
Orland dan Cristin berada di mobil, obat merah dan obat oles untuk luka sudah didapatkan. Cristin sedang membersihkan luka yang terdapat di buku-buku tangan Orland, jangan sampai infeksi. Walau dia senang Orland membelanya tapi terus terang dia tidak senang Orland berkelahi seperti itu karena dirinya.
Cristin diam saja sedari tadi, wajahnya tampak cemberut dan tatapan matanya juga terlihat galak. Dia bahkan sengaja menekan-tekan luka yang ada di tangan Orland.
"Hei, jangan kencang-kencang!" pinta Orland.
"Aku tidak suka kau berkelahi!" ucap Cristin.
"Dia yang mulai terlebih dahulu, Sayang. Aku tidak mungkin diam saja membiarkan dia memukul aku, bukan?"
"Tapi lihat tanganmu ini?" Cristin memberikan obat di setiap luka yang terdapat di tangan Orland.
"Hanya luka ringan saja, tidak perlu khawatir. Jika dia tidak menendang aku tadi maka aku akan diam karena aku bukan orang yang suka mencari keributan tapi dia tidak juga berhenti. Aku rasa beberapa pukulan memang pantas dia dapatkan!"
"Tapi bagaimana jika persoalan ini jadi panjang, Orland? Aku tidak suka kau terlibat masalah karena membela aku."
"Cristin, aku pacarmu. Sudah kewajibanku menjaga dirimu. Ini hanya luka ringan saja, sebagai laki-laki aku tidak mempermasalahkan luka ringan seperti ini dan aku tidak takut dengannya. Jika dia berani, dia bisa mendatangi aku. Lagi pula dia yang memulai hal ini terlebih dahulu jadi kau tidak perlu khawatir."
"Thanks, Orland. Aku bersyukur kau berada di sana bersama denganku."
"Hei, sudah aku katakan itu kewajibanku."
"Baiklah, bagaimana dengan perutmu?"
"Oh, sepertinya dia menendang ususku," ucap Orland seraya memegangi perutnya.
"Jika perutmu sakit sebaiknya kita kerumah sakit, Orland," Cristin jadi terlihat khawatir.
"Tidak perlu, Sayang. Aku rasa cukup kau belai setiap malam maka sakitnya akan sembuh!"
__ADS_1
"Mesum!" Cristin memukul bahunya. Orland meraih tangan Cristin dan menariknya mendekat.
"Sudah ada aku sekarang, kau tidak perlu khawatir lagi. Aku akan menjagamu darinya. Aku akan memerintahkan seseorang mengikutinya sampai proses perceraian kalian selesai. Kau juga jangan pergi sendirian, ajak aku jika kau ingin pergi. Kau mengerti, bukan?"
"Tentu, tapi aku tidak mau mengajakmu jika ke kamar mandi!" ucap Cristin.
Orland terkekeh dan mencium pipinya, "Aku akan sangat senang jika kau mengajakku," godanya.
"Ck, mesum!" Cristin tersenyum. Dia benar-benar bahagia ada pria itu.
"Ayo kita makan, sepertinya tenagaku jadi terkuras gara-gara memukul wajahnya yang keras!" ucap Orland.
"Sepertinya kau perlu sarung tangan Thanos saat ingin memukulnya lagi."
"Kau benar, aku memang membutuhkan benda keras agar tanganku tidak sakit!"
Cristin tertawa begitu juga dengan Orland. Mereka berdua benar-benar puas hari ini. Pelajaran yang didapatkan oleh Johan sudah cukup mengobati kekesalan di hati. Mereka memang puas tapi tidak dengan Johan. Dia kembali ke rumah dengan kemarahan di hati dan juga wajah yang babak belur.
"Ada apa, Johan? Kenapa wajahmu babak belur begitu?" kotak p3k sudah berada di tangan, Lauren duduk di sisi kekasihnya.
"Tidak ada apa-apa!" Johan enggan mengatakannya.
"Tidak perlu menyembunyikan apa pun, Johan. Apa kau adu tenaga dengan Cristin?"
"Tidak, semua ini gara-gara kekasihnya!"
"Cristin sudah punya pacar?" Luaren sedikit terkejut akan hal ini.
"Yeah, sesungguhnya malam itu dia juga tidur dengan seorang pria untuk membalas perbuatanku dan ternyata, dia juga menjalin hubungan dengan pria itu sama seperti kita!" Jika mengingat kebersamaan Cristin dengan pria yang dia panggil Orland itu rasanya jadi kesal.
__ADS_1
"Sial, lalu bagaimana hasil mediasi kalian? Apa kau dan Cristin akan segera menjalani ujian pra nikah?" tanya Lauren. Dia sudah tidak sabar tahu akan hal ini. Yang lain tidak penting. Sangat bagus jika Cristin sudah memiliki kekasih. Dengan begitu wanita itu tidak akan merebut Johan darinya.
Johan menghela napas, matanya tidak lepas dari Lauren. Lauren memandanginya dengan tatapan heran, dia sedang mengobati luka yang terdapat di pinggir bibir Johan saat itu.
"Kenapa kau diam, Johan? Bagaimana hasil mediasi yangg kalian lakukan?" tanya Lauren lagi.
"Sorry, sayang. Aku gagal!"
"Apa? Kenapa bisa?" Lauren terdengar tidak percaya.
"Semua gara-gara kekasih Cristin. Sepertinya dia mengutus mata-mata untuk mengikuti kita. Foto kebersamaan kita saat kau datang menjadi barang bukti perselingkuhan kita sehingga ujian pra nikah yang harus kami jalani jadi batal. Sekarang aku harus menerima kenyataan jika kami akan segera bercerai!"
"Apa?" Lauren terkejut dan terlihat shock. Bagaimana mungkin kebersamaan mereka saat dia datang bisa jadi barang bukti. Apa ada orang yang mengikutinya. Tanpa dia sadari dia sudah menggagalkan rencana mereka dua kali.
"Bagaimana bisa, Johan? Apa ada yang mengikuti aku? Tapi ini pertama kalinya aku kembali setelah sekian lama!" ucap Lauren tidak percaya.
"Aku juga tidak tahu, Lauren. Tapi aku rasa bukan kau yang diikuti, sepertinya sejak awal aku yang diikuti dan ketika kau datang, ini menjadi kesempatan mereka untuk mendapatkan bukti!" seharusnya dia waspada ketika Cristin berkata akan mendapatkan bukti tapi siapa yang akan menduga apalagi Lauren datang secara tiba-tiba.
"Sial!" umpat Lauren kesal. Lagi-Lagi dia mengacaukannya dan ini bukan yang pertama kali. Seharusnya dia tidak kembali begitu cepat, dia jadi menyesali keputusannya.
"Lalu bagaimana? Bagaimana kita bisa mendapatkan ginjal?" Johan menutup mulut Lauren dengan cepat sebelum Lauren menyelesaikan perkataannya.
"Jangan asal bicara, Sayang," ucapnya sambil berbisik, "Aku khawatir ada mata-mata lainnya jadi mulai sekarang kita harus berhati-hati dalam berbicara. Mereka memiliki kekuasaan dan uang jadi tidak ada yang mustahil bagi mereka!"
Lauren menganggguk dan mengumpat dalam hati, banyak uang memang bisa melakukan apa saja. Rasa penyesalan kembali memenuhi hati, seharusnya dia tidak kembali terlalu cepat. Dia benar-benar sudah mengacaukan rencan Johan.
"Sekarang bagaimana denganku?" Lauren bertanya sambil berbisik. Johan dan Cristin sudah tidak mungkin tinggal bersama lalu bagaimana dengan dirinya sekarang? Bagaimana dengan ginjal yang dia inginkan. Air mata Lauren kembali mengalir, dia tidak ingin mati. Benar-Benar tidak ingin mati.
"Tidak perlu khawatir," Johan memeluk Lauren. Tidak tinggal bersama bukan berat dia tidak bisa mendapatkan ginjal Cristin untuk Lauran. Masih banyak cara yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan ginjal Cristin. Seperti menculik atau memancingnya ke tempat sepi, semua akan dia lakukan untuk menyelamatkan hidup Lauren.
__ADS_1
"Tidak tinggal bersama bukan berarti kita tidak memiliki kesempatan. Kita hanya kehilangann satu kesempatan tapi kita masih memiliki kesempatan lain untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kau tidak perlu khawatir karena aku memiiliki banyak cara. Aku telah bersumpah padamu untuk menyelamatkan hidupmu jadi kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan mendapatkannya!!"
Lauren mengangguk, dia memang harus percaya dengan Johan. Walau harus mengulur sedikit waktu tapi dia yakin Johan pasti akan berhasil. Dia harap tidak lama karena dia rasa dia sudah tidak bisa bertahan untuk waktu yang lebih lama lagi.