Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Serangga Nakal Dan Mesum


__ADS_3

Orland masih menunggu karena Cristin belum juga mengatakan apa pun. Dia harus bersabar untuk hal ini, dia rasa Cristin tidak mau dia tahu dan memang itulah yang terjadi. Cristin masih diam,  dia tidak tahu harus dari mana memulai apalagi dia tidak mau ada yang tahu jika dia hanya diperalat oleh Johan selama ini.


Suara binatang malam menemani malam mereka yang sunyi. Cristin menghela napas, sepertinya dia tidak bisa menghindari rasa ingin tahu Orland terlalu lama.


"Kenapa kau diam?" Orland menatapnya heran.


"Entahlah, aku tidak tahu harus memulai dari mana," ucap Cristin.


"Rileks, Cristin. Cukup katakan padaku kenapa kau ada di stasiun pada malam itu."


"Aku berada di sana karena aku putus asa," jawab Cristin, napas berat kembali dihembuskan. Sungguh kenangan buruk yang ingin dia lupakan.


"Kenapa kau putus asa. Pasti ada alasannya, bukan?"


"Malam itu malam pernikahanku, Orland."


"Serius?" Orland tampak terkejut. Jadi itu malam pernikahan Cristin? Terjawab sudah kenapa Cristin masih perawan saat dia menyetubuhinya.


"Ya, itu malam pernikahanku dengan Johan. Seperti pengantin lainnya, itu malam yang aku nantikan. Aku berusaha menjaga diri agar tidak melakukan hal itu dengan Johan saat kami berpacaran, aku ingin malam pernikahanku berkesan nantinya walau dia tidak setuju tapi aku berhasil menjaga kehormatanku. Aku berpikir akan melewati malam bernikahan kami yang indah dan penuh bergairah, aku bahkan sudah menyiapkan hadiah untuknya tapi apa yang terjadi?" Cristin tersenyum pahit, perkataan Johan pada malam itu kembali teringat dan tentunya rasa sakit kembali memenuhi hati.


Orland beranjak, mendekatinya dan duduk di sisinya. Sepertinya Cristin melewati malam pernikannya dengan tidak menyenangkan.


"Apa yang terjadi, Cristin? Apa dia memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kau sukai?"


"Tidak, jika dia melakukan hal itu mungkin aku tidak akan begitu kecewa dan sakit hati. Aku bahkan merasa lebih baik dia memaksa aku melakukan hal yang tidak aku suka dari pada ucapannya yang menyakiti perasaanku dan apa yang aku lihat!"


"Kau, melihat apa?" ekspresi Orland terlihat serius. Matanya tidak lepas dari Cristin yang saat itu kembali tersenyum pahit.


"Apa yang paling buruk selain melihat suami sendiri bercinta dengan wanita lain lalu mendengarnya berkata jika dia menikahi aku hanya karena uang?!" ucap Cristin tanpa ragu.


Orland terkejut, jadi itu yang sedang dialami oleh Cristin pada malam itu? Sekarang terjawab sudah kenapa Cristin membayarnya untuk menjadi pemuas na*su dan kenapa Cristin memintanya untuk tidak berhenti saat suaminya memergoki perbuatan mereka.


"Sekarang kau sudah tahu, kau boleh menertawakan wanita kaya yang bodoh ini seperti Johan yang tidak mau menceraikan aku bahkan dia menghilang entah ke mana!" ucap Cristin sinis, dia kembali membentingi hatinya menjadi Cristin yang sekeras batu dan tidak mudah tersentuh.


"Tidak!" Orland memeluknya dari samping dan tentunya hal itu membuat Cristin terkejut.


"Lepaskan aku, Orland!"


"Biarkan aku menghiburmu, Cristin. Kau juga boleh menangis jika kau mau."


"Siapa yang mau menangis?"


Orland tersenyum sambil mengusap punggung Cristin dengan lembut. Dia tidak menyangka Cristin mendapati pengkhianatan di malam pernikahan yang sangat dia nantikan. Pasti rasanya sangat menyakitkan tapi dengan begitu, berarti dia punya kesempatan, bukan?


"Dia hanya pria bodoh yang menyia-nyiakan cinta tulusmu, Cristin. Walau kau mendapatkan pengkhianatan seperti itu tapi percayalah, tidak semua pria baji*ngan seperti suamimu."


"Bagiku kalian sama saja, lepas!" pinta Cristin seraya mendorong tubuh Orland.


"Hei, tidak semua pria seperti itu. Apa kau juga menganggap aku baj*ngan seperti suamimu?"


"Entahlah," jawab Cristin malas.


"Apa kau mau mencobanya?" tanya Orland sambil tersenyum.


"Tidak berminat!" Cristin beranjak, sial. terlalu banyak minum membuatnya ingin buang air kecil.

__ADS_1


"Apa kau sudah mau tidur? Tendaku terbuka lebar untukmu," Orland juga beranjak dan sengaja melangkah menuju tendanya.


"Siapa yang mau tidur denganmu!" Cristin mengangkat dagunya dan masih dengan egonya.


"Baiklah, selamat malam Cristin. Semoga tidak ada binatang buas dan?" Orland berpaling dan tersenyum.


"D-Dan apa?" Cristin melihat hutan yang gelap sambil mengusap lengan.


"Terkadang di hutan ada makhluk halus," Orland mulai menakuti.


"Ja-Jangan menipu. Aku tidak percaya dengan hal seperti itu."


"Bagus jika begitu, good night Cristin," Orland kembali melangkah menuju tenda.


Cristin menelan ludah, hutan gelap dan sunyi membuatnya merinding. Apa benar ada hantu? Suara burung hantu membuatnya takut, sial. Pria itu benar-benar menyebalkan. Cristin segera berlari dan menerobos masuk saat Orland membuka tenda. Orland terkejut tapi kemudian senyum menghiasi wajah saat melihat Cristin ketakutan di dalam tenda.


"Tidak jadi tidur di luar?" godanya.


"Ka-Kau menyebalkan!" Cristin tampak cemberut.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan melakukan apa pun," Tenda ditutup, Orland  duduk di samping Cristin sambil merapikan tempat untuk mereka tidur.


"O-Orland," Cristin meraih ujung baju pria itu dengan wajah memerah.


"Tidak perlu takut, aku hanya bercanda saja," ucap Orland.


"Bukan begitu," Wajah Cristin semakin memerah.


"Lalu?" Orland semakin heran apalagi wajah Cristin yang memerah.


"Ada apa? Kau sakit?"


"Bukan, oh my God. Aku ingin buang air kecil jadi temani aku!" teriak Cristin kesal.


"Wah, kau yakin ingin aku temani?" goda Orland.


"Orland!" teriak Cristin karena dia sudah tidak tahan.


"Oke .. oke, aku akan temani."


Cristin segera mengambil perlengkapannya dan setelah itu mereka keluar dari tenda. Cristin berjalan di belakang Orland dan tampak was-was. Semua gara-gara pria itu yang menakutinya. Orland membawanya menuju sebuah pohon besar yang lumayan jauh dari tenda, Cristin tampak ragu, hilang sudah image wanita terhormatnya.


"Di sini?" tanya Cristin memastikan.


"Yes," jawab Orland sambil tersenyum.


"Jangan mengintip!"


"Tidak akan," Orland berbalik, membelakangi Cristin.


"Jangan tinggalkan aku," ucap Cristin lagi karena dia takut.


"Tenang saja," Orland mengintip dari balik bahu. Dia ingin melihat apa yang Cristin lakukan.


Cristin menyemprot tanah yang ada di sekelilingnya dengan obat semprot yang dia bawa. Dia melakukan hal itu karena takut serangga dan ular. Sebotol air juga dia bawa, sesungguhnya dia tidak mau seperti itu tapi dia sudah tidak tahan.

__ADS_1


"Awas jika kau mengintip!" ancam Cristin lagi.


"Tidak, aku tidak akan mengintip,' ucap Orland, Dia pura-pura melihat ke depan tapi ketika Cristin menurunkan celananya, dia kembali mengintip dan melihat bokong mulus Cristin karena saat itu mereka saling membelakangi. Ini benar-benar jackpot, dia tidak menyangka akan melihatnya.


Cristin melakukannya dengan cepat, air yang dia bawa juga dia gunakan. Jujur dia jijik tapi apa boleh buat. Sepertinya dia harus membiasakan diri untuk melakukan hal itu karena ini malam pertama mereka camping.


"Sudah belum?" tanya Orland.


"Hm," jawab Cristin sambil berdehem.


"Jika begitu ayo kita kembali."


"Kau bilang akan mengajakku melihat langit malam yang indah."


"Ya, tapi sayangnya cuaca tidak bagus. Besok mungkin aku bisa mengajakmu melihat bintang," Orland meraih tangannya dan membawa Cristin kembali ke tenda.


"Aku tidak mau berlama-lama di sini!" ucap Cristin, sungguh dia tidak tahan.


"Besok aku akan membawamu ke tempat lain."


"Janji?"


"Tentu jika kau mau tidur di dalam pelukanku malam ini."


"Ck, selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan!"


Orland tekekeh, Cristin masuk ke dalam tenda dengan terburu-buru. Lotion anti serangga dia gunakan sebelum tidur. Jangan sampai ketika dia bangun dia sudah di kelilingi oleh para serangga yang menjijikkan.


"Come on, Cristin," Orland menepuk tempat di bagian sisinya, "Aku akan menghangatkan dirimu malam ini," godanya.


"Mesum!" Cristin melotot dengan ekspresi wajah galak.


Orland terkekeh, Cristin membaringkan diri tapi dia terkejut saat Orland memeluknya dari belakang.


"Orland!"


"Aku hanya ingin memelukmu saja," Orland mendaratkan ciumannya di tengkuk Cristin.


"Ja-Jangan sembarangan cium!" protes Cristin.


"Jadi?" Orland membalikkan tubuh Cristin hingga mereka berdua saling berhadapan.


"Bolehkah aku mencium bibirmu, Cristin?" tanyanya seraya mengusap bibir Cristin dengan jempolnya.


"Tidak" Cristin hendak berbalik tapi Orland menahannya.


"Baiklah, tapi aku rasa kau tidak akan marah jika aku mencium dahimu," sebelum Cristin menjawab, sebuah ciuman sudah mendarat di dahinya.


"Good night, Cristin."


Cristin tidak menjawab, dia diam saja. Tidak perlu banyak berpikir, itu hanya sebuah ciuman di dahi. Cristin memejamkan mata, sebaiknya dia tidur apalagi tubuh pria itu hangat. Orland tersenyum dan sangat senang, sebuah ciuman kembali mendarat di dahi Cristin tapi tiba-tiba saja, PLAAAKKKK! sebuah tamparan mendarat di pipinya.


"Sialan, serangga nakal dan mesum. Sekali lagi aku akan menyemprotmu sampai mati!" ucap Cristin tapi matanya masih terpejam.


Orland terkekeh, malam ini dahi dan besok, dia harus mendapatkan bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2