
Selama di perjalanan kembali, Cristin lebih memilih tidur. Dia kurang tidur karena mereka menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki proposal itu.
Dia rasa bosnya pasti bercanda. Orland juga aneh, jika proposal itu tidak memenuhi syarat, untuk apa dia merepotkan diri untuk memperbaikinya? Tidak mungkin seorang pemilik perusahaan terbesar seperti Orland mau turun tangan padahal banyak pembisnis lain yang lebih menguntungkan dari pada perusahaan bosnya. Entah kenapa dia jadi curiga, jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan mengenai proposal itu.
Orland meliriknya sesekali sambil tersenyum, walau enggan mengajak Cristin kembali tapi mereka akan bertemu lagi nantinya apalagi proposal belum selesai.
Agar tidak sepi, Orland memutar lagu. Lantunan musik merdu bisa membuat Cristin semakin tidur nyenyak, mungkin dengan begitu dia bisa menculik Cristin dan membawanya pulang dengan alasan Cristin tertidur.
"Apa masih jauh, Orland?" Cristin jadi terbangun karena musik yang berbunyi.
"Lumayan, tidurlah lagi."
"Dingin," ucap Cristin sambil menggosok telapak tangannya karena udara memang dingin.
Orland menghentikan mobil sejenak, dia ingin mengambilkan pakaian hangat di belakang mobil dan juga mengambilkan selimut untuk Cistin.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan baju hangat untukmu."
Orland turun dari mobil, sedangkan mata Cristin tidak lepas darinya. Kenapa Orland begitu perhatian? Padahal dia tidak perlu melakukan hal ini, dia bisa mencari wanita yang lebih baik darinya tanpa perlu bersusah payah membantunya bercerai dari Johan. Entah ke mana baj*ngan itu berada, semoga saja ayahnya segera menemukan Johan karena dia sudah sangat ingin memukul wajahnya.
Orland masuk ke dalam mobilnya sambil membawakan sebuah baju hangat juga selimut untuknya.
"Kemarilah, aku akan membantumu memakainya," ucap Orland.
"Aku bisa sendiri," tolak Cristin.
"Ayolah, biarkan aku melakukannya."
Cristin tidak membantah, dia membiarkan pria itu menggunakan pakaian hangat untuknya. Orland meraih kedua tangannya dan menggenggamnya.
"Kedua tanganmu dingin," ucapnya sambil menghagatkan tangan Cristin.
"Jika aku tahu cuaca akan begitu dingin aku pasti sudah membawakan baju hangat untukmu."
"Thanks, aku tidak apa-apa," Cristin tersenyum, dia tidak bisa menolak perhatian yang pria itu berikan.
"Baiklah, tidurlah lagi. Aku akan membangunkanmu saat kita sudah tiba."
Cristin mengangguk tapi dia tidak bisa tidur lagi, matanya menerawang jauh, begitu juga dengan pikirannya. Entah apa yang dia pikirkan, dia sendiri tidak tahu.
__ADS_1
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Orland," ucap Cristin, matanya masih tidak lepas memandangi hutan yang mereka lalui.
"Pertanyaan yang mana?" Orland meliriknya sejenak tapi kemudian dia melihat jalanan kembali.
"Tentang pacar, apa kau tidak punya pacar sebelum kau ditipu oleh pamanmu dulu?" kini Cristin memandanginya dengan ekspresi ingin tahu.
"Tentu saja punya," jawab Orland, dia tidak akan menyembunyikan apa pun pada Cristin.
"Lalu di mana pacarmu sekarang, apa sudah putus?"
"Begitulah, Cristin. Seperti yang kau tahu, semua menjauh setelah aku hancur begitu juga dengan kekasihku. Dia hilang entah ke mana tapi aku tidak peduli, ternyata dia tidak beda jauh dengan yang lainnya dan aku sangat bersyukur mengetahui siapa dirinya dengan cepat."
"Bagaimana jika suatu saat kekasihmu kebali, Orland. Apa kau akan kembali dengannya lagi?"
"Hei, kenapa bertanya demikian? Apakah aku boleh mengartikan jika kau takut aku kembali dengannya?"
"Tidak," Cristin membuang wajah, "Aku hanya ingin tahu saja," Ucapnya lagi.
Orland tersenyum, padahal dia sangat berharap demikian tapi dia juga ingin tahu apakah Cristin akan termakan bujuk rayu suaminya atau tidak nanti.
"Aku juga punya satu pertanyaan untukmu, Cristin," ucapnya.
"Aku ingin tahu, apa kau akan termakan buju rayuk suamimu nanti?" Orland memandainya saat bertanya demikian.
Cristin berpaling, menatap Orland dengan tatapan heran. Kenapa pria itu menanyakan hal demikian?
"Kenapa kau diam, Cristin?"
"Apa kau menganggap aku bodoh, Orland?" Cristin balik bertanya.
"Bukan begitu, aku hanya ingin tahu. Bukankah kau berkata jika kau sangat mencintainya? Tidak menutup kemugkinan kau akan termakan bujuk rayunya karena rasa cinta yang ada di hatimu! kau tahu maksudku, bukan?"
Crstin menghela napas, dia tahu apa yang Orland maksud. Jika dia tidak melihat apa yang Johan lakukan dan mendengar apa yang Johan katakan di malam pernikahan mereka, dia pasti akan termakan bujuk rayu Johan dengan mudah tapi rasa sakit yang dia rasakan pada malam itu tidak akan pernah dia lupakan.
"Jangan salah paham akan perkataanku, Orland. Aku memang sangat mencintainya tapi itu dulu. Rasa cintaku untuknya sudah mati ketika aku melihat perbuatan bejatnya di malam pernikahan kami. Rasa sakit yang aku rasakan tidak akan aku lupakan dan aku, bukan wanita bodoh yang akan termakan bujuk rayu oleh baj*ngan yang sama. Kau boleh mengatai aku bodoh tapi itu untuk aku yang lama tapi aku yang sekarang, pengkhianatan yang Johan lakukan sudah cukup membuka mataku!" ucap Cristin.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu marah. Aku hanya khawatirr saja karena yang aku tahu, biasanya wanita akan memaafkan dengan mudah hanya karena bujuk rayu padahal dia sudah disakiti sedemikian rupa."
"Jika begitu jangan masukkan aku ke dalam daftar wanita seperti itu. Lagi pula aku sudah bertekad ingin bercerai, maka aku akan bercerai. Sekalipun dia membawa bongkahan emas atau berlian, aku tidak akan kembali dengannya. Sekalipun dia membuat kata-kata paling manis untuk membujuk aku, aku tidak akan tergoda!"
__ADS_1
Orland tersenyum, dia tahu Cristin pasti menjawab demikian dan dia sangat senang mendengar hal itu secara langsung dari mulut Cristin dan sekarang, dia semakin yakin jika pintu untuk mendapatkan Cristin semakin terbuka lebar.
"See, kita memiliki banyak kemiripan dan kita memang jodoh yang terlambat bertemu!" ucap Orland.
"Jangan bicara sembarangan, aku belum jadi milikmu jadi jangan terlalu percaya diri!" ucap Cristin dengan wajah merona.
"Kau pasti akan menjadi milikku, Cristin. Aku pastikan itu karena aku tidak akan menyerah sekalipun suamimu sudah kembali."
"Apa maksudmu?" Cristin memandanginya dengan serius.
"Johan sudah kembali, Cristin. Gail yang mengatakannya padaku."
Cristin terkejut, jadi Johan sudah kembali? Itu bagus, dia sudah menunggu pria itu agar bisa lepas darinya.
"Akhirnya baj*ngan itu kembali juga," Cristin menekuk kepalan tangannya.
"Kau terlihat begitu bersemangat."
"Tentu saja, tanganku sudah gatal untuk menghajarnya. Sepertinya aku harus latihan boxing agar aku bisa memukulnya sampai puas!"
"Ide bagus, bagaimana jika kita belajar bersama?" tanya Orland.
"Enak saja, siapa yang mau belajar bersama pria menyebalkan seperti dirimu?" tolak Cristin.
"Sudah diputuskan, Nona. Kita akan berlajar bersama dan nanti, kita bisa menghajarnya secara bersama-sama."
"Sudah aku katakan, aku tidak mau belajar dengan pria menyebalkan seperti dirimu!" Cristin mengulangi ucapannya sambil memandangi Orland dengan tatapan galak.
"Percayalah, Cristin. Pria menyebalkan ini akan menjadi suamimu kelak!!"
"Jangan terlalu percaya diri. Sini bibirmu, aku sangat ingin mencubitnya!" Cristin tampak kesal.
"Aku lebih suka kau menciumnya, Cristin," goda Orland.
Cristin tampak dongkol, matanya masih tidak lepas dari Orland. Orland tersenyum tapi tidak lama kemudian, teriakannya terdengar karena Cristin menggigit tangannya.
Gigitan Cristin tidak juga lepas, dia mengigit pria itu sampai dia puas. Orland mengusap lengannya, risiko mengejar wanita galak tapi dia suka. Sepertinya dia harus mulai membiasakan diri karena Cristin bisa menggigitnya kapan saja dan dia berharap Cristin menggigit daerah yang lain nanti.
Cristin mengangkat dagu, puas. Rasakan, mulai sekarang dia akan terus menggigit Orland jika pria itu berani menggodanya tapi sesungguhnya dia tidak pernah melakukan hal itu kepada Johan. Aneh, kenapa dia mau menggigit Orland? Sepertinya ada yang salah pada dirinya.
__ADS_1