Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Kenapa Harus Aku?


__ADS_3

Ikan sudah dibersihkan, kayu untuk api unggun juga sudah siap. Saat itu waktu sudah menunjukkann pukul lima sore, Cristin duduk di sisi danau dan terlihat termenung.


Dia tidak bisa tidur lagi setelah Orland mengganggu tidurnya. Dia juga tidak bisa tidur karena nasehat yang diberikan oleh ibunya, dia benar-benar berpikir keras untuk hal itu.


Sepertinya ibunya terlalu berlebihan. Dia dan Orland tidak memiliki hubungan apa pun, bahkan mereka tidak juga berteman. Dia bisa bertemu dengan pria itu kembali dan mengenalnya karena pekerjaan.


Walau mereka sudah melewatkan malam yang penuh gairah berdua tapi bukan berarti mereka akan dekat dan memiliki hubungan spesial.


Cristin memainkan kakinya di dalam air danau yang dingin, matanya melihat pepohonan hijau yang tumbuh di seberang danau. ternyata berada di tempat itu tidaklah buruk walau harus dengan lelaki yang menyebalkan. Mungkin dia bisa datang ke cabin itu lagi lain kali untuk menikmati waktu kesendiriannya.


Orland keluar dari cabin dengan sebuah baju hangat. Udara semakin dingin karena sebentar lagi musim dingin akan segera datang. Mata Orland tidak lepas dari sosok Cristin yang sedang duduk di sisi danau, sungguh dia sangat ingin tahu apa yang sedang Cristin pikirkan saat ini.


Orland segera menghampirinya, jangan sampai Cristin sakit karena cuaca dingin. Bagaimanapun kedua orangtua Cristin memintanya untuk menjaga wanita itu dengan baik jadi dia tidak boleh melalaikan tugasnya.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya Orand.


Cristin melirik ke arahnya sejenak dan setelah itu dia melihat ke arah danau sambil menjawab, " Tidak!"


"Gunakan mantel ini, udara semakin dingin."


"Kapan kita akan kembali, Orland?"


"Apa kau tidak suka kita berada di sini?" Orland duduk di sisinya dan memakaikan mantel yang dia bawa.


"Bukan begitu, aku hanya?"


"Aku ingin bersama denganmu lebih lama, Cristin. Lagi pula kita hendak memperbaiki proposal, bukan?"


Cristin menghela napas, dia lupa dengan tujuan awal. Semoga saja proposal itu segera selesai agar pekerjaan terakhirnya juga selesai.


"Baiklah," Cristin merenggangkan otot tangannya.


"Apa yang akan kita lakukan malam ini?" tanyanya sambil tersenyum manis.


"Membakar ikan, apa lagi?"


"Apa tidak ada minuman?" tanya Cristin.


"Tentu saja ada, kenapa?"


"Good, malam ini kau mau minum sampai mabuk!" ucap Cristin sambil beranjak.


"Wow, kau yakin?" Orland juga beranjak.


"Yeah, kau tidak boleh menghalangi. Aku tidak akan berhenti sebelum mabuk," ucap Cristin.


"Aku tidak tanggung risikonya, Nona," ucap Orland..


"Ayo cepat, jangan banyak bicara!" teriak Cristin.


Orland tersenyum seraya melangkah, untungnya ada minuman di mobilnya tapi di saat hawa sedang dingin seperti itu mereka memang membutuhkan alkohol.


Mereka segera bersiap-siap, Orland membuat api unggun sedangkan Cristin mengambil minuman di mobil Orland. Dua botol minuman yang mengandung alkohol cukup tinggi diambil, itu sudah cukup membuat mereka mabuk. Malam ini dia sangat ingin melakukannya, dia ingin mabuk untuk melupakan beberapa hal sejenak.


Setelah mendapatkan minuman itu, Cristin segera kembali dan mendekati Orland di api unggun yang sudah menyala. Mereka akan membakar ikan hasil tangkapan Orland hari ini untuk makan malam mereka dan mereka juga akan menikmati langit malam karena cuacanya sedang bersahabat.


"Tunggu di sini, aku akan mengambil ikannya," ucap Orland.

__ADS_1


Cristin hanya mengangguk dan menggosok telapak tangannya sesekali lalu menghangatkannya di depan api unggun. Malam yang dingin, beruntungnya saat di hutan tidak sedingin itu.


Orland kembali dengan ikan yang sudah dia bersihkan dan siap di bakar, dia juga membawa yang lainnya.


"Yakin ikannya bisa dimakan?" tanya Cristin. Dia sedikit ragu mengingat umpan yang mereka gunakan.


"Tentu saja, aku sudah membersihkannya sebersih mungkin jadi tidak perlu khawatir."


"Jadi, bagaimana membakarnya?"


"Tentu saja dibakar di api, Nona."


"Aku tahu tapi bagaimana caranya!" ucap Cristin kesal.


Orland terkekeh, dia lupa jika Cristin belum pernah melakukan hal itu.


"Jika begitu biar aku yang melakukannya," ucap Orland.


Cristin mengangguk, dia memang tidak bisa. Orland mulai membakar ikannya, juga yang lainnya. Tidak perlu lama menunggu, ikan bakar yang sudah matang diberikan pada Cristin.


Cristin bingung sendiri, bagaimana cara makannya?


"Berhati-hatilah, jangan sampai termakan tulangnya," Orland mengingatkan.


"Aku tahu!" Cristin mendengus dan membuang wajah, dia bukan anak kecil yang harus selalu diingatkan.


"Aku hanya khawatir kau tersedak tulang ikan, Cristin."


"Jika begitu bersihkan tulangnya untukku!" Cristin memberikan ikannya pada Orland.


Orland mengambil ikan itu sambil tersenyum. Sesuai permintaan Cristin, Orland membersihkan tulang ikan itu dan setelah itu ikan kembali diberikan pada Cristin.


"Thanks," Cristin mengambil ikan itu dan menikmatinya. Tidak buruk, ternyata di luar dugaan karena rasa daging ikan itu enak.


"Wah, ternyata enak," ucapnya.


"Kau suka?"


"Hm," jawab Cristin sambil mengangguk.


Orland kembali memberikan ikan yang sudah dia bersihkan pada Cristin, Cristin tampak menikmatinya. Jika dia tahu ikan yang baru ditangkap akan seenak itu maka dia akan kembali lanjut memancing.


Setelah selesai menikmati makanan mereka, mereka berdua duduk di sebatang kayu besar yang menghadap ke arah danau untuk menikmati indahnya langit malam di mana bintang bertabur menghiasi langit malam.


Sebotol minuman berada di tangan, mereka menikmati pemandangan itu sambil meneguk minuman bahkan mereka bisa melihat cahaya aurora yang menari-nari di atas langit.


"Bagaimana?? Aku sudah menepati janjiku, bukan?" tanya Orland.


Cristin tampak takjub, ternyata Orland tidak berbohong. Hamparan bintang sudah begitu membuatnya senang tapi cahaya aurora yang muncul tanpa terduga, benar-benar luar biasa.


"Thanks, Orland. Aku tidak menyesal datang ke sini walau harus melewati beberapa hal yang memalukan dan bersama pria menyebalkan sepertimu!"


"Aku senang jika kau senang. Bagaimana jika kita kembali ke tempat ini lagi?"


"Untuk apa, Orland? Kau bisa mengajak yang lainnya selain aku!!"


"Tidak, Cristin. Aku hanya ingin mengajakmu saja, tidak yang lainnya!"

__ADS_1


"Kenapa? kenapa harus aku? Apa kau mendekati aku karena aku wanita yang sudah membayarmu dan melewatkan malam panas denganmu?" Cristin memandanginya dengan tajam.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Jawab saja, Orland!" pinta Cristin.


"Baiklah," Orland meneguk minumannya begitu juga dengan Cristin.


"Aku tidak bisa melupakan malam itu, Cristin. Walau kita tidak saling mengenal tapi kau satu-satunya orang yang peduli denganku. Aku sudah berjalan cukup jauh tapi tidak ada satu orang pun yang peduli selain dirimu. Aku mendekatimu tidak hanya malam panas yang telah kita lewati walau tidak dipungkiri aku tidak akan bisa melupakan hal itu tapi aku mencarimu dan mendekatimu karena kaulah penolongku dan bagiku kau adalah dewi Fortunaku."


"Kau sudah mengatakan hal ini beberapa kali," ucap Cristin.


"Cristin."


"Ya?" Cristin berpaling tapi tiba-tiba saja Orland mengecup bibirnya.


"Kau!" Cristin tampak kesal.


"Jangan marah, aku sangat ingin melakukannya," ucap Orland sambil tersenyum.


"Hng, selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan!" Cristin membuang wajah, kenapa dia tidak marah?


Pasti karena dia sedang mabuk, yeah, pasti karena hal itu.


"Awas jika kau melakukannya lagi!" ucap Cristin sambil menatap Orland dengan tatapan galak.


"Baiklah, lain kali aku akan minta ijin padamu terlebih dahulu dan jika kau mau kau bisa membalasnya."


"Enak saja!" Cristin meneguk minumannya setelah mengatakan hal itu.


"Hei, pelan-pelan!!"


Cristin beranjak dan melangkah menuju sisi danau, dia berdiri di sana dan berteriak, "Orland Dmytry pria paling menyebalkan!"


Orland terkekeh, dia juga beranjak dan mendekati Cristin. Seperti yang dilakukan oleh Cristin, Orland juga berteriak, "Cristin Bailey harus jadi istriku!" teriaknya tanpa ragu.


"Enak saja!" ucap Cristin sambil memukul bahu Orland.


"Siapa yang tahu, bukan?"


"Aku tidak sudi!" teriak Cristin lagi.


"Aku akan merebutnya dari suaminya yang bodoh dan baj*ngan itu!" kini giliran Orland.


"Dia hanya sampah!" Cristin tidak mau kalah.


"Dia hanya pria bodoh dengan bokong besar dan urat kecil!" teriak Orland pula.


"Hei, sejak kapan kau tahu bokong Johan begitu besar dan uratnya kecil?" tanya Cristin.


"Aku hanya asal bicara!"


"Sialan, aku kira kau tahu!" ucap Cristin dan setelah itu dia kembali berteriak.


"Kakinya pendek!"


"Bokongnya berbulu!" teriak Orland lalu di susul Cristin.

__ADS_1


"Dia hanya bisa bertahan lima detik saja!"


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, ternyata menyenangkan. Mereka kembali berteriak mengejek Johan. Tawa mereka kembali terdengar, rasanya sangat puas. Mereka bahkan kembali bersulang dan kembali duduk di depan api unggun. Walaupun Johan tidak mendengarnya tapi Cristin merasa puas karena dia bisa mengejek Johan sesuka hatinya dan tentunya dibantu oleh pria menyebalkan yang sedang bersama dengannya.


__ADS_2