
Para petugas bekerja keras untuk mencari keberadaan Cristin dan juga putri bungsu Edrick. Cctv yang ada di setiap sudut ruangan ditelusuri, mereka pasti bisa menemukan di mana Cristin dan keponakannya dibawa. Mereka juga mencari dalang dari penculikan itu, sang agen curiga jika orang yang melakukan hal itu adalah orang yang selama ini menjadi buronannya.
Gail hanya melihat, bukannya tidak mau membantu. Dia memang memiliki senjata api namun dia tidak memiliki pasukan untuk melakukan misi penyelamatan itu. Lain cerita jika dia masih bekerja seperti dulu, dia bisa menggerakkan pasukan yang dimiliki oleh bosnya dengan mudah.
Dia juga tidak bisa kembali dan meminta bantuan mantan bosnya, tidak ada mafia yang mau terlibat dengan permasalahan orang lain kecuali permasalahan teman dekat, sedangkan dirinya? Dia sudah lama mengundurkan diri jadi tidak mungkin dia bisa meminta bantuan mantan bosnya.
Sekarang mereka hanya bisa mengandalkan petugas kepolisian, mungkin dia bisa bergabung dengan mereka nantinya. Lagi pula agen wanita yang baru saja menjinakkan bom itu terlihat terlatih dan sang agen itulah yang sedang mencari keberadaan Cristin saat ini.
Keluarga Cristin semakin cemas, begitu juga dengan Orland. Dia semakin curiga jika Johan yang melakukannya namun dia tidak menduga Johan mengincar Cristin di saat acara pesta sedang berlangsung. Dia jadi ingin tahu, apa Johan menculik Cristin karena uang? Tidak, jika uang yang diinginkan oleh Johan dia pasti sudah meminta tebusan saat ini.
Orland terlihat berpikir dengan keras, firasatnya buruk. Apa ada maksud terselubung sehingga Johan tidak melepaskan Cristin? Selain uang, apakah ada hal lain yang diinginkan oleh Johan? Sekarang mereka hanya bisa menunggu para petugas itu menemukan keberadaan Cristin dan dia harap tidak terlambat.
Saat itu, Cristin hanya bisa mengikuti orang-orang yang membawanya dalam diam. Dia harap bisa segera bertemu dengan putri kakaknya. Dia juga berharap keponakannya baik-baik saja.
Dia tidak tahu akan dibawa ke mana, tapi sebuah rumah kosong yang ada jauh dari kota dan yang ada di tengah hutan menjadi tujuan. Johan sudah menunggu di sana, bersama dengan Dean. Johan bahkan sudah membawa mayat Lauren dan meletakkannya di dalam sebuah ruangan. Dokter bedah yang dia bayar mahal pun sudah menunggu, ginjal Cristin akan diambil setelah Cristin tiba. Tempat itu sengaja dipilih agar tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan pada Cristin malam ini.
Johan tidak peduli Lauren sudah tidak bisa hidup lagi walau dia mendapatkan ginjal Cristin karena yang dia inginkan adalah membuat Cristin menderita. Setelah mendapatkan ginjalnya, antara menjual Cristin ke tempat pelacuran atau mengambil Organ lainnya untuk dijual menjadi pertimbangan tapi dia lebih senang melihat Cristin hidup dalam penderitaan. Membutakan kedua mata Cristin lalu menjualnya ke tempat pelacuran menjadi pilihan. Jika Lauren tidak mati, mungkin dia hanya akan mengambil ginjalnya saja tapi sekarang, Cristin harus hidup dalam penderitaan seperti yang Lauran rasakan.
Putri Edrick sudah berada di tempat itu, dia menangis sambil memanggil ibunya. Dia sudah tersadar dari obat bius dan hanya bisa menangis apalagi dia diancam akan dibunuh. Untuk anak usia empat tahun tentu saja ancaman itu membuatnya sangat takut. Karena dia terus menangis dengan keras, gadis itu diikat di kursi dengan mulut ditutupi lakban. Gadis itu akan menjadi kelemahan Cristin nantinya.
Mobil yang membawa Cristin berhenti, dia ditarik dengan paksa untuk turun dari mobil. Cristin sangat kesal, rasanya ingin memaki dan menendang mereka namun dia berusaha menahan diri.
"Di mana keponakanku?" tanya Cristin pada dua orang pria yang menariknya menuju bangunan yang ada di tengah hutan.
"Jangan banyak bertanya, ikut saja!" Cristin kembali ditarik dengan paksa.
Cristin hanya bisa memendam kemarahan di hati. Dia harap Orland dan kakaknya segera menemukan keberadaannya karena dia punya firasat buruk.
__ADS_1
"Bos, kami sudah membawanya," ucap satu orang yang menarik Cristin sedari tadi.
Cristin diam, matanya tidak lepas dari pria yang sedang duduk membelakangi dirinya sedari tadi. Entah kenapa samar-samar dia curiga dengan orang itu, dia sangat yakin jika dia mengenalnya.
"Well... Well, akhirnya kau datang juga," ucap Johan seraya beranjak.
Mata Cristin melotot, "Johan," nama sang mantan pun terucap di bibir.
"Ternyata kau tahu rupanya," Johan berbalik dan melangkah mendekatinya dengan seringai lebar.
"Kenapa aku tidak terkejut sama sekali?" Cristin menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Bagus jika kau tidak terkejut!" Johan berdiri di hadapannya dan mencengkeram wajah Cristin dengan kencang.
"Mana keponakanku?" tanya Cristin.
"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu berteriak!" Johan semakin mencengkeram wajah Crisitn sampai membuat Cristin meringis kesakitan.
"Lepaskan keponakanku, dia tidak ada hubungannya dengan permasalahan kita," ucap Cristin sambil menangis. Apa pun tujuan Johan dia harap putri kakaknya bisa diselamatkan terlebih dahulu.
"Tentu saja ada, dia bisa aku jual ke pelacuran bersama denganmu sehingga keluargamu menderita."
"Johan!" Cristin berteriak marah.
"Untuk apa kau melakukan hal ini? Katakan apa yang kau inginkan, apa kau mau uang? Katakan berapa yang kau mau? Akan aku berikan padamu asal kau melepaskan keponakanku!"
__ADS_1
"Jangan menghina aku, Cristin!" teriak Johan seraya menampar wajahnya dengan keras.
Teriakan Cristin terdengar, begitu juga dengan tangisannya. Darah bahkan mengalir dari bibir akibat kerasnya pukulan yang Johan berikan.
"Dulu aku memang ingin uangmu tapi sekarang sudah tidak!" ucap Johan.
"Jika begitu apa yang kau inginkan? Apa pun yang kau mau akan aku berikan asal kau melepaskan putri kakakku!" ucap Cristin.
Johan tertawa dengan keras mendengar perkataan Cristin, apa Cristin serius dengan apa yang dia ucapkan? Tapi mau serius atau tidak yang pasti dia akan tetap mengambil ginjal Cristin untuk Lauren.
"Apa kau tahu apa yang aku inginkan, Cristin?" Johan melangkah mendekati Cristin dan melihatnya dari atas sampai ke bawah. Dia juga memainkan rambut Cristin dan menciumnya, "Asal kau tahu, aku mendekati dirimu tidak saja karena uang tapi aku mendekatimu karena aku menginginkan ginjalmu," ucapnya lagi.
"Apa?" Cristin terkejut mendengarnya.
"Aku memanfaatkan uang yang kau berikan untuk pengobatan Lauren tapi siapa yang menduga jika ginjal yang kau miliki bisa digunakan oleh Lauren? Jika malam itu kau tidak memergoki aku, aku pasti sudah mendapatkan ginjalmu tapi kau malah pergi, kau juga mengajukan perceraian bahkan menolak ujian pra nikah yang aku inginkan."
"Jadi kau tidak saja menginginkan uangku tapi kau juga menginginkan ginjalku?" teriak Cristin marah. Dia sungguh sudah ditipu mentah-mentah oleh Johan.
"Ya, seharusnya aku mengambil ginjalmu dengan cepat agar Lauren tidak meninggalkan aku dan sekarang kau harus membayar semuanya!" teriak Johan pula.
"Jangan gila, aku tidak ada hubungannya dengan penyakit kekasihmu itu dan aku tidak berkewajiban untuk memberikan ginjalku padanya!"
"Sudah aku duga kau tidak mau memberikannya tapi hari ini kau tidak bisa menolak dan ginjal milikmu akan menjadi milik Lauren."
"Kau gila, Johan. Jangan lakukan hal ini padaku!" teriak Cristin sambil memberontak.
"Bawa dia, segera siapkan operasi!" perintah Johan.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Johan. Aku akan mencarikan ginjal yang bisa kekasihmu gunakan dan aku akan menanggung semua biayanya jadi jangan lakukan hal ini!" teriak Cristin tanpa tahu jika Lauren sudah mati.
Johan tidak menjawab, sudah terlambat. Cristin terus ditarik paksa menuju ruangan di mana ginjalnya akan diambil di sana. Cristin ketakutan setengah mati, dia sangat berharap Orland segera datang menolongnya dan membawanya pergi dari sana.