
Johan pergi ke sebuah club malam, dia membutuhkan hal itu untuk menenangkan pikiran. Dia sangat ingin menghubungi Lauren tapi dia tidak ingin mengganggu Lauren yang sedang memulihkan diri setelah melakukan cuci darah.
Lagi pula sebentar lagi Lauren akan datang, setelah ini dia tidak akan kesepian lagi. Johan memesan sebotol minuman, dia tidak menyadari jika dia sedang diikuti. Tapi sayangnya orang itu tidak mendapatkan apa pun karena Johan tidak melakukan apa pun.
Padahal dia ingin bertemu dengan Cristin hari ini tapi sayangnya Cristin tidak ada. Dia jadi ingin tahu, apakah Cristin benar-benar menjalin hubungan dengan pria itu? Rasanya ingin menyangkal tapi dilihat dari kedekatan mereka berdua dia rasa mereka memang memiliki hubungan spesial.
Sial, tiba-tiba dia merasa tidak senang. Apa dia sedang cemburu? Tidak, dia tidak memiliki perasaan pada Cristin jadi tidak mungkin dia cemburu pada wanita itu. Johan mengumpat, dia tidak boleh bimbang tapi dia sungguh ingin tahu, dimana Cristin saat ini?
Tentunya saat itu Cristin sedang menghabiskan malam menyenangkannya dengan Orland. Sebuah cafe mewah sudah dipesan. Mereka akan menikmati makanan sambil melihat indahnya sungai dan juga jembatan yang menghubungkan wilayah Brooklyn dan kota Manhattan.
Jembatan itu akan terlihat indah pada malam hari, sungai juga akan indah karena lampu-lampu kota. Sebuah tempat yang ada didekat jendela menjadi pilihan, dari sana semua pemandangan kota akan terlihat. Tidak saja jembatan dan juga sungai, mereka akan menikmati pemandangan kota yang indah dari tempat itu. Sesungguhnya lokasi yang bagus adalah balkon yang menghadap langsung ke arah sungai tapi karena cuaca yang dingin, Orland lebih memilih berada di dalam ruangan yang hangat bersama dengan Cristin.
Cristin menggunakan gaun berwarna biru yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya, belahan gaun dibagian dada membuatnya semakin terlihat seksi. Sarung tangan berwarna biru juga dia kenakan. Untuk mengusir rasa dingin, sebuah mantel dikenakan.
Salju pertama pada bulan itu mulai turun, sepertinya pakaian musim dingin sudah harus dikeluarkan. Mobil yang membawa mereka sudah berhenti, Orland keluar terlebih dahulu dan setelah itu pintu mobil dibuka. Tangan pun diulurkan, Cristin menyambutnya dengan senyuman.
Sebisa mungkin dia ingin membuat banyak kenangan manis bersama dengan Orland agar kenangan yang dia lalui bersama dengan Johan dapat dia lupakan. Kenangan baru dengan seseorang yang telah mengisi hatinya saat ini bisa mengobati rasa sakit hatinya terhadap Johan.
Cristin merangkul lengan Orland saat mereka masuk ke dalam cafe. Mereka disambut dengan ramah, Orland membantu Cristin melepaskan mantel yang dia gunakan dan memberikannya pada pelayan.
Mereka diantar menuju tempat duduk mereka, malam itu tidak mereka saja yang berada di cafe itu. Beberapa pasang kekasih juga menghabiskan waktu di cafe itu seperti mereka karena cafe itu memang terkenal sebagai tempat romantis untuk para pasangan menghabiskan waktu.
Cristin tersenyum saat pelayan cafe menarik kursi untuknya. Setelah mengucapkan terima kasih, Cristin melihat ke arah Orland. Mata pria itu juga tidak tidak lepas darinya, dia benar-benar mengagumi kecantikan yang Cristin miliki.
"Kenapa kau melihat aku seperti itu?" tanya Cristin.
__ADS_1
"Aku mengagumi dirimu, Cristin. Sampai sekarang aku tidak mengerti, kenapa Johan mengkhianati dirimu?"
"Aku juga tidak tapi malam ini, aku tidak ingin membicarakan dirinya jadi jangan menghancurkan suasana romantis ini jika tidak aku akan pulang!" ancam Cristin.
"Oke, Nona. Kau ratunya malam ini!"
Cristin tersenyum, buku menu sudah diberikan. Mereka melihat menu yang terdapat di buku menu. Domba panggang menjadi pilihan sebagai menu utama, hot foie gras dan salad pear menjadi menu pembuka. Untuk hidangan penutup sorbet dan kopi souffle menjadi pilihan.
Untuk minuman, mereka memesan Champagne. Itu sudah cukup untuk menemani malam mereka yang indah.
Mereka tidak memesan banyak makanan karena sesungguhnya mereka sudah makan saat kembali setelah berkonsultasi. Mereka berada di cafe itu memang untuk menikmati indahnya pemandangan pada malam hari dan juga suasana romantisnya.
Menu pembuka sudah datang, mereka menikmati makanan itu sambil berbincang.
Seharusnya kau sudah tahu, Cristin. Bagaimana denganmu, bukankah kau memiliki seorang kakak laki-laki?"
"Yeah, kakakku ada di Italia. Dia lebih memilih menetap di sana bersama keluarganya."
"Jadi kau bersama dengan kakakmu di Italia?" tanya Orland dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh Cristin saat berada di sana. Kenapa seorang Nona muda seperti dirinya bisa bekerja di kota itu?
"Awalnya, tapi aku lebih memilih hidup sendiri. Aku tahu kau pasti ingin tahu kenapa tapi aku ingin meninggalkan kehidupan Nona muda yang aku jalani. Aku tidak mau mengandalkan uang keluargaku lagi walau sesungguhnya dulu aku juga bekerja. Aku ingin menjadi Cristin Bailey yang sederhana. Aku benar-benar ingin meninggalkan kehidupan glamour yang selama ini aku jalani."
Orland tersenyum, daging domba di potong karena mereka sedang menikmati hidangan utama saat itu. Setelah memotongnya, daging itu diberikan pada Cristin.
"Aku rasa kita memang berjodoh," ucap Orland
__ADS_1
"Entahlah, aku tidak mau memikirkannya. Yang aku inginkan hanya menikmati waktu lebih banyak denganmu, Orland."
"Baiklah, habiskan makanannya dan setelah itu kita berdansa."
Cristin mengangguk, mereka kembali menikmati makanan mereka. Suara musik terdengar, lagu perfect pun dinyanyikan oleh seorang penyanyi yang bekerja di cafe itu.
Suara merdunya membuat suasana semakin romantis. Beberapa tamu bahkan sudah berada di lantai dansa untuk menikmati musik dan lantunan lagu merdu.
Orlans dan Cristin masih berada di meja makan, gelas Champagne di adu sehingga berbunyi. Mereka berdua saling pandang sambil tersenyum. Orland beranjak dari tempat duduk, pria itu berdiri di samping Cristin sambil membungkuk dan mengulurkan tangan.
"Mau berdansa denganku, Nona?"
Cristin, tersenyum. Setelah mengelap mulutnya dengan serbet, Cristin meletakkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Orland.
"Tentu saja, Orland," ucapnya.
Mereka berdua segera menuju lantai dansa dan bergabung dengan yang lainnya. Kedua tangan Orland berada di pinggang Cristin, sedangkan tangan Cristin berada di bahunya.
Dahi mereka saling beradu, mereka berdua bergerak mengikuti irama musik. Saat itu lagu sudah berubah, lagu Beautiful in white pun dinyanyikan. Malam itu terasa berbeda bagi mereka berdua. Mereka bahkan sudah terbawa suasana yang ada di sana.
Langkah Orland terhenti, begitu juga dengan Cristin. Dagu Cristin diangkat, kecupan lembut mendarat di bibirnya. Mereka tidak mengatakan apa pun, mereka berdua saling pandang dan akhirnya mereka kembali berciuman.
Tidak ada yang mempedulikan mereka, pengunjung yang lain menikmati waktu mereka dengan cara mereka. Cristin dan Orland berciuman cukup lama di tengah para pengunjung dan setelah itu mereka kembali berdansa. Cristin berdiri membelakangi Orland dan bersandar di dada bidang pria itu.
Orland memeluknya dari belakang, mereka masih menikmati musik yang melantun dengan merdu. Rasanya malam itu tidak ingin cepat berakhir, mereka bahkan enggan beranjak seperti pasangan yang lain. Bagaimanapun waktu seperti itu sangatlah berharga, semoga saja mereka selalu bisa menikmati waktu seperti itu.
__ADS_1