
kembali dari kota, Baili mengganti sepeda listrik dengan sepeda Phoenix nya di pintu gerbang masuk desa.Begitu juga dengan banyak barang yang ada di keranjang dan di kursi belakang sepeda Phoenix.
Cuaca yang mulai bersalju membuat tidak banyak warga yang keluar di saat seperti ini. Walau begitu dia juga masih memerlukan alasan bagaimana barang-barang di gudang ada di sana dengan tiba tiba.
Saat tiba di rumahnya jam baru menunjukkan sekitar jam 01.00 sore.
"Bibi Lili baru pulang?"sapa seorang menantu perempuan ketika melihat Baili turun dari sepeda dengan begitu banyak barang.
"Ya menantu dong, kenapa masih di luar padahal di luar dingin loh"kata Baili.
Dia tersenyum enggan, siapa yang mau berdiri di dalam cuaca yang begitu dingin jika tidak memiliki tujuan tertentu.
"aku sedang menunggu Bibi kembali hehehe"
Baili membiarkan sepedanya diambil oleh Ayan.Dia tau wanita ini tidak mudah.
Sudah menikah dalam keluarga dong namun belum dikaruniai oleh satu anak pun.
Keluarga kelahirannya bisa dibilang keluarga miskin,Dong Ling nama suaminya.
Keluarga dong memiliki 5 anak.Tiga anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Seperti keluarga lain pada umumnya keluarga dong juga keluarga yang bersifat patrikal.
Anak perempuan tidak lebih berharga daripada anak-anak laki-laki.
Tapi dong Ling ini adalah anak laki-laki kedua. Karena posisinya di tengah dia dianggap murah oleh keluarga sendiri.
secara tradisi orang tua lebih menghargai putra tertua, meski begitu mereka juga cukup memanjakan putra ketiga.
Sedangkan putra kedua sama sekali tidak masuk di mata mereka. Dua putri sudah menikah dengan desa yang jauh hanya untuk mengambil mas kawin yang cukup bagi putra lain memiliki menantu perempuan.
Akibatnya putra kedua yaitu dong ling dilupakan begitu saja.
Dengan alasan desakan ekonomi, menantu perempuan dong Ling yang sekarang berasal dari keluarga miskin yang dibeli dengan mahar sekeranjang telur dan sepuluh sen.
Setelah menikah bertahun-tahun menantu perempuannya bahkan kalah dari ayam yang bertelur setiap hari.
keluarga tidak puas dan berpikir untuk mengembalikannya dengan keluarga kelahiran.
Tapi dong Ling yang sudah tinggal dengan menantu perempuan ini selama 3 tahun menolak Ide ini dengan.
karena penolakan itu hidup mereka berdua di dalam keluarga sangat tidak nyaman dan terkesan diremehkan.
Meskipun ada tiga menantu perempuan di rumah. Hanya dirinya yang diberi tugas berat seharian. Selain mengerjakan tugas di ladang untuk mengambil poin.
Dia sama sekali tidak mengeluh bahkan tidak bersuara sedikitpun. mereka ingin meminta perpisahan tapi tahu jika perpisahan dilakukan tidak ada hal yang akan mereka terima pada akhirnya.
Dong Ling juga berpikir tentang musim dingin yang akan sulit mereka lewati jika perpisahan dilakukan.
Tapi beberapa hari yang lalu, dong Ling jatuh dengan luka di kaki nya.Sekarang luka sudah mulai bernanah tapi keluarga tidak mau mengeluarkan satu sen pun untuk dong Ling berobat.
Sebagai menantu perempuan, Bagaimana dia bisa melihat pasangannya menderita dan mati di atas tempat tidur dengan cara ini.
Tadi malam dia mendengar dari ipar nya jika Wang sufeng akan mencari Tim baru sementara mereka mencari pasokan makanan di daerah lain.
dulu tidak ada orang yang berpikir pekerjaan ini layak apalagi persyaratannya adalah perpisahan keluarga.
Tapi sekarang orang-orang berpikir cukup bagus bekerja di bawah Baili. Meskipun tidak ada gaji yang besar, mereka justru tidak akan kelaparan karena Baili memberikan makan tiga kali pada pekerjanya.
Lagi pula akan ada kesempatan untuk pekerjaan bagus di kota sebagai bawahan baili.
Wang sufeng ada lima bawahan sekarang setelah Ayoe keluar.Dua di antara ini sudah mendapatkan jatah pekerjaan.
Masih ada empat lagi tapi kabarnya akan ada rumah sakit dan pabrik kain yang mulai tertarik.
Bukan tidak mungkin hal-hal baik akan jatuh di kepala keluarga pekerja yang baru.
Hanya saja siapa yang akan pergi ke sisi baili.Mereka sama sekali tidak percaya jika dong Ling akan di terima.
Dia cacat sekarang dan belum tahu apakah bisa melewati musim dingin ini.
Pembicaraan tadi malam membuat menantu perempuan dong Ling bersedih hati. Dong Ling juga mendengar kata-kata itu dari kamar tidurnya.
__ADS_1
Dia sudah tidak memiliki daya guna jadi dirinya bukan manusia di keluarga ini.
Untuk mati tentu saja dong Ling lebih menyukainya tapi bagaimana dengan menantu perempuan.
Malam itu mereka tidak berbicara sedikitpun hanya diam dan tertidur sampai pagi.
Bangun tidur menantu perempuan dong Ling masih mengerjakan beberapa pekerjaan selain dari melayani suaminya yang sedang sakit.
Kehidupan sungguh berat apalagi suaminya juga sudah dianggap mati oleh keluarga ini. Mereka semakin berani mengolok-olok dirinya menganggap dia lebih tidak berharga di banding sebelumnya.
Karena kesibukan dia melewatkan waktu sarapan .Tapi tidak ada hal yang ditinggalkan untuk dia dan suami.
sialnya lagi hal itu terjadi untuk makan siang, agar perut dong Ling masih berisi ,dia mencuci panci dengan air hangat.
Ada beberapa butir nasi di dalamnya dan dengan itulah mereka pasangan suami istri ini makan siang.
Mendapati hidup tidak lebih buruk daripada mati .Dong Ling berbicara dengan menantu perempuan tentang pernikahan selanjutnya.
Dia berkata ikhlas jika menantu perempuan pergi meninggalkan dia saat ini.
Bagaimana menantu perempuan ini rela meninggalkan suami sebaik dia. Dong Ling hanya tidak beruntung memiliki keluarga seperti itu.
Itulah sebabnya dia berdiri di depan baili sekarang. Karena senioritas di desa, menantu perempuan ini juga menyebut Baili sebagai Bibi kecil.
Di depan baili, menantu perempuan dong langsung berlutut di salju tipis yang mulai menampakkan diri.
" Bibi , tolong bantu aku, tuanku di rumah sedang sakit kakinya tidak berguna lagi. Aku akan menjadi sapi dan kuda untuk Bibi bukan saja di kehidupan ini tapi juga di kehidupan selanjutnya jika Bibi kecil mau menolong" kata nya dengan mata berkaca-kaca.
Ibu tua Baili dan mertua nya melihat menantu perempuan dong itu berlutut. Mereka tercengang karena tidak berpikir hal ini akan terjadi.
Menantu perempuan dong memang sudah berdiri di situ hampir 1 jam. Dia sudah diajak masuk ke dalam rumah karena cuaca yang dingin.
Namun menolak dengan alasan lebih nyaman di luar.
Tapi dari kata-katanya ada sesuatu yang serius pada dong Ling.
"oke, mari kita bicarakan di dalam. Tidak baik berbicara di luar dalam cuaca seperti ini "kata Baili yang mengajaknya masuk.
"jika dia tidak bisa melakukannya sendiri, aku akan mengikutinya dari belakang.Dan kami berjanji akan bekerja dengan serius meskipun tidak ada gaji"sambung nya.
Baili tidak tahu tentang watak masing-masing warga di desa. Karena dia bisa dibilang orang yang baru tiba.
Intuk menerima seseorang begitu saja Baili tentu tidak yakin. Dia memiliki rahasia besar yang perlu disembunyikan.
"oke katakan dulu apa masalah dengan suami mu?" tanya baili yang mulai menggagap ini serius.
Dia duduk di bangku.
Menantu perempuan dong langsung menceritakan kenapa dia datang dan meminta pekerjaan untuk suaminya yang saat ini sedang sekarat.
Hal pertama yang dia mau sebenarnya adalah pengobatan untuk dong Ling.
Walaupun sulit mereka masih akur dan saling bergantung antara satu sama yang lain.
jika pun bisa menikah untuk pernikahan kedua dia tidak yakin bisa menemukan pria yang berperilaku baik seperti suaminya ini.
Jika nyawanya bisa diselamatkan.
Dia akan berterima kasih dan mengabdikan seumur hidup pada baili, itulah janjinya.
Baili terkejut mendengar cerita dari mulutnya. Dia tidak percaya di desa sebaik ini masih ada saja keluarga yang lebih memilih uang daripada nyawa anak sendiri.
Tapi hatinya juga tergerak dengan kesetiaan yang dimiliki oleh menantu perempuan dong dia terlihat jujur dan tidak berbohong di detik yang sama.
namun begitu dia juga tidak bisa mempercayai orang hanya berdasarkan dengan kata-kata saja.
Baili meninggalkan menantu perempuan dong dalam posisi masih berlutut di salju.
"Ibu aku ingin bertanya pendapatmu tentang karakter yang dimiliki oleh dong ling dan menantu perempuannya?" tanya baili pada dua Ibu tua ini.
"menurutku keluarga dong ini keterlaluan .Aling adalah anak yang jujur dan juga rajin. begitu juga dengan menantu perempuannya. mereka hanya belum diberi kesempatan untuk memiliki keturunan tapi itu bukan menjadi alasan untuk melecehkan orang seperti ini" Kata Ibu tua nya.
__ADS_1
"Hem menurut ibu karakter mereka berdua itu lemah. tapi mereka jujur dan cukup setia. jika sudah berjanji kemungkinan besar tidak akan berpaling. Jika bisa ambillah dia tapi tidak tahu pekerjaan apa yang bisa dia lakukan dengan kondisi kaki yang sudah tidak berguna" Kata Ibu mertua pula.
"cukup bagus mereka itu rajin dan juga jujur tapi dengan karakter lemah aku takut Akan ada sesuatu di kemudian hari bagaimana jika keluarga mereka membujuk untuk kembali atau mengambil barang di gudang?"
Seseorang yang memiliki karakter lemah seperti ini. Terkadang merasa tidak berdaya dan memilih menanggapi sebuah ancaman dengan aksi yang di paksakan.
Sudah buruk dengan seorang karakter yang lemah namun sepasang suami istri ini memiliki karakter lemah yang sama.
Agak sulit membuat keputusan tapi ini menyangkut dengan nyawa manusia.
Jika dipikir lagi dia bukanlah membuka sebuah perusahaan dengan tujuan Amal. Seperti yang dikatakan oleh ibunya ,pekerjaan apa yang bisa diberikan dalam kondisi seperti itu.
"Tidak, buatlah surat perjanjian yang lebih menekankan kesetiaan dan janji keluarga besar agar tidak saling berhubungan, baik secara lisan dan tatap muka" usul Ayah tua baili yang sejak tadi sedang berpikir keras.
Menurutnya kemampuan yang diberikan dewa pada baili juga harus dibayar dengan sesuatu dan mungkin inilah hal yang perlu dilakukan sebagai tindak balas.
Membantu seseorang dan membuat banyak pahala.
Membangun pagoda tujuh lantai tidak lebih baik daripada membantu hidup seorang anak manusia.
Ayah tua Baili juga percaya dengan sistem sebab dan akibat.
"apakah menurut ayah ini bisa dilakukan ?"tanya Baili.
"Hem aku akan pergi ke kepala desa dan meminta surat perjanjian lebih awal" kata nya yang langsung berdiri dan mengambil jaket tambahan untuk pergi ke rumah kepala desa.
Pria tua itu tidak sering berbicara banyak . Tapi sekali dia berbicara itu sebenarnya adalah sebuah keputusan yang tidak bisa diganggu gugat.
melihat ayahnya yang sudah pergi bayi tidak lagi bisa menolak kerjasama ini dia langsung datang ke menantu perempuan dong dan berkata"Oke aku setuju, pulang dan kabari keluargamu dan buat perpisahan. ayahku akan datang dengan kepala desa sebentar lagi. lebih cepat urusan ini selesai maka Aling bisa cepat dibawa ke rumah sakit untuk menerima perawatan"
Air mata menantu perempuan dong yang mulai membeku terlihat begitu menyedih. Dia segera berterima kasih pada Bibi kecil dan berdiri buru-buru.
Tapi dia tidak bisa berdiri dengan stabil karena berlutut di cuaca dingin. Gerakannya sedikit limbung, untuk saja baili bisa menahannya.
Sangking gembiranya dan takut Baili berubah pikiran. Menantu perempuan dong langsung melarikan diri untuk mengabarkan pada keluarga besar dong.
Baili hanya bisa menggelengkan kepalanya dan masuk ke rumah untuk istirahat.
Untuk urusan dong Ling ,baili tahu ayah tuanya akan menyelesaikannya tanpa perlu dia campur tangan.
Satu jam kemudian pria tua itu kembali dengan kepala desa dan sekretaris berikut kapten yang selalu muncul akhir-akhir ini di rumah Baili.
Baili tidak bertanya mengapa mereka selalu datang seperti tiga serangkai yang tidak terpisahkan sekarang.
Dengan ramah baili menyajikan teh bunga camomile untuk menghangatkan tenggorokan mereka bertiga.
tidak lama kemudian keluarga dong juga datang. mereka langsung setuju tentang perpisahan itu. pada saat itu juga mereka membicarakan tentang aturan perpisahan.
Apa-apa saja yang masuk dalam hak dan kewajiban dong Ling. Andai pun nanti dong Ling meninggal ,masih ada menantu perempuannya yang diwajibkan memenuhi ini selagi dia belum menikah ke pernikahan kedua.
Selain panci pecah dan dua mangkuk serta sumpit nya. Mereka hanya mendapatkan sejumlah makanan dan 80 sen.
Tapi kepala desa tidak setuju dan perundingan menjadi alot sampai di sini.
Ayah dong menetapkan 500 sen sebagai biaya berbakti untuk setahun.
Bagaimana dia bisa meminta itu sementara bekerja dengan baili jelas-jelas tidak akan menghasilkan uang sepeser pun. Hanya mengandalkan makan tiga kali satu hari.
Itu pun porsi hanya diberikan pada pekerja saja dalam hal ini adalah dong Ling.
Bagaimana mereka bisa hidup dengan tanggung jawab yang sebenarnya sangat tidak manusiawi. ditambah keluarga dong tidak mau membiayai rumah sakit.
"oke aku akan setuju dong Ling membayar uang kebaktian ini tapi kalian juga harus setuju untuk membiayai dia pergi ke rumah sakit saat ini juga ,bagaimana?"
"Tidak, kami tidak punya uang sebanyak itu. apa kepala desa ingin kami mati?" Kata ipar pertama yang langsung maju.
"keluarga dong apakah menantu perempuanmu bisa berbicara sekarang. kalianlah yang memaksa Aling untuk mati sekarang dia memiliki kesempatan untuk hidup namun kalian menekannya lagi dan lagi sebagai kepala desa aku perlu menjaga warga desaku dan bersikap adil. jadi katakan apa kau terima syarat ini atau tidak?" tanya kepala desa dengan marah.
Dia jelas dikatakan sebagai kepala desa yang adil dalam mengatur warganya. Sekarang dia justru harus membuktikan kebenaran itu.
Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan para jurnalis nanti di hari pertemuan jika mereka mendapati ada saja warga yang terintimidasi di desa ini.
__ADS_1
Dia harus menjaga citranya sebagai kepala desa yang baik dan benar.