Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Apa Benar Kita Melakukannya?


__ADS_3

Hujan masih mengguyur dengan lebat, Cristin meringkuk di atas sofa yang ada di depan jendela. Matanya melihat tetesan air hujan yang memercik di jendela, pikirannya kosong.


Selimut yang menutupi tubuhnya terasa hangat, dia jadi malas beranjak. Sungguh, padahal dia tidak mau dekat dengan siapa pun tapi dia seperti ditarik. Orland bagaikan memiliki magnet, walaupun dia ingin menjauh tapi pria itu justru semakin menariknya mendekat.


Cristin menghela napas, apakah benar mereka melakukan hal itu semalam? Sial, dia sudah duduk di depan jendela selama berjam-jam tapi dia tidak bisa mengingat apa pun. Ini buruk, dia lebih suka mengingatnya jika memang mereka melakukan hal itu dari pada tidak ingat sama sekali.


Seharusnya dia tidak minum sampai mabuk, entah kenapa dia jadi menyesal. Dia berjanji tidak akan minum lagi, alkohol memang bisa membuat orang lupa dengan apa saja.


Saat itu pintu terbuka, Orland masuk ke dalam dengan segelas minuman hangat. Orland menghampirinya dan duduk di sisinya, Cristin meliriknya sejenak dan setelah itu dia kembali melihat ke jendela.


"Minum ini terlebih dahulu, nanti aku akan membawakan sarapan," ucapnya seraya memberikan minuman hangat yang dia bawa paa Cristin.


"Aku kira kau sudah pergi," ucap Cristin seraya mengambil minuman hangat yang diberikan oleh Orland.


"Kenapa kau berpikir demikian?" tanya Orland heran.


"Bukankah ini kesempatan yang paling bagus untukmu pergi?"


"Tidak, dengarkan aku Cristin," Orland meraih tangan Cistin dan mengusapnya.


"Aku tidak akan lari ke mana pun. Sudah aku katakan aku akan bertanggung jawab walau kau tidak mau," ucapnya.


"Bagaimana jika ternyata kita tidak melakukan apa pun?"


"Ya sudah, aku juga akan bertanggung jawab."


"Enak saja!" Cristin memukul bahu Orland dengan pelan.


Orland tersenyum, sepertinya keadaan Cristin sudah membaik. Itu bagus, dia sangat berharap mereka benar-benar melakukan hubungan badan dengan begitu mereka sudah terikat tanpa Cristin inginkan. Siapa tahu saja satu bibitnya bisa tumbuh di dalam sana.


"Kemarilah, aku akan menghangatkanmu."


"Tidak mau, dasar menyebalkan!" tolak Cristin.


"Ayolah," Gelas diambil dan diletakkan, Orlanda menarik Cristin mendekat sehingga wanita itu bersandar di dadanya.


"Hei, posisi macam apa ini?" protes Cristin.


"Rileks, Cristin. Aku tidak melakukan apa pun," ucap Orland.


"Awas jika kau berani!" ancam Cristin.


Orland kembali tersenyum, tangannya mengsusap dahi Cristin dengan perlahan.


"Kenapa kau menolak aku, Cristin?"


"Setelah apa yang aku alami apa kau pikir aku akan percaya dengan pria lagi, Orland?" Cristin balik bertanya.

__ADS_1


"Orang yang begitu aku percaya, orang yang sangat aku cintai bahkan aku rela memberikan apa pun yang dia mau tapi nyatanya? Aku tidak menyangka dia memiliki tujuan menikahi aku. Setelah dikhianati seperti itu, apa kau pikir aku bisa percaya lagi dengan cinta?" Cristin tersenyum pahit, dia tidak peduli lagi dengan cinta tapi bagaimana dengan pria yang sedang memeluknya saat ini? Kenapa dia tidak keberatan pria itu memeluknya?


"Setelah pengkhiantan itu, aku sudah tidak bisa mempercayai apa pun lagi yang berhubungan dengan cinta. Bagiku itu hanya ilusi saja."


"Oke baiklah, aku tidak menyangka kau begitu trauma dengan kejadian itu."


"Aku memang trauma jadi jangan banyak bertanya!"


Mereka diam, tidak mengatakan apa pun, Cristin menggosok kedua telapak tangannya dan berkata, "Dingin," kini Cristin menekuk kedua kakinya, "Kapan hujannya akan berhenti?"


"Entahlah, aku akan ambilkan sup hangat untukmu."


Cristin mengangguk dan membiarkan pria itu pergi. Padahal Orland bisa pergi dan meninggalkan dirinya tapi kenapa tidak dia lakukan? Bukankah dengan begitu dia tidak perlu bertangung jawab atas apa yang dia lakukan walaupun mereka masih tidak yakin apakah mereka melakukan hal itu atau tidak.


Di luar sana, Orland membawakan sup untuk Cristin. Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa mereka tidak melakukan apa pun semalam. Walau dia tidak mengingatnya tapi dia yakin, sepertinya mereka tertidur sebelum mereka selesai.


Jika mereka melakukannya pasti ada bekasnya, bahkan satu tanda pun tidak ada di tubuh Cristin. Sial, dia semakin curiga jika mereka berdua sudah tumbang duluan sebelum memulai lebih jauh.


Sepertinya tebakannya tidak meleset tapi biarlah, dia tidak akan mengatakan hal ini pada Cristin. Biarkan saja wanita itu masih beranggapan jika mereka telah melakukannya. Dia juga ingin melihat ekspresi Cristin saat dia mengungkit soal kehamilan. Pasti menyenangkan menggodanya.


Orland masuk ke dalam, Cristin masih membungkus dirinya mengunakan selimut. Cuaca benar-benar dingin, sepertinya itu hujan terakhir sebelum musim dingin.


"Makan supnya selagi hangat," Orland kembali duduk di sisinya dan memberikan sup yang dia bawa.


"Sepertinya kau pintar memasak," ucap Cristin.


"Tentu saja, aku pria idaman dan sebentar lagi akan menjadi pria idamanmu," godanya.


Orland hanya tersenyum, Critin menikmati sup yang diberikan Orland. Tidak buruk, sepertinya pria itu benar-benar pandai memasak. Jika begini tidak salah dia menyombongkan diri karena hasilnya memuaskan.


"Makan yang banyak Cristin, agar bayi kita sehat."


"Bruusshhhh!" sup yang ada di dalam mulut Cristin tersembur keuar.'


"Apa kau bilang?" Cristin melotot dengan ekspresi galak sambil mengelap mulutnya.


"Kita sudah melakukannya, Cristin. Tidak menutup kemungkinan kau akan hamil," ucap Orland sambil tersenyum.


"Menyebalkan, apa kau pikir akan langsung jadi?"


"Tentu saja, bibitku pasti tidak akan gagal jadi bersiaplah menjadi istriku," Orland masih menggoda.


Cristin mengigit bibir, menyebalkan. Mereka belum tentu melakukan hal itu tapi Orland sudah berbicara sembarangan. Mangkuk sup diletakkan, Cristin tersenyum dengan manis.


"Kebetulan sekali, Orland," senyum Cristin semakin lebar, "Bayimu ingin menggigitmu!" teriak Cristin dan setelah itu, Cristin melompat di tubuh Orland dan mengigit bahunya dengan kuat.


Orland berteriak, aduh, lagi-lagi digigit. Dia berusaha mendorong kepala Cristin tapi sayangnya Cristin tidak melepaskan giginya dari bahu Orland.

__ADS_1


"Cristin, kenapa kau jadi suka menggigit?" teriaknya.


"Bayimu yang meminta aku melakukannya!" ucap Cristiin.


"Hei, bukankah kau berkata belum jadi!"


"Sebelum jadi dia meminta aku melakukannya!" Cristin kembali menggigit sampai dia puas.


Orland duduk di ujung sofa setelah Cristin berhenti. Cristin kembali menikmatinya supnya, dia benar-benar terlihat puas. Anggap saja itu untuk membalas perbuatan pria itu yang sudah mengerjainya selama mereka di sana.


Cristin manatap Orland sambil tersenyum, sedangkan Orland mengusap bahunya karena bekas gigitan yang Cristin berikan terasa sakit. Sebaiknya dia mewaspadai gigi wanita itu, jangan sampai bahunya terkena gigitannya lagi.


"Bayinya sudah kenyang, Orland. Terima kasih," Cristin masih tersenyum.


"Good, setelah kenyang bayinya sudah harus tidur," Orland beranjak dan mendekatinya.


"What? Hei, mau apa kau?" Cristin memundurkan tubuhnya, apa yang mau pria menyebalkan itu lakukan? Tapi sebelum Cristin bisa melarikan diri, Orland sudah menggendongnya dan memnbawanya menuju ranjang.


"Orland, apa yang mau kau lakukan?" Teriak Cristin.


"Tidur dengan bayiku," Ucap Orland santai.


"Apa? Kau gila, tidak ada bayi!!"


"Ada, percayalah," Cristin sudah dibaringkan, Orland tidak melepaskannya dan berbaring di sisinya.


"Orland, aku tidak mau tidur!" teriak Cristin kesal.


"Sekarang giliranku tidur dengan bayiku!" Orland memeluk perutnya. Cristin mengupat, kenapa mereka jadi bertingkah seperti anak kecil?


"Orland, kapan kita akan memperbaiki proposal?" tanya Cristin. Dia tidak akan lupa dengan tujuannya.


"Setelah hujan."


"Kenapa harus setelah hujan? Kita bisa melakukannya sekarang."


" Aku ingin seperti ini untuk sejenak, mumpung kau sedang jinak."


"Sialan, apa kau kira aku binatang liar?" Cristin memukul bahunya, kesal.


Orland terkekeh dan mendekati Cristin, Cristin diam saja saat tangan Orland mengusap wajahnya dengan perlahan.


"Apa benar kita melakukan hal itu, Orland?"


"Entahlah, bagaimana jika kita mengulanginya lagi? Supaya aku ingat rasanya. Kau juga penasaran, bukan?"


"Tidak, menyebalkan!" Cristin membuang wajahnya yang memerah.

__ADS_1


Orland tersenyum dan menariknya mendekat, "Biarkan aku memelukmu sebentar."


Cristin diam saja, membiarkan Orland memeluknya. Dia sangat ingin membantah tapi entah kenapa dia enggan melakukannya. Mereka berdua diam, dengan pikiran masing-masing. Orland berharap, Cristin tidak melupakan kebersamaan mereka di tempat itu. Dia memang tidak memberikan kenangan manis seperti yang dilakukan oleh seorang pria pada wanita incarannya. Dia rasa Cristin sudah terbiasa dengan kenangan seperti itu maka dari sebab itulah, dia memberikan Cristin kenangan yang berbeda dan dia yakin, Cristin tidak akan melupakannya apa yang telah mereka lalui berdua di tempat itu. Ck, rasanya enggan pergi dari tempat itu karena setelah mereka kembali, mereka tidak akan bisa seperti itu lagi.


__ADS_2