Pesona Pria Satu Juta Dolar

Pesona Pria Satu Juta Dolar
Sumpah Orland


__ADS_3

Cristin sedang mewarnai kukunya saat itu, tidak ada yang dia lakukan jadi dia memperbaiki pewarna kukunya yang sudah pudar.


Rasanya enggan beranjak tapi suara ponsel yang berbunyi mengalihkan perhatiannya. Cristin mengambil ponselnya, nama bosnya tertera di sana. Bosnya pasti ingin tahu bagaimana dengan proposal menyebalkan yang tidak juga selesai.


"Yes, Mam?"


"Bagaimana proposalnya, Cristin? Kenapa tidak ada kabar sampai sekarang?" tanya bosnya.


"Seharusnya kau tahu proposal itu, Mam. Kacau," ucap Cristin.


"Oh, astaga. Apa Orland Dmytry menolak untuk bekerja sama denganku gara-gara proposal itu?"


"Tidak, aku rasa tidak."


"Cristin, kau sangat tahu aku begitu membutuhkan kerja sama itu Aku sangat menaruh harapan besar padamu!"


"Aku tahu," jawab Cristin tapi sesungguhnya dia sangat kesal. Siapa suruh memberikan proposal yang dibuat secara asal-asalan seperti itu?


"Jika begitu aku percaya padamu," ucap bosnya.


Cristin menghela napas, menyebalkan. Seharusnya dia tidak setuju mengambil pekerjaan terakhir itu. Sebaiknya dia pergi menemui Orland saja untuk memperbaiki proposal. Semoga saja proposal itu bisa selesai dalam waktu satu minggu.


Cristin beranjak, pewarna kuku diambil. Kedua orangtuanya pun sedang pergi, sebab itu dia merasa bosan. Setelah mendapatkan tasnya, Cristin segera bergegas pergi menuju kantor Orland.


Dia membawa mobilnya sendiri, tapi ketika melewati sebuah pusat perbelanjaan, Cristin menghentikan mobilnya. Dulu dia sering datang ke sana untuk membeli barang-barang bermerk kesukaannya. Sudah begitu lama dia tidak mengunjungi tempat itu, apa dia harus mampir sebentar?


Tapi seorang diri tidak menyenangkan, sebaiknya dia terus jalan saja. Lain kali dia akan mengajak ibunya dan beruntungnya dia menghentikan niatnya karena saat itu, Johan berada di sana.

__ADS_1


Tentunya dia berada di pusat perbelanjaan itu untuk mencari Cristin. Dia dan Cristin sering datang ke tempat itu dulu, mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk berbelanja sebab itu dia berada di sana dan dia harap Cristin menamppakkan dirinya di tempat itu lagi.


Dia bahkan mendatangi toko yang sering mereka kunjungi tapi sudah beberapa jam dia berada di sana, Cristin tidak juga terlihat.


"Sial!" umpat Johan kesal.


Sepertinya dia tidak bisa menemukan Cristin dengan mudah jika mencarinya dipusat perbelanjaan seperti itu. Cara satu-satunya yang dia miliki hanya mengintai di rumah Cristin.


Ya, itu bukan ide yang buruk. Dia bisa mengikuti Cristin secara diam-diam ketika melihatnya. Sebaiknya dia pergi, percuma menunggu di tempat itu.


Johan pergi dari sana dengan kekesalan di hati. Berutungnya Cristin tidak bertemu dengannya hari ini, dia pasti tidak akan berakhir baik jika bertemu dengan suaminya apalagi seorang diri.


Saat itu Cristin sudah tiba di kantor Orland. Dia tidak menghubungi pria itu terlebih dahulu karena dia yakin Orland pasti ada di kantornya tapi sayangnya tidak. Gail mengatakan jika hari ini Orland tidak datang, dia juga tidak mengatakan alasannya.


Karena ingin tahu, Cristin menghubungi ponsel Orland tapi tidak akktif. Aneh, ada apa dengannya? Apa telah terjadi sesuatu dengan Orland?


Sebaiknya dia pulang saja tapi rasa penasaran di hati semakin ingin membuatnya mencari tahu kenapa Orland tidak datang.


"Apa ada yang tertinggal, Nona Bailey?" tanya Gail saat melihat Cristin kembali lagi.


"Aku hanya ingin tahu di mana rumah Orland. Kau pasti tahu, bukan?"


"Maaf, Nona. Aku tidak bisa mengatakan rumahnya pada siapa pun!" ucap Gail.


"Kenapa? Aku hanya ingin tahu keadaannya saja!"


"Aku tahu Nona sangat ingin tahu tapi untuk satu hari ini saja Tuan Dmytry tidak mau ada yang mengganggunya."

__ADS_1


"Kenapa?" Cristin semakin heran. Apa ini hari spesial bagi Orland sehingga dia tidak mau diganggu oleh siapa pun?


"Maaf, Nona. Aku tidak bisa menjelaskan. Besok Nona Bailey bisa menanyakan hal ini secara langsung dengannya," ucap gail. Dia memang tidak punya hak, jangan sampai bosnya marah.


"Baiklah, terima kasih. Aku kira aku bisa bertemu dengannya untuk memperbaiki proposal," Cristin pamit pergi. Sepertinya dia yang terlalu banyak bertanya. Dia memang tidak tahu apa pun tentang Orland. Selain menyebalkan, apalagi yang dia tahu?


Sudahlah, sebaiknya dia pergi saja. Mau pulang pun dia enggan, toh nanti malam dia akan bertemu dengan Orland. Hari ini dia mau pergi membeli beberapa pewarna kuku dan menikmati waktunya di spa. Dia tidak mau memikirkan pria menyebalkan itu, tidak. Lebih baik dia memanjakan diri di tempat spa tapi rasa ingin tahu memenuhi hati, apa yang sedang Orland lakukan saat ini?


Setelah mengambil barang-barang milik kedua orangtuanya dari rumah sang paman. Orland pergi ke makam. Alat komunikasi sengaja dia matikan karena dia tidak mau ada yang mengganggunya.


Semenjak kembali lagi ke kota itu, Orland belum mengunjungi makam kedua orangtuanya. Sesungguhnya dia malu, dia tahu ayahnya pasti sangat kecewa padanya tapi sekarang, dia memberanikan diri untuk datang mengunjungi ayah dan ibunya setelah sekian lama.


Seikat bunga berada di tangan, itu karena ayah dan ibunya di makamkan di tempat yang sama. Orland melangkah melewati beberapa makam dan setelah berada di makam kedua orangtuanya, langkahnya terhenti.


"Apa kabar Mom, Dad? Maaf jika aku baru datang menjenguk kalian," Orland berjongkok dan meletakkan bunga di atas makam kedua orangtuanya.


"Setelah kalian pergi, aku benar-benar telah melakukan hal bodoh. Maafkan aku," Orland menghela napas. Dia rasa ayahnya juga tidak akan menduga jika adik yang dia percaya ternyata berkhianat untuk mendapatkan perusahaan yang dia tinggalkan tapi dia tidak mau menyalahkan siapa pun karena memang dia yang salah sehingga bisa tertipu dengan mudah.


"Maafkan aku, Dad. Aku telah mengecewakan dirimu. Aku benar-benar bodoh dan naif, aku bahkan sudah mempermalukan dirimu. Semua yang kau percayakan padaku raib begitu saja dan bodohnya aku," Orland tersenyum pahit, "Aku hampir mengambil jalan yang salah dan semakin mempermalukan dirimu!" ucapnya lagi.


Ya, jika malam itu dia bunuh diri, keluarga pamannya pasti akan menertawakan kebodohannya. Kedua orangtuanya pasti akan menjadi bahan gunjingan karena memiliki seorang putra tidak berguna seperti dirinya.


"Tapi aku bersumpah pada kalian, aku bersumpah di depan makam kalian jika aku akan mengambil semua yang telah Uncle rebut dariku! Aku akan mengembalikan nama baikmu lagi, Dad. Kali ini aku tidak akan mengecewakan dan mempermalukan kalian lagi karena Orland yang bodoh dan naif sudah tidak ada lagi! Aku bersumpah akan membalas orang yang telah menipuku satu persatu, mereka tidak akan aku lepaskan dan mereka harus merasakan apa yang aku rasakan waktu itu. Penghinaan yang aku dapatkan dari mereka, akan aku balas dan orang yang selama ini begitu kau percaya, aku juga akan membalas pengkhianatan yang telah dia lakukan!" Orland mencengkeram kedua tangannya dengan erat, semua penghinaan yang diberikan oleh keluarga pamannya tidak akan dia lupakan dan juga pengkhianatan asisten pribadi ayahnya, dia juga harus mendapat pembalasan darinya karena telah bekerja sama dengan pamannya.


Orland berdiri di sana cukup lama, tidak ada lagi kata-kata yang dia ucapkan. Dia harap ayah dan ibunya memaafkan perbuatan bodoh yang dia lakukan. Rasanya sudah tidak sabar menendang sang paman dengan keluarganya tapi dia harus bersabar sampai rencana yang dia jalankan berhasil.


"Aku pergi dulu tapi nanti aku akan kembali lagi. Aku akan membawa seseorang dan mengenalkan kalian dengannya nanti," Orland tersenyum, dia jadi teringat dengan Cristin.

__ADS_1


"Doakan aku semoga dia jadi istriku nanti, aku berjanji akan membawanya datang lain waktu," ucapnya lagi.


Kedua orangtuanya pasti senang jika dia membawa Cristin. Sebaiknya dia segera pergi karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan. Nanti malam dia harus ke rumah Cristin dan dia tidak mau terlambat apalagi dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu.


__ADS_2