Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Kau Tidak Akan Sendirian


__ADS_3

Mereka berdua menikmati makanan yang Cristin bawa. Tadinya Orland memang ingin mengajak Cristin makan siang berdua tapi tidak jadi karena saat itu mereka sedang menikmati makanan yang dibawa oleh Cristin. Selama makan, Cristin jadi teringat sesuatu, dia harap Orland punya waktu menemaninya besok.


"Orland," Cristin memanggilnya dan meletakkan tempat makan yang masih ada isinya.


"Ada apa? Tenang saja, makanan yang dibuat oleh ibumu enak," ucap Orland.


"Bukan itu tapi tunggu, dari mana kau tahu ini buatan ibuku?"


"Karena rasanya enak," jawab Orland sambil tersenyum.


"Apa? Jadi menurutmu makanan yang aku buat tidak enak!" Cristin menatapnya dengan tatapan galak.


Orland terkekeh dan menariknya mendekat, Cristin benar-benar bisa membuat suasana hatinya berubah dengan cepat. Sifat judesnya itu membuatnya ingin dekat-dekat dengannya. Sepertinya seleranya berubah total, padahal dulu dia suka yang lemah lembut tapi yang lemah lembut itu justru lari saat dia tidak memiliki apa pun.


"Sebenarnya makanan yang kau buat enak," ucap Orland.


"Tidak perlu memaksakan diri untuk memuji!" ucap Crisitn sambil mendengus.


"Aku serius, sangat enak jika dimakan dari mulutmu!" godanya.


"A-Apa?" Wajah Cristin memerah.


"Jadi sering-seringlah masak agar aku bisa makan melalui mulutmu," godanya lagi.


"Mesum!" Cristin memukuli dadanya dengan wajah tersipu. Orland terkekeh dan mendaratkan ciuman di dahi Cristin, rasanya ingin melewatkan lebih banyak waktu berdua dengan Cristin.


"Kapan kau akan menginap di rumahku. Cristin?" tanya Orland. Jujur dia sudah sangat mengharapkan hal ini.


"Setelah aku selesai berkonsultasi bersama Johan," Cristin mengambil tempat makannya kembali dan menikmati makanannya.


"Aku hampir melupakannya. Kapan  kalian akan berkonsultasi bersama?"


"Besok," jawab Cristin  santai.


"Besok?" Orland terkejut.


"Kenapa kau terkejut seperti itu?" Cristin menatapnya dengan heran.


"Kenapa kau baru mengatakan hal ini padaku, Cristin?" tanya Orland.

__ADS_1


"Aku datang memang ingin mengatakan hal ini padamu."


"Kau benar-benar?!" Orland mendorong tubuh Cristin, wanita itu berteriak karena terkejut. Matanya melotot menatap pria menyebalkan yang sudah berada di atas tubuhnya saat itu.


"Berat, minggir!" pinta Cristin dengan nada sinis.


"Tidak akan!" Orland memandangi wajahnya sambil tersenyum.


"Jangan bercanda. Orland. Bagaimana jika Gail tiba-tiba masuk dan melihat kita," Cristin menahan dada Orland dan melihat sekelilingnya.


"Tidak perlu khawatir, dia tidak akan masuk jika aku tidak memanggilnya."


"Sepertinya kau begitu mempercayainya?" Tangan Cristin sudah berpindah dan tidak berada di dada Orland lagi, dia membiarkan pria itu berada di atasnya dan tangannya sedang memainkan rambut tebal Orland.


"Yeah, hanya dia satu-satunya orang yang bisa aku percaya saat ini."


"Kenapa?"


"Kau jadi semakin ingin tahu, Nona," Orland mengusap wajahnya perlahan.


"Apakah tidak boleh? Terus terang saja, aku ingin mengenalmu lebih jauh!"


"Apa kau serius?" tanya Orland tidak percaya.


"Tentu tidak!" Orland berbaring di sisi Cristin. Tentu saja dia tidak keberatan, dia justru sangat senang jika Cristin ingin mengenalnya lebih jauh.


"Aku sangat senang kau ingin mengenal aku lebih jauh dan aku tidak akan melarangnya," ucap Orland seraya membelai rambut Cristin dan mencium dahinya.


"Jadi, kenapa kau hanya percaya dengan Gail? Apa ada kejadian khusus yang terjadi di antara kalian?"


"Ya, setelah aku mendapatkan uang satu juta dolar darimu, aku pergi ke kota lain untuk memulai hidup baruku di sana. Aku berjuang membangun usahaku dan tentunya tidaklah mudah. Aku jatuh berkali-kali tapi aku terus bertekad untuk bangkit. Suatu malam setelah aku pulang dari menemui seorang pengusaha yang tertarik bekerja sama denganku, tanpa sengaja aku bertemu dengan Gail," ucap Orland. Yeah, malam itu dia tidak akan melupakan pertemuan mereka.


"Lalu?" Cristin berbaring dengan nyaman di sisinya dan memeluknya.


"Aku sedang melintas di sebuah jalan tapi tiba-tiba saja Gail lewat. Aku hampir saja menabraknya. Tentu hal itu membuat aku keluar dari mobil tapi ketika aku melihatnya, dia sedang terluka parah. Aku tidak tahu apa yang terjadi yang pasti aku tidak tega dan lebih membawanya ke rumah sakit. Aku sudah lupa  dengan kejadian itu tapi tidak lama kemudian dia mendatangi aku dan berkata dia bersedia bekerja denganku sebagai balas budi karena aku telah menolongnya. Karena aku butuh asisten yang bisa aku percaya jadi aku mempekerjakan Gail."


"Kenapa dia terluka parah? Apa dia gangster?" tanya Crisitin.


"Entahlah, jika kau ingin tahu kau bisa bertanya padanya!"

__ADS_1


"Hei, jawaban macam apa itu?" Cristin memukul dadanya tapi entah kenapa dia merasa jika Gail memang mantan gangster.


Orland tertawa, tangannya sudah berada di wajah Cristin dan mengusapnya. Dia tidak peduli Gail mau mantan Gangster atau apa yang pasti, Gail tidak akan mengkhianati dirinya seperti asisten pribadi ayahnya dulu.


"Besok jam berapa kau akan pergi berkonsultasi, Cristin?"


"Jam sepuluh, kau jadi menemani aku, bukan?"


"Tentu saja," Orland memberikan kecupan di dahinya dan setelah itu dia beranjak, "Berbaringlah, ada hal penting yang ingin aku bahas dengan Gail," ucapnya.


"Jika begitu aku pulang saja,  aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu."


"Kau tidak mengganggu, Cristin. Berbaring saja, aku tidak akan lama."


Cristin mengangguk tapi dia lebih memilih duduk di atas sofa dan kembali menikmati salad buahnya yang belum habis. Lagi pula dia tidak melakukan apa pun dan ingin berada di sana lebih lama karena besok dia harus menjalani hari yang berat yaitu bertemu dengan Johan dan memulai proses perceraian mereka yang dia tahu tidak akan mudah.


Rasanya enggan, jika bisa memilih dia lebih suka tidak bertemu dengan Johan untuk selama-lamanya tapi jika dia ingin memulai kehidupan baru maka dia harus memutuskan hubungannya dengan pria itu.


Orland kembali tidak lama kemudian, Cristin tampak termenung dan hal itu membuatnya sangat heran. Entah apa yang sedang Cristin pikirkan tapi dia ingin Cristin tahu jika sudah ada dia yang akan selalu berada di sisinya sekarang. Orland melangkah mendekati Crisitn dan duduk di sisinya, Cristin memandanginya sejenak dan setelah itu Cristin menghela napasnya.


"Ada apa? Apa yang kau pikirkan?"


"Rasanya besok aku enggan pergi," ucap Cristin seraya bersandar di bahunya.


"Kenapa?"


"Aku malas bertemu dengan Johan, seharusnya kau tahu!"


"Tidak perlu khawatir, besok kau tidak akan sendirian. Jika dia berani melakukan sesuatu padamu maka aku akan melemparnya dengan sepatu!"


"Sepatu siapa?"


"Milikmu!" Jawab Orland.


"Enak saja!"


Orland terkekeh dan mengusap  kepalanya, ciuman lembut juga mendarat di dahi Cristin.


"Kau pasti bisa melewati hari esok dan percayalah, aku akan selalu ada untukmu."

__ADS_1


Cristin tersenyum dan memejamkan mata. Yeah, sudah ada Orland. Dia percaya pria itu akan selalu bersama dengannya sampai hubungannya dengan Johan berakhir.


Tangan Orland tidak henti membelai kepalanya, dia sudah memerintahkan Gail untuk mengikuti Johan besok setelah mereka selesai dan dia harap, Gail segera menemukan bukti sehingga proses perceraian Cristin dan Johan tidak memakan waktu yang lama. Bagaimanapun dia sudah sangat ingin Cristin menjadi kekasihnya.


__ADS_2