan pelan yang dia berikan membuat Cristin merasa nyaman.
"Kau seperti investasi masa depan," ucap Cristin dengan senyum menghiasi wajah.
"Apa maksudmu investasi, hm?"
"Aku sudah membelimu dengan harga tinggi pada malam itu, Orland. Jadi aku sedang berinvestasi untuk masa depanku!"
Orland terkekeh, terdengar tidak buruk. Cristin memang sedang berinvestasi malam itu. Sayangnya Cristin tidak mengandung bayinya karena percintaan malam itu, jika Cristin hamil maka dia juga sedang berinvestasi.
"Baiklah, sudah malam. Sebaiknya kita tidur."
Cristin mengangguk, senyum kembali menghiasi wajah saat Orland mencium dahinya.
"Good night, Cristin," Orland kembali mencium dahinya, "I love you," ucapnya lagi.
Cristin tersenyum dan memeluk Orland dengan erat. Matanya terpejam, Cristin sedang menikmati ciuman Orland di wajahnya. Cukup seperti itu saja sudah membuatnya senang, walau mereka belum bisa melakukan hal lain selain berciuman tapi mereka menikmati kebersamaan mereka malam itu.
#Kagok Guys, di tempat lain bablas, di sini musti extra mikir agar gak kena Warning. Wwkwkkw...#
__ADS_1